7. Kiss and Kiss

1160 Words
Lyssa berniat melepaskan diri dari Evan tapi ditahan oleh pemuda itu. “Aku ingin menciummu sekali lagi. Bolehkah?” pintanya. Lyssa mengangkat wajah. Membiarkan bibirnya kembali dikuasai oleh Evan. Kali ini ciuman Evan berbeda. Terasa lebih intens dengan posisi yang berubah-berubah. Meski Evan mengatakan ingin mencium Lyssa sekali lagi, tapi kenyataannya dia mencium Lyssa berkali-kali. Bibir itu dengan kuasa penuh mengisap dan mengulum bibir plum pacar barunya. Hanya memberi jeda singkat untuk mereka bernapas di sela-sela perubahan angle. Sesekali, lidah kuat pemuda itu menerobos masuk ke mulut Lyssa, menjarah dan mengeksplor segala yang ada. Ini pertama kalinya Lyssa merasakan sensasi seperti ini. Rasanya hangat dan panas menjalar hingga ke sekujur tubuh. Tubuhnya kadang kala bergetar, merasakan sensasi baru. Titik-titik keringat bercucur di dahinya. Mentari yang sebelumnya ditutupi awan mendung kini berganti panas menyengat, membuat tubuh insan yang saling berdempetan intim itu basah oleh keringat. Terengah. Evan memisahkan bibir mereka. Tapi nafsunya sekali lagi menguasai diri. Pemuda itu sekali lagi memajukan wajah, berniat kembali mencium bibir gadis yang baru menjadi kekasihnya. Lyssa gerak cepat. Mengambil tangannya yang semula bersandar pasrah di d**a Evan ke atas, menahan bibir Evan dengan jemari lentiknya. “Ingat, kita masih di sekolah.” Dengan itu, Lyssa melepaskan diri. Butuh waktu lama hingga Evan bisa kembali mengontrol dirinya. “Aku tidak pernah seperti ini hanya karena berciuman.” Napasnya sedikit ngos-ngosan. Wajah Lyssa yang sebelumnya merah kini mulai kembali ke warna kulitnya. Dia tiba-tiba bertanya, “Apa kamu mencium semua wanita seperti itu? Di hari pertama jadian?” Evan menatap Lyssa serius. “Demi apa pun, aku tidak pernah mencium seseorang di hari pertama jadian. Dan aku tidak mencium dan menyentuh seseorang hanya karena kami berpacaran. Aku tahu masa laluku banyak yang tidak sesuai ekspekstasimu, tapi aku tidak bisa lagi merubah itu semua. Aku harap kamu bisa menerimaku.” Lyssa menunduk. “Hm.. Baiklah. Aku minta maaf.” “Tidak masalah,” jawab Evan. Pemuda itu merengkuh Lyssa kembali ke pelukannya. “Aku juga minta maaf. Andai kamu tidak menolakku dulu, mungkin aku tidak akan punya reputasi sebagai playboy selama SMA.” Lyssa mengakat wajahnya dari d**a Evan. “Aku pernah nolak kamu? Kapan?” tanyanya bingung. Evan balas melihat Lyssa. “Tidak ingat? Dulu saat kita orientasi siswa?” “Masa sih? Aku kok gak ingat,” kata Lyssa lagi. Evan mencubit pipi Lyssa gemas. “Dulu. Di parkiran sekolah. Di hari ketiga orientasi..” Lyssa berpikir keras. Dahi dan alisnya berkerut.. “O-oh.. Aku ingat! Cowok yang pakai topi merah itu??” “Yaps.” Evan mencium pucuk hidung kekasih barunya. “Hmm.. Maaf..” ujar Lyssa tulus. “Tidak perlu minta maaf. Kamu sudah mengucapkannya dulu pas kamu nolak aku,” balas Evan dengan seringaian. Lyssa tersipu malu. Senyum tipis menghiasi wajah Evan melihat wajah kekasihnya yang tersipu, terlihat manis. “Oh ya, apa kamu tahu nama panjangku?” tanya Evan tiba-tiba. Lyssa merenggangkan diri di pelukan Evan. Melihat badge nama yang dipasang di d**a kanan kemeja Evan. “Evan Ageng S.,” baca Lyssa. “S. singkatan dari apa?” tanyanya. Evan berbisik, mengejakan nama tengahnya di telinga Lyssa. Awan mendung kembali menutupi mentari, melindungi mereka dari panas teriknya. Lyssa tersenyum lembut mendengar jawaban dari Evan. “Oh ya, aku belum meminta izin memelukmu tadi,” kata Evan tiba-tiba. “Sudah selesai meluk dan baru minta izin?” “Hehehe, maksudku, apa di kemudian hari aku masih boleh memelukmu?” Lyssa melepaskan diri dari pelukan Evan. “Hm.. Oke..” jawabnya malu-malu. “Ayo makan siang. Sebentar lagi bel masuk,” ajak Evan sambil meraih tangan Lyssa. Tanpa ia duga, Lyssa melepas gandengan tangannya. “Aku belum menyampaikan syarat dariku,” ujar Lyssa. “Hm? Kamu juga punya syarat? Katakan saja,” balas Evan dengan senyum lebar. Lyssa balas menatap Evan. “Aku ingin, hubungan kita rahasia,” ujarnya mantap. “Maksudnya?” tanya Evan lagi. Tampak belum bisa memproses kalimat yang dimaksud Lyssa. Lyssa sabar menjelaskan, “Maksudku, aku tidak ingin hubungan kita diketahui oleh publik. Bagamanapun, kamu cowok populer. Akan ada banyak cewek-cewek yang akan cemburu sama aku. Apalagi Karin, kalian baru saja putus.” Dahi Evan berkerut tak senang. “Karin? Sudah aku bilang, aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia sendiri juga paham kita berhubungan tipe apa.” “Aku hanya belum siap,” jawab Lyssa lagi. Matanya kalem memandang wajah Evan yang tampak frustrasi. “Sampai kapan rahasia?” tanya Evan akhirnya. Pas saat itu, rombongan tiga-empat cowok datang ke atap. Mata Evan yang biasanya tersenyum ramah kini ganti dingin. Pas Lyssa lihat, ternyata anak-anak itu membawa rokok di tangam mereka. Satu anak yang paling belakang bahkan sudah menyelipkan batang rokok di antara bibirnya. Tak ingin mencari masalah, rombongan anak cowok berbadge merah, anak kelas satu, bergegas melarikan diri berbalik menuruni tangga. Merokok adalah larangan keras di sekolah ini. Siswa yang ketahuan bisa dipanggil orang tuanya ke sekolah. “Sampai kapan, Lyss?” tanya Evan lagi. Tangannya sedikit urgen memegangi lengan Lyssa, mengambil perhatian Lyssa dari tamu tak diundang. Gadis itu tersenyum, mencoba menenangkan pemuda di depannya. “Sampai semua orang tahu dengan sendirinya bagaimana?” “Mana bisa orang lain tahu dengan sendirinya kalau kita mainnya diam-diam?” balas Evan memelas. “Pokoknya jika itu sekarang, aku masih belum siap..” jawab Lyssa. Wajahnya balas memohon ke pacar barunya. “Baiklah. Tapi aku harap kamu tidak mencampakkanku suatu saat nanti hanya karena kita ketahuan pacaran,” ujar Evan pada akhirnya. “Seperti kamu mencampakkan Karin karena ketahuan olehku?” goda Lyssa. “Haha. Hubungan kami tidak sedalam itu, andai kamu tahu saja.” Mata Evan lembut memandang gadis di depannya. Lyssa sebenarnya masih ingin mengobrol lebih banyak, tapi kakinya lelah berdiri. “Ayo pergi makan. Aku akan lewat pintu kanan sementara kamu lewat pintu kiri kantin,” ajak Lyssa. Evan mengiyakan meski dalam hati dia merasa keberatan. Dalam sejarahnya mengencani banyak wanita, ini pertama kalinya dia menjalani hubungan rahasia. “Kamu pasti sekarang ngetawain aku ya dalam hati?” tanya Lyssa sembari menuruni tangga. “Hm? Kenapa?” balas Evan tak mengerti. Tanganya asyik mengayunkan genggaman tangan mereka. “Karena aku dulu bilang ke kamu, untuk tidak pernah menyukaiku. Malah sekarang aku yang ngajak pacaran.” “Hahaha. Soal itu? Nggak kok, nggak masalah.” “Maaf.” “Hahaha, tidak papa. Sungguh.” Lyss memberikan senyum terbaiknya pada Evan. “Terima kasih,” ujarnya. Evan menghadiahi ciuman terakhir sebelum mereka sampai ke belokan tangga. “Terima kasih juga sudah memberiku kesempatan,” bisik Evan lembut. Beberapa menit yang lalu mereka baru saja berciuman seperti sudah lama berpacaran, tapi sekarang, meski dua insan itu berjalan berdampingan, tapi sikap mereka seperti orang yang saling tidak mengenal. Di koridor lantai tiga, lantai anak kelas satu, mereka berjalan beriringan. Punggung tangan mereka sesekali bersentuhan. Membuat dua insan itu merasa tegang dan gugup. Mereka berjalan seirama, tidak ada yang lebih lambat, dan tidak ada yang mendahului. Anak-anak kelas satu yang kebetulan berada di koridor melihat penasaran ke arah mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD