Darah

1277 Words
Di pagi harinya aku dan Ibu Hani berangkat ke sekolah bersama-sama. Menyenangkan sekali rasanya dapat selalu bersama Ibu Hani, bahkan sebelum berangkat ke sekolah kami sarapan bersama juga, dan yang paling penting adalah aku juga tinggal bersamanya semalam dan akan sampai seterusnya, kuharap. Saat malam aku meminum obat tidur dengan dosis yang pas agar tidurku tenang dari ingatan-ingatan buruk tentang laki-laki b***t itu. Aku tidur juga bersama Ibu Hani, beliau menemaniku tidur di kamar nomor dua, semoga keseharian seperti ini akan abadi. Dering ponselku berbunyi, aku pun mengeluarkan benda pipih itu dari saku rok abu-abu yang sekarang aku kenakan, dan membaca sebuah pesan misterius yang bertuliskan; “Oh, orang itu yang sekarang melindungimu, Mara.” Aku yang membaca pesannya gemetar dan langsung celingukan melihat ke sekitar, karena aku tahu ini pasti pesan dari laki-laki b***t itu, tapi kenapa dia tahu? Di kepalaku terus-terusan berpikir tentang hal yang paling buruk yang akan terjadi, pandangan mataku tiba-tiba kosong, karena berpikir berlebihan. Ibu Hani yang melihatku bertingkah aneh segera menyadarkanku. “Mara, kenapa?” tanyanya sambil menepuk pundak sebelah kananku yang membuat aku segera sadar dari lamunan panjang itu, aku terlalu berpikir banyak hal hanya karena satu pesan ini, aku harus tenang karena saat ini aku sudah bersama dengan Ibu Hani, sosok yang bisa membuatku tenang dan nyaman ketika bersamanya. “Mara, tidak apa-apa, Bu,” sahutku. Maaf Ibu Hani, aku berbohong kali ini kepadamu, karena aku tidak ingin Ibu Hani semakin khawatir padaku. “Beneran, Mara? Muka Mara sangat pucat, apa dia mulai mengganggu Mara lagi di pikiran, Mara?” tanya Ibu Hani lagi, jarak kami sudah sangat dekat dengan sekolah, apa aku harus bohong lagi untuk menjawab pertanyaan Ibu Mara saat ini? “Iya, Bu. Mara hanya kepikiran tentang nilai ujian Mara kemarin, karena Mara agak kurang konsentrasi dalam menjawab, Mara takut kalau nilainya jelek dan Ibu Mara di rumah akan Marah.” Aku berbohong lagi, Tuhan …. “Kita hanya bisa berharap tentang hal itu, Mara. Tapi Ibu yakin nilai Mara akan baik-baik saja, semoga,” sahut Ibu Hani. Sehabis dari obrolan itu kami pun berjalan lagi menuju sekolah dan akhirnya sampai ke sekolah, aku langsung pamit ke Ibu Hani karena aku ingin segera ke kelas, dan sepertinya Ibu Hani juga akan ke kantornya. Setelah bilang ke Ibu Hani bahwa aku akan langsung masuk ke kelas, aku pun berjalan dan lamat-lamat memperhatikan ke arah Ibu Hani dari kejauhan, aku tidak ingin satu hal buruk pun terjadi kepadanya. Aku segera masuk ke ruangan kelas, di kelasku hanya ada beberapa teman yang datang saat ini, karena ini masih terlalu pagi. Aku pun langsung duduk di kursiku lalu melihat ke samping, teman semejaku ternyata juga sudah datang, namanya adalah Syamsi yang berarti Matahari. Dia adalah ketua kelas, seperti namanya dia mampu menyinari semua orang di sini, terkecuali aku, karena aku adalah kegelapan murni yang tidak akan pernah bisa ia beri cahaya. Tapi, terlepas dari semua itu … kami adalah teman semeja yang cukup akrab. Di kelas aku sangat kepikiran tentang pesan itu, di kepalaku terus bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku semakin pusing, semua mata pelajaran hari ini sampai istirahat tidak ada yang aku mengerti sedikit pun, karena yang ada di pikiranku sekarang adalah … bagaimana kalau laki-laki b***t itu menyakiti Ibu Hani? Aku tidak ingin melihat hal itu sampai terjadi. Bel tanda istirahat selesai pun berbunyi, aku tidak keluar kelas pada saat istirahat dan terus menelungkupkan kepala ke tangan yang aku letakkan di atas meja, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikir laki-laki b***t itu. Mata pelajaran sehabis istirahat ini adalah Ekonomi, pelajaran yang paling tidak aku sukai, aku pun melihat Syams mengeluarkan kotak pensil lucunya yang berbentuk seperti beruang, menggemaskan sekali, aku jadi ingin meminjamnya sekarang, aku selalu tertarik kepada benda-benda lucu. Aku pun bilang ke Syams untuk meminjam kotak pensilnya, Syams memberikan kotak pensilnya kepadaku dan berkata, “Sehabis pulang sekolah, balikin, ya!” Kepalaku tiba-tiba pening saat itu dan aku izin ke ruangan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) karena kepalaku begitu pusing dan Guru yang mengajarkan mata pelajaran Ekonomi itu memperbolehkan aku untuk beristirahat di ruangan UKS, karena beliau kasihan melihat wajahku yang katanya sudah sangat pucat. UKS sangat sepi, hanya aku sendirian di sini, aku langsung menuju ke kasur untuk berbaring agar bisa beristirahat sebentar supaya kepalaku segera pulih, aku memeluk kotak pensil Syams yang seperti panda itu di dadaku. “Rasanya begitu hangat, pantas saja nama dia Matahari,” gumamku sambil memejamkan mata, tubuhku jadi sedikit lemas, apa ini karena terlalu banyak berpikir hari ini? Apa yang aku lakukan sudah benar? Apa yang sekarang aku lakukan tidak membuat orang lain terluka? Apa yang sekarang aku lakukan tidak menyeret orang lain untuk menderita? Karena aku, Nenek terluka. Karena aku, Ibu Hani menangis. Tidak bisa, tidak bisa terus begini. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Apa memang lebih baik aku mati saja? Agar tidak ada yang terluka, maka harus ada yang hilang. Dan, tentu saja … lebih baik itu aku. Perlahan aku membuka kotak pensil Syams yang di dalamnya ada pisau cutter, tanpa aku sadari aku menyayat pergelangan tanganku sendiri, jujur tidak ada rasanya ketika aku menyayat pergelangan tanganku ini, aku melihat darah yang keluar dari pergelangan tanganku, sampai akhirnya aku kehilangan kesadaran.   ***   Beberapa menit lagi bel yang bertanda pulang akan berbunyi, Syams khawatir dengan keadaan Mara dan bersamaan ingin mengambil kotak pensilnya yang Mara pinjam. Syams pun ke UKS berjalan dengan perlahan, karena seperti biasa Syams adalah orang yang ramah dan suka saling tegur. Sampai akhirnya Syams di depan pintu UKS dan membuka pintu itu. Seketika, dia langsung terkejut melihat Mara tergeletak di kasur dengan darah bercucuran membasahi sprei putih yang sudah sebagian menjadi merah pekat. Syams yang melihat Mara bersimbah darah, langsung berteriak-teriak meminta tolong sambil memanggil-manggil nama Mara, Syams benar-benar baik, dia tidak meninggalkan Mata dan langsung meminta pertolongan, dan setia berada di samping Mara sambil memanggil namanya. “Mara!” teriaknya berkali-kali, itulah yang Mara tangkap dari indera pendengarannya yang perlahan mulai menghilang. Dia juga terus membaca Doa agar Mara ditolong oleh Tuhan. 'Syams … Tuhan tidak akan pernah menolongku, lihat saja sekarang dia pasti sedang tertawa di singgasananya yang indah itu.' Andai bisa, Mara akan mengatakan itu jika dia melihat apa yang tengah Syams lakukan. Sampai akhirnya Ibu Hani dari kelas sebelah dekat UKS mendengar suara teriakan itu walaupun kecil, untuk memastikan suara itu benar atau bukan, Ibu Hani keluar dari kelas dan berlari untuk mencari dari mana suara itu berasal. Sampai akhirnya Ibu Hani tepat berada di depan ruangan UKS yang pintu terbuka lebar, dan melihat Mara yang bercucuran darah, sedangkan Syams bercucuran air mata. Ibu Hani langsung menelepon Rumah Sakit untuk segera membawa Mara untuk diobati. Ibu Hani yang begitu panik tidak bisa berbicara satu hal pun sampai akhirnya ambulan datang dan segera menggotong tubuh Mara ke brankar dorong dan segera dibawa ke rumah sakit, Ibu Hani dan Syams ikut bersama di mobil ambulan itu ke rumah sakit. Di dalam ambulans Syams bercerita tentang Mara yang saat mata pelajaran Ekonomi tiba-tiba pusing dan meminta izin untuk ke ruangan UKS, Syams juga bilang kalau Mara meminjam kontak pensil beruangnya yang di sana ada pisau cutter. Ibu Hani hanya bisa diam saat Syams menceritakan tentang hari ini, saat ini Ibu Hani benar-benar khawatir kepada Mara, dia juga bingung kenapa Mara jadi memutuskan untuk bunuh diri lagi padahal kemarin Mara bilang padanya bahwa dia menyesal dengan perbuatan yang ia lakukan waktu itu. Ibu Hani terus menggenggam tangan Mara yang mulai mendingin dengan tangannya yang penuh kehangatan, bisa-bisanya Ibu Hani terus ingin menolong Mara yang selalu berpikir pendek seperti ini. 'Maafkan aku Ibu Hani, sepertinya hari ini adalah hari terakhir Ibu akan menggenggam tanganku,' batin Mara di tengah kesadarannya yang mulai menghilang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD