Mimpi Buruk di Kehidupan Nyata

1411 Words
“Pagi-pagi selalu terlihat sangat buruk, perutku mual, aku benar-benar ingin muntah sekarang, aku muak dengan semua ini, aku muak dengan mimpi buruk yang sedang terjadi di kehidupan nyata aku ini.” tutur gadis 18 tahun yang menjadi b***k s*****l ayahnya sendiri, ia bernama Mara.   Mara dalam bahasa Ibrani berarti (Pahit) benar saja, kehidupan aku sekarang benar-benar pahit, lebih pahit dari kata pahit itu sendiri.   Dug! Dug! Dug! Tubuh kurusku tersongsong berlari menuju kantor polisi dengan perasaanku yang begitu ketakutan. BRAKK! “Dia ingin memperkosaku!” “Di—Dia memperkosaku lagi!!” teriakku sambil begitu menggila. “Siapa, Dek?” sahut Pak Polisi yang hanya melamun tanpa keseriusan, terlihat jelas dari matanya yang mengantuk dikarenakan sekarang jam sebelas malam. ***  Aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi, Tuhan sudah tidak mendengarkanku, atau mungkin Dia hanya mendengar dan enggan membantuku. Terlintas di kepalaku untuk ke kantor Polisi tapi apa benar mereka akan membantuku?  Tidak ada salahnya berharap meski harapan adalah sesuatu yang memang tidak bisa dipegang karena harapan tidak pernah nyata, aku benci ini, sangat benci.    “Ayah tiriku memperkosaku, Pak!” teriakku dengan suara yang hampir habis, karena sangat lelah berlarian ke sini, jarak Kantor Polisi dari rumahku cukup jauh memerlukan waktu setengah jam untuk ke sana.   “Sabar, Dek. Sabar .…” “Ta—tapI, Pak .…” Aku masih harus menyampaikannya! Aku tak mau dilecehkan bertahun-tahun lamanya! “Shuttt … tenang, Dek. Coba ceritakan dengan baik dan tenang,” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya mengambilkan aku segelas air putih hangat dan mempersilahkan aku untuk minum, dia tersenyum kepadaku seakan mengatakan bahwa aku sudah berada di tempat yang paling aman, berharap. “Baik, Dek. Kalau sudah tenang coba ceritakan semua kepada Bapak, agar Bapak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adik ini?” ucapnya ramah dan kembali duduk di kursi, dan menatap aku dalam seakan sangat ingin mengetahui semua yang terjadi padaku.   Tiba-tiba datang Polisi wanita yang segara membaluti selimut di tubuhku, hangat sekali rasanya. Polisi wanita itu menatap aku dan mengelus rambut hitam yang tidak terawat ini dengan lembut, apa mungkin ini yang dinamakan kasih sayang? Aku tidak tahu, tapi rasanya benar-benar nyaman, aku sampai hampir lupa bahwa aku ke sini ingin melaporkan dan mengadu tentang perbuatan b***t Ayah tiriku.   Polisi wanita itu mengelus pelan di punggungku, damai sekali rasanya seperti musim kemarau panjang yang baru sekarang diberi hujan, aku akhirnya sedikit bisa tenang. Polisi wanita itu pun berbisik halus padaku “Mulailah bercerita … kami akan mendengarkan semua yang kamu keluhanmu.”   “Baiklah, Bapak akan menulis laporan tentang adik sekarang. Pertama-tama siapa nama adik?” tanya Pak Polisi sambil menulis tanggal dan jam pada hari ini di kertas laporannya. “Mara, Pak.” jawabku. Aku hanya bisa berharap kepada mereka, tidak ada yang bisa lagi menolong aku lagi, Tuhan jahat, Dia tidak pernah mendengarkan harapan-harapanku. “Mara … umur?” tanyanya lagi, sepertinya dia sadar dengan tubuhku yang gemetar lagi, aku tak kuasa menahan tangisanku. “Mara … tenang, ada kami di sini, tidak akan ada yang dapat melakukan apapun di sini, Mara,” ujar Polisi Wanita yang langsung mendekapku yang masih sedang berkelumun selimut mencoba untuk menenangkanku yang sudah gemetar tak karuan.   “Tidak … Pak, Bu. Mara hanya tidak kuasa menahan air mata karena kebaikan hati Ibu dan Bapak,” lirihku sambil menghapus beberapa bulir-bulir yang berjatuhan ke pipiku yang menetes tanpa kusadari, karena suasana di sini begitu hangat sedangkan di rumahku seperti neraka di kehidupan nyata.   “Umur Mara 18 tahun, Pak,” jawabku agar laporan bisa selesai dan semuanya berakhir. Aku benar-benar ingin hidup seperti manusia biasanya, kehidupan yang seperti ini benar-benar neraka, bahkan bukan neraka yang damai. “Apa yang terjadi dengan Mara?” Pak Polisi diam beberapa detik dan lanjutnya “Kenapa dek Mara bisa sampai berlari-lari larut malam ke Kantor Polisi begini? Lalu dia diam beberapa detik dan bertanya lagi “Siapa ‘dia’ yang dimaksud Mara? Ayah tiri Mara?”    Tiba-tiba bulir air mata berjatuhan lagi, aku ingin menceritakan semuanya … semua yang aku  derita, semua yang terjadi padaku, semua … semua tentang dia yang membuatku pilu, yang membuatku putus asa.  Aku pun mulai mencoba perlahan-perlahan mencoba menyampaikan apa yang terjadi padaku.   “Mara hampir diperkosa Ayah tiri Mara lagi, Pak,” lirihku dan tiba-tiba dadaku sesak, begitu sesak… seperti saat orang itu melakukan hal b***t padaku, apakah ingatan ini bisa kubuang atau menghilang begitu saja? “Hah? Bagaimana itu bisa terjadi, Dek Mara?” tanya Pak Polisi yang terkejut dengan perkataanku ini. “I—iya, Pak. Di—dia memperkosaku, dan tadi malam ia juga berniat seperti itu padaku.” “Tadi malam? Sebelum Mara ke sini?” “Iya, Pak. Dia gila … tidak ada kemanusiaan dalam dirinya,” ucapku karena sangat sedih dengan apa yang terjadi di diriku ini. “Sudah berapa sering Ayah tiri Mara itu berbuat b***t kepada Mara?” “Sangat sering, Pak.” Bulir-bulir berjatuhan lagi dari mata membanjir ke pipi dan berjatuhan ke selimut hangat yang seakan mendekap diriku erat, Polisi wanita dibelakangku mencoba menenangkan aku yang sudah sangat tidak mampu lagi untuk bicara apapun selain aku membenci dia.   Pak Polisi yang melihatku berderai air mata segera menghentikan pertanyaannya kepadaku dan mulai mencatat apa yang aku laporkan kepada beliau. Polisi wanita ini sangat baik padaku dia terus mencoba menenangkan aku dan menyeka air mata yang terus berjatuhan, dan terus bilang “Kami akan segera menyelamatkan Mara.” Kata-kata itu adalah harapanku sekarang.   “Kami akan ke rumahmu dan memulai penyelidikan besok pagi, Mara mau menginap di sini? Atau bagaimana? Kami hari juga lembur dan tidak pulang ke rumah, bagaimana mau menginap di sini?” “Boleh?” tanyaku yang sudah tidak tahu lagi ingin pergi ke mana, tapi saat ini aku benar-benar merasa lega, karena ternyata masih ada harapan di kehidupan yang semu dan pilu ini. “Tentu saja boleh, Mara. Kakak nanti yang akan temani Mara tidur,” jawab Polisi wanita itu sambil meletakkan kedua tangannya ke bahuku dan menatapku dengan netra yang begitu lembut dan indah, tidak seperti netra laki-laki jahat itu.” “Terima kasih.” sahutku pelan, suaraku tampaknya sudah habis, karena terlalu banyak berteriak.   Tidak berselang lama, pagi pun tiba.   Tiba-tiba di samping aku sudah ada Ibuku yang tersenyum padaku dan mengatakan “Mara … pulang ke rumah yuk!”   Ruangan yang tadinya hangat dan nyaman seketika menjadi sedingin pualam, Ibu tidak tahu yang terjadi denganku, Ibu selalu membela suaminya itu dan mengatakan hanya aku yang terlalu labil dengan apa yang dilakukan suaminya itu.   “Tidak, Bu! Mara tidak ingin kembali ke rumah yang ada dia di sana.” ketusku pada ajakan Ibu yang menyuruhku untuk segera pulang bersamanya. “Tidak sopan, Mara. Menyebut Ayahmu dengan sebutan ‘dia’ seperti itu!” Ibuku malah memarahiku karena ‘dia’. “Dia bukan Ayah kandung Mara, Bu!” sentakku merasa tak terima. Dia hanyalah pria b***t yang memanfaatkan ibuku! “Diam, Mara!” bentak Ibu yang sepertinya sudah sangat marah kepadaku.    Air mataku kembali berjatuhan, pagi yang menyebalkan datang lagi, apakah bisa semua ini berhenti saja? Apakah bisa Ibu lebih mengerti aku? Aku benci ini, aku benci hidup di dunia ini.   “Mara … jangan menangis lagi! Nanti Ibu Mara khawatir itu …,” ucap Polisi wanita yang baru memasuki ruangan tempat ia tertidur sambil membawa dua gelas air, sepertinya itu untuk aku dan Ibuku. “Bagaimana tentang laporan Mara, Kak?” tanyaku pada Polisi wanita itu. “Sudahlah, Mara … Ibumu sudah cerita panjang lebar tentang Mara dan Ayah. Mara harus lebih dekat dengannya, Dia Ayahmu, Mara,” ucap Polisi wanita itu dan aku sangat terkejut, apa yang terjadi saat aku tidur? Apa Ibu yang bicara dengan mereka? “Tidak, Kak! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu lagi,” lirihku yang sudah lelah menyeka bulir-bulir air mata yang terus berjatuhan setiap harinya. “Mara … kamu tidak boleh mengatakan semua yang Ayahmu lakukan itu hal b***t, salaman itu tidak apa-apa Mara, apalagi antara orang tua dan anak, bagus sekali itu Mara … terpuji.” “Tapi …,” jawabku yang belum sampai aku berkata-kata dipotong dengan kata Polisi wanita “Bukannya semuanya hanya kesalahpahaman?” Ibu pun menjawab dengan ramah dan sopan “Benar… apa yang anak lakukan, hanya karena dia belum cukup akrab dengan Ayahnya.”   Harapanku pupus, ini gila … laporan atau pun kasus juga tak diindahkan. Dadaku kembali sesak, aku ingin berteriak … tapi suaraku sudah habis.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD