Cynthia membelai perutnya dengan wajah kesakitan. "Dimana mas Adit?"
"Masih sama perempuan murahan itu," jawab ibu Adit.
"Bu, jangan begitu sama Kinara." Cyntia menasehati ibu mertuanya. Perasaannya membaik begitu melihat kebencian ibu mertuanya.
"Kamu itu terlalu baik sama anak itu, dia sudah menghancurkan pertunangan kalian. Saya sudah capek-capek membuat janji ke dua orang tuamu. Eh, malah datang perempuan tidak tahu asal usulnya." Geram ibu Adit.
"Dia itu masih istri mas Adit, bu."
Ibu Adit duduk di samping tempat tidur. "Kamu buat Adit bercerai dari perempuan ular itu."
"Tapi, mas Adit masih sayang sama dia." Cynthia menggigit bibir bawahnya.
Ibu Adit mendeck kesal. "Dia memang sudah menikah dengan perempuan itu tapi, Adit masih cinta sama kamu."
Cynthia tersenyum. Ia sudah tahu itu, makanya bilang kalau Adit masih sayang sama Kinara sementara cinta Adit hanya untuknya. Lalu begitu dia mendengar pewaris utama Sanjaya kecelakaan dan tidak punya anak, tentu saja anak-anaknya harus maju.
Pewaris kedua keluarga Sanjaya adalah Adit, dan dia harus menjadi nyonya Sanjaya, menyingkirkan Kinara bagaimanapun caranya. Untung saja ibu mertua merestuinya.
"Bagaimana dengan kedua anaknya?" tanya Cynthia.
Dahi ibu Adit berkerut tidak suka memikirkan kedua cucunya terlahir dari perempuan ular itu. "Kamu 'kan bisa mendidiknya."
Cynthia cemberut tidak suka. "Mereka sudah melukai si kembar, nanti bisa barbar lagi kalau aku gak ada."
"Yah, kamu 'kan bisa menncari cara, lempar kek ke pondok pesantren atau gimana."
Kedua mata Cynthia berbinar setuju. Kalau dia berhasil mendepak Kinara sementara Adit memenangkan hak asuh, dia bisa melempar mereka berdua keluar dari rumah. Toh, Adit pasti setuju.
"Sudah, kamu jaga bayi. Besok pagi kamu masak buat Adit dan anak-anak."
"Acaranya?"
"Ibu yang menyelesaikannya."
Cynthia mengangguk setuju lalu merebahkan badannya di kasur empuk. Ia ingat, pernah tidur di kasur empuk bersama mas Adit, kamar itu harus menjadi sarang cinta mereka berdua.
Cynthia mulai tidur lelap.
___
Kinara bangun pagi dan melakukan kegiatan sepeti biasa, bedanya dia harus di kursi roda dan merasakan lapar. Ia melirik suaminya yang masih terlelap tanpa seutas pakaian di ranjang.
Kinara tersenyum dan foto suaminya hanya sampai ke pinggang lalu menunjukan beberapa tanda di sekitar tubuh suaminya lalu senyumnya lenyap begitu mengingat Cynthia. Ia teringat perkataan sahabat kakaknya.
"Pria, sekali selingkuh tetap akan selingkuh. Mereka akan bertobat jika jatuh tapi itu sudah jatuh ke jurang paling dalam."
Kinara tertawa kecil. Padahal yang cerita juga seorang pria hanya saja dia tidak begitu mengingatnya lagi. Orang itu sudah pergi bersama dengan perasaan cinta pertamanya.
kruyuk. Perut Kinara berbunyi.
Kinara segera mengarahkan kursi rodanya ke dapur. Aktifitas semalam benar-benar melelahkan dirinya.
Kinara mulai memasak dengan bantuan si mbak yang sudah bangun lebih pagi.
---
Cynthia terbangun dari tidurnya dengan tidak nyaman setelah mendengar suara tangisan kedua putranya.
"Kenapa?" tanya Cynthia dengan suara mengantuk.
"Lapaaarrr," rengek keduanya.
Cynthia terbangun dan melihat jam di handphonenya. Sudah jam setengah tujuh pagi!
Cynthia bergegas turun dari tempat tidur dan melihat meja makan, masih kosong. Ia menghela napas lega dan bergegas memasak.
Jam tujuh pagi Adit keluar dari kamar dengan rapi sambil memperbaiki dasinya.
Cynthia yang sedang meletakan makanan di atas meja, bergegas membantu suaminya.
Kinara yang berada di belakang Adit memutar bola matanya dan segera menyambut kedua anaknya yang sudah memakai seragam sekolah.
"Mama gak kerja?" tanya Bella.
Kinara menggeleng sedih. Tidak mungkin datang ke hotel dengan kursi roda.
Edward duduk di kursi setelah membantu adiknya duduk.
Bella mengerutkan kening dengan masam. "Nasi goreng?"
Cynthia yang sudah asyik membantu Adit langsung membeku begitu melihat banyak tanda di leher Adit. "Mas-"
"Mhm," jawab Adit dengan tidak sabar.
Raut wajah Cynthia berubah masam. "Leher mas, banyak sekali-"
Adit terkekeh begitu mengingat betapa liar istrinya semalam, dia bangga atas kecemburuan Kinara. "Oh, ini tanda cinta."
Cynthia merajuk.
Edward mengernyit jijik sambil melirik mamanya yang sedang memberikan instruksi ke baby sitter.
Si kembar duduk berhadapan Edward dan Bella lalu mulai menangis kesal sambil menunjuk nasi goreng Bella yang sudah diganti dengan sosis dan telor ceplok.
"Mama sudah bawakan bekal buat kalian," kata Kinara sambil mengatur tas bekal kedua anaknya dengan bantuan Reiko.
Bella mengangguk senang. Masakan mamanya sangat enak sampai teman-teman sekelas sering minta.
Edward mengangguk kecil sambil menghabiskan sarapannya dengan telinga memerah.
"Aku mau!"
"Aku juga mau!"
Teriak si kembar bersamaan.
Dahi Adit berkerut ketika melihat si kembar bertindak tidak sopan, Cynthia yang menyadari itu segera menasehati si kembar dan mulai menyalahkan Kinara.
Kinara mengerutkan kening. "Aku masak dari subuh seperti biasa, Bella dan Edward tidak terlalu suka nasi untuk sarapan di pagi hari, itu buat mereka mengantuk."
"Tapi kamu tidak bisa memanjakan anak-anak seperti itu, aku sudah buat nasi goreng yang banyak jadinya mubadzir 'kan," kata Cynthia.
Adit melihat banyak nasi goreng di atas meja. Ia mengetuk jarinya dengan tidak sabar. "Siapa yang menyuruh kamu masak?" tanyanya ke Cynthia.
Cynthia bingung dengan perilaku Adit. Bukankah dia suka nasi goreng buatannya? selama ini setiap di berikan nasi goreng, tidak pernah mengeluh.
Kinara tertawa kecil. "Jangan-jangan selama ini kamu hanya masak nasi goreng andalan buat mas Adit?"
Bella bertanya ke kakaknya dengan tidak percaya. "Setiap hari makan nasi goreng?"
Cynthia berdalih. "Nasi goreng 'kan banyak variannya, jadi gak akan bosan terus ada sayurnya juga, jadi sehat."
Edward menggeleng sedih. Sejak kapan nasi goreng menjadi makanan sehat?
Adit menggertakan gigi. Selama ini ia tidak pernah mengeluh dengan masakan Cynthia karena di rumah selalu diberikan makanan bergizi dan sehat dari Kinara. Ia juga tahu Kinara masuk kelas masak demi dirinya, muncul sedikit rasa bersalah di benaknya.
"Kamu masak sarapan?" tanya Adit ke Kinara.
Kinara merasa bersalah. "A- sebenarnya aku hanya buat bekal, soalnya tadi pagi mau masak ternyata bahannya buat Cynthia semua."
"Bahan masakan buat Cynthia?" tanya Adit tidak percaya.
Cynthia buru-buru koreksi. "Ibu semalam belanja untuk aku masak."
Adit meletakan sendok dan garpu dengan kasar lalu mengambil bekal di pangkuan Kinara. "Ini buat aku?"
Kinara ragu. "Tapi, mas sudah dibuatkan Cynthia."
"Aku bosan sama nasi goreng!"
"Aku juga!"
Si kembar mulai berontak.
Kedua tangan Cynthia mengepal. Suatu hari nanti, aku akan mengusir kamu dari rumah ini!
"Kamu tidak ada pekerjaan 'kan?" tanya Adit.
Cynthia menggeleng ragu. Karena berita perselingkuhan itu, ia harus istirahat sementara waktu dan semua media sosialnya di non aktifkan pihak agensi.
"Belajarlah masak dari Kinara," saran Adit lalu mencium kening Kinara dan berjalan meninggalkan ruang makan sambil menenteng tas kerja dan bekal buatan Kinara.
Edward dan Bella turun dari kursi dan bergegas masuk ke mobil bersama baby sitter.
Si kembar menangis sambil merengek untuk mengganti sarapannya.
Cynthia menatap marah Kinara lalu masuk ke dalam kamarnya dengan pintu dibanting tanpa peduli tangisan si kembar.
Kinara melirik si kembar sekilas lalu meninggalkan mereka. Kalau saja kalian bersikap baik ke Ed dan Bella, mungkin saja aku akan membuat jatah kalian.
Kinara sadar yang dihadapinya hanya anak kecil, tapi anak kecil yang sudah dididik untuk merebut barang orang lain sudah tidak bisa ditoleransi lagi, mereka berdua harus belajar untuk tidak merebut barang miliki orang lain.
Tapi Kinara sangsi akan hal itu karena neneknya saja sudah pelakor, apalagi ibu mereka.
Kinara menghela napas panjang. Ia memikirkan cara keluar dari rumah ini bersama kedua anaknya, jika mendadak keluar tanpa persiapan- yang ada Adit mengambil kedua anaknya. Lawannya adalah salah satu pewaris dari keluarga Sanjaya. Minta bantuan kedua orang tua? yang ada hanya aib.
___
Edward mendengar Reiko meminta izin telepon guru kelas setelah itu menelepon Fumiko.
"Kita mau kemana kak?" tanya Bella.
Edward yang bersandar di kursi, menggoyang kedua kakinya dengan bosan. "Ke tempat papa, mungkin."
"Papa?" tanya Bella. "Kita mau ke hotel?"
Edward sangsi dengan perkataan Reiko semalam. "Apa sopirnya bisa dipercaya?"
Reiko yang duduk di samping sopir, menepuk pundak sopir. "Pak Bayu ini dulu bekerja lama di keluarga mama kalian, bahkan sering mengantar dugem."
"Dugem itu apa?" tanya Bella.
Edward mengerjap polos.
Pak Bayu tertawa. "Non Reiko, jangan ajari yang jelek ke anak-anak."
"Pak Bayu kenal tante Reiko?" tanya Edward.
"Gimana nggak kenal, sering ketemu dulu," jawab pak Bayu.
Edward mengerutkan kening tidak percaya. "Tapi, mama kok kayaknya gak kenal?"
"Ya jelas gak kenal, sudah lama gak ketemu. Dulu non Reiko itu kayak cowok, apa tuh namanya?"
"Tomboy!" sahut Reiko.
'Ya, itu."
"Tante sudah menikah?" tanya Edward.
Reiko menggeleng santai. "Belum."
"Kenapa?"
"Belum ada yang cocok."
"Tante mau Bella kenalin sama guru tk Bella?" tanya Bella.
Reiko dan pak Bayu tertawa.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di sebuah hotel mewah dan besar.
Edward pernah mendengar kalau hotel ini milik Sanjaya grup, papa dan keluarga nenek tidak pernah bisa menginjakkan kakinya ke tempat ini.
Bella menyesap jempolnya sambil memegang tangan kakaknya dengan takut.
Bellboy menyambut mereka dengan ramah. "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin bertemu Adelio Sanjaya," ucap Reiko.
"Maaf, apakah sudah ada janji?" tanya bellboy.
"Dimana dia? gak usah buat janjipun dia harus ketemu aku."
"Ta- tapi."
Edward dan Bella menatap takjub baby sitternya.
"Ah, bodo amat! ayo anak-anak!" ajak Reiko sambil mengabaikan satpam yang hendak menghadang mereka.
Edward memutuskan menggendong Bella supaya bisa mengekori Reiko.
Reiko masuk ke dalam lift khusus owner dan atasan. "Pokoknya misteri hari ini harus dipecahkan! aku malas harus penasaran berhari-hari."
Bella mengantuk dan tertidur di bahu kakaknya.
"Tidak berat?" tanya Reiko sambil menggendong Bella.
Edward hanya tersenyum.
Reiko yang melihat tanggapan singkat, menghela napas panjang. "Kamu benar-benar seperti Kinara."
Diam-diam Edward menghitung. Sudah tiga orang yang menyebutnya begitu.