"Mama, Bella pulang!" Bella dengan semangat memanggil Kinara lalu memeluk kakinya. Ia senang melihat mamanya ada di rumah.
Kinara membelai rambut putrinya dengan sayang. Dulu karena terlalu sibuk, ia jadi tidak memperhatikan putri kecilnya.
"Bella tadi makan bekal mama, enak sekaliiii-" kata Bella sambil melebarkan tangannya selebar mungkin.
"Terima kasih, mama jadi semangat masak." Kinara mencubit gemas hidung mungil putrinya.
Wajah Bella berubah cemberut. "Mama nanti kerja?"
Kinara tersenyum sedih. "Iya, tapi nggak sekarang."
Bella mengangguk senang.
Kinara mengerutkan kening ketika merasakan sesuatu di kepala Bella, ada perban di kepala depan Bella yang ditutupi rambut. "Ini-"
"Bella tadi jatuh, ma."
Kinara menatap Reiko.
Reiko menggeleng miris. Saat pulang sekolah, Edward menyadari kasa ditutup plester di kepala Bella, ia segera menutupinya dengan rambut.
"Kita harus mengadukan ini ke mama kalian."
Bella dan Edward sama-sama menggeleng.
"Kalau papa tahu, bisa marah ke mama," kata Bella.
"Mama habis sakit, jangan diganggu," jawab singkat Edward.
Reiko tidak habis pikir, padahal mereka berdua hidup mewah dan tidak kekurangan apapun tapi sudah bisa berpikir dan bertindak dewasa. Berbeda dengan anak-anak Cynthia yang merengek ini-itu.
Sepertinya ada yang salah di dalam rumah tangga Kinara dan suaminya. Reiko harus mencari tahu diam-diam.
"Kalau begitu, kalian istirahat di kamar ya," kata Kinara.
Bella menatap bingung mamanya. "Kamar yang mana? kami 'kan tidak punya kamar."
Edward mengangguk lesu.
Kinara menghela napas dan memberi tanda ke baby sitter. "Tidak keberatan 'kan anak-anak saya tidur di tempat kamu?"
Reiko bergidik ngeri begitu mendengar permintaan Kinara. Dulu wanita ini hanya diam dan mengamati, bicarapun apa adanya tapi tidak pernah mengucapkan kata tolong, maaf dan terima kasih karena Kinara selalu melakukan semuanya sendirian.
Sampai Reiko menjadi heran sendiri. Anak orang kaya yang ia kenal, terbiasa melakukan semuanya sendirian hanyalah Kinara.
"I- iya, mana mungkin saya keberatan." Reiko tertawa canggung.
Kinara tersenyum ke Bella dan Ed. "Kalau kalian ingin tidur di kamar mama, mama gak keberatan."
Edward menggeleng. "Papa pasti keberatan."
"Tentu saja papa keberatan."
"Iya, keberatan!"
Si kembar berjalan mendekati mereka.
Bella menatap tidak suka mereka sementara Edward tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Kalian anak-anak pengacau hubungan orang tua kami!" tunjuk salah satu anak yang memegang bola.
Edward menepis tangan itu. "Sebelum menunjuk orang, belajarlah sopan santun. Apakah kedua orang tua kamu tidak mengajarkannya?"
Anak bertubuh kurus mendorong Edward. "Kamu seharusnya menjadi anak haram! mama selalu menangis di rumah mengingat mama kalian menghancurkan hubungan orang tua kami."
"Omong kosong apa yang kalian bicarakan?!" bentak Kinara.
Kedua tangan Edward mengepal di masing-masing sisi.
Si kembar menangis lalu mengadu ke Cynthia yang sedang mèmbawa camilan dari dapur, mereka menunjuk Kinara.
Cynthia menatap sebal Kinara. "Kamu bilang ini itu semalam, eh ternyata ganggu anak-anak kecil."
Kinara menatap polos Cynthia. "Memangnya aku ganggu apa?"
"Ari dan Adi bilang kalau kamu membentak mereka."
"Memang aku bentak mereka, terus kamu gak tanya alasannya?" tanya Kinara.
Cynthia yang sudah kepalang basah menoleh ke anak kembarnya. "Kalian diapakan saja sama tante ini?"
Ari menangis. "Dia bentak kami."
"Terus kalian gak jelasin penyebabnya apa?" tanya Kinara.
Adi menunjuk Kinara dengan marah sambil terisak. "Kan memang benar, tante sudah menghancurkan hubungan kedua orang tua kami! Harusnya kalian berdua yang menjadi anak haram, bukan kami!"
"Siapa yang mengajarkan kalian berpikiran seperti itu?" tanya Kinara.
Adi melirik mamanya.
Cynthia gelagapan lalu menarik si kembar masuk ke dalam kamar mereka.
Kinara menghela napas lalu meminta maaf ke Reiko. "Maaf ya, jadi melihat hal yang memalukan."
Reiko tersenyum canggung lalu pamit membawa anak-anak ke kamarnya sebelum ada perseteruan tambahan.
"Padahal bukan mama yang salah," keluh Bella di bahu Reiko.
Reiko menepuk pelan kepala Bella. "Kok tahu bukan mama yang salah?"
Edward yang berjalan di belakang Reiko melirik adiknya supaya diam, Bella menipiskan bibirnya dan tidak bicara lagi.
Reiko menghela napas. Dia berpikir positif dan beranggapan itu hanya komentar anak kecil biasa sementara Edward khawatir melihat mamanya semakin kurus.
---
"Makan ini mas, hari ini aku nemu tempat makanan bagus. Enak lho." Cynthia mengambil makanan lalu meletakannya di atas nasi Adit.
Kinara yang sudah duduk berhadapan dengan cynthia membantu Edward mengiris bakso yang dia buat siang tadi.
Cynthia mencibir. "Pagi makan daging, siang daging, malam juga daging. Ya, gimana gak enak makan? Ari sama Adi aja makan sederhana."
"Kami sedang dalam masa pertumbuhan, tante mau?" tanya Edward sambil mengambil potongan bakso dengan keras.
Cynthia menyuap Adi dengan nada puas. "Tidak, tante sudah dapat makanan yang enak dan bergizi."
Bella melihat lauk di meja makan dan cemberut. "Buat kita gak ada tante?"
Adit mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan di atas meja. Ia mengerutkan kening ketika melihat lauk yang dibeli Cynthia diletakan dekat dirinya dan Cynthia sementara bakso buatan Kinara di tengah meja supaya bisa dijangkau.
"Tadi, tante lihat mama kalian masak enak jadinya tante gak berani kasih. Takutnya gak sehat seperti tadi pagi." Cynthia merasa puas, bisa membalas dendam ke Kinara.
"Iya, baksonya mama memang enak 'kan pa?" tanya Kinara dengan nada mesra.
Adit hampir tersedak makanan.
Kinara buru-buru mengambil minum untuk Adit.
Edward mengawasi kedua orang tuanya yang sedang bersikap mesra.
Adit menghabiskan minumannya lalu mengangguk. "Bakso buatan Kinara itu sehat."
Cynthia mengerutkan kening tidak percaya. "Bakso itu kan ada lemak, mana mungkin sehat."
"Ya ampun, Cynthia. Apa kamu tidak pernah belajar makanan favorit mas Adit?" tawa Kinara.
Cynthia menahan emosi dan mencoba tersenyum. "Maksudnya?"
Kinara memegang tangan mas Adit di atas meja. "Mas Adit itu sukaaa banget sama bakso, hanya saja menghindari lemak karena takut gemuk. Jadinya aku belajar buat bakso tanpa lemak. Coba kamu lihat, apa ada lemak di atas kuahnya?"
Cynthia mengintip mangkok kuah besar di tengah meja. Memang tidak ada lemak seperti biasanya. Dia berkilah, "Tapi tetap saja bakso itu isinya daging dan-"
"Cynthia, kamu coba masakan Kinara sebelum komentar." Tegur Adit.
Cynthia meletakan sendok dan garpu dengan keras. "Mas, aku sudah susah cari makanan enak dan sehat buat kamu dan anak-anak, sekarang malah disuruh makan buatan dia?"
Dahi Adit berkerut tidak setuju begitu mendengar ucapan Cynthia.
Kinara tersenyum, tidak ada kesedihan di wajahnya. "Sudah aku bilang dari awal kan, tidak ada yang namanya adil dalam pernikahan jika ada dua istri, kalau suaminya adil belum tentu para istri akan menerima."
Cynthia diam membeku mendengar ejekan Kinara.
"Dari awal, tujuan kalian memang ingin mendepak aku dan anak-anak."
"KINARA!" bentak Adit.
Cynthia terisak sambil memegang perutnya. "Aku- aku hanya kesal karena tadi pagi-"
Kinara dengan sabar menjelaskan. "Tadi pagi memang aku masak, tapi begitu melihat bahan belanjaan yang banyak dan ada tulisan besar milik Cynthia, aku tidak jadi masak untuk sarapan tapi aku masak untuk bekal mas Adit, masalah anak-anakku..."
Kinara mengambil jeda untuk menarik napas dan meredam emosi sekaligus kesedihannya.
"Begitu aku lihat kamu buat nasi goreng, aku jadi harus masak menu sederhana buat anak-anak karena mereka tidak suka makan nasi di pagi hari. Cynthia, aku tidak masak buat mas Adit demi kamu lho."
Cynthia tertawa mencemooh, dia masih tidak percaya dengan alasan Kinara. "Seharusnya kamu bilang dari awal pas aku buat nasi goreng, jadi kamu tidak perlu repot masak ulang."
Kinara meletakan sendok dan garpu dengan pelan lalu pindah duduk ke kursi roda dengan bantuan Reiko yang sedari tadi berdiri mengawasi Ed dan Bella.
Adit hendak mengatakan sesuatu ke Kinara.
"Memang, seharusnya kalian bilang dari awal kalau masih bersama- jadi aku bisa mundur tanpa mengganggu," kata Kinara lalu mengarahkan kursi roda ke luar rumah.
Edward dan Bella mengikuti mama mereka tanpa mengatakan apapun. Dari belakang, mereka bisa mendengar bentakan Adit, teriakan Cynthia dan tangisan si kembar.
"Ma?" Bella menggapai kursi roda Kinara.
Kinara menghapus air mata dengan punggung tangan lalu mengangkat Bella dan meletakannya di pangkuan. "Ada apa sayang?"
"Mama jangan nangis ya, mama dulu kuat. Kenapa malah nangis?"
Kinara membenamkan wajahnya di d**a Bella. "Seandainya mama berpisah sama papa, apa Bella dan Ed tidak sedih?"
"Kenapa berpisah?" tanya Bella.
"Ma, kalau mama berpisah. Mama mau tinggal dimana?" tanya Edward dengan khawatir.
Kinara menggeleng sedih.
Reiko yang mendengar itu hanya bisa menipiskan bibir dan mengalihkan pandangan.
"Tenang saja, mama kuat kok." Kata Kinara yang wajahnya masih dibenamkan di d**a Bella.
Kedua tangan Edward mengepal. Dulu dia sering melihat betapa tangguh mamanya, meskipun sering menjauh dari anak-anaknya, mama terlihat kuat dan tidak mudah goyah, sekarang begitu tahu perilaku papanya yang jahat dan setelah melakukan percobaan bunuh diri... entah kenapa mamanya terlihat tidak punya motivasi hidup, meskipun masih bisa membalas semua perilaku wanita itu.
Edward yang awalnya ragu, berinisiatif memeluk Kinara dengan tangan mungil. "Ed, sayang mama. Papa sudah punya anak lain, jadi Ed dan Bella hanya punya mama."
Bella membelai rambut mamanya dengan sayang. "Mama cuma punya Bella dan kakak."
Hati Kinara semakin sakit mendengarnya, kedua anaknya sudah memutuskan tidak mengandalkan papa kandungnya lagi. Mereka berdua terlalu kecil untuk mengambil keputusan itu.
Kinara menegakan badannya lalu menatap Edward dan Bella. "Biar bagaimanapun dia papa kandung kalian, beliau pasti sedih mendengar perkataan kalian."
Edward menggeleng cepat. "Mama nggak tahu gimana papa waktu mama di luar, selama ini kami diam supaya mama tidak terganggu."
"Ah," Kinara mengingat perkataan Adit waktu itu. Adit sudah membawa Cynthia dan anak-anaknya ke rumah untuk mengurus Edward dan Bella.
Kinara merasa bersalah.