Surprise!

1306 Words
  Hari ini kami akan mulai keseharian kami lagi, aku dan Nenek. Begitu indah, walau kami adalah orang yang sama-sama tidak punya keluarga lagi, semua keluarga Nenek telah pergi meninggalkan Nenek sendirian di tempat kumuh ini dan aku adalah orang yang meninggalkan keluarga aku sendiri karena sudah tidak ada tempat bagiku di sana, tapi tidak masalah karena satu orang kesepian ini sudah bertemu satu orang kesepian lainnya, mari saling mengakrabkan diri. Pagi hari, aku yang dingin sudah dihiasi dengan lengkungan di bibirku karena hari ini Nenek memakai tas bermotif domba yang kami beli di pasar karena kemarin ada uang lebih hasil dari jualan tisu, Nenek pun mengajak aku untuk pergi ke pasar, Nenek membelikan aku tas bermotif singa dan aku memilih motif domba untuk Nenek. Nenek ternyata terlalu menggemaskan saat memakai itu, membuat bulan sabit ini terbit di pagi hari sekali.   Aku dan Nenek pun ke pasar lagi untuk membeli stok tisu untuk dijual di jalan-jalan seperti biasanya, Nenek berjalan sambil menggenggam tanganku, tangan Nenek begitu kasar tapi juga begitu hangat. Tuhan … bolehkah aku terus menggenggam tangan ini untuk selamanya? Kejam! Pahit! Pahit! Aku mendengar suaranya lagi.   Sebentar … Aku menoleh ke belakang, benar saja. Kenapa iblis ini ada di sini? Apa dunia terlalu sempit sehingga bisa mempertemukan aku dan laki-laki b***t itu lagi? Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!   Aku tidak ingin melihatnya lagi, tanpa kusadari aku terlalu keras menggenggam tangan Nenek. Nenek yang menyadarinya langsung mengatakan padaku “Tenang, Mara… Nenek akan selalu melindungi Mara,” ucapnya sambil menatap mataku yang sudah membulat karena ketakutan karena hanya mendengar suaranya dan melihat dia, padahal dia sama sekali belum menyadari bahwa ada aku di sini.   Nenek mulai melangkahkan kakinya dengan cepat dan membawa aku untuk menjauh dari pasar, Nenek nampaknya menyadari aku yang sangat gelisah dan ketakutan saat itu, kami pun sampai pada jembatan. Dia sudah menunggu di sana ternyata.   Tuhan … beri aku jeda yang berkepanjangan, kenapa harus bertemu laki-laki b***t ini lagi. “Surprise… Bagaimana rasanya hidup dengan kehangatan? Apa sudah cukup main-mainnya? Ayo pulang, Ibu sudah mencari Mara dari sejak Mara kabur dari rumah.” Menatapku tajam, aku menelan saliva dengan begitu berat sambil berpikir, kenapa dia mengetahui tempat ini?   Laki-laki b***t itu berjalan menuju ke arahku dengan perlahan, sejurus dengan Nenek yang maju ke depanku, untuk melindungi aku yang sangat gemetar sekaligus ketakutan membuat aku membisu dan diam.   “Kau siapa? Perlu apa kau dengan cucuku?” tanya Nenek pada laki-laki b***t yang masih sedang berjalan untuk menuju ke arah kami. “Aku Ayahnya, Gembel!” ketus orang itu sambil mengerutkan dahinya. “Apa benar Mara, dia Ayah Mara?” tanya Nenek kepadaku sejurus dengan matanya yang menatap mataku, aku menggelengkan kapalaku, dan Nenek pun mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang sambil mengatakan “Benar, Mara. Mara berhati baik pastilah juga Mara memiliki seorang Ayah yang baik dan pastinya bukanlah orang itu.”   Plak! Gedebug! Gedebug! Laki-laki b***t ini menampar Nenek hingga terpental ke tanah dua kali. “Nenek!!!” Aku menjerit nyaring saat itu juga, dengan mata yang  merebak hebat. Aaaaaaaah! Nenek! Aku berlari kearah Nenek yang tersungkur di tanah, alis Nenek mengeluarkan cairan merah, ini darah. Aku langsung mengambil beberapa tisu yang seharusnya dijual untuk segera dipakai agar menghentikan pendarahan di alis Nenek. Nenek tidak sadarkan diri, tapi jantungnya masih berdetak. Aku kembali mengeluarkan bulir-bulir air mataku karena melihat Nenek yang tersungkur di tanah karena melindungi aku.   Laki-laki berjalan ke arah kami dan menggenggam pergelangan tanganku sambil mengatakan “Ayo pulang, biarkan gembel ini di sini!” ketusnya dengan nada bicara rendah membuat kepalaku pening dan dadaku kembali sesak, sejurus dengan aku yang mengibaskan tanganku dan pergi berlari. Saat aku berlari tiba-tiba dia mulai bicara “Mara… hentikan perbuatan sia-sia Mara itu, Mara ingin si gembel ini pincang?” ketusnya, sambil menginjak pelan kaki kiri Nenek yang tergeletak di tanah dengan sepatu Delta yang berat itu. “Jangan!!!” teriakku, kenapa Tuhan menciptakan orang kejam tak berhati ini? Apa tidak cukup aku saja yang dia sakiti? Ini gila … benar-benar gila.   Aku pun berjalan ke arahnya dan menuruti keinginannya untuk membawa aku pulang, aku sangat pusing dan bulir ini terus mengalir tak terhenti, Tuhan … Dia pun mengelus kepalaku kasar dan mengatakan “Kenapa tidak sejak awal saja seperti ini? Gara-gara Mara, orang tua yang gembel ini jadi seperti itu, makanya seharusnya Mara mengikuti kata-kata Ayah saja, dan jangan pernah membantah selamanya.” Aku hanya diam membisu mendengar perkataannya. Dadaku sesak, perutku sakit, aku ingin muntah. Aku dan Laki-laki b***t itu pun pulang ke rumah. Maafkan Mara, Nek.   Sesampainya di rumah Ibu langsung bertanya tentang banyak hal, tidak ada banyak yang kutangkap dari semua perkataan Ibu karena dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana keadaan Nenek? Yang aku tangkap dari perkataan Ibu hanya katanya aku besok akan ujian dan aku harus benar-benar belajar, katanya. Ibu terus-terusan menyalahkan aku dan mengatakan bahwa aku selalu merepotkan laki-laki b***t itu. Andai kau mengerti, Ibu … “Kamu darimana saja?! Tidak kasihan ayahmu mencarimu hah?!!!” bentaknya padaku. Aku korban Bu, aku korbannya!   Laki-laki b***t itu terus bersenyum hangat kepada Ibu yang mengatakan terima kasih karena telah membawa aku pulang. Padahal itu hanya senyuman palsu, Ibu. Laki-laki itu b***t itu menatapku, dari matanya jelas sekali bahwa dia benar-benar menikmati situasi ini. Matanya seperti binatang buas yang puas setelah mengelabui mangsanya dan hanya menunggu beberapa saat untuk menyantapnya. Nenek …   Tuhan benar-benar jahat. Timbal balik untuk kebaikan Nenek kepadaku malah dibalas dengan laki-laki b***t yang memukul Nenek hingga pingsan. Aku benar-benar ingin mendebat Tuhan saat ini.   Aku pun masuk ke kamar dan langsung mandi, setelah masuk kamar mandi yang juga berada dalam toilet, aku melihat cermin yang pecah. Pasti orang itu yang melakukannya, aku berhasil membuatnya kesal. Perasaan apa ini? Kenapa aku nampak senang? Entahlah … Aku pun mandi, setelah mandi aku memutuskan belajar untuk menghadapi ujian besok di sekolah. Semoga malam ini dia tidak menggangguku. Aku segera mengunci semua pintu dan jendela yang ada di kamar, setelah mengambil stok makanan di kulkas untuk begadang dan belajar malam ini.   Aku memikirkan Nenek lagi … Semoga Nenek tidak membenci Mara karena Mara yang telah membuat Nenek terluka. Tidak, tidak, tidak. Nenek tidak mungkin, kan membenci Mara? Soalnya Nenek pernah bilang Mara itu sekarang adalah satu-satu keluarga Nenek. Terima kasih, Nek. Mara lupa sudah berapa banyak kata maaf dan terima kasih yang Mara ucapkan kepada Nenek, tapi yang pasti, Nek, adalah Mara akan selalu menyayangi dan menyukai Nenek.   Mara tidak tahu harus mengirim pesan dari hati Mara ini padamu bagaimana? Tapi, Nek, Nenek selalu tahu apa yang Mara rasakan. Semoga semilir-semilir angin dapat menggantikan Mara untuk memeluk Nenek, sebab saat ini Mara tidak bisa menemui Nenek, walau Mara sangat ingin bertemu dengan Nenek. Mara tidak ingin lagi melihat laki-laki b***t itu melukai Nenek seperti hari ini tadi. Aku terdiam sambil terpaku melihat bintang dari balik jendela kaca yang aku kunci dan memikirkan Nenek yang begitu hangat dan baik hati kepadaku.   Sampai tengah malam larut sekitar jam dua belas malam, dan suara tertawanya pun mulai terdengar lagi di telingaku mengucapkan namaku dan syurga. Kepalanya tiba-tiba muncul dari balik jendela dengan senyuman menyeringai dan mengatakan “Mara…,” ucapnya membisik, lagi-lagi badanku gemetar padahal aku tahu bahwa aku sekarang  berada di tempat yang benar-benar aman karena semua akses masuk ke kamar sudah kukunci semua. “Mara… ayo main, Ayah sudah cukup bersabar akhir-akhir ini menunggu Mara pulang,” ucapnya lagi, senyuman menyeringainya semakin mengerikan membuat semua jari-jariku dingin dan gemetar, bulu kudukku berdiri mendengar kata-katanya itu dan kepalaku seakan ingin meledak memikirkan bagaimana jika laki-laki b***t ini berhasil masuk ke kamar. Konsentrasi belajar aku tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan yang saat ini aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar dia berhenti melakukan hal yang tak senonoh itu kepadaku. Saat memikirkan itu, aku kembali menangis. Kenapa ini terjadi lagi? Apa yang aku bisa lakukan hanya menangis?      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD