bc

Wanita Terindah

book_age12+
111
FOLLOW
1K
READ
love after marriage
self-improved
doctor
bxg
humorous
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Pertemuannya kembali dengan masa lalunya membuat Jonathan percaya, bahwa ada 'tangan' tak kasat mata yang sudah mengatur jalan hidupnya sedemikian indah. Melalui seorang wanita, diam-diam Jonathan belajar banyak hal. Terutama tentang sesuatu yang selama ini ia tinggalkan, ia ingkari dan ia khianati. Wanita itu datang lagi ke dalam hidupnya membawa lentera penerang bagi hatinya yang gulita.

Kamu adalah wanita terindah yang pernah aku temukan - Jonathan.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Terbukanya Pintu
Dan saat pintu terbuka, di situlah dia membuka pintu lain yang sudah ku tutup rapat. ¤¤¤ "Lo resign bukan karena masalah itu kan, Jo?" tanya seorang laki-laki berjas putih. "Kalau gue bilang iya, lo mau apa?" Laki-laki berjas putih mengembuskan napas gusar. "Gue heran, apa sih kurangnya Karin. Udah cantik, baik, tajir melintir. Ah gue tau, lo gay ya?" "Kurang ajar!" pekik laki-laki yang dipanggil Jo. Dia melempar berkas yang ada di mejanya ke wajah temannya itu. Sedangkan laki-laki itu misuh-misuh karena tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Jo. "I'm straight." "Terus apa alasan lo nolak perjodohan itu?" "Gue enggak cinta," jawab Jo. "Hahaha," tawa laki-laki bergaya rambut jambul di depan berderai. "Gue enggak salah denger lo ngomong cinta, Jo? Setau gue lo itu laki-laki yang enggak berani komitmen." "Tau dari mana lo ngira gue begitu?" "Ya dari kata orang." "Ck," decak Jo. "Jangan nilai seseorang dari katanya," ucap Jo sambil memasukkan barang-barang miliknya ke dalam kotak. Isi kotak itu adalah alat-alat medis yang biasa ia bawa. "Jo, gue heran sama lo. Sampai saat ini gue enggak pernah liat lo bawa cewek, atau jalan sama perempuan. C'mon bro! Hidup ini indah dengan hadirnya mereka." Jo terdiam, pandangannya lurus menatap jendela rumah sakit bertirai putih. Satu nama melintas dalam benaknya, namun sebisa mungkin ia tepis. Pemilik nama itu sudah bahagia bersama orang lain. Dan Jo sudah mengubur rasa itu dalam-dalam. "Lo tau prinsip hidup gue, Wira?" Laki-laki yang disebut Wira mengangguk, dia tahu benar siapa orang yang sedang berada di hadapannya ini. Karena mereka pernah satu kampus saat kuliah dulu. "Hidup satu kali, mati satu kali dan jatuh cinta juga satu kali." "Sialnya gue jatuh cinta sama istri sahabat gue sendiri." Setelah itu Jo langsung pergi meninggalkan Wira yang masih tertegun tak percaya. ¤¤¤ Jo memutuskan untuk naik kereta menuju Jakarta karena mobilnya sedang berada di bengkel. Jo beruntung, kereta tidak begitu padat sehingga ia bisa duduk di kursi penumpang. Ia memejamkan mata sejenak meresapi getaran kereta yang melaju dengan kecepatan sedang. Sudut hatinya terasa ngilu, karena tanpa sengaja seseorang berhasil mengorek lukanya kembali. Dalam benaknya muncul seorang gadis yang tengah tersenyum ceria. Harus ia akui bahwa gadis itu mempunyai senyum secerah mentari pagi yang dapat menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya. Mata gadis itu berpendar penuh cahaya, seakan ikut berbicara saat siempunya juga berbicara. Jo kesulitan menelan salivanya sendiri, bagaimana mungkin ia masih mengingat gadis itu? First love never end. Ternyata benar ungkapan itu. Laki-laki berkemeja merah marun itu menyugar rambutnya sendiri. Ia merasa frustasi karena di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia