"Ayo, turun sudah sampai!" ajak Abram sambil melepas seatbeltnya.
Safiya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Mengatur ritme detak jantung yang terasa lebih cepat. Ada rasa canggung dan malu. Ini pertama kali dia datang ke rumah yang seperti istana itu.
"Kok, malah bengong. Ayo!" ajak Abram sekali lagi sembari menepuk bahu Safiya.
"Ini rumah apa kerajan." Batin Safiya.
"Safiya." Abram mendekat sambil membantu Safiya melepas seatbelt.
Safiya tertegun wangi tubuh Abram membuat Safiya grogi.
Ternyata memang keluarga Abram adalah keluarga besar. Semua menyambut Safiya dengan hangat, ramah dan terlihat bahagia. Hal itu membuat Safiya merasa sedikit tenang karena kehadirannya diterima dengan tangan terbuka.
Selesai masuk, Abram dan bu Wenda mengenalkan beberapa asisten rumah tangga juga tak lupa Abel gadis cantik putri Abram itu.
"Mama." Anak itu mengulurkan tangannya.
"Hei apa kabar," sahut Safiya sembari menjabat tangan anak tersebut.
"Mama cantik banget," puji Abel sambil tertawa kecil.
Safiya tersenyum simpul mendengar pujian anak sambungnya usia tujuh tahun tersebut. "Muna juga cantik."
"Bi. Antarkan Non Safiya ke kamar ya."
"Baik, Den."
Salah satu art menyeret koper, diikuti Safiya yang mengekor di belakangnya. Pakaian serta barang-barang yang dibawanya dari rumah dibenahi oleh art. Sementara Safiya mengobrol dengan bu Wenda dan Abel anak sambungnya itu. Selesai mengobrol ada lagi asisten yang mengajak Safiya memberitahu tiap-tiap ruangan lantai atas di rumah besar itu. Safiya hanya mengangguk mengerti tanpa banyak tanya. Sampai pada sang asisten membawa Safiya ke kamarnya.
"Ini kamarnya, Non."
"Ya terima kasih, Bi."
Safiya sudah di boyong di rumah Abram, tetapi hubungan mereka masih sama. Dingin dan semua terasa serba salah bagi
Safiya. Entah sampai kapan kecanggungan itu akan berakhir. Abram beranjak berjalan keluar. Namun Safiya datang menutup pintu, kembali Abram menoleh ke arah Safiya. Dengan iseng mengedipkan mata sebelah disertai senyum khasnya, membuat Safiya bergidik ngeri. Segera Safiya ke arah kamar mandi.
Abram tertawa kecil, ia tahu jika Safiya begitu ketakutan akan dirinya. Abram memeriksa leptop dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang telah dikirim oleh asistennya Fahmi.
"Sudah, istirahat saja!" Tiba-tiba Abram menatap Safiya yang sudah rapi dengan baju kimono. Wanita itu terlonjak kaget atas kelakuan suaminya.
Safiya teridam.
"Sekarang, kamu tidur! besok aku antarkan kamu ke kampus."
Wanita itu tersenyum tipis. "Terima kasih."
Setelah itu, Safiya kembali merebahkan diri dengan posisi miring. Dadanya berdetak tak karuan, ia merasa jika ia sedang berada di alam mimpi. Bayangkan saja bahkan kamar suaminya ini lebih besar dari rumahnya. Anehnya Safiya masih belom mengerti orang sekaya dan sekeren Abram mau dijodohkan dengannya yang notabennya hanya wanita biasa.
Sebetulnya mudah bagi Abram untuk memilih wanita kaya, apalagi bu Nadia yang jelas-jelas dari keluarga terhormat pun ditolaknya, namun gosip Rara jika Abram menolak perjosohan tersebut. Setengah jam, satu jam hingga dua jam Safiya masih tak bisa memejamkan mata. Hingga terasa ada seseorang di balik tubunnya. Abram pun pelan membaringkan tubuhnya di samping Safiya. Memejamkan mata, diam tanpa bicara hingga akhirnya terlelap dengan sendirinya.
***
Namun tidak dengan Safiya ia begitu gelisah. Mata Safiya terpejam pura-pura tidur dengan harapan malam ini cepat berlalu. Safiya bukan wanita polos yang tak mengetahui ritual sepasang pengantin baru di malam pertama. Kata teman-teman Safiya yang sudah menikah, sepasang pengantin itu mulanya akan berbicara mesra, selanjutnya saling memadu kasih dengan penuh rasa. Mengingat itu, tubuh Safiya langsung bergidik. Perut pun tiba-tiba mulas.
Ya Allah, ampuni Safiya. Saat ini Safiya hanya ingin menghindar. Takut kalau Abram tiba-tiba meminta haknya, sedangkan Abram berulah. Tapi tunggu bukankah Abram sudah membuat pernyataan.
Safiya bolak-balik ke kamar mandi kali ini perutnya mulas, entah ketakutan atau runangan kamar yang begitu dingin karena pendingin ruangan. Saat Safiya membaringkan tubuh. Ia tersentak saat lampu kamar berubah gelap dan lampu temaram kini menyala. Safiya merapatkan selimut ketika kasur di belakang terasa bergerak. Jantung kembali berdegup cepat. Ini kali pertama Safiya tidur satu ranjang dengan seorang lelaki. Bukannya terlelap, kantuk Safiya malah makin tak mau datang.
Cukup lama Safiya terdiam dengan badan masih miring ke kiri. Rasanya pegal sekali.
"Apa Om Abram sudah tidur?" bisik Safiya dalam hati.
Sepertinya sangat lelah sudah berbaring miring kurang dari dua jam, waktu yang cukup lama untuk seseorang bisa terlelap. Perlahan, Safiya membalikkan tubuh. Seketika matanya membelalak ketika pandangannya beradu dengan mata Abram yang masih terbuka.
Buru-buru Safiya menutup wajah dengan tangan yang terbungkus selimut.
"Astaga, bagaimana ini?" Bisiknya.
Abram tertawa tanpa suara. "Kenapa belum tidur?"
Safiya diam. Menggigit bibir dan menahan jeritan yang mungkin bisa keluar.
"Tidurlah besok bangun pagi."
Safiya masih bergeming.
Safiya membuka mata. Pandangannya langsung terpusat pada wajah Abram yang tersenyum geli. Satu tangannya dijadikan sebagai bantalan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Abram santai.
"Ini... ini aku kedinginan nggak biasa tidur dengan pendingin, Om."
"Masa?"
Safiya mengangguk cepat.
"Baiklah AC-nya aku kecilin. Tidurlah,"
Safiya tersenyum malu-malu. "Ya."
"Tidurlah kenapa masih melotot? Mau dipeluk?"
Seketika Safiya menutup mukanya dengan selimut, berharap bisa tidur secepatnya.
***
Safiya Salat Subuh selesai membersihkan diri, dan bergegas ke dapur membantu para pekerja.
"Safiya."
Safiya menoleh ke arah suara. "Mama."
"Mau ke mana?"
"Ke dapur, Ma."
Bu Wenda tersenyum. "Sudah kamu siapin apa saja untuk daftar kuliah. Biar pekerjaan dapur Bibi yang handle."
Safiya mengangguk, "baik, Ma."
"Abram minta ingin pindah rumah. Kenapa harus pindah rumah segala, sih? Tinggal di sini saja, bisa buat teman papa dan mama. Memangnya kamu keberatan jika harus tinggal di rumah ini, Safiya?” Pertanyaan bu Wenda sontak membuat Safiya tergagap.
"Tidak, ma. Safiya ngikut Mas Abram saja. Kalau dia mau tinggal di sini, ya, Fiya ikut tinggal di sini juga."
"Tuh, kamu saja nggak keberatan tinggal di sini. Biar rumah keliatan ramai. Mama itu sering kesepian tinggal di rumah sendirian, Abram nih yang bikin gara-gara."
"Ma Abram ingin mandiri." Sahut Abram yang baru datang duduk di samping mamamnya.
Bu Wenda dan Pak Surya hanya terkekeh mendengar ungkapan anaknya.
"Abram, baru saja mama senang punya mantu, masa sudah di suruh pindah rumah," sungut bu Wenda cemberut.
Pak Surya terbahak melihat istrinya merajuk. "Baru rencana kan ma."
"Hmm gak setuju aku," gerutunya.
"Ma. Sudahlah, jangan merajuk. Nggak enak sama Safiya," seloroh pak Surya.
"Safiya sudah siap-siap sana, Nak."
"Baik, Pa.
Selesai makan Abram mengantarkan Abel ke sekolah, selesai lanjut mengantarkan Safiya ke kampus, sesampainya di kampus. Beberapa mahasiswi berdeham saat Abram dan Safiya melintas. Namun, pagi ini, Abram suami Safiya itu tetap memasang wajah kaku, meski sesekali senyuman terkembang di bibirnya.
"Ehm ... itu senyumannya."
"Bapaknya mungkin keren baget sih mau donk." seloroh seorang gadis yang sedang bergerumul.
''Duh iya. Bapaknya anak itu kali ya. Single nggak ya?"
"Duh keren ngak sih ...." Seruan lain terdengar oleh Safiya dan Abram.
"Emm mau donk suggar daddy."
Safiya mendengar dengan jelas begitu pun Abram. Namun Abram terus berjalan tanpa menoleh ke arah gadis-gadis itu. Justru tangannya mengenggam erat tangan Safiya. Safiya bergetar, saat melihat Abram begitu santai. Namun, tetap tegas dan berwibawa saat banyak gadis menggodanya.
"Apa itu ancaman, Om. Lihatlah mereka menyukaimu?" tanya Safiya sedikit berbisik.
Safiya menghela napas saat berucap demikian. Membayangkan apa jawabannya, membuatnya merasa cemas.
"Diamlah."
Safiya mengangguk pelan. Ada iba saat melihat gadis-gadis itu mengagumi sosok Abram suaminya
Beberapa langkah akhirnya sampai di ruangan pendaftaran, tak butuh waktu lama karena Safiya punya beberapa prestasi dan juga nilai yang bagus membuat pendaftaran mudah dan lolos begitu saja. Nilai yang nyaris sempurna membuat Abram sedikit terpukau.
"Ya sudah. Good luck! Kamu diterima di Fakultas ini."
Safiya tersenyum. "Maksih, Om."