Rainier mengusap peluh gadis di bawahnya, tersenyum lembut. “Terima kasih,” ucapnya. “Sama-sama,” balas Lyssa di antara deru napas. Masih tak mengeluarkan miliknya, Rainier mengangkat tubuh Lyssa lagi, menggendong gadis itu ke dalam kamar. Menidurkan Lyssa di atas kasur, Rainier pelan-pelan mengeluarkan miliknya dari dalam Lyssa, menarik k-ndom dari b-tangnya. “Hm. Jujur aku tak ingin membuang benda ini, terlalu bersejarah.” Lyssa lemah tertawa pelan. “Buang, Rainier. Tak menunggu jam, pasti akan menjadi sel mati.” “Hm. Sayang sekali.” Pemuda itu mengikat benda tersebut, menarik beberapa helai tisu di meja nakas sebelum membungkus dan melemparnya ke bak sampah. Mengeringkan b-tangnya dengan tisu, mata pemuda itu masih lapar menatap lubang Lyssa yang menganga, memperlihatkan dalamny

