2 jam sebelumnya.
Edward menggosok matanya begitu bangun sementara Bella masih tidur nyenyak, dia mengedarkan pandangan ke kamar Kinara. Tidak ada tanda-tanda Adit masuk ke dalam kamar.
"Cari siapa?" tanya Reiko yang membawakan sarapan untuk Edward dan Bella.
"Mama mana?"
"Di dapur."
Entah kenapa hati Edward berat sekaligus malas mengucapkan ini. "Papa?"
"Masih di kamarnya Cynthia, berusaha menenangkan amarah istri tercinta. Heran, yang buat masalah siapa, malah play victim."
Edward sudah tahu itu sejak lama.
Reiko melihat reaksi Edward yang datar lalu berkacak pinggang. "Dilihat dari reaksi kamu, sepertinya hal itu sudah biasa."
Edward merenung lalu mengangguk singkat. "Papa sering membawa wanita itu dan anak-anaknya saat mama tidak ada dengan alasan untuk menemani sekaligus mengurus kami tapi kebanyakan, wanita itu mengurus papa dan di dalam kamar ini sementara si kembar mencuri kamar kami. Kalau kami marah, papa akan lebih marah dan menghukum kami."
"Tapi waktu itu Bella-"
Edward meringis. "Itu karena dia terlalu lelah dan ingin istirahat."
Reiko duduk di samping tempat tidur. "Kebanyakan Kinara di luar rumah, kan? kalau begitu, sewaktu si kembar mencuri kamar dan papamu sibuk berduaan dengan wanita sialan itu, kalian tidur dimana?"
"Lantai kamar kami atau sofa ruang keluarga, tergantung Bella nyamannya tidurnya dimana."
"Papa kalian tahu hal ini?" tanya Reiko tidak percaya. Dia kira Adit yang b******k tidak akan bersikap seperti itu tapi sayang, perkiraannya meleset. Inilah yang dicemaskan Fumiko waktu Kinara memutuskan kawin lari dengan Adit.
Edward mengangguk singkat lagi.
Adit terlalu buta mencintai Cynthia sehingga mengabaikan perasaan kedua anak Kinara terang-terangan. Pantas saja om dan tante tidak suka anak haram ini dan anak-anak bersikap seperti itu.
"Selama ini kalian tidak bilang ke Kinara bukan untuk tidak mau merepotkannya, bukan? pasti ada alasan lain."
Edward terlihat ragu mengatakannya.
"Aku tidak akan beritahu ke siapapun." Janji Reiko.
Edward menimbang sebentar lalu mulai bercerita. "Sewaktu papa pulang dalam keadaan mabuk, papa panggil nama wanita itu dan minta maaf sambil berteriak. Papa juga tahu kalau wanita itu sempat bersama dengan pria lain, tapi karena ada si kembar... papa memutuskan merawat mereka dan wanita itu dengan kasih sayang."
Reiko merasa janggal. "Tunggu! berarti si kembar itu bukan anak papa kalian?"
Edward menaikan kedua bahunya.
"Apa papa kalian tidak curiga dan melakukan tes DNA?"
"Hmm. Wanita itu pernah bilang sih buat buktiin tapi papa gak mau karena sudah percaya."
Reiko tercengang. "Mereka berdua bicara di depan kalian?"
Edward mengangguk.
Gila!
"Bagaimana dengan mama kalian?"
"Ya, mama bunuh diri karena tahu papa punya keluarga lain."
Reiko memijat keningnya. Adit dari awal memang b******k, apa yang membuat Kinara jatuh hati seperti itu? untung saja Adit tidak tahu siapa sebenarnya Kinara.
"Ngomong-ngomong hari ini gak sekolah?" tanya Edward yang kebingungan mencari seragam sekolahnya.
Reiko melihat bekas luka di kening sebelah kanan Edward, berdekatan dengan rambut jadi tidak akan terlihat. Tadi pagi Kinara mendatanginya dan bertanya tentang luka di Bella, Reiko terpaksa cerita meskipun itu harus mengkhianati Edward.
Luka seperti ini tidak akan pernah sembuh jika disembunyikan terus-terusan. Di luar dugaan, Edward juga memiliki luka baru dan Kinara memperhatikannya dengan detail.
Akhirnya Kinara meliburkan anak-anak dan dia pergi ke sekolah sendirian setelah mengumpulkan bukti luka.
"Mama kalian bilang sekali-sekali libur," jawab Reiko.
Edward mengangguk lalu makan sarapannya. "Pagi aku mau keluar."
"Kemana?"
Edward menghindari tatapan Reiko.
Reiko memperingatkan Edward dan menyentil keningnya. "Jangan macam-macam, bocah!"
Edward menggosok keningnya dengan masam. "Mana mungkin!"
"Mau aku temani?"
Edward menggeleng lalu melihat Bella yang masih tidur pulas. "Tidak, tolong jaga Bella."
Reiko hanya bisa pasrah.
2 jam setelahnya.
"Darimana kamu tahu kalau itu saya?" tanya Adelio yang masih tidak percaya.
Edward menghela napas. "Serius anda penasaran?"
Adelio selalu bersikap hati-hati bahkan membalas komentar pun harus dipertimbangkan dengan matang.
"Jam tangan."
"Apa?"
"Foto jam tangan di foto profil, itu sama dengan yang anda kenakan sekarang."
Adelio mengangkat tangannya dan menunjukan jam tangan. "Ini jam tangan tidak terlalu mahal, bisa ditemukan di toko."
"Itu sama dengan jam tangan yang dipakai mama." Potong Edward sambil menatap curiga Adelio.
Kemeja Adelio yang tadinya dilipat sampai siku, segera diturunkan sampai pergelangan tangan untuk menutup jam tangannya.
"Mama membelinya pasangan, tapi itu hilang saat mama diculik."
"Saya dan mama kamu dulunya tetangga, jadi..."
"Apakah anda ayah kandung saya?"
"Apa?" Adelio terkejut dengan pertanyaan Edward.
"Jadi, anda bukan ayah kandung saya?"
"Nak, kita baru bertemu. Jadi, tidak mungkin saya..." Adelio tidak mau menyakiti hati anak kecil. "Maksud saya, mama kamu saja sudah memutuskan putus hubungan dengan keluarga dan teman-temannya.
Mata Edward berkedip. "Bukankah anda kakak tiri papa saya? jadi, mana mungkin mama putus hubungan dengan keluarga papa."
Adelio tidak bisa membantah. "Apa yang kamu inginkan?"
"Tes DNA." Tegas Edward.
Adelio berusaha menahan tawa melihat wajah bocah kecil yang berusaha bersikap tegas dan kaku. "Siapa yang mau tes?"
"Anda dan saya tes DNA." Edward menunjuk Adelio lalu menunjuk dirinya.
Suasana hening.
"Ceo, kenapa pintu ruangan anda terbuka le-" sekretaris menghentikan langkahnya begitu melihat dua wajah sama jika diperhatikan dari jauh.
Adelio mengangkat kepala untuk melihat sekretaris. "Siapkan sopir dan ke rumah sakit sekarang, Kami akan tes DNA."
Sekretaris menatap bocah kecil itu dengan penasaran. Kami?
Edward memperkenalkan dirinya ke sekretaris. "Hallo, nama saya Edward Sanjaya."
Kedua mata sekretaris melebar tidak percaya. Dulu dia sering mendengar nama ini dipertemuan keluarga Sanjaya lalu wajahnya tidak asing karena kemarin anak ini datang bersama teman atasannya. Pantas saja wajahnya terlihat tidak jauh berbeda dengan atasannya.
"Untuk siapa?" tanya sekretaris.
Adelio menunjuk Edward dengan dagunya. "Kami berdua."
Tanpa banyak bertanya, sekretaris segera melanjutkan perintah atasannya.
---
Sementara di rumah, Bella terbangun begitu mendengar suara tawa dari luar kamar.
Bella turun dari tempat tidur sambil menggosok mata dan membuka pintu dengan berjinjit.
"Anak kita kali ini perempuan?"
"Kitakan gak cek, buat surprise nanti."