malah seperti ABG labil yang baru pubertas. Ini semua karena gadis itu, selalu berhasil membuat hatinya porak poranda. Walaupun saat ini gadis itu bukanlah gadis lagi, mungkin dia sekarang sudah menjadi ibu dari seorang putra atau putri cantik. Namun di matanya tetaplah dia gadis manis dengan mata yang indah. Dan Jo selalu suka melihatnya. Diam-diam. Dari kejauhan. Karena dia paham, meskipun sudah berjuang sekuat tenaga untuk bisa bersamanya, gadis itu tidak pernah bisa melihatnya. Karena gadis itu mencintai sahabatnya sendiri. Untuk itu, Jo memilih untuk mencintainya dalam diam. Tak tersentuh, tak bersuara. Membiarkan gadis itu bahagia meskipun bukan dengannya. Dengan melihatnya dari kejauhan itu sudah cukup, karena ia sadar mendekat bukanlah jalan terbaik. Seperti matahari pada bumi. Secinta apapun matahari pada bumi, ia memilih untuk menjauh. Karena ia sadar, mendekat hanya akan menghancurkan. Sejak kepulangannya dari Singapore setelah mendapatkan gelar spesialis, Jo bekerja di salah satu rumah sakit di daerah Bogor. Dia ingin mengabdikan dirinya pada kota yang banyak mengukir kenangan untuknya. Namun setelah beberapa tahun bekerja, Karin, anak dari pemilik rumah sakit sekaligus dokter anak di rumah sakit yang sama diam-diam memendam rasa pada Jo. Ketika Papa Karin mengetahui hal itu, dia tidak tinggal diam. Hingga akhirnya berniat menjodohkan putri semata wayangnya dengan Jo. Karena tidak tahan setiap hari di teror mengenai perjodohan, akhirnya Jo memilih untuk pergi. Dia memilih ke ibukota, di sana dia mempunyai seorang Budhe atau istri dari kakak Papanya yang bisa menghandle kepindahannya. Kebetulan juga rumah Budhenya itu dekat dengan rumah sakit tempat barunya bekerja, dan di sana ada rumah kosong yang ingin dijual. Akhirnya keputusan Jo semakin mantap. Sangat jelas alasan Jo menolak perjodohan itu. Satu nama masih tersimpan rapi di sudut hatinya yang paling dalam. Nama itu terukir indah di sana, hingga tak seorang pun mampu menghapus ataupun menggantikannya. Mungkin ia baru bisa melakukannya saat ia mempunyai hati yang baru, dan hal itu mustahil. "Tolong ada yang mau melahirkan!" Terdengar suara teriakan dari arah gerbong wanita. Para penumpang nampak panik, sebagian ada yang penasaran, sebagian lagi ada yang tidak peduli. Kebetulan Jo berada satu gerbong setelahnya. Ia segera mengambil langkah untuk menuju sumber suara. "Mana yang mau melahirkan?" Jo menembus kerumunan orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Ia melihat seorang wanita muda yang tengah kesakitan sambil memegang perutnya sendiri. Kedua kakinya keluar darah dan juga cairan bening dari arah s**********n. "Tunggu Mas, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong." Seorang ibu paruh baya menginterupsi Jo saat dirinya membuka lebar kedua kaki wanita yang ingin melahirkan. Jo berdecak, kemudian memicingkan matanya yang sipit. "Saya dokter kandungan, Bu." Jo berusaha menahan sesuatu yang bergemuruh dalam hatinya. Niatnya hanya ingin menolong, tidak lebih. Apalagi seperti yang dituduhkan oleh ibu tadi, mencari kesempatan dalam kesempitan. Ck, itu bukan dirinya. Ibu yang menuduh Jo langsung terdiam, saat Jo menunjukkan kartu namanya. Jo langsung berkonsentrasi untuk membantu wanita yang melahirkan. Pembukaan telah sempurna, kepala bayi juga sudah terlihat. "Dok ini kain untuk menutupi si ibu." Seorang wanita muda yang memakai jilbab ungu memberikan sehelai kain pada Jo. Jo menerimanya, dan langsung mengucapkan terima kasih. "Bu mengejan sekarang." Wanita itu mengejan dengan kuat, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung muncul dari dahinya. Orang-orang sekitar ikut menahan napasnya saat si wanita berusaha mengeluarkan sang bayi dari rahimnya. Suara tangisan bayi terdengar nyaring. Membuat siapa saja yang menyaksikan menarik napas lega dan menyunggingkan senyum. Bahkan ada yang bertepuk tangan dan sampai menangis karena terharu melihat kejadian yang baru saja disaksikannya. "Selamat Bu, anak ibu laki-laki," ujar Jo. Dia mengambil kain yang menutupi sang ibu untuk membersihkan bayi yang masih dipenuhi oleh darah. "Terima kasih, Dok." Wanita yang baru saja melahirkan itu menyeka matanya sendiri. Ia tidak mengira bahwa bayi yang dikandungnya bisa selamat. Ternyata wanita itu ingin pulang ke rumah orang tuanya yang berada di Rangkas. Ia ingin melahirkan di sana. Suaminya tidak menemani karena harus dinas di luar kota. Saat kereta tiba di stasiun Tanah Abang, wanita itu dibawa oleh petugas kereta api ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. ¤¤¤ Matahari berada tepat di atas kepala. Sang surya menuruti titah Tuhannya dengan baik hari ini hingga membuat laki-laki berkulit putih pucat itu bercucuran keringat. Terlebih saat ini ia tengah merapikan rumah barunya yang baru saja ia beli bersama dengan Meilin, Budhenya. "Sudah selesai Nath, Budhe pulang dulu ya," pamit Meilin. "Habis ini Budhe mau ke vihara, kamu mau ikut?" "Enggak, Dhe. Terima kasih udah bantu saya ya, Budhe." Meilin memaksa senyum pada ponakannya itu. Ia tahu bahwa laki-laki di hadapannya ini sudah sejak lama tidak pernah pergi ke tempat ibadah. Meilin tahu alasannya, oleh sebab itu terkadang ia sering memberikannya nasihat, namum tidak pernah diindahkan oleh laki-laki yang bekerja sebagai dokter kandungan itu. "Rumah udah punya, kerjaan udah mapan, umur kamu juga udah dewasa, Nath. Sekarang kamu tinggal cari istri supaya ada yang bisa urus kamu." Sudut bibir Jo tertarik sempurna hingga membuat kedua matanya nyaris hilang. Bukan sekali ini saja Budhenya itu memintanya untuk mencari istri, sudah berkali-kali bahkan telinganya sampai panas mendengarnya. Namun ia tidak terlalu memusingkannya. "Iya Budhe, kalau ada jodohnya Nath nikah, kok." "Begitu aja terus kalau Budhe suruh nikah." Meilin bersungut kesal, "kamunya aja enggak mau usaha, Nath. Gimana jodoh bakal dateng." Jo terkekeh, wanita paruh baya di hadapannya ini sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Jadi apapun yang dikatakan, ia yakin sudah pasti demi kebaikannya juga. "Astaga!" pekik Meilin yang membuat Jo mengernyitkan kening. "Jangan-jangan kamu itu enggak suka perempuan ya?" Jo terkikik geli. Hari ini sudah dua orang terdekatnya bilang bahwa ia belok alias tidak suka dengan perempuan. Kalau hal itu benar, mana mungkin sampai detik ini ia masih belum bisa move on dari dia. "Yasudah katanya Budhe mau pulang." Jo mengalihkan pembicaraan. "Lho kamu usir Budhe, Nath?" Jo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, "enggak Budhe, nanti Budhe telat ke viharanya." "Yasudah deh Budhe pulang. Jangan lupa cari istri." "Siap!" Jo mengantarkan Meilin sampai ke depan pintu. Saat Budhenya sudah tidak terlihat, ia menutup pintunya dan langsung merebahkan tubuh bersandar pada sofa. Acara pindahan hari ini cukup menguras tenaganya. Istri? Kata itu berputar di otaknya. Apa ia bisa menikah dengan perempuan lain saat ada perempuan yang masih bertakhta di hatinya. Jo tidak ingin menyakiti istrinya nanti karena tidak bisa mencintainya. Itu pula yang menjadi alasan dia menolak Karin. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang tidak ia cintai. Lebih baik Jo sendiri, dari pada hidup merasa terkekang dan berpura-pura bahagia. Mata Jo mulai terpejam. Kelelahan membuatnya mengantuk hingga ia tidak sadar bahwa ia masih berada di sofa. Namun saat ia belum benar-benar memasuki dunia mimpi, ia mendengar sayup-sayup suara perempuan yang mirip dengan gadis yang memiliki mata yang indah. "Permisi... Apa ada orang?" Berkali-kali Jo mengerjapkan matanya. Usianya memang sudah lebih dari kepala tiga, namun ia masih yakin bahwa indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Ia bangkit dengan malas dari sofa menuju pintu. Saat daun pintu terbuka ia melihat punggung seorang perempuan yang seluruh tubuhnya tertutup sempurna. "Ya, ada apa?" Perempuan itu berbalik, "ini ada sesuat—" Mata Jo membulat melihat siapa yang ada di hadapannya ini. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ini semua bagaikan mimpi. Jo memerhatikan penampilan perempuan itu, sangat berbeda seratus delapan puluh derajat darinya yang dahulu. Ia bisa menebak kalau perempuan itu juga merasa terkejut, sama dengan apa yang saat ini ia rasakan. "Ka–kamu pemilik rumah ini?" "Hhmm..." Sebisa mungkin Jo menetralkan suaranya agar tidak bergetar, juga degupan jantung yang berdetak sangat kencang. Ia takut kalau perempuan di depannya itu mendengarnya. "Ng–nggak nyangka kita tetangga." Jo melihat ke arah belakang perempuan itu. Mencari-cari kemana laki-laki yang sudah berhasil memenangkan hatinya. Namun ia tak melihat batang hidungnya. "Suami kamu mana?" "Jangan tanya dia sama aku lah, kan kamu sahabatnya." Aneh. Jo merasa jawaban itu aneh. Bagaimana mungkin seorang istri menjawab seperti itu saat ada yang bertanya dimana suaminya. "Kan kamu istrinya, mana dia? Sudah lama nggak ketemu." Perempuan itu hanya diam saja, tak menjawab sama sekali. Hanya saja tatapan matanya berpendar penuh amarah dan kesedihan. "Kamu ditinggal sama dia? Oh atau diceriakan? Memang sih kamu enggak pantas buat dia!" "Aku cuma mau ngasih ini, bukan buat dihina." Perempuan itu memberikan sebuah rantang pada Jo, "tenang aja, enggak diracun! Tapi kalau aku tahu dari awal kamu yang jadi tetangga baru, mungkin udah aku kasih sianida!" Jo masih tertegun mendengarnya. Perempuan itu tidak berubah, masih sama seperti dulu yang membencinya. Cara Jo berhasil untuk membuat perempuan itu membencinya, karena hanya dengan cara itu ia bisa berdekatan dengannya. Jo memerhatikan punggung perempuan itu dari tempatnya berdiri. Perempuan itu berjalan meninggalkan rumahnya dengan cepat. Ia memerhatikan sebuah rantang yang berada di tangannya. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna. Ada sesuatu di dalam hatinya yang berkata, siapa yang sudah merencanakan pertemuan ini kembali dengannya? Kebetulan yang sangat indah. Ah, Jo harus benar-benar berterima kasih pada Sang Perencana itu. Dan saat pintu terbuka, ia berhasil membuka pintu lain yang sudah Jo tutup rapat. Yaitu pintu hatinya. **** Kalo ada yg belum move on dari Jo, maka aku salah satunya wkwkwk. Ini bukan sequel yak, tapi dari versi Jo haha. Cerita ini bakal slow update, karena aku pengen ngerjain cerita yang lain. Aku share ini biar idenya enggak lupa wkwk.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook