140. Pohon Delima

1629 Words

Meski saat keluar rumah Senior Kwan, Rainier tampak bersedih, tak butuh waktu lama untuknya kembali termakan bujuk rayu Lyssa. Disenyumin saja, Rainier sudah luluh. Mobil Rainier melaju pelan menuruni bukit, di siang hari pun, jalanan ini masih redup, tertutup oleh lebatnya pepohonan. “Aku ada rumah keluarga di sekitar sini,” kata Rainier. “Ou....” balas Lyssa imut. Kali ini ia tidak duduk di pangkuan Rainier seperti saat berangkat, melainkan duduk di kursi sebelah. Rainier menoleh, tak tahan ingin melihat wajah Lyssa saat gadisnya itu berekspresi lucu. “Kita mampir ke dokter bentar yuk,” ajak Lyssa. Tak tega melihat wajah Rainier. Rainier cuma nyengir, kembali melihat ke depan. “Tidak perlu, ini hanya luka luar, dikompres saja pasti langsung sembuh.” Pemuda itu bergumam pelan, “Ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD