Pahit, pahit, pahit, pahit, pahit, pahit, pahit, pahit, Mara?
Mara? Nama ini benar-benar adalah kutukan!
Ibu pikir dengan memberikanku nama Mara akan membuatku bisa melawan dan menerima kepahitan dalam hidupku, kau keliru Ibu … saat ini akulah kepahitan itu sendiri dan sumber kepahitan itu adalah suamimu yang kau bawa pulang entah dari mana itu, bisakah dia mati atau pergi saja?!
Kata orang-orang penderitaan panjang akan selalu ada timbal balik yaitu kebahagiaan, kapan? Kapan aku dibahagiakan? Sudah delapan tahun ini berselang, mana kebahagiaan? Mana pelangi sehabis turun hujan? Mana yang namanya kebahagiaan itu? Apakah aku harus menunggu lebih lama lagi? sudah delapan tahun mimpi buruk ini terjadi, mau tidur atau bangun sama saja, isinya hanya mimpi buruk!
Semua ini bermula sejak laki-laki iblis dan b***t itu menjadi suami sah Ibuku, dia benar-benar telah menghancurkan hidupku, bukan hanya hidupku … semuanya dia hancurkan, bahkan masa depanku juga. Aku tidak ingin tahu apa-apa lagi, aku benci kehidupan.
Aku benci diriku yang lemah, aku benci dia, aku benci Ibuku yang selalu membela dia, aku benci Tuhan yang hanya memperhatikan aku di singgasananya tanpa membantuku sedikit pun, buat saja aku mati! Kumohon!
Sejak delapan tahun yang lalu, tepatnya saat usiaku menginjak sepuluh tahun. Ibu menikah dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal dan aku juga tidak pernah melihatnya sama sekali. Dia sangat baik padaku saat itu jadi aku bisa dengan mudah menerimanya karena semuanya keputusan Ibu dan Awalnya biasa-biasa saja tapi tepat pada malam hari saat semua sudah sangat sunyi, laki-laki itu tiba-tiba masuk ke kamarku saat aku sedang tertidur lelap dan mulai menggerayangi tubuhku dengan napas beratnya yang menjijikan.
Aku terbangun dari tidurku dan melihat dia sedang menatap aku dan menyeringai sangat menakutkan, tangannya masih berada di bahuku dan menggenggam begitu erat, aku benar-benar ketakutan saat itu, padahal aku tidak tahu dia ingin melakukan apa padaku, tapi dia benar-benar menakutkan!
Aku ingin memanggil Ibu untuk meminta tolong tapi dia segera menutup mulutku dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya masih saja bergerak menyentuh hampir seluruh badanku dan berbisik pelan “Mara … Ayah akan memberimu surga.” Dan seperti saat pertama aku melihatnya di hadapanku malam ini dia menyeringai dengan mengerikan, aku sangat ketakutan dan segera memejamkan mataku.
Tangan-tangannya masih saja bergerak, sangat menjijikan, aku ingin pergi dari kamarku tapi yang bisa aku lakukan pada saat itu hanya menangis karena dia terus menahan aku saat mulai memberontak dan juga dia terus mengatakan “Mara … Mara …” Dengan napas panas yang uapnya mengenai wajahku.
Tuhan…
Tuhan…
Ibu…
Tolong aku!
Aku ingin menjerit kencang dan meminta tolong pada siapapun namun suaraku tercekat hebat. Aku tak bisa bersuara sedikitpun!
Laki-laki itu kemudian keluar kamar, dan aku langsung berlari untuk menutup pintu dan menguncinya, aku terdiam dan tersungkur lemas di lantai dan bersandar ke pintu menangis tiada henti semalaman penuh, Rumah yang kupikir tempat teraman sekarang menjadi wadah iblis untuk melakukan tindakan b***t kepada dirinya.
Menjijikkan! Seringai wajah dengan perut tambunnya sangat kubenci!
Tepat jam empat pagi aku masih tidak bisa tertidur karena masih terbayang-bayang dengan apa yang menimpa aku beberapa jam yang telah lalu, aku menangis lagi dan lagi bersamaan dengan hujan yang turun saat itu, aku ingin segera melupakan hal itu, benar-benar sangat ingin.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari arah pintu kamarku, aku pun langsung bersembunyi di balik selimutku, suara itu terus terdengar beriringan dengan suara dia menyebut namaku.
Aku sangat ketakutan saat itu, tubuhku gemetar tak terhenti dan aku menutup kedua telingaku dengan kedua belah tanganku berharap agar suara iblis dan pintu yang diketuknya tidak lagi terdengar olehku, ini baru beberapa jam setelah aku mengunci pintu dan dia ingin melakukan hal yang tak senonoh itu padaku, lagi?
Aku menutup mataku dan telingaku hingga suara itu tidak terdengar lagi olehku, benar-benar senyap dan tidak ada suara apapun saat itu, tapi entah kenapa tubuhku tak bisa berhenti gemetar, tangan besarnya masih bisa kurasakan sampai sekarang, aku menggenggam kedua belah tanganku untuk menahan kekesalan di diriku.
Aku pun membuka selimutku karena sudah tidak ada suara apapun lagi dan dia sudah ada di hadapanku dengan senyum menyeringainya dan berkata “Mara… jendelamu belum dikunci.”
Dia melakukan hal itu lagi padaku, semua perlawanan yang aku lakukan sia-sia karena aku hanya anak kecil yang berumur sepuluh tahun.
Dia ke kamarku hampir setiap malam, padahal aku sudah mengunci semua dan bersembunyi di segala tempat. Tapi dia terus ada dan terus menemukanku dimanapun aku, setiap malamku kini diisi dengan mimpi yang buruk, jika tidak bermimpi buruk maka hal buruk itu yang akan terjadi padaku.
Ingin sekali aku menceritakan semua ini pada Ibu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengatakan bahwa suaminya itu selalu masuk ke kamarku hampir setiap malam dan selalu melakukan hal yang tidak senonoh padaku.
Kenapa harus aku? Kenapa? Kenapa semua hal buruk ini terjadi padaku? Semua itu selalu terlintas di kepalaku yang membuat dadaku sesak dan hampir membuatku tidak bisa bernapas. Mataku mulai tidak jelas untuk melihat sesuatu karena setiap malam selalu mimpi buruk dan menangis mengeluarkan bulir-bulir air mata yang selalu membasahi selimutku.
Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Suaranya memanggil namaku masih terdengar di telinga, begitu memuakkan. Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan semua ini.
Hari-hari terus berlalu hingga akhirnya aku memutuskan untuk memberi tahu semua hal yang terjadi kepada Ibu. Pagi ini sangat pas sekali untuk mengatakan semuanya pada Ibu, tentang aku, tentang iblis itu, dan tentang semua perbuatan tidak senonohnya padaku.
Aku keluar dari kamarku kemudian menuju ruang makan, di sana sudah ada Ibu yang setiap harinya memasak dengan senang dan bahagia, tanpa tahu apa yang terjadi dengan anak perempuannya ini, aku benar-benar tidak tega mengatakan semua ini kepada Ibu, terlebih Ibu sangat mencintai laki-laki b***t itu.
Aku benar-benar bingung dan putus asa, bagaimana caraku untuk mengatakan semua ini kepada Ibu. Ibu melihat aku yang masih berdiri di depan ruang makan segera memanggil aku dengan senyuman yang begitu hangat, aku benar-benar tidak ingin menghilangkan ukiran senyum indah itu di wajah Ibu, tapi Ibu harus tahu bahwa laki-laki yang ia pilih sebagai suami sahnya itu bukan laki-laki yang baik, tapi iblis yang berwujud manusia.
Kepalaku tiba-tiba pening, aku meringis kesakitan dan Ibu menuju ke arah aku dan membawa aku ke kursi makan dan menyuguhkan air putih hangat.
“Mara, kenapa?”
“Dia laki-laki jahat, Bu,” rintihku dengan suara pelan karena menahan suara-suara aneh yang sangat mengganggu di kepalaku.
“Dia … siapa, Mara?” tanya Ibu, yang sangat bingung dengan perkataanku.
“Suami Ibu.”
“Apa yang terjadi, Mara? Ibu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Mara katakan.” Ibuku nampaknya kebingungan.
“Dia ke kamarku setiap malam, Bu. Dan melakukan hal jahat padaku, dia benar-benar mengerikan!” desisku yang tak mampu lagi menahan air mata yang tanpa kusadari sudah berjatuhan, bahkan aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak aku menangis sejak kejadian di malam pertama hal saat ia tiba-tiba ada di kamar aku dan yang telah menyebabkan mimpi buruk ini terus berkelanjutan itu terjadi.
Ibu diam, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya detik itu dan yang terdengar hanya suara detik jarum jam dan suara rebusan air.
“Mara tidak bohong, Bu.”
Ibu tersenyum kepadaku seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan, sambil mengusap rambutku dengan tangan lembutnya ia berkata dengan sangat lembut mengatakan “Mara hanya salah paham … tidak mungkin Ayahmu itu melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu, kalaupun ada … itu pasti hanya pasti kesalahpahaman Mara saja.
“Ibu …,” dengusku untuk menjelaskan sekali lagi dengan Ibu, agar ia percaya dengan semua perkataanku.
“Mara … dengar Ibu, laki-laki itu laki-laki yang baik, dia mau menerima Ibu apa adanya dan bahkan menikahi Ibu, sekarang saja lihat sudah dua hari ia tidak pulang karena pekerjaannya untuk membiayai kehidupan kita berdua.” ucap Ibu lembut kepadaku.
Ini tidak adil, Ibu sudah dibutakan dan dikuasai iblis itu, dunia tidak adil ia tidak pernah memberi tempat aman bagiku, aku benci dunia.
Aku benci semuanya.