DEMI ANAK

1500 Words
Adit merasa bersalah. "Kinara." Kinara tersenyum ke suaminya, tidak ada tatapan menyedihkan atau lemah. Ia tidak mau menunjukan itu ke musuh-musuhnya. "Kamu tidak bertanya apalagi mencariku semalaman, untung saja rekan kerjaku datang dan menolong. Kalau aku sudah mati sekarang, mungkin saat ini kalian tertawa dan mengambil barang-barangku lalu mengusir anak-anakku." "Kinara, aku tidak bermaksud begitu." Adit maju untuk memeluk istri yang sudah dia nikahi selama dua belas tahun. Kinara menggerakan kursi roda untuk mundur lalu bicara ke baby sitter untuk segera mengemas barang-barang Ed dan Bella. "Anak-anak kamu bisa tidur di kamar anak-anakku, hanya saja kamu harus membeli kasur tambahan." Adit mengerutkan kening. "Barang-barang di kamar kedua anakku itu memakai uangku dan aku tidak rela ada perampok disini mengklaim barang-barangku, kecuali kamu mau membelinya, aku bisa menyerahkan semuanya." Cynthia berwajah masam. "Seharusnya kamu mengajarkan anak-anak untuk bisa mengalah ke kakak-kakaknya." "Oh, sudah. Mereka sudah ikhlas memberikan kamarnya ke anak-anak kamu, malam ini mereka berdua sudah kehilangan kamarnya sendiri," kata Kinara. Edward dan Bella saling menggenggam tangan lalu berjalan ke kamar dengan dituntun baby sitter. "Ed dan Bella bahkan tidak memukul kedua anak kamu, mereka hanya bertahan lho. Lalu apa yang sudah kamu lakukan bersama anak-anak kamu?" tanya Kinara ke Adit. Adit tidak mampu menjawab, ia sendiri juga menyaksikan kedua anak kembarnya menyerang kedua adiknya lalu wanita yang ia cintai malah menjambak rambut kecil Bella untuk memisahkan anak perempuan kecil yang sedang melindungi kakaknya. Edward dan Bella hanya melempar boneka lalu bersikap defense, penyerangan mereka pun ada alasannya. Adit memijat keningnya, dia harus bersikap adil tapi dia juga merasa kasihan dengan kedua anak kembarnya yang tidak pernah merasakan kamar besar. Edward dan Bella juga masih terlalu kecil menggunakan kamarnya sendiri. "Berapa harga isi kamar Ed dan Bella?" tanya Adit. "Dua milyar." Cynthia berseru. "Itu terlalu mahal!" Kinara membungkam Cynthia. "Justru karena tahu itu mahal, kamu berusaha merebut kamar anak-anakku bahkan mengambil barangku tanpa izin." "Jangan lupa mas, aku memesan dekorator waktu itu untuk mendekorasi kamar anak-anak. Kamu pun setuju." "Itu memakai uang suami kamu, jadi tidak pantas Adit membayarnya." Ibu mertua sudah tidak tahan mendengarnya, awalnya ia merasa kasihan dengan Kinara tapi, begitu mendengar menantunya berusaha memeras putra kesayangan, ia mulai ikut campur. "Apa kamu tidak bilang ke ibu, mas. Kalau aku punya gaji sendiri?" tanya Kinara. "Itu tidak masuk akal!" teriak ibu mertua. Adit membela Kinara. "Nara memang punya gaji sendiri." Ibu mertua sangat patriak, begitu mendengar Kinara punya gaji sendiri. Dia tidak terima, ini perusahaan anaknya. Sebagai istri, Kinara cukup membantu dan menerima uang bulanan, bukannya gaji sekaligus uang bulanan. Kinara tahu jalan pikiran ibu mertuanya. Anda pikir, saya kerja gratis? sorry! Ibu Adit menunjuk Kinara dengan geram. "Adit masih punya saudara dan keponakan, tanggungannya banyak dan dia harus memberikan uang ke menantu tidak tahu diri ini?" "Ibu sayang, menantu tidak tahu diri inilah yang sudah bekerja keras selama putra kesayangan ibu membawa selingkuhannya ke dalam rumah," sarkas Kinara. "KINARA!" bentak Adit. "Apa aku salah?" tanya Kinara. Cynthia terisak. "Ini semua salahku, seandainya aku tidak hamil dan melahirkan anak kembar jadinya rumah tangga kalian tidak seperti ini." Ibu mertua memukul lengan atas Cynthia. "Jangan bicara seperti itu, kami justru bersyukur karena punya anak kembar, di keluarga tidak ada keturunan kembar." "Dua milyar, transfer sekarang!" Adit mengalah dan segera mentransfer uang ke Kinara, ini demi anak kembarnya. Ibu mertua berteriak marah dan melarang Adit. "Si kembar sudah suka kamar itu, apa ibu tega melihat anak-anak tidur di luar?" tanya Adit. Ibu mertua terdiam dan menatap marah Kinara. Kinara tersenyum puas begitu melihat tanda masuk di handphonenya. "Sekarang kamarku menjadi kamar Edward dan Bella. Oh ya, mas. kamu tidur dimana? nggak mungkin 'kan tidur di kamar kami, nafsu mas 'kan gede, kasihan anak-anak kalau melihat adegan tidak pantas." Adit menggertakan gigi dan menyebut nama Kinara di sela gigi. "KI.NA.RA." "Jangan lupa, besok biaya rumah sakit datang buat menagih." "Kamu yang bunuh diri dan kamu membayar beban itu ke mas Adit?" tanya Cynthia tidak percaya. Kinara membelai paha suaminya dengan sayang. "Aku melakukan itu karena terlalu mencintaimu, sekarang aku harus sadar untuk membagi cintaku dengan pelakor." Cynthia tidak terima. "Kamu yang dulu menghancurkan pertunangan kami dan membuat anak-anakku hidup tanpa ayah!" "CYNTHIA!" bentak Adit sambil membelai wajah Kinara. "Jaga ucapan kamu." Cynthia terkejut mendengar bentakan Adit, ia menatap tidak percaya suaminya. "Mas-" Kinara tersenyum jahat ke Cynthia. Edward yang melihat itu semua, menggelengkan kepalanya lalu pamit ke kedua orang tuanya. "Ed dan Bella tidur di kamar mbak saja, mama sama papa bisa tidur di kamar." Adit merasa bersalah tapi tidak bisa menarik ucapannya. "Kamu bisa tidur di kamar tamu." Edward menggeleng. "Kamar tamu sudah ditempati, begitu juga kamar lainnya. Ed bukan type laki-laki yang mengusir orang tanpa tahu malu." Cynthia hendak mengatakan sesuatu tapi merasakan sesuatu di perutnya yang sedikit buncit. "Mas-" Adit yang hendak menolong Cynthia, tangannya ditarik Kinara. Ia menunduk dan menatap wajah Kinara yang cantik dan sembab, entah kenapa ia merasa KInara jauh lebih cantik tanpa make up tebalnya, kalah cantik dengan wajah permak Cynthia yang dibayar Adit selama ini. "Sudah ada ibu dan lainnya, kamu masih tega ninggalin aku?" tanya Kinara dengan wajah sedih. Adit menghela napas dan mengalah, ia menggendong Kinara masuk ke dalam kamar sementara menyuruh seseorang mendorong kursi roda ke kamar. Kinara tersenyum dan membelai wajah tampan Adit. "Suamiku, aku tidak akan bertanya kamu kemana disaat aku sakit karena aku tahu kesibukanmu tapi aku akan sedih jika kamu terus-terusan bersama Cynthia." Adit tersenyum. "Aku akan bersikap adil." Kinara tidak mempercayainya, suatu hari nanti Adit dan Cynthia akan mengusirnya beserta Edward dan Bella. Pria sekali selingkuh, tidak akan mengingat istri dan anak-anak sah. Kinara mencium pipi lalu membenamkan wajahnya ke leher Adit untuk menutupi kesedihannya. Setelah Kinara dan Adit masuk ke dalam kamar, Cynthia dibawa ke ruang tamu bersama ibu mertua dan kakak perempuan Adit sementara si kembar tidur di kamar Edward dan Bella. "Kamarku." Keluh Bella. "Ingat apa yang dikatakan mama saat Bella kehilangan boneka kesayangan?" tanya Edward. Bella mengangguk sedih. "Memang bagus kalian sayang sama benda-benda itu tapi jangan sampai terpaku, kalau itu milik kalian maka itu akan kembali dengan sendirinya tapi kalau itu tidak kembali, jangan menangisinya. Cukup beli yang baru." Itu perkataan mama mereka ketika mendengar Bella menangis keras mencari bonekanya, setelah itu mama meninggalkan uang di atas meja. Awalnya Edward marah melihat ketidak pedulian mamanya tapi begitu melihat boneka itu sudah di tangan orang lain alias kakak-kakak gadungannya, Edward mulai paham. Untung saja Bella suka boneka baru dan perlahan mengetahui betapa jahat papanya ini. Begitu masuk ke dalam kamar baby sitter yang ditunjuk Edward. Bella mandi di kamar mandi dalam kamar, setelah itu tertidur. Baby sitter melihat Edward yang masih membaca buku di tempat tidur sambil bersandar. "Suka buku?" Edward mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya. "Saya akan beritahu Fumiko untuk membelikan buku-buku." Dahi Edward berkerut lalu menatap baby sitter. "Kamu kenal tante?" Baby sitter itu tertawa kecil. "Tentu saja kenal, sayakan kakaknya." Mulut Edward menganga lebar. "Bagaimana-" Baby sitter menghela napas. "Susah mencari orang yang dipercaya dalam waktu singkat, makanya aku maju. Eh, aku pake kalimat non formal ya." Edward mengangguk. "Namaku Reiko." Reiko mengangkat tangan untuk menyalaminya. Edward menatap takjub tangan Reiko, baru kali ini ada orang yang memperlakukannya dewasa. Biasanya dia disuruh mencium tangan orang dewasa. Melihat Reiko masih menunggu, Edward buru-buru menyalaminya. "Edward Putra Sanjaya." Reiko mengangguk. Sanjaya itu nama keluarga Adit si m***m. "Nama yang bagus, sayang aku tidak suka bagian Sanjaya." Edward tertawa kecil. "Aku juga tidak menyukainya." "Kenapa?" Edward menghela napas panjang begitu mengingat kejadian di sekolahnya. "Papa 'kan anak haram dari keluarga Sanjaya." Reiko tersenyum canggung. Dia melupakan bagian itu. "Dan sekarang anak haram punya anak haram," keluh Edward. Reiko mengacak-acak rambut Edward. Ia sudah tahu garis besar cerita keluarga ipar adik kandungnya, Kinara memilih kabur dan menikah dengan anak haram sementara tunangan aslinya yang merupakan anak sah, ditinggalkan begitu saja. Hal itu membuat kedua orang tua Kinara marah besar sekaligus mengusirnya. "Aku sekolah di sekolah milik keluarga Sanjaya, disana aku dibully karena kebanyakan mereka tahu siapa aku." "Aku heran sama kedua orang tuamu, seharusnya mereka bisa menduga hal itu tapi kenapa masih menyekolahkan kamu disana. Yah, meskipun aku akui itu tempat elit." "Papa tidak mau kalah dengan anak-anak keluarga Sanjaya lainnya." Kepala Edward menunduk lesu. Reiko mengangguk lalu melihat buku yang dipeluk Bella, ia terkikik geli lalu teringat kalimat Bella saat mengambil album foto itu. "Ini foto-foto saat kami kecil dan papa-mama banyak tersenyum." Reiko mengambil buku itu perlahan dan membukanya. "Tidak ada yang menarik disana, itu hanya foto bayi Bella dan aku." "Aku suka anak kecil," kata Reiko sambil membalik album foto dan membeku. "Ada apa?" tanya Edward sambil pindah tempat duduk. Reiko menunjuk dua foto bayi dengan lokasi dan waktu berbeda. "Ini dan ini, foto bayi siapa?" Edward menatap aneh Reiko. "Tadikan aku sudah bilang kalau itu foto kami berdua." Reiko menatap Bella dan Edward lalu kembali menatap foto. Gila! ini benar-benar gila! "Kenapa?" tanya Edward. Reiko menatap ngeri Edward. "Ini hanya prasangka saja sih, belum beneran terjadi tapi siapa tahu ini jalan keluar kalian." Edward memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Maksudnya gimana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD