Sesampainya di Rumah Sakit Mara langsung dibawa dengan brankar yang juga ikut didorong oleh Ibu Hani untuk ke ruang ICU (Unit Perawatan Intensif) karena pendarahan, darahnya seperti akan segera habis seolah akan segera meninggalkan Ibu Hani dan Syams dari dunia yang sudah sangat begitu kacau ini baginya. “Bertahan, Mara! Bertahanlah!” Teriakan terdengar nyaring yang mampu didengar Mara meski ia setengah sadar saat ini.
Ibu Hani dan Syams berdiri di depan ruang ICU yang di dalam ruangan itu Mara sedang ditangani oleh Dokter yang tampaknya sudah sangat banyak menyelamatkan orang lain dari kematian, tapi terlepas dari semua itu dia juga sudah pasti banyak melihat kematian di depan matanya. Mara tidak ingin menjadi sepertinya, timbal baliknya memang sangatlah adil, tapi apa kesembuhan seorang pasien cukup untuk mengobati luka di hatinya karena kematian pasien lainnya? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Syams tidak bisa menghentikan bulir-bulir air matanya karena saat ini ia merasa bersalah telah meminjamkan kotak pensil yang di dalamnya ada pisau cutter.
'Syams … ini bukan salahmu, tidak ada yang salah, ini pilihan yang tepat bagiku.' Mungkin kalimat itu yang akan Mara ucapkan jika ia sadar sepenuhnya.
Untuk membuat satu dunia damai harus ada satu orang yang dikorbankan, karena semua yang ada di dunia ini harus ada timbal baliknya, kecuali penderitaan yang selalu Mara jalani sekarang … selalu tidak pernah ada timbal baliknya, karena itulah dia mulai meragukan bahwa keadilan Tuhan itu mutlak, dan Mara terus mempertanyakan keputusan-Nya.
“Ibu Hani tidak ingin menghubungi keluarga Mara, dan memberitahukan tentang keadaan Mara sekarang?” tanya Syams kepada Ibu Hani yang sedang melamun karena terus berpikir bagaimana lagi cara untuk menyelamatkan Mara.
“Tidak, Syams. Dia itu hidup sendirian selama ini, keluarganya sudah tidak bisa diharapkan lagi, walaupun sering bilang sayang-sayang, itu pun hanya di mulut saja tidak pernah sampai ke hati,” ucap Ibu Hani lirih, sepertinya Ibu Hani tidak ada niatan dengan sengaja untuk tidak mengabari keluarga Mara tentang dia yang melukai dirinya sendiri karena keinginan untuk bunuh diri.
“Pantas saja setiap hari dia tampak murung, Bu. Dia selalu bilang bahwa dia tidak apa-apa kalau Syams menanyakan keadaannya atau menanyakan dia sedang kenapa,” sahut Syams kepada Ibu Hani yang semakin lama pandangannya semakin kosong.
“Mara itu orang yang selalu ingin berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain, dia tidak ingin orang lain juga menderita sepertinya, karena itulah dia jadi memendam semuanya sendirian,” ucap Ibu Hani, yang membuat bulir-bulir air mata Syams semakin membanjiri pipinya.
Dokter keluar dari ruang ICU dan mengatakan kalau Mara kekurangan darah dan perlu transfusi darah dari pendonor, darah Mara begitu sulit dicari yaitu AB.
Kebetulan darah Syams AB dan Syams mau untuk transfusi darah pada Mara, tak beberapa lama proses transfusi darah selesai dan operasi yang dilakukan Dokter kepada Mara juga berhasil.
Hal buruk terjadi padanya.
Kenapa ini selalu terjadi?
Keinginannya untuk mati kali ini juga gagal.
Dia terselamatkan.
Itu semua sama sekali bukan kemauannya, dia ingin menghilang dari dunia ini tapi kenapa selalu saja tidak bisa? Apa Mara memang ditakdirkan untuk melawan dan berjalan melewati semuanya? Tapi, apa dia bisa? Apa Mara cukup kuat untuk itu? Tidak, sepertinya tidak.
Dua kali sudah percobaan bunuh dirinya gagal, sekarang dia malah dirawat di rumah sakit, Ibu Hani dan Syams terus berada di sampingnya karena Mara masih belum sadar dari pingsan.
Lagi-lagi hal yang seperti ini terjadi, bagi Mara dia memang selalu merepotkan orang lain, dia selalu tidak berguna, dia selalu saja seperti ini, bahkan saat sudah sangat dekat dengan kematian pun, dia masih tertolong, tapi dia malah selalu ingin menyerah, selalu ingin mati. Ada yang salah dalam dirinya, dan yang salah dari itu semua adalah cara berpikirnya yang pendek dan kemanusiaannya yang rusak.
Karena sudah malam, Syams memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena orang tuanya sudah menelponnya agar dia segera pulang, Syams berpamitan dengan Ibu Hani yang duduk di sebelah kasur di samping Mara dan menggenggam erat tangannya seakan memberikan kehangatan kepada gadis kecil itu.
Ibu Hani sangat berterima kasih kepada Syams yang telah bersedia menyumbangkan darahnya untuk Mara yang kekurangan darah. Ibu Hani juga mengatakan kepada Syams bahwa dia tak perlu khawatir akan keadaan Mara karena ada Ibu Hani yang akan selalu menemani Mara yang dirawat di sini.
“Mara … aku pulang dulu untuk hari ini, besok sepulang sekolah aku akan menjengukmu lagi,” ucapnya Syams sambil menahan tangisnya karena harus berbicara kepada Mara yang terbujur kaku tak berdaya di kasur dan tak sadarkan diri.
“Hati-hati, Syams, pulangnya,” sahut Ibu Hani, sambil menepuk bahu kanan Syams untuk menenangkan Syams, Ibu Hani mengatakan bahwa Mara adalah anak yang baik kepada Syams terlepas dari semua penderitaan yang dia jalani sekarang.
Di perjalanan pulang Syams terus berpikir tentang Mara sampai akhirnya Syams juga tidak mendengar suara telepon genggamnya yang terus berdering tanda pesan masuk dan beberapa panggilan masuk, atau Syams sengaja membiarkannya karena dia sudah tidak peduli lagi dengan suara-suara apa pun, yang ada di kepala Syams sekarang adalah pertanyaan kenapa Mara bisa sampai melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri, dan apa yang diderita sampai-sampai temannya itu berani melakukan hal nekat seperti itu.
Belum beberapa lama di malam itu, saat Syams sudah sangat ingin tidur, kemudian ia membaringkan tubuhnya di kasur empuknya, Syams membuka telepon genggamnya yang baru ia sadari bahwa telepon genggamnya terus berbunyi, Syams terkejut melihat bahwa berita Mara yang bunuh diri sudah tersebar begitu luas di grup sekolah. Nampak jelas berita ini terkirim dan tersebar melalui pesan berantai, yang tak jelas asalnya dari siapa.
Mata Syams yang semulanya mengantuk dan ingin tidur kembali segar seakan keinginannya untuk tidur itu sirna karena melihat banyak pesan masuk yang mengabarkan kalau Mara telah melakukan percobaan bunuh diri di UKS, sekaligus banyak berita lainnya mengenai alasan Mara bunuh diri.
Banyak yang mengatakan di pesan itu kalau Mara bunuh diri karena dia memang gila dan kesepian, ada yang mengatakan bahwa Mara bunuh diri hanya karena ingin perhatian dari orang lain, dan banyak lagi alasan yang tidak benar lainnya tertulis di pesan itu.
Melihat semua pesan itu membuat Syams kembali menangis membayangkan nasib Mara yang sudah pastinya akan diganggu dan diusili teman-teman sekolah jika dia kembali bersekolah. Syams terus berpikir apa yang harus dia lakukan untuk membantu Mara keluar dari semua masalah ini, dan penderitaannya akan menjadi semakin banyak pikirnya, karena itu Syams lagi-lagi merasa bahwa dirinya bersalah.
Semakin malam grup sekolah makin banyak yang membahas tentang Mara, Syams tidak kuasa menahan bulir-bulir air mata yang terus berjatuhan ke pipinya, melihat Mara ditertawakan di grup itu, melihat temannya yang diejek dan dihina membuat Syams melempar telepon genggamnya ke lantai.
Klotak … klotak ….
Suara telepon genggam Syams yang memantul ke lantai dan kemudian jatuh, dan mati total.
Syams terus menangis sambil memeluk gulingnya, gulingnya basah karena air matanya yang bercucuran di sana.
“Mereka tidak tahu apa-apa tentang, Mara,” gumam Syams kepada dirinya sendiri.
Syams benar-benar orang baik seperti Ibu Hani dan Mara sudah tahu itu sejak awal dia bertemu dengannya, karena itulah Mara selalu menjauhi Syams karena dia takut Syams juga akan menderita sepertinya. Mara pikir jika ia menjauh dari Syams, temannya itu juga akan menjauh, tapi Mara salah, dia selalu ada di dekatnya bahkan sejak dia dan Syams masuk ke sekolah SMA itu Syams selalu duduk semeja dengan Mara.
'Syams … kau juga matahari, tapi aku tidak ingin sinarmu, aku takut kegelapan aku lah yang nanti yang akan menyelimuti sinarmu itu kemudian sinar mataharimu akan sirna.' Andai Mara bisa mengatakan itu langsung pada Sama.
Mara tidak ingin itu terjadi.
Pagi hari pun tiba, Mara juga masih belum sadar dari pingsan yang membuatnya harus dirawat lebih lama di rumah sakit ini.