Kemana Lagi?

1271 Words
Pupus sudah harapan yang tadinya mekar sekarang menjadi layu dan mati. Aku menyesal karena telah benar-benar berharap bahwa ini akan segera berakhir sebab semuanya sudah aku laporkan ke pihak yang memang seharusnya membantu orang-orang yang tertimpa masalah besar seperti aku, ini tidak layak jika dikatakan musibah atau bahkan ujian … ini adalah kekejaman sepihak.    Polisi saja bahkan tidak bisa menolongku, aku harus ke mana lagi meminta pertolongan?  Kemana lagi aku harus berharap?! Kemana lagi aku harus pergi?!   Semua yang kulakukan semakin membuatku sadar bahwa asa dan harapan benar-benar tidak nyata, dan seharusnya memang tidak perlu dilakukan, yang sekarang bisa aku harapkan hanyalah diriku sendiri. Ibu juga sudah tidak bisa lagi aku minta pertolongannya, padahal aku sangat perlu Ibu, tapi semuanya ikut hilang sejak saat laki-laki b***t itu datang ke rumah kami, semuanya telah direnggut dariku.   Sekarang saja bahkan aku tidak tahu apakah Ibu masih menyayangi aku atau tidak, aku bahkan lupa sudah berapa kali aku mencoba mengatakan semua hal ini kepada Ibu dan Ibu hanya menjawab dengan senyuman dan menyuruhku untuk segera masuk kamar dan mengatakan bahwa aku hanya salah paham, selalu saja begitu. Laporan yang semula ditulis dengan rapi itu sekarang sudah menjadi bola kertas yang tak berguna di tong sampah, Ibu pun membawa aku kembali ke rumah yang tidak bisa dikatakan tempat teraman dan ternyaman lagi, karena sekarang sudah menjadi  dasar neraka bagiku.   Pagi itu Ibu sesampainya di rumah, Ibu langsung menyuruh aku mandi dan sarapan untuk segera bersiap-siap ke sekolah. Dia ada tepat di ruang makan, iblis itu tersenyum kepadaku dan mengatakan “Mara… makan.” Menyeringai membuat semua badanku kembali lemas. “Kemana Mara tadi malam?” tanyanya dengan lembut menatapku tajam, aku ingin lari dari sini sekarang juga.   Ibu menjawab pertanyaannya karena melihat aku yang terdiam tanpa suara “Mara menginap di rumah temannya, di dekat sini,” jawab Ibu dengan penuh kehangatan kepada laki-laki itu, aku yang melihat semua ini muak dan aku pun segera berlari masuk ke kamar, beriringan dengan suara Ibu yang mengatakan “Mara… cepat ke sekolah!” teriak Ibu, aku tidak ingin mendengar suara Ibu lagi, aku ingin sendirian.   Aku masuk ke kamar dan langsung ke kasur bersembunyi di balik selimut sambil menutup telingaku karena Ibu terus-terusan menyuruhku untuk pergi ke sekolah, aku tidak ingin pergi ke sekolah, sekolah membosankan. Ibu berada di depan kamarku yang sudah kukunci dari dalam, mengetok dan memanggilku dengan suara khasnya yang lembut dan menenangkan, seharusnya. Sekarang Ibu berteriak-teriak kepadaku, Ibu hanya bersikap ramah kepadaku saat ada orang itu. Aku tidak ingin benci Ibu, tapi Ibu sendirilah yang membuat perasaan benci ini mekar dan tumbuh, tapi tetap saja aku lebih benci orang itu, semuanya gara-gara dia, semuanya salahnya.   Kalau dia tidak ada, aku pasti sudah sangat bahagia walau hanya bersama Ibu. Tapi iblis itu datang dan semuanya menjadi seperti ini.   Ibu terus-terusan berteriak menyuruh aku untuk membuka pintu untuknya, tapi aku tidak mau karena dia pasti hanya akan menyuruh aku untuk berangkat sekolah, sekolah juga bukan tempat aman bagiku, Bu. Orang itu bisa menjemputku tiba-tiba di sekolah.   Tapi kali ini di rumah tepat di kamar, aku merasa sangat aman karena saat ini ada Ibu, dan pasti tidak mungkin laki-laki b***t itu bisa melakukan hal yang tak senonoh padaku. Aku kasihan dengan Ibu yang sudah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil aku, sampai akhirnya aku luluh untuk membukakan pintu kamar ini kepadanya, karena aku benar-benar menyayangi Ibu sebenarnya. Aku pun membuka kunci pintu kamar dan Ibu masuk, kemudian Ibu seperti biasa membujuk aku supaya aku mau pergi bersekolah, tapi aku menolaknya lagi dengan alasan tidak enak badan. Ibu tidak menyerah untuk menyuruhku pergi ke sekolah entah kenapa? Tapi, aku ingin pergi ke sekolah dan kembali beralasan bahwa kepalaku sangat pusing saat ini, kuharap Ibu mau mengerti.   “Baiklah, Mara. Ibu, menyerah untuk membujuk Mara hari ini,” ucap Ibu sambil melihat-lihat isi kamar aku dan tidak beberapa lama Ibu keluar dari kamar dan menutup pintu bersamaan dengan kata “Cepat sembuh, Mara.”   Aku lamat-lamat menatap ke arah Ibu yang mulai menutup pintu perlahan, seperti biasa hanya senyuman kaku itu yang ia tunjukan, akhirnya aku tidak bersekolah hari ini dan ingin menyendiri di kamar sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk bisa keluar dari semua masalah yang sangat panjang ini. Semakin aku berpikir semakin aku pusing dan gemetar, perutku mulai sakit dan tiba-tiba mual-mual, akupun ke toilet yang ada di kamar aku, benar saja aku muntah-muntah dan sesak, aku pun mulai membasuh muka dan bercermin, melihat wajahku yang pucat, kantung mataku yang sangat hitam, rambut hitam yang mulai sedikit rontok, aku kembali menangis saat menatap diriku di cermin.   Tuhan… kenapa semua ini terjadi padaku? Aku menampar cermin dengan tangan kecil aku, ternyata tidak semudah itu memecahkan cermin seperti di film-film atau cerita-cerita fiksi, atau aku saja yang terlalu lemah untuk memecahkan cermin ini.   Dadaku kembali sesak dan kepalaku juga pening, aku pun menelungkupkan kepalaku di kedua lutut sambil mengusap air mataku yang berjatuhan ke pipi, kata-kata orang b***t itu selalu terbayang di kepalaku mengatakan surga dan namaku, aku memukul kepala berkali-kali agar dia pergi dari sana, tapi tetap saja senyuman menyeringai yang sering dia tunjukkan kepadaku itu membuat kepala dan hati tersiksa.   Suara itu muncul lagi mengatakan “Mara… kamu di dalam sana sedang apa? Ayo main sama Ayah,” ucapnya dengan suara tertawa pelan yang mengerikan dan membuatku sangat ketakutan.   Oh Tuhan… ini bukan suara di kepala atau di hati, dia sekarang ada di depan toilet kamarku, aku berpikir sejenak memikirkan kenapa dia sampai bisa masuk ke sini? Benar … aku lupa mengunci pintu saat Ibu keluar dari kamar. “Ibu… Ibu... tolong Mara!!!” teriakku, tapi tidak ada apapun yang terdengar selain suara tertawa keras laki-laki b***t yang sedang berada di depan pintu toilet, suara tertawanya bergema sangat menakutkan, tubuhku semakin gemetar, aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang?   Sepertinya Ibu meninggalkan aku saat ini berduaan di rumah dengan laki-laki b***t ini, kepalaku seperti mau meledak saat ini, dia mungkin sewaktu-waktu bisa saja mendobrak pintu toilet ini dan segera melakukan hal itu padaku. Tapi kenapa dia malah tertawa di depan sana? Apa dia menikmati aku yang sangat menderita ini? Gila! Dia benar-benar gila!   “Mara…,” panggilnya dengan suara pelan tapi sesudah memanggil, dia tertawa-tawa seperti orang kesetanan, dia benar-benar iblis di kehidupan nyata.   Aku menutup kedua telingaku, agar suaranya tidak terdengar lagi, tapi yang terjadi semakin aku mencoba tidak mendengarnya samakin suara suara tertawanya terdengar di telinga.   Dia mulai mencoba membuka gagang pintu dan berkata “Mara… kamu tahu kan, bahwa pintu yang terkunci ini, bisa dengan mudah kubuka?” tanyanya padaku, suara tertawanya semakin nyaring, dia benar-benar menikmati semua ini. Perutku kembali sakit, aku ingin lari dari sini, tapi bagaimana? Pahit sekali, pahit sekali, air mata kembali berjatuhan dan aku menahan suaraku yang sangat ingin berteriak saat itu juga untuk meminta tolong, tapi dengan siapa? Kenapa dia lagi-lagi mengincar aku?! Dan kenapa harus aku?!   Dia terus-terusan memanggil namaku dan tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan hal yang sangat tidak senonoh kepadaku dari depan pintu itu, aku ingin muntah berkali-kali tapi tidak bisa karena perutku sedang tidak ada isinya sama sekali. Tolong… Tolong aku…   Aku ingin mengatakan itu, tapi kepada siapa? Saat ini hanya ada aku dan dia yang sedang ingin menerkamku.   “Mara… Ayah sudah tidak tahan lagi,” ucapnya berbisik dengan napas beratnya itu semakin membuatku ketakutan, badanku saat ini menggigil karena ketakutan dan aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. “Ayah mau dobrak pintunya, boleh?” tanyanya dengan nada pelan seperti siap menerkam mangsanya kapanpun dia mau. Aku hanya bisa diam membisu, sepertinya hal itu akan terjadi lagi kepadaku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD