Berlari Sekuat Tenaga

1445 Words
Aku masih di toilet dan menutup telingaku, lama-kelamaan suara laki-laki b***t itu mulai menghilang di kepala, telinga maupun dari depan pintu. Apa dia sudah menyerah untuk melakukan hal yang tidak senonoh itu padaku hari ini? Jika benar begitu, aku akan sangat bersyukur. Tapi ternyata tidak, suaranya muncul lagi dan memberi menawarkan kepadaku.   “Mara yang buka pintu atau Ayah yang buka?” tanyanya padaku. Tiba-tiba suara dia yang tertawa nyaring itu berubah menjadi hening yang lebih mengerikan daripada saat dia tertawa seperti kesetanan, aura sekitar toilet berubah menjadi dingin, sedingin pualam.   Deg! Deg! Deg! Tubuhku yang semulanya hampir tenang kembali gemetar ketakutan, kepalaku pening dan jantungku berdetak lebih kencang daripada biasanya, aku benar-benar tersiksa padahal saat ini dia belum melakukan apapun kepadaku, hanya dengan suaranya saja dia sudah mampu membuatku gemetar sangat ketakutan seperti ini. Aku hanya bisa diam sambil menggigit kerah baju yang aku kenakan karena jika tidak, aku pasti akan menangis histeris bahkan menjerit saat ini, dan itu akan sangat disukai oleh laki-laki b***t itu. Semakin aku menderita semakin dia senang dan berbuat hal yang senonoh kepadaku semaunya, karena itu aku menahan suaraku meski harus sangat terpaksa seperti ini. Air mata terus berjatuhan sejak awal laki-laki b***t ini terdengar suaranya, dan sampai saat ini masih saja mengeluarkan bulir-bulir yang tidak bisa aku hentikan meski aku sudah menutup mata, aku tidak ingin bercermin lagi, mungkin saat ini mataku membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata dan terus aku usap-usap.   “Mara!” teriaknya dengan suara lantang, aku terkejut. Nadi-nadi dan jantungku terasa berhenti. Nyawaku terasa terbang jauh karena terkejut dan dalam waktu beberapa detik nyawaku kembali dengan membawa pilu serta rasa kejut yang sangat menyakitkan, dadaku sekarang lebih sakit dari yang sebelumnya dan aku sangat kesulitan bernapas saat ini. Aku mencoba bernapas lewat mulut dan akhirnya bisa keluar dari rasa sesak yang begitu menyakitkan tadi.   “Jangan membuat Ayah kesal, Mara. Mara tahu sendiri bagaimana kalau Ayah marah, bukan?” tanyanya, kepadaku lagi dengan nada lantang membuatku semakin ketakutan dan gemetar. “Oh! Tidak ada jawaban?” tanyanya lagi dari balik pintu. “Jadi, Mara memilih Ayah saja yang datang kepada Mara… dasar anak yang pemalu,” ketusnya dengan nada bicara tinggi khasnya yang sangat ingin bisa kubuat supaya tidak bisa bicara lagi. “Bagaimana dengan hitungan mundur saja, Mara?” Orang b***t ini benar-benar gila, sepertinya  dia berniat ingin mendobrak pintu ini setelah hitungan mundurnya.   “Sepuluh…,” ucapnya pelan, aura di sini benar-benar mencekam dan menggetarkan jiwa maupun raga, tubuhku lemas tak berdaya. Dia pasti akan melakukan hal yang tak senonoh itu setelah mendobrak pintu ini. Apakah hitungan ini akan terus berlanjut? “Sembilan….” Kenapa? Kenapa ini selalu terjadi padaku? “Delapan….” Tinggal tujuh angka lagi, Tuhan … “Tujuh….” Aku begitu gemetar dan tak bisa berpikir jernih karena ketakutan telah menguasai diriku, ah. Suara burung? Dari mana asalnya? Jendela? Di belakang toilet ada jendela, tapi aku harus memanjat dulu untuk bisa mencapainya. Aku bisa, aku pasti bisa. “Enam….”   Aku mulai mencoba berdiri dengan tangan bertumpu di dinding toilet agar aku tidak jatuh karena tubuhku begitu lemah dan lemas saat ini, aku berjalan menuju jendela itu sambil bersandar dengan dinding, berjalan pelan karena saat ini tubuhku benar-benar gemetar. “Lima….”   Sempat… harus sempat. Karena aku tidak ingin jika harus melakukan hal itu lagi dengannya, aku pun menaiki jendela itu dan berhasil keluar bersamaan dengan dia yang menyebut “Empat….” “Mara… tinggal menghitung tiga, dua, satu Ayah akan bisa membuat Mara seperti di surga,” ucapnya sambil mendobrak pintu dan mengatakan “Surprise!” Dengan senyum menyeringainya, laki-laki b***t itu melihat aku yang sudah tidak ada di sana melampiaskan kekesalannya dengan dengan menampar cermin.   Craang! Cermin toilet itu pecah. Dia melihat jendela toilet yang terbuka lebar.   Buk! Buk! Buk! Kaki telanjangku berlari terburu-buru untuk kabur. Aku sesekali menoleh ke belakang dan melihat iblis itu sedang menatapku tajam. Dia tak mungkin berani jika aku berada di luar. Pahit, pahit, pahit, pahit, pahit. Aku terus bergumam seperti itu saat berjalan tanpa kusadari. Aku harus ke mana?!   Langkah kakiku mulai melambat, napasku terengah-engah dengan isi perutku yang sudah kram efek dibawa berlari paksa saat ini. Aku berjalan tanpa alas kaki, badanku kembali lemas setelah berjalan cukup jauh dari rumah, kepalaku kembali pening akibat belum makan dari tadi pagi, tanpa aku sadari aku kehilangan kesadaran dan terjatuh di tanah. Brug!   Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi saat aku tertidur, tapi saat aku bangun aku sudah berada di suatu tenda di kolong jembatan, aku kebingungan dan sedikit berpikir tentang apa yang sudah terjadi dengan aku sehingga aku bisa sampai berada di tenda ini.   Aku pun keluar dari tenda itu, dan seorang nenek-nenek menghampiriku. Nenek-nenek itu begitu lusuh dan tidak terawat tapi senyumannya benar-benar menenangkan, terlihat dari wajahnya yang menatap aku dengan begitu perhatian, dia memberikan aku roti dan mengatakan “Silahkan makan. Mukamu begitu pucat, apa yang terjadi dengan kamu?” tanyanya.   “Tidak ada apa-apa,Nek. Mara hanya pergi rumah.” Aku tidak ingin menceritakan masalah yang sangat besar aku ini kepada Nenek yang sudah tua dan baik hati ini, masalah aku ini nanti hanya akan menambah bebannya. “Oh, begitu. Jadi namamu Mara, dan Mara saat ini pergi dari rumah, kalau Mara mau… Mara boleh saja tinggal dengan Nenek untuk beberapa saat,” tutur wanita tua yang sudah kuyu itu dengan lengkungan di bibirnya yang sudah jarang sekali aku melihat orang lain melengkungkan bibirnya kepadaku.   Aku pun tinggal dengan Nenek itu berdua di tenda di kolong jembatan. Saat pagi hari Nenek membeli tisu di pasar dan setelah itu Nenek menjual tisu itu lagi dengan harga berbeda di jalan-jalan sambil berjalan, aku terus mengikuti Nenek hari ini, aku ingin membantu Nenek sampai semua pekerjaannya selesai. Nenek selalu bisa mengukir senyum di wajahku dengan tingkah lakunya atau dengan semua ceritanya, ingatanku tentang laki-laki iblis itu seperti ditutupi dengan keseharian aku bersama Nenek.   Tapi itu hanya berlaku saat aku bangun dari tidur, saat aku tertidur laki-laki itu benar-benar menguasai aku, dia merajalela di sana. Aku selalu menjerit ketika tidur di malam hari, kadang kala menangis tersedu-sedu, kata Nenek. “Tidak! Tidak! Tidak!!!” Aku terus meracau tanpa sadar. Di sana berdiri pria b***t yang sudah menodaiku penuh nafsu jahatnya. Aku benci mendengar deru napasnya, aku benci menatap wajah piciknya dan aku jijik pada tubuhku yang sudah disentuhnya! “Nak bangun Nak!” desak suara yang berada jauh dariku. Hahhh! Hahhh! Hahhh!   Nenek selalu bertanya kepada aku dan aku selalu menolak untuk bercerita kepadanya, karena cerita masalah aku ini bisa membuat dia benar-benar sedih dan aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi kepada Nenek.   Ternyata semua kegiatan yang kulakukan dengan Nenek tidak bisa menghilangkan iblis ini dari pikiran dan semuanya, kalau terus seperti ini Nenek akan pasti kepikiran terus juga kepadaku. Aku harus bisa segera berdamai serta menghilangkan trauma ini, agar Nenek bisa melihat aku seperti orang yang baik-baik saja.   Baiklah, hari ini aku akan membantu Nenek lagi, lama-kelamaan semua ini juga akan berakhir dan yang terpenting aku sudah lepas dari keluarga yang hanya mementingkan cinta itu, Ibu dengan cintanya, dan laki-laki b***t itu dengan nafsunya. Sudah tidak ada lagi kehangatan di rumah yang bagus itu, sedangkan di sini walaupun kumuh dan angin dingin selalu membuat tubuhku menggigil tapi hatiku benar-benar tenang saat berada di sini.   Aku menyesal tidak cepat-cepat ke sini. Andai dari dulu aku menemukanmu, Nek. Andai kita bertemu lebih cepat. Andai semuanya tidak seperti ini. Aku benci diriku sendiri, Nek. Aku benci diriku yang lemah. Aku benci diriku karena tidak bisa meyakinkan Ibu, tentang masalah ini. Aku menyesal tidak lebih cepat mencarimu, Nek.   Malam ini aku menangis lagi, dalam diam, dalam sunyi. Menutup mulutku dengan kedua tanganku agar Nenek yang sedang tertidur pulas di samping aku tidak terbangun dan melihat aku yang sedang menangis dan meratap lagi.   Aku benar-benar sangat merepotkan ya, Nek? Aku lamat-lamat menatap Nenek yang sedang tidur sambil mendengarkan suara nafasnya yang sangat kecil, aku tidak ingin napas itu lekas berhenti. Tuhan… tolong buat nafas Nenek abadi. Jangan tinggalkan aku pergi, Nek. Tetap sehat, jangan pernah sakit. Mara sayang Nenek. Tiba-tiba Nenek mengusap rambutku dan mengatakan “Mara… juga,” ucap Nenek pelan. Nenek… padahal aku bicaranya dalam hatiku kenapa kau mendengarnya? Aku tersenyum … hah? Aku tersenyum?   Aku tidak tahu bagaimana wajahku saat aku tersenyum karena sudah delapan tahun aku tidak melihat ke cermin bagaimana diriku tersenyum bahkan aku tidak mengerti lagi bagaimana perasaan diriku sendiri delapan tahun ini, tapi yang aku rasakan sekarang adalah hatiku dalam keadaan yang sangat nyaman, mungkin bulan sabit telah terbit di dua belah pipiku. Terima kasih, Nenek.            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD