Mobil berhenti di depan resto. Mereka di sambut oleh senyum semringah pramusaji. Beberapa karyawan memberikan beberapa contoh menu makanan yang akan Safiya pilih. Dibantu abram akhirnya mereka memesan makanan yang sama. Dari jarak satu meter Abram duduk dan tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata menggoda Safiya. Membuat Safiya kesal.
"Apaan sih."
"Nanti sopir akan menjemputmu, pernikahan dan resepsinya di hotel." Abram memberi pengarahan, yang hanya dijawab anggukan kepala Safiya.
"Lusa setelah menikah kita pergi bulan madu. Mama sudah menyiapkan tiket pesawat dan hotel." Ucapan Abram membuat Safiya kaget.
"Ogah," tolak Safiya.
"Aku nggak ingin mendengar. Kamu juga butuh refresing kan."
Safiya menunduk.
Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertemuan pertama sekaligus makan malam waktu itu. Safiya seperti tak bisa untuk menenangkan diri. Satu minggu! Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Safiya? Namun Safiya lega jika Abram tak akan menyentuhnya.
Saat pulang di jalan Safiya melihat Rara ia meminta Abram agar menurunkannya di sana. Dengan memohon akhirnya Abram menyetujui permintaan Safiya. Menurunkan Safiya di depan mall.
***
Safiya berjalan di samping Rara, namun Rara tak menyadarinya.
"Mbak kenalan dong." Goda Safiya.
Rara menoleh ke arah suara. "Fiya ah reseh lu." Rara memulul Safiya. "Mana ayah?''
"Aku suruh pulang, saat melihatmu tadi."
"Serius. Oke kita jalan."
"Emm."
Mereka lalu berjalan-jalan menikmati hari bersama berburu es krim kesukaan mereka. Safiya tertunduk lesu, tak ada gairah untuk makan es krim. Matanya tertuju pada Rara yang terus mengomel dari tadi.
"Fi, lo serius lagi ngak papa?" tanya Rara melotot tak percaya.
Safiya terdiam.
"Jangan-jangan lo kesambet? Tumben bengong saja dari tadi, " matanya melirik ke arah Safiya.
"Mungkin."
Safiya mengangguk lesu, Safiya menundukkan wajah menyembunyikan mata yang sembab.
"Ada apa?"
Safiya memeluk Rara.
"Ih kenapa? Ada masalah serius?" tanya Rara penasaran.
"Emm gue mau nikah!"
"Ih, gila lo! Mau nikah sama siapa dadakan gini?" Jadi waktu disekolah itu ucapan lu beneran gak lagi bercanda?" raut wajahnya berubah tegang, melihat Safiya yang kini sedih.
Safiya menunduk.
"Yah, Fi, jangan sedih, dong!" Kepanikannya mengundang rasa penasaran Rara. Kini wajahnya memucat karena merasa bersalah.
"Akad nikah gue seminggu lagi. Lo pasti kaget jika kisah hidupku sama kayak Ela. Ya kalian pasti semua akan menertawakan aku kan?"
"What? Satu minggu lagi. Astaga maaf, Fiya."
Suasana mendadak hening, wajah Rara yang tadi semringah berganti muram.
"Gue dijodohkan sama Om-om pula."
"Astaga." Rara pun merasakan apa yang aku rasakan. "Nggak papa sih Fi. Asal Om nya kayak waktu nraktir kita waktu itu."
Safiya tertawa bahkan ucapan Rara tepat, Om-om itulah calon Safiya.
"Kok, tertawa gitu sih?" tanya Rara penasaran.
"Stres, tahu! Tapi ya Om itu calon suami gue."
"Hah.''
"Beneran, Ra. Om itu calon suami gue." Jelas Safiya.
Terdengar helaan napas kasar sebelum dia buka suara. "Ya Allah, serius?"
Safiya mengangguk.
"Keren sih kalau itu calonnya,yah jadi pengen. Menikah itu momen sakral seumur hidup. Lo yakin?"
Tampak Rara merasa bersalah, menggaruk kepala yang tak gatal. Rara tidak ngeh jika memang benar Om-om itu cak6on suami Safiya. Akhirnya Safiya menceritakan awal mula dijodohkan dengan Abram pada Rara.
"Sudah-sudah sabar, Fi. Dia keren lo. Gue juga mau sih kalau Om nya seperti itu."
"Ngawur lu."
***
Persiapan pernikahan hampir sembilan puluh persen rampung. Selama satu minggu Safiya di pingit.
"Safiya ...." Ayahnya membuka dari pintu yang setengah terbuka.
"Iya, ayah. Masuk saja."
Ayahnya masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Ayah boleh bicara?"
Ayahnya melangkah ke tepi ranjang. Dan memegang tangan Safiya lembut.
"Safiya ...."
"Iya, ayah. Kenapa?"
"Kamu bahagia, Nak?"
Safiya membuka mata, Safiya melihat manik mata Ayahnya makin teduh. Kemudian mata beliau berkaca-kaca.
"Jika, kamu nggak bahagia, kamu bisa hentikan sekarang perjodohan ini."
"Kenapa ayah ngomong gitu? Bukankah ini yang ayah inginkan?"
"Di dunia ini, semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Ayah hanya tak ingin kehidupan kamu nantinya seperti ayah." Ayahnya menyeka air mata yang setetes meluncur bebas.
"Ayah." Safiya memeluk laki-laki yang selalu ada untuknya itu.
"Ayah takut kamu nggak bahagia, tapi ayah juga takut kamu hidup susah."
Safiya masih memeluk Ayahnya.
"Ayah berharap pilihan menikahkanmu dengan Abram bukan sebuah kesalahan."
"Jangan bilang gitu, Ayah. Percayalah, Fiya akan bahagia."
Ayah mendekap tubuh Safiya. Mereka menangis bersama malam itu. Jika Safiya bilang untuk membatalkan bagaimana keluarga Abram yang sudah menyiapkan semuanya. Bukankah itu akan membuat ayahnya kembali menanggung rasa malu. Biarlah Safiya belajar iklas demi membahagiakan ayah satu-satunya yang ia miliki.
***
Mendekati hari pernikahan semakin membuat Safiya stres! Sudah tak ada lagi gairah untuk hidup. Hampir semalaman Safiya tidak bisa tidur. Merenung tentang kehidupan yang akan dijalani setelah pernikahan. Belum lama terlelap ketika menjelang subuh, Safiya sudah di bangunkan Ayahnya. Karena keluarga Abram sudah menjemputnya.
Mengawali paginya dengan salat Subuh, kemudian ikut jemputan kemudian di rias oleh MUA yang khusus di datangkan bu Wenda. Di kamar hotel. Safiya tidak bisa menyembunyikan rasa gugup ketika harus menyalami satu per satu kerabat sampai juga di acara pernikahan. Rara yang datang lebih pagi ke hotel segera menghampiri Safiya, menemani Safiya yang merasa sendirian.
"Bagaimana?" bisik Rara.
"Bismillah saja mau gimana lagi."
Rara mengenggam tangan Safiya. "Lo pasti bisa."
"Ya."
"Fi, setelah ini kita bisa ketemu kan?"
"Iya, tenang saja. Aku bisa atur."
"Kemarin aku ketemu bu Nadia. Dan aku ada kabar dari bu Nadia."
"Dia bilang apa? Soal kuliah lagi?"
"Tidak, ternyata bu Nadia suka sama calon suamimu. Namun Pak Abram telah menolak perjodohan dengan bu Nadia. Dan memilih kamu."
Safiya menunduk sedih. "Kok begitu? Perjodohan siapa yang menjodohkan?"
"Katanya temannya sih. Bu Nadia kecewa karena Pak Abram menolak dan memilih gadis kecil. Nggak tahunya kalau gadis itu lu yang dimaksud."
"Oh. Begitu?"
"Maafin, ya, Fi. Sepertinya memang Pak Abram jodoh lu." Safiya memeluk erat sahabatnya.
"Emm."
"Sudah, jangan sedih. Lo gadis yang kuat." Hibur Rara pada sahabatnya.
"Iya. Terima kasih. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Mereka duduk berendeng, kepala mereka di tutup kepala dengan selendang brukat putih berenda di depan penghulu. Ayahnya yang jadi wali. Tidak lama kemudian acara berlanjut dengan ijab qobul. Abram yang tenang membuat acara inti berjalan lancar. Tubuh Safiya gemetar ketika suara renyah lelaki itu terdengar mengucap ijab kabul. Mata Safiya terpejam.
Tiba-tiba suara 'sah' yang menggema mengembalikan Safiya dari lamunan. ucapan hamdalah dari seluruh undangan bergema. Cincin emas murni disematkan di jari manis Safiya. Bu Wenda juga memakaikan kalung emas yang dibeli hari itu sebagai hadiah pernikahan.
Ayahnya memeluk Safiya sambil mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kepala. "Anakku, selamat, ya, kamu udah jadi istri sekarang."
Istri? Safiya telah sah menjadi istri Om-om itu? Bukan dengan seorang lelaki yang ia cintai. Sudahlah, tak perlu disebutkan lagi, hanya akan membuat hati makin nelangsa.
Lantunan doa yang dipimpin seorang ustadz sebagai penutup acara.
Bu Wenda, mertua Safiya memeluknya. "Selamat ya, Nak. Semoga kamu bahagia."
Safiya mengangguk sambil memandang ayahnya yang mengusap air mata. Sedangkan Rara tersenyum padanya. Kesedihan juga tampak di wajah sahabatnya itu. Para undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah di tata rapi oleh pihak catering di tenda depan.
"Nak Abram." Ayahnya mendekati Abram yang kebetulan lagi sendirian.
"Nggeh ayah. Ada apa?"
Pria paruh baya itu menunduk. "Ayah titip Safiya. Apapun alasan kamu menikahinya karena perjodohan, tolong jaga Safiya."
"Ayah tenang saja, saya akan menjaganya dengan baik."
***
Entah sudah berapa lama Safiya dan Abram menyalami tamu-tamu yang datang silih berganti, tak ada habisnya. Mereka kebanyakan dari pihak orang elite. Entah itu relasi bisnis, para karyawan dan lain lagi. Sampai-sampai kaki Safiya rasanya lemas nyaris ambruk karena pegal dan keram.
Safiya sedikit menunduk untuk memijat betis yang sudah tak tahu lagi rasanya seperti apa. Nyut-nyutan.
"Capek, ya?" Suara Abram terdengar rendah, seperti begitu dekat dengan telingaku.
Safiya hanya mengangguk sambil terus memijat paha.
"Perlu aku bantuin?"
Buru-buru Safiya mengelengkan kepala dengan mata sedikit membelalak. Yang benar saja, dia itu tak melihat situasi apa? Safiya kembali menegakkan tubuh sebelum lelaki itu benar-benar membuktikan ucapannya.
"Sabar, ya. Duduk aja kalo masih pegal." Abram menepuk kursi di sampingnya dan memegang kaki Safiya.
"Masih lama gak sih om."
"Masih duduklah katanya pegal."
Safiya meringis malu. "Malu tahu, Om."
"Mas. Safiya." Jelas Abram sedikit menekan.
"Ich nggak mau."
"Banyak orang, Fiya."
Safiya tersenyum mengejek."Bodo."
Abram hanya terpaku oleh kecantikan istinya saat ini.
Riasaan Ageng bernuasa Jawa, bersanggul dengan untaian bunga melati menghiasi rambutnya. Dengan postur tinggi langsing membuat Safiya mangklingi, riasan mewah juga elegan namun tetap terlihat cantik dan semringah. Safiya tetap
menunjukkan perasaan bahagia di wajahnya.
Safiya tidak berani menatap Abram, begitupun dengan Abram tidak menatap Safiya. Keduanya malu saat panganan mereka saling bertemu.