TING!
"Wuaaaahhhh!!" Bella menatap takjub isi ruangan begitu Reiko keluar dari lift.
Edward ikut takjub. Baru kali ini dia melihat ruangan mewah seperti ini, bahkan ada air mancur di ruang tengah. Dulu papanya sering mengeluh karena kolam renang hotel di atas sering bocor ke bawah hingga menimbulkan komplain, sampai akhirnya mama memutuskan menutup kolam renang di atas hotel karena biaya untuk memperbaiki kebocoran cukup tinggi.
Dan sekarang melihat air mancur besar di ruangan paling atas hotel pasti membutuhkan biaya banyak. Edward bisa membayangkan wajah mamanya yang hampir menangis membayangkan uang mengalir seperti air mancur ini.
"ADEL!" panggil Reiko.
Adel?
Edward melihat seorang pria tinggi dengan kulit kecoklatan dan wajah tampan dengan ekspresi masam menghampiri mereka.
"Namaku Adelio!"
Reiko mengibas tangannya dengan santai. "Yah, kita 'kan teman sejak kecil."
Dahi Adelio berkerut tidak setuju. "Setidaknya beri aku wajah di hadapan karyawanku."
Reiko, Bella dan Edward melihat sekumpulan orang berdiri di belakang Adelio dari kejauhan.
"Sibuk?" tanya Reiko.
Adelio menggeleng lalu melepas kaca matanya. "Tidak. Briefing sudah selesai."
Edward menatap takjub Adelio.
"Jadi, kamu sudah punya anak sekarang?" tanya Adelio.
"Enak saja! aku kesini mau tes DNA."
"Tes apa?" tanya Adelio yang masih tidak paham.
"Tes D.N.A!"
"Ngapain kamu tes DNA ke hotel?"
"Itu-"
"Kakak Reiko, waktunya kita pulang." Ajak Edward sambil menarik tangan Reiko.
Pipi Reiko bersemu merah begitu mendengar panggilan 'kakak'.
Adelio melirik Edward. "Lebih baik cepat kamu bawa anak-anak pulang, disini bukan tempat yang cocok. Bukankah mereka harus sekolah?"
Reiko mengangguk tanpa sadar lalu memegang tangan Edward. Bella yang melihat Adelio dari belakang Reiko, melambaikan tangan mungilnya ke Adelio.
"Dadah."
Adelio tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya. Seandainya saja dia bisa punya anak, mungkin anak itu lucu seperti mereka berdua.
Lima belas menit kemudian.
Reiko berteriak di dalam mobil. "Lho, bukannya kita mau tes DNA? kenapa malah pulang?"
"Bukannya kita mau ke sekolah?" tanya Bella.
"Aku sudah meminta izin ke guru!" erang Reiko.
Pak Bayu melirik Edward yang sedang melihat pemandangan di luar jendela lewat kaca mobil. Ini pasti ulah cerdik tuan muda Ed.
Edward masih memikirkan rencana. Dia sudah tahu lokasi hotel dan juga sudah melihat wajah Adelio, tinggal mencoba datang kesana sendirian lalu mengorek sedikit tentang orang itu.
"Apa tante yakin kalau om itu-" Edward tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tentu saja, tante yakin! ah, sayang sekali. Jarang lho bisa bertemu Adelio."
"Jarang?"
"Dia sering ke luar negeri dan juga survey hotel lainnya tapi dia selalu ada di kantornya sepagi ini."
"Tapi tadi tante bilang jarang-"
"Itu karena Adelio tidak suka dikunjungi orang lain, meskipun itu teman sendiri. Aku tadi hanya nekat masuk, besok pasti keamanan diperketat."
"Kenapa bisa begitu?"
"Semenjak kecelakaan, orang itu tidak mau bertemu siapapun di kantor sementara dia sendiri jarang ada di rumah."
"Pernah kecelakaan?"
"Iya. Adelio nyetir mobil sambil mabuk lalu menabrak pagar pembatas jalan. Kata dokter, itu penyebab dia tidak bisa punya anak."
"Tapi bisa disembuhkan, bukan?" tanya Edward.
"Bisa, tapi harga dirinya yang tidak mau melakukan itu." Reiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Harus mengikuti banyak terapi sementara dia sendiri lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk bekerja."
Bella menatap kakaknya. "Om nya gak bisa punya anak?"
Edward mengangguk.
"Kasihan sekali." Isak Bella.
Edward yang duduk dipisahkan kursi, menggapai kepala kecil adiknya. "Iya."
"Kalau gak punya anak, pasti kesepian. Gimana kalau kasih si kembar buat om-nya?"
Reiko menyemburkan tawanya. "Kalau kalian melakukan itu, yang ada si Cynthia makin kesenangan."
Bella memiringkan kepalanya dengan tidak mengerti. "Kenapa?"
"Dia 'kan maruk harta," jawab Reiko sekenanya.
"Maruk itu apa?" tanya Bella ke kakaknya.
Edward malas menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya.
Bella menggembungkan pipi tembemnya dengan kesal. "Nanti aku tanya mama!"
Beberapa menit kemudian, Edward dan Bella sudah sampai di sekolah. Reiko mengantar Bella ke tk sementara Edward berjalan ke kelasnya.
---
Adelio membuka handphone ketika sudah duduk di kantornya lalu melihat foto masa kecil bersama teman-teman tetangganya. Masa itu sangat bahagia, sebelum ibunya sakit karena shock mendengar ayahnya punya keluarga lain dan memperkenalkannya di depan umum setelah meninggalnya kakek.
Seluruh keluarga tidak menerima Adit, kakak perempuan dan ibunya meskipun mereka bertiga tanpa malu memakai fasilitas keluarga dan nama Sanjaya.
Adelio menggebrak meja dengan kesal, andaikan dia bisa mendapat pelaku yang membuatnya mabuk waktu itu. Gara-gara itu Adelio dianggap tidak bisa memiliki anak dan sudah ada pembicaraan untuk mengganti posisinya, semua orang yang mencemooh Adit mulai menjilat satu persatu karena kemampuan menangani hotelnya meningkat.
Adelio menghela napas panjang, mencoba meredam emosi dan mengingat kembali masa lalu. Sejak kapan Adit menjadi cerdas? anak itu hanya tahu cara menjadi artis dan bermain-main saja, apakah selama ini dia menyembunyikan bakatnya?
Lalu Adelio teringat dengan kedua anak yang dibawa Reiko. Sepertinya aku pernah melihat wajah mereka, tapi dimana? anak laki-laki itu sangat cantik seperti perempuan, kalau saja tidak memakai seragam sekolah milik keluarganya, mungkin aku akan percaya anak itu perempuan lalu balita yang digendong Reiko memiliki mata centil yang dikenalnya.
Adelio mengacak rambutnya dengan frustasi dan mendecak keras.
"CEO!"
Adelio mengangguk begitu melihat sekretarisnya berdiri di depan pintu. "Ada apa?"
"Saya mendapat berita kalau tuan Aditya Sanjaya nikah siri dan memiliki anak dengan wanita lain."
"Apa?"
"Anaknya kembar."
Adelio bersandar di kursi empuknya lalu tertawa mencemooh. "Dia memang beruntung, punya dua istri dan empat anak."
Sekretaris Adelio menjadi gugup. "Istri sirinya sekarang sedang hamil dan harus istirahat."
"Apa aku harus menjadi playboy seperti dirinya supaya beruntung?" tanya Adelio lalu menyesali pertanyaannya. Sekalipun dia bermain dengan para wanita, tidak akan ada yang bisa melahirkan anak-anaknya.
Sekretaris melanjutkan laporannya. "Tuan Adit sepertinya sangat menyayangi si kembar, saya mendapat kabar kalau posisi pewaris tuan Aditya akan berubah."
Adelio menegakan tubuhnya. "Berubah?"
"Ternyata anak tertua tuan Adit itu si kembar dari artis, sementara anak dari istri sekarang lebih muda satu tahun."
Adelio mulai mengingat kembali. "Adit tidak pernah mengucapkan tentang pewaris tapi semua orang hanya menduga anak dari istri sah akan menjadi pewaris lalu dia berani membawa anak dan istrinya muncul di publik dan mengucapkan tentang pewaris?"
"Ya. Tuan Aditya Sanjaya mengucapkan itu tadi pagi di kantor bersama dengan rapat para manajer. Beliau menginstruksikan supaya anak-anak dan istrinya bebas keluar masuk hotel."
"Perlakuannya berbeda dengan anak-anak istri sah." Decak Adelio yang mengingat perilaku ayah kandungnya.
Untung saja, Adelio lebih tua beberapa tahun dari Aditya dan lebih banyak menguasai manajemen perusahaan keluarga jadi tidak akan ada yang berani membantah.
"Ada lagi?" tanya Adelio.
"Hanya itu saja." Ucap sekretaris lalu kembali ke posnya.
---
Edward berdiri di depan kelas dengan menghela napas panjang. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.
"Ini sudah tiga jam, kamu terlambat," kata guru sains disambut dengan tawa ejekan teman-teman sekelas lalu mereka mulai melempar kertas.
Guru sains mengalihkan pandangannya ke buku seolah menutup mata dengan perilaku mereka, Edward mengerti sifat guru penjilat yang tidak ingin kehilangan pekerjaan karena mengajar murid-murid kaya.
Edward menutup mata dengan bersabar, berusaha mengabaikan perilaku kekanak-kanankan mereka tapi rupanya nasib baik tidak berpihak padanya hari ini.
"Hei anak haram! aku dengar papamu selingkuh dan punya anak lebih tua dari kamu!" teriak salah satu murid.
Edward membuka mata. "Ya, benar."
Para murid tertawa sekaligus mengejek.
"Anak haram tetap berperilaku seperti anak haram!"
"Aku dengar ibunya mengganggu hubungan pertunangan si anak haram!"
Edward mengangkat kepala dan menatap penuh kebencian. "Mamaku tidak pernah mengganggu hubungan orang lain."
Salah satu murid melempar buku berat ke Edward.
Edward tidak sempat menangkisnya, buku itu mengenai dahinya. Ia terhuyung ke belakang sambil memegang kepalanya yang mulai pusing.
"Jangan pernah berbohong di hadapan kami! kami semua tahu bagaimana cacatnya orang tua kamu!"
Edward meminta pertolongan ke guru kelasnya dengan tatapan tapi diabaikan lalu dengan lesu dia keluar dari kelas.
"EDWARD SANJAYA! BERANI KELUAR KELAS, SAYA AKAN BERI NILAI E DI RAPOT!"
teriak guru kelas.
Edward mengabaikan guru dan teman-teman sekelas tertawa mengejek.
Edward berusaha menguatkan hatinya dan menggosok air mata yang akan keluar. Yang kuat demi mama!
Edward teringat dengan ancaman gurunya, dia masuk ke kelas tanpa malu-malu yang sontak mendapat sorakan satu kelas.
Guru sains berdehem. "Nilai kamu, saya tingkatkan menjadi C kalau tetap disini."
Edward mengangguk tanpa membantah, ia tetap menjalankan hukumannya dengan berdiri di depan kelas, mengabaikan cibiran teman-teman sekelas dan lemparan-lemparan kertas.
Sementara Bella hanya duduk dan bermain sendiri dengan lego, teman-teman tk nya membentuk kelompok sendiri dengan bantuan guru.
Reiko yang melihat dari luar kelas menjadi terkejut. Apa-apan perilaku ini! apa Kinara dan Adit sudah tahu?
Bella asyik bermain lalu menyanyikan lagu cinderella kesayangannya, tiba-tiba ia merasakan sakit di dahi dan melihat lego kayu jatuh di pangkuannya.
"ANAK HARAM!"
Setelah menyentuh bagian kepalanya yang dilempar, Bella melihat darah di tangan dan mulai menangis.
Guru tidak ada yang mendekat, justru malah menarik tangan si pelempar untuk menjauh. Reiko yang hendak masuk ke dalam kelas, dihalangi penjaga.
"Anak majikan saya menangis!"
"Guru bisa menanganinya."
"Bagaimana guru menangani?! mereka mengabaikan Bella!" bentak Reiko dengan geram.
"Nanti akan diobati, ini sudah biasa," kata penjaga sekolah dengan enteng.
Reiko menyipitkan matanya yang sudah sipit. "Kamu bilang ini sudah biasa? ini anak kecil lho, dilempar balok kayu dan-"
Reiko terdiam mendengar salah satu kalimat wali murid yang di luar.
"Anak haram memang pantas diperlakukan seperti itu, sejak kecil mereka harus belajar menerima karma dari orang tuanya."
PLAK!
Reiko menampar wajah wali murid yang berbicara. "Dasar sampah!"
"Kamu, kamu hanya baby sitter dan berani menamparku? anak dari anak haram keluarga Sanjaya memang hebat!" Bentak wali murid itu sambil memegang pipinya yang ditampar. "Kamu tahu siapa aku? berani sekali menamparku!"
Reiko terkekeh. "Kalau begitu, kamu tahu siapa aku? pasti tidak tahu 'kan? karena sampah seperti kalian tidak pantas mengenalku!"
"Kamu-" tunjuk wanita itu, "Akan kuadukan ini dan membuat kamu dipecat!"
Reiko menjulurkan lidahnya dengan cuek, perhatiannya kembali ke Bella yang sudah berhenti menangis dan diobati salah satu guru. Ia menghela napas lega lalu terbesit di benaknya, jika Bella diperlakukan seperti ini, bagaimana dengan Edward?