Dan benar sekali prediksi Veve. Menjelang ujian akhir semester, Evan dan Karin putus. Beritanya trending di grup dan forum-forum sekolah. Hubungan mereka dikabarkan renggang sudah sejak lama. Salah seorang anggota forum mengunggah video pendek pertengkaran Evan dan Karin di sebuah kafe beberapa hari yang lalu. Di video itu, tampak Evan yang ingin pergi tapi ditahan oleh Karin.
Hmm.. Mungkin inilah saatnya.
Tak ingin berlarut-larut, Lyssa menghubungi Evan dengan nomor WhatsA-p pemberian Veve. Gadis itu meminta untuk bertemu di atap gedung kanan, tempat pertemuan pertama mereka, tepat satu hari sebelum ujian berlangsung. Lyssa ingin mengerjakan ujian dengan hati yang lapang, entah nanti jawaban Evan.
Gadis itu berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Evan. Dia sengaja mengajak Evan bertemu di awal jam istirahat supaya mereka bisa ngobrol panjang. Tapi entahlah.. Lyssa tidak merasa yakin lagi.
Masih ada waktu.. mungkin dia bisa pergi sebelum Evan datang. Gadis itu memutar kaki dan tubuhnya menuju pintu keluar. Memang sih, jika dipikir-pikir, rencananya memang konyol.
‘Bruk.’ Lyssa yang berjalan ke arah pintu menabrak seseorang. Seseorang itu dengan cekatan memegangi lengannya sebelum ia terjatuh.
“U-uh, Evan.. Kamu datang..”
Evan melepaskan pegangannya. “Bukannya kamu yang memintaku untuk datang?” tanyanya datar.
Lyssa memalingkan wajah, malu. “Kamu tidak membalas pesanku. Aku pikir kamu tidak akan datang,” jawabnyaa pelan.
Pemuda itu memandangi gadis yang berdiri di depannya. Poni Lyssa yang panjang membuat tangannya gatal ingin memasang jepit rambut di surai hitam cantik itu.
Tak ingin membuat kesalahan yang sama, Evan menahan tangannya dari gerak impulsif dan pergi melangkah menuju pagar. Tubuhnya relaks bersandar di tembok belakangnya. Lyssa mengikut. Berdiri di depan pemuda bertubuh tinggi tersebut. Kepalanya mendongak, melihat wajah pemuda di depannya.
Dua insan itu saling berpandangan. Iris hijau bertemu hitam, syahdu saling mengukur rasa.
“Jadi ... apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan memecah keheningan.
Lyssa meneguk ludah. Lehernya mulai lelah akibat terlalu lama mendongak ke atas. Tangan kecilnya mengepal rapat saat mengatakan, “Aku ... ingin mengajakmu pacaran. Apa kamu mau?” tanyanya. Mata besarnya lebar penuh harap.
Wajah datar Evan pecah, terkejut dan sungguh tak menyangka dengan permintaan Lyssa. “Pacaran? Kamu ingin pacaran denganku?” tanyanya tak percaya. Jarinya menunjuk ke d**a sendiri.
Nyali Lyssa menciut melihat reaksi Evan. “Jika kamu tidak keberatan..” cicitnya.
Evan menegakkan tubuhnya dari posisi bersandar. “Bukannya aku nolak sih.. Tapi kamu tahu sendiri ‘kan reputasiku, aku cowok b******k yang suka gonta-ganti pacar, apa tidak masalah untukmu..?”
Mendengar Evan tidak menolak, Lyssa tersenyum lega. “Tidak masalah, aku juga belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing,” ujarnya dengan senyum lebar.
Sekali lagi, Evan terpesona olehnya.
Tersadar dari keterpanaannya, Evan berdehem. “Aku bisa janji tidak akan menyentuhmu kecuali kamu mengizinkan, tapi ... aku ada beberapa syarat.” Matanya dalam menatap iris hijau Lyssa.
Lyssa mengangguk. “Em. Katakan saja.”
Evan menatap mata Lyssa dalam-dalam. “Satu, aku ingin diperbolehkan untuk menciummu.”
Lyssa berpikir keras. Alisnya berkerut, menimbang permintaan Evan. “... Tapi aku tidak pernah berciuman.”
Seutas senyum menghiasi wajah tampan Evan. “Tidak masalah. Aku akan mengajarimu,” jawabnya dengan cengiran.
Lysaa mengangguk. “Oke..”
Jawaban polos dari Lyssa membuat pemuda itu tertawa. “Jangan mudah menyetujui permintaan cowok, Lyss,” ucapnya di sela-sela derai tawa. Tampak sekali dia sedang berbahagia.
Bibir Lyssa mengerucut. “Memangnya aku harusnya bagaimana? Menolak?” tanyanya imut.
“Hahaha. Tidak, tidak. Tentu saja aku ingin kamu bilang iya.”
Berhenti tertawa, Evan melanjutkan, “Yang kedua, aku ingin diperbolehkan untuk menyentuh rambut dan area kepalamu. Atau menyentuh tubuhmu yang lain jika ada kepentingan.”
“Hmhm.. Oke..”
Evan tersenyum simpul. Tidak menyangka Lyssa sesubmisif ini.
“Yang ketiga..”
“Eih, kok banyak sekali sih?”
“Sumpah, ini yang terakhir.” Evan lagi-lagi menatap dalam mata Lyssa. Mencoba meyakinkan.
“Hm.. Baiklah..”
“Yang ketiga ... Aku ingin kamu berhenti merokok.”
Iris hijau Lyssa berkilat kesal. “Kita baru bertemu sekali ini dan kamu sudah minta banyak hal. Sudahlah, tidak jadi. Aku pergi saja,” ucap Lyssa sambil berbalik pergi.
Buru-buru, Evan menahan lengan Lyssa. “Dengarkan aku dulu, aku akan memberikan penjelasan logis tentang alasan permintaanku.”
“Apa itu tentang ceramah nikotin berbahaya?” balas Lyssa tidak tertarik.
“Dengarkan aku dulu, aku punya alasan lain.” Pemuda itu menarik Lyssa untuk kembali ke arahnya. Otaknya berputar keras mencari alasan lain dari permintaan ketiganya.
“Alasan apa?” tanya Lyssa tak sabaran.
Evan berpikir keras, “Aku ... akan mengajarimu hal lain yang bisa mengalihkanmu dari rokok.”
“Apa?” tanya Lyssa. Kali ini dengan nada penasaran.
Sekelebat ide muncul di otak Evan. Pemuda itu membulatkan tekad. Dengan kedua tangannya, ia menarik tubuh Lyssa ke dalam dekapannya.
Ini pertama kali Lyssa merasakan pelukan intim seperti ini. Sensasi pinggulnya bertemu paha seseorang, dadanya menabrak d**a bidang seseorang. Dan ketika gadis itu mengangkat wajahnya, ada wajah lagi yang begitu dekat, begitu tampan, menatap tulus ke arahnya.
Kepala itu semakin dekat, mendekat.. membuat kelopak matanya refleks menutup diri. Bersiap menerima apapun itu yang akan datang.
Lyssa merasakan sentuhan bibir Evan pada bibirnya. Bibir Evan perlahan mulai mengulum bibir Lyssa, memasukkan bibir Lyssa lembut ke dalam mulutnya yang hangat.. dan basah. Lyssa merasakan sensasi baru untuk pertama kalinya ketika bibir Evan mulai mengisap dan membasahi bibirnya dengan lidah yang licin dan basah. Semuanya terasa nyata, Lyssa bisa merasakan setiap sentuhan.
Evan dengan penuh perasaan bergantian mengisap bibir bawah dan bibir atas Lyssa. Membuat gadis itu semakin pasrah menempel pada tubuh kokoh di depannya. Tangan Lyssa entah sejak kapan sudah melingkar nyaman di leher Evan. Membuat ciuman mereka semakin dalam dan intim.
Tak ingin membuat gadis di pelukannya kehabisan napas, Evan melepaskan ciumannya. Tangannya masih bertengger posesif di pinggang Lyssa. Dan Lyssa pun masih melekat erat di tubuh Evan.
Gadis itu perlahan membuka mata, melihat wajah Evan begitu dekat. Setitik rasa malu membuat pipinya bersemu merah. Evan tersenyum samar melihatnya.
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya, merapikan beberapa helai panjang Lyssa yang melenceng menutupi pipi putihnya. “Aku sudah ingin melakukannya sejak pertama kali bertemu,” ucapnya tak sadar.
“Hm? Ingin melakukan apa?” tanya Lyssa. Ia mengambil kembali tangannya yang semula melingkar di leher Evan.
Tak ingin Lyssa pergi begitu saja, Evan menuntun tangan feminin itu untuk bersandar di dadanya, menyentuhnya.
“Ingin menyentuhmu,” bisik Evan dengan seringai jail.
Alis Lyssa berkerut tidak senang.
Evan tersenyum. “Hehehe, bukan.. Maksudku, aku ingin mengambili rambutmu yang kadang tertiup angin trus nempel di pipi..”
“Hmph..” dengus Lyssa tak percaya.
“Tapi gak bohong sih kalau aku ingin menyentuhmu, hehehe,” aku Evan.
Lyssa berniat melepaskan diri dari Evan tapi ditahan oleh pemuda itu. “Aku ingin menciummu sekali lagi. Bolehkah?” pintanya.