"Aku senang punya anak perempuan." Tawa Adit sambil memeluk Cynthia.
Cynthia tertawa geli.
"Aku akan mengajari anak kita cara berbisnis."
Wajah Cynthia berubah murung. "Kok bisnis?"
"Anak kita dijamin secantik kamu, tapi aku juga tidak ingin anak perempuan kita terlalu banyak bermimpi. Dia harus menjadi wanita dewasa."
Dahi Cynthia berkerut. Bukankah itu seperti Kinara?
"Papa." Panggil Bella.
Cynthia dan Adit melihat Bella sudah mengulurkan tangan, minta digendong.
"Kenapa kamu tidak sekolah?" tanya Adit yang terkejut putrinya masih di rumah.
"Nggak ada yang bangunin Bella," jawab Bella dengan polos.
"Kinara." Panggil Adit.
Bella yang tangannya masih diulurkan ke udara, merengek. "Papa, gendong."
Adit mengabaikan rengekan Bella dan berteriak tidak sabar. "Kamu sudah besar, jangan manja!"
Bella terkejut. Ini kali pertama papanya membentak.
Cynthia puas melihatnya. Dia memang tidak bisa melihat wajah kalah Kinara tapi bisa melihat wajah sedih anaknya.
Tak lama Ari dan Adi lari sambil menangis ke Adit. "Papi!" teriak mereka berdua bersamaan.
Adit menggendong Ari yang menangis paling keras. "Ada apa hmm?" tanyanya dengan lembut, berbanding terbalik dengan sikapnya ke Bella.
Bella lari ke paha Adit dan memeluknya sambil menangis. "Bella juga ingin digendong!"
Adi menarik tangan Bella dengan kasar dan mendorongnya. "Pergi! Jangan sentuh papiku!"
Adit melihat Adi mendorong Bella hingga jatuh dan mengabaikan tangisan anak perempuannya. "Kemana baby sitter kamu?"
Reiko yang sudah merekam itu semua dari atas, segera mengirimkannya ke Fumiko lalu merekam lagi ketika melihat Bella merangkak ke kaki papanya. "Memang pria b***t!"
Bella menangis dan menarik celana Adit.
Adi mencubit dan memukul tangan kecil Bella dengan keras. "Lepas!"
Bella menggeleng dan menangis keras. "Ini papaku!"
Adit pusing mendengarnya sementara Cynthia hanya melihat sambil menutup kedua telinga, ia beralasan kalau bergerak lebih bisa mempengaruhi janinnya.
Adi menangis sambil memukul dan menjambak Bella sementara Bella masih memegang erat celana papanya.
"Kenapa Bella tidak bisa peluk papa?" tangis Bella. "Ini papa Bella juga!"
Adi yang tidak tahan mulai menjerit dan mengeluarkan balok mainan kayu dari saku celana lalu melemparkannya ke kepala Bella.
Balok itu kena tepat diluka Bella yang masih basah.
Semua orang diam membeku kecuali si kembar yang masih menangis keras, Bella yang kesakitan memegang lukanya, dijambak dan didorong lagi hingga terjatuh oleh Adi.
Reiko yang terkejut, segera turun dari tangga dan menggendong Bella yang masih shock. Ia melihat Adit berusaha menenangkan Adi dan Ari, mengabaikan Bella.
Kinara yang melihat itu dari awal segera mendorong masuk kursi roda. Begitu Bella melihat siapa yang duduk di kursi roda, ia segera turun dan berlari memeluk kakaknya lalu menangis keras.
Kinara mengangkat Bella untuk duduk di pangkuan anak keduanya lalu menatap dingin keluarga bahagia di depannya. Ia kecewa melihat perilaku suaminya yang pilih kasih, usia si kembar hampir sama dengan Edward sementara Bella masih 4 tahun.
Adit yang paham kemarahan Kinara, mengalihkan tatapannya dan mengajak Adi serta Cynthia masuk ke dalam kamar.
Reiko menghela napas panjang. Sangat menyakitkan melihat balita yang butuh perhatian ayahnya malah diabaikan, padahal keinginan Bella sangat sederhana.