Seakan Flashback, rol ingatan ketika orang itu melakukan hal yang tak manusiawi kepadaku bahkan menghancurkan diriku tampak jelas di pikiranku, dan pemicunya hanya karena seseorang beberapa kali memanggil namaku, membuat aku yang tadinya hanya berpikir kenapa dunia ini begitu pahit menjadi tidak kuasa untuk menahan emosi yang membendung di kepalaku dan tanpa kuingin meledak seketika.
Dokter itu bernama Bagus dan aku tahu dia adalah orang paling ramah dan sopan di Rumah Sakit Jiwa ini karena itulah aku tidak ingin membuatnya berpikir yang tidak-tidak kepadaku, tapi semuanya telah usai, aku dikuasai egoku sendiri yang membuat aku mengamuk dan lagi-lagi mencoba melukai diriku sendiri.
Aku kembali memukul-mukul pahaku sendiri tanpa aku sadari, tangan ini bergerak sendiri entah ke mana ia ingin mendaratkan kekesalannya, melepaskan tangan dan kakiku yang diikat seperti melakukan hal yang tidak seharusnya diperbuat karena ini hanya menyusahkan dirinya sendiri saja.
Dokter Bagus yang melihat aku memukul-mukul pahaku sendiri langsung menggenggam pelan tanganku dengan tangannya, tangan Dokter Bagus benar-benar hangat, saat ini memegangi tanganku aku teringat dengan tangan Ibu Hani, dan benar saat aku kembali menatap wajah Dokter Bagus aku seakan bisa kembali merasa tenang, apa dia juga salah satu cahaya seperti Ibu Hani, Syamsi dan Nenek? Di kepalaku terukir jelas bagaimana wajah mereka yang sangat memerhatikan aku itu.
Tanganku seketika berhenti bergerak dengan sesukanya, aku mulai bisa tenang, dan aku mulai meneteskan air mata dengan bisa seperti saat aku memperlihatkan air mata ini kepada Nenek, tangan Dokter Bagus mulai melepaskan genggamannya, aku menatap wajahnya, benar saja … seperti Nenek, Dokter bagus tersenyum sangat hangat sambil banyak berbicara kepadaku, aku tidak mendengar semua ucapannya karena suara tangisan yang aku keluarkan seakan mematikan indera pendengaranku, tapi yang aku tahu jelas adalah pasti beliau sedang sangat khawatir dengan keadaanku.
Aku menghela nafas pelan untuk melegakkan diriku, kemudian aku teringat Ibu yang mengatakan bahwa menghela nafas dapat mengusir keberuntungan membuat aku tersedak dan batuk, karena berpikir keberuntungan saja aku tidak punya terus apa lagi yang akan aku usir.
“Konon katanya menghela napas akan dapat mengusir keberuntungan, tapi kenyataannya tidak, menghela nafas secukupnya bisa meningkatkan sirkulasi darah dan menyeimbangkan saraf otonom serta membantu kita agar bisa menjadi lumayan tenang,” ucap Dokter Bagus sambil mengelus punggungku yang tadinya batuk-batuk karena tersedak.
Aku pun mencoba menghela nafas lagi seperti yang Dokter Bagus katakan, dan benar saja aku sudah bisa lumayan tenang, apa Dokter Bagus ini penyihir yang selalu melakukan hal tabu untuk pengobatan? Ah, sepertinya tidak. Karena Dokter Bagus adalah Dokter yang baik, ia selalu berusaha mengobati semua pasiennya dengan begitu baik dan bagus, seperti namanya sendiri.
Dokter Bagus pun berjalan ke arah nakas di samping kasur tempat aku tidur, dan menuangkan satu gelas air putih, kemudian mempersilahkan aku untuk minum. Aku tidak bisa lepas dari memandangi dirinya karena saat memandangi Dokter Bagus seakan memandangi Ibu Hani dan Nenek yang begitu baik kepadaku.
Aku pun meminum air dari gelas itu beberapa teguk, sepertinya tiga tegukkan dan memegangi gelas itu di tanganku, Dokter Bagus kembali duduk di kursi samping kasur dan memulai kembali ingin berbicara kepadaku yang saat ini sudah mulai tenang karenanya.
“Mara sudah mulai tenang?” tanya Dokter Bagus kepadaku begitu halus dan sopan suaranya dengan wajah yang tersenyum hangat kepadaku, dalam pikiranku bertanya “Apa Dokter Bagus ini selalu tersenyum hangat seperti ini ke pasiennya, jika benar … pasti akan banyak nyawa yang ia selamatkan dengan senyuman hangatnya ini.” Aku benar-benar tenang sekarang, apa aku boleh bercerita masalah yang aku derita kepada Dokter Bagus yang sangat baik hati ini, dan seperti biasa aku benar-benar takut jika Dokter Bagus ini akan menderita karena aku.
Karena terlalu banyak berpikir aku terdiam beberapa menit sampai Dokter Bagus kembali bertanya kepadaku “Menceritakan masalahmu kepada orang lain itu mungkin tidak bisa dengan mudah membuat masalahmu selesai, tapi dengan menceritakan masalahmu kepada orang yang tepat, akan dapat sedikit mengurangi masalah yang kamu derita,” ucap Dokter Bagus itu lagi, seketika kepalaku dipenuhi dengan Ibu Hani, aku masih ingat jelas ketika Ibu Hani mengatakan hal itu kepadaku, dan kali ini aku dapat mendengar kata-kata itu lagi, meski sedikit berbeda, tapi isinya masih sama yaitu beliau orang yang tepat dan aku harus bercerita tentang masalah yang aku derita.
Aku menganggukan kepalaku tanda bahwa aku ingin bercerita kepada Dokter Bagus, Dokter Bagus kembali tersenyum kepadaku dan mengatakan “Mara, bicaranya pelan saja. Tidak perlu terburu-buru, saya akan di sini terus dan akan mendengarkan Mara sampai kapanpun selama Mara masih perlu pendengar yang baik, dan saya siap untuk menjadi orang itu, dan jika saya mampu saya akan membantu Mara menyelesaikan masalah itu, seberapa besar pun masalah yang Mara derita sekarang,” ucap Dokter Bagus lagi sambil mengelus kepalaku dan merapikan rambutku.
Tangan besar Dokter Bagus sangat berbeda dengan tangan kasar milik orang itu yang menyebabkan aku sampai menjadi seperti ini, tangan Dokter Bagus begitu hangat sama seperti tangan Ibu Hani dan Nenek, teksturnya memang berbeda tapi kehangatannya sama sekali tidak berbeda, telapak tangan mereka bagaikan air terjun kehidupan yang mampu memberi keabadian dan kekekalan untuk bisa terus menerima kehangatan ini.
Tanpa tergesa-gesa aku pun menyeka air mata yang terus membanjiri pipiku, dengan kedua belah tanganku, sampai ia benar-benar berhenti mengalir, Dokter Bagus menungguku hingga aku siap untuk bercerita dan aku pun sangat ingin menceritakan apa yang selama ini terjadi kepadaku dengannya.
Aku pun kembali memandang wajah Dokter Bagus untuk menambah rasa keberanian yang sangat tidak aku miliki sekarang, yang selalu aku pikirkan hanya bagaimana cara membuat diriku sendiri mati, sekarang sudah lebih baik, karena aku menemukan satu cahaya dan semoga kali ini aku bisa benar-benar keluar dari semua masalah ini, dan menjalani kehidupan normal seperti orang-orang pada umumnya, walaupun aku juga sangat meragu dalam hal itu.
Dokter Bagus terus senyum kepadaku saat aku mulai menatap beliau, seakan memberi aku kekuatan dan aku pun mulai cerita kepadanya tentang semua yang terjadi padaku, tentang semuanya, tentang bagaimana semua ini dimulai dan sampai bagaimana diriku bisa ada di sini sekarang, semuanya kau ceritakan kepada Dokter Bagus yang aku lihat mukanya selalu berubah ekspresinya dari mulai seperti menerima derita yang aku tawarkan dan kesedihan yang aku berikan, semuanya Dokter Bagus rasakan hari ini.
Panjang lebar cerita tentang masalah ini sudah aku ceritakan kepada beliau, mata beliau berbinar dan sedikit lagi bulir itu akan segera terjatuh tapi beliau langsung menghilangkan bulir itu dengan tisu yang beliau bawa, dan langsung tersenyum kepadaku, beliau kuat.
Beliau orang yang benar-benar baik, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari Dokter Bagus yang dari awal aku bercerita hingga aku selesai berceritayang sangat panjang, aku khawatir bahwa beban ini akan beliau bawa pulang dan bersedih di kemudian hari tapi setelah beliau menyeka air mata beliau yang hampir jatuh dan tersenyum kepadaku, aku yakin bahwa beliau akan baik-baik saja, karena beliau bukan hanya baik hati tapi kuat dalam menghadapi kesedihan tidak seperti aku yang selalu dapat mudah bersedih dan selalu berpikiran bodoh bagaimana cara mengakhiri kesedihan ini dan kemudian berpikir untuk bunuh diri, bodoh benar-benar bodoh.
“Kasus seperti Mara ini memang kerap terjadi, tapi jarang ada orang yang mau mengungkapkan dengan berani seperti Mara, banyak orang yang memilih diam dan menerima dirinya diperlakukan tidak manusiawi oleh orang lain karena menurut mereka lebih baik diam dan menuruti semuanya dari pada harus terluka, sedangkan Mara … Mara begitu kuat dan berani sampai bisa berjuang sejauh ini, Mara harus bisa keluar dari masalah ini, dan kemudian bahagia,” ucap Dokter Bagus yang sudah kerap mendengar permasalahan di Rumah Sakit Jiwa ini, tapi tidak ada masalah yang sebesar Mara ini.
Aku kembali menangis setelah mendengar pernyataan dan harapannya Dokter Bagus kepadaku.