Kinara membuka i********: di handphonenya di atas tempat tidur dengan kedua anak di masing-masing sisi. Entah kenapa dia ingin mulai aktif di aplikasi ini lalu melihat foto-foto lama.
Berbagai foto dengan sudut pandang mewah serta barang-barang mewah dipamerkan, waktu itu ia berpikir jika memasang hal-hal mewah, orang-orang tidak akan menghina dirinya dan juga bisa meningkat status Adit.
Semua barang ini hasil kerja kerasnya, Adit tidak pernah membelikan barang-barang mewah karena memang dirinya tidak pernah minta. Sayangnya, hasil foto tidak seindah komentar.
Dia pasti memakai uang Adit Sanjaya.
Istri yang suka menghambur-hamburkan uang.
Kasihan Cynthia.
Kinara, setidaknya kamu harus tahu diri.
Memang gampang kok merebut laki orang, karmanya ada.
Kinara tersenyum sedih. Setiap foto yang dia tampilkan selalu diberi komen penuh kebencian. Padahal kejadian itu sudah lama tapi netizen selalu mengingatnya.
Kinara, jejak digital selalu ada. Kasihan, anak-anak kamu yang akan mendapat karmanya nanti.
Kinara menahan jarinya untuk tidak membalas komentar itu, dia ingin menjelaskan kalau dulu Adit dan Cynthia akan berpisah. Sayangnya, akal sehat Kinara berteriak kalau netizen tidak akan mau mendengar.
Kinara melihat Edward tidur dengan nyenyak di sebelah kirinya lalu Bella yang ngempeng di sebelah kanannya. Cepat-cepat ia mengambil foto mereka, mengeditnya dengan emoticon love lalu diposting ke i********: dengan tulisan 'My Child.'
Kinara memutuskan tidak membaca isi komen i********: karena takut menjatuhkan mentalnya, ia mengalihkan perhatiannya ke berita ekonomi.
Banyak hotel dijual murah karena pandemi selain itu para owner tidak terlalu paham menjalankan manajemen hotel.
Kinara menggigit kuku dan memikirkan masa depan anak-anaknya. Kemungkinan besar mas Adit akan melengserkan Ed dan menaikan si kembar, itu berarti sudah tidak ada tempat disini lagi. Aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini bersama anak-anak sebelum ulang tahun perusahaan.
Mencari celah hukum untuk bercerai itu sulit, yang ada dirinya kalah dan harus merelakan anak-anak, Kinara tidak mau itu terjadi. Hakim juga pasti akan menilai dirinya tidak pantas menjaga anak-anak setelah image di media dan sebutan wanita jahat sudah melekat di dirinya.
Aku harus mencari uang sendiri, tanpa harus bekerja di hotel yang dikuasai Adit. Itu berarti aku harus coba menemui para owner hotel dan melakukan cara supaya hotel itu tidak bangkrut atau... meminjam hotel untuk ditangani, mengumpulkan uang untuk membeli hotel tersebut dan membelinya.
Kinara tersenyum puas, dia sudah memutuskan untuk mengambil opsi kedua. Sangat bagus untuk jangka panjang dan masa depan kedua anaknya.
---
Adelio yang baru saja tiba di kantor, melihat notifikasi i********: di handphonenya. Sudah lama dia memakai aplikasi ini dan hanya mengikuti satu orang yaitu Kinara.
Apa dia akan memposting barang-barang mewah lagi demi image Adit?
Itulah yang dipikirkannya saat dengan tidak sabar menunggu foto terbuka. Betapa terkejutnya dia begitu melihat foto terbaru Kinara, kali ini yang diposting adalah anak-anaknya.
Muncul kecemburuan di hati Adelio, dia memutuskan membaca komentar netizen seperti biasanya.
Apa ini? Dia mengubah imagenya menjadi ibu yang baik setelah ketahuan Adit dan Cynthia masih bersama?
Dengan geram Adelio membalasnya. Memangnya kenapa? Dia seorang ibu, tentu saja dia akan memposting anak-anaknya, lain halnya jika kamu punya peliharaan! Tentu saja yang diposting hanya peliharaan.
Tanpa sadar Adelio menyindir Adit, karena seluruh instagramnya tidak ada foto Kinara dan anak-anak dengan alasan privasi setelah jatuhnya citra Kinara di mata publik dan berkali-kali Adit beralasan di depan keluarga untuk menjaga perasaan Kinara, sementara setelah ketahuan selingkuh dan sengaja diungkap di media, Adit berusaha memperkenalkan Cynthia dan anak-anaknya di publik termasuk media sosial Adit.
Hahahaha... dia dapat karmanya setelah merusak hubungan orang, cinta Adit dan Cynthia memang tidak bisa dipisahkan.
Adelio membalasnya. Apakah kamu sehat? Adit dan Cynthia belum menikah waktu itu, sudah diumumkan ke publik juga kalau Adit memilih Kinara.
Dan Kinara membuangku. Jari Adelio berhenti lalu menghapus bagian ini, kalau dia nekat komentar seperti ini, netizen dengan mudah akan bisa melacaknya.
Adelio membaca komentar lain.
Aku lihat selalu ada satu orang yang membela Kinara, pasti ini buzzer. Karena satu Indonesia tahu bagaimana bobroknya Kinara, lihat saja di kepala si kecil, ada kapas ditutupi plester.
Adelio kembali memperhatikan foto Kinara. Benar apa yang dikatakan netizen.
Adelio terlihat ragu lalu ia memberi komentar, hal yang tidak pernah dilakukannya setelah mengikuti i********: Kinara.
Aku tahu kamu tidak pernah menyerah dalam menggapai mimpi, tapi aku harap kamu tidak menyerah ketika jatuh.
Setelah memastikan tidak ada masalah di kalimatnya, Adelio segera mengirim komentar. Tak lama, muncul banyak balasan komentarnya dengan heboh.
Baru sekarang aku membaca komentar dari akun ini. Selama ini, nih akun hanya membalas komentar orang-orang. Ingatkan aku kalau salah.
Kamu benar.
Kamu benar 2.
Kamu benar 3.
Hei, buzzer Kinara. Harusnya kamu bisa melihat pakai mata kepala sendiri, jelas-jelas Kinara salah merebut tunangan wanita lain. Netizen sekarang cerdas dan tidak bisa dibodohi lagi, kecuali kamu yang bodoh! Hahahaha.
Adelio yang akan membalasnya sontak mematikan handphone dan meletakkannya di atas meja lalu berpura-pura sedang membaca dokumen.
Tok tok tok
Adelio berdehem pelan. "Masuk."
Sekretaris masuk dengan lesu bersama seorang wanita di belakangnya.
Dahi Adelio berkerut tidak suka. "Ngapain kamu disini?"
Wanita itu menunjukan senyum genit dan berjalan memamerkan lekuk tubuhnya yang ramping, sayangnya dia bukan tipe Adelio.
"Semalam kamu gak datang, aku jadi khawatir," katanya sambil memutari meja untuk berdiri di samping Adelio dan menunjukan belah dadanya.
Adelio segera menekan intercome. "Suruh satpam ke kantor saya, ada pelecehan seksual disini."
Wanita itu menatap tidak mengerti Adelio.
'Kalau boleh tahu, apakah sekretaris menjadi korban pelecehan?'
Sekretaris menundukan kepalanya dengan malu. Tadi pagi di lobby, tepatnya di hadapan orang banyak termasuk satpam yang bertanya melihat wanita ini melecehkan dirinya secara terang-terangan karena menghalanginya bertemu Ceo.
Bagi orang-orang, dia memang tampan tapi dia tidak mengira sampai bisa dilecehkan secara verbal, dengan menyerah dia membawa wanita gila itu ke kantor Ceo, orang-orang pun tidak ada yang berani menghalangi wanita gila ini.
Adelio menjawab tidak sabar. "Aku! aku dilecehkan di kantorku sendiri! apa kalian tadi tidak melihat seorang wanita jalan sambil pamer dadanya kemana-mana? ini jelas-jelas pelecehan untuk mata saya!"
Sekretaris menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa.
Wanita itu menatap nyalang Adelio. "Kamu keterlaluan Adelio!"
Adelio hanya diam dan memandang dokumennya.
"Sebentar lagi aku akan menjadi istri kamu! bagaimana bisa kamu memperlakukan aku seperti ini?!"
"Aku tidak pernah setuju menikah denganmu!"
"Ayahmu-"
Adelio menjadi tidak sabar, ayahnya hanya bisa menghancurkan hidup dirinya. "Itu urusannya, bukan urusanku."
"Sebagai seorang pewaris, kamu membutuhkan istri." Wanita itu menatap bagian celana Adelio tanpa menutup nafsunya.
Adelio berdiri dan menghindari tunangan jadi-jadiannya. "Jangan mendekatiku atau aku panggil polisi!"
Wanita itu menatap masam Adelio. "Kamu selalu jahat kepadaku, apakah kamu tidak bisa melupakan tunangan lama kamu?"
Adelio mencekik leher tunangannya dengan mata penuh amarah sekaligus jijik begitu mencium bau parfum yang menyengat. "Jangan pernah menyebutnya dengan mulut kotormu itu!"
Beberapa satpam buru-buru datang dan masuk ke dalam kantor Adelio, mereka terpana begitu melihat perilaku atasannya yang mencekik wanita itu. Apanya yang korban pelecehan? Yang ada malah tersangka pembunuhan.
Adelio menarik dan melempar wanita itu di bawah kaki para satpam dengan mudah. "Jangan pernah izin kan wanita ini masuk ke hotelku!"
Para satpam buru-buru mengangguk dan membawa wanita itu keluar sebelum mereka kena getahnya, tidak lupa memberikan semangat ke sekretaris.
Perasaan sekretaris saat ini tidak bisa diucapkan. "Anu-"
"Kalau dia datang lagi meskipun mengancam kamu, tetap jangan biarkan masuk."
Sekretaris mengangguk lalu keluar dari ruangan setelah mendapat beberapa instruksi dari Adelio.
Adelio duduk di kursinya dengan keras sambil mengacak-acak rambut dengan emosi. "Sial!"
Tok tok tok.
"Apa lagi? sudah kubilang jangan ganggu ak-" Adelio terdiam begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya yang terbuka. Dimana sekretaris sampai bisa membiarkan seorang anak kecil datang sendirian kesini.
"Kamu-"
"Saya Edward Sanjaya." Edward memperkenalkan dirinya sambil menutup pintu dengan sopan. "Kita bertemu kemarin."
Adelio berdiri dan menyambut tamu kecilnya. "Bagaimana-"
"Tadi ada tante-tante menor berusaha masuk dengan mendekati om berkaca mata sewaktu saya ingin melapor untuk bertemu. Karena fokus semua orang kesitu jadinya saya bisa menyelinap masuk termasuk bagian para satpam yang buru-buru datang kesini tanpa memperhatikan sekitar." Edward menjelaskan panjang lebar.
Entah kenapa Adelio merasa anak laki-laki ini bukan hanya menjelaskan tapi juga mengkritik kinerja para pegawainya yang ceroboh hanya karena satu wanita.
Bocah cerdas yang membuat Adelio iri kepada semua pria yang bisa memiliki anak, begitu mengingat ini dia jadi kesal sendiri saat mengingat adik tiri dan ayah kandung mengejeknya karena sulit punya anak. Heran, orang lagi sakit saja sudah diolok seperti ini hanya karena demi harta yang mereka inginkan.
Adelio menatap bocah pintar itu dengan kagum.
"Apakah wanita berdandan menor dan memakai parfum menyengat itu pacar anda?" tanya Edward yang memberikan tatapan polos ke Adelio seolah sarkasme tadi tidak keluar dari mulut anak ini.
Adelio geli mendengar ucapan anak ini yang sama dengan pemikirannya. "Dia tunangan saya." Biar bagaimanapun semua orang tahu wanita itu tunangannya dilihat dari caranya ingin naik ke atas dan pastinya bocah ini sudah mencuri dengar.
Edward puas mendengar jawaban Adelio. Hanya tunangan, bukan istri. Bisa susah nanti kalau bertemu lagi, karena dia punya dua adik lagi dan pasti canggung hubungan mereka.
"Ada perlu apa kemari?" tanya Adelio.
Edward mengambil handphone dan membuka i********: lalu menunjukannya ke Adelio. "Pertama, saya ingin berterima kasih karena sudah membantu mama saya selama ini di instagram."
Adelio hampir kena serangan jantung. "Apa?"
Bagaimana bisa bocah ini mengetahuinya?