~'~'~'~'~'~'~'~'~'~'~'~'~'~'
Seminggu kemudian...
Di apartemen lantai 5 tepatnya di kamar milik Qina. Gadis itu sedang berbaring di sofa dengan mata tertutup kakinya naik ke atas badan Sofa.
Begitulah yang dilihat Oleh remaja itu,dia tidak tahu kenapa kakak perempuannya berubah menjadi sangat aneh sejak seminggu lalu,tetapi yang lebih membuat anak laki-laki itu bingung adalah apa yang dikerjakan oleh kakak perempuanya dari malam sampai pagi.
"Aku Pulang,Kakak."Serunya dengan nada yanh sedikit lebih keras.
Orang yang di sofa juga merespon dengan suara rintihan serak dari mulutnya,perlahan matanya terbuka,tapi Dave terkejut saat melihat bahwa mata Qina bukan mata hitam seperti manusia normal,tapi kuning seperti Cahaya matahari yang terbenam.
"Ka-...matamu.."
Qina memegang matanya dengan sikap santainya,lalu menutup matanya lagi."Bukan apa-apa."
"Bagaimana ini bukan apa-apa?Kakak sakit,kita ke rumah sakit.."
Qina bangun dari sofa,saat dia duduk dan menatap mata adik laki-lakinya,matanya sudah kembali hitam yang cerah dan bersih.
"Itu bukan penyakit,itu Anugrah."
Bagi Qina di kehidupan dulunya,dia disebut sebagai 'Lucian' yang memiliki arti Terang,karena sepasang matanya yang kuning keemasaa. Sayang sekali itu bukan hal baik,sepasang mata itu malah menjadi mimpi buruk setiap musuh dari gadis itu.
Disebut Anugrah olehnya,karena dengan bantuan mata di kehidupan dulunya ini,Qina mampu mengakses semua perangkat lunak hanya dengan melihat ke arah benda itu,kekuatan fisiknya juga meningkat drastis.
"Kakak yakin tidak ingin ke rumah sakit denganku?"
Dave menunduk dengan sedih,karena yang di tahu oleh remaja itu,Gadis ini tidak akan kuat melihat dia yang sedih,dan tepat sekali Qina langsung mendesah dan bangun dari sofa.
"Ayo kita ke rumah sakit."
Dave tersenyum bahagia,dia bersiap lari ke pintu,saat gadis itu memegang tangannya dan menahan Dave berjalan.
Gadis itu mengambil map di atas meja dan memberikannya pada Dave.
"Ini adalah identitas baru kita,kita sekarang memiliki marga..."
Dave membuka map itu dan air matanya jatuh saat dia melihat dokumen itu.
"Kita...punya marga,kak?"
Qina mengangguk,bagi keduanya yang timggal di Panti asuhan,Marga adalah hal yang mereka butuhkan untuk menyatakan diri mereka sebagai sebuah keluarga,sayang sekali tidak ada keluarga yang mau memiliki mereka,Qina yang memiliki keluarga tapi tidak dianggap.
Qina tersenyum tulus, " Sekarang kita memiliki Marga keluarga kita sendiri,nanti saat kamu berkeluarga nama marga kita akan kamu teruskan..Marga kita adalah Lucrecio."
"Lu..cre..cio?"
"Lucrecio yang berarti terang atau fajar,kau suka,kan?"
"Suka..aku sangat suka,Kak."
Dave berlari ke kamarnya dan menyimpan map itu,lalu keluar lagi,dia tidak lupa bahwa dia harus membawa Qina ke rumah sakit.
Qina yang harus bertemu lagi dengan bau obat-obatan yang paling dia benci hanya bisa mengalah.
***
Rumah Sakit
Saat kedua bersaudara itu bertemu dengan dokter,dokter hanya mengatakan bahwa mata gadis itu baik-baik saja. Dave tidak bisa menerima begitu saja siap akan meminta pemeriksaan yang lebih intensif,langsung di hentikan oleh Qina yang sudah berjalan keluar."
"Kakak..."
"Apa lagi,adik kecil?"
"Kenapa kakak keluar? Kita harus melakukan pemeriksaan X-Ray untuk memeriksa bagian kepala kakak..."
Qina berhenti berjalan lalu membalikkan tubuhnya ke arah remaja itu dengan tatapan kesal,"Dave..Mataku yang tadi kamu jadikan masalah,bukan kepalaku,paham."
Saat mereka akan memasuki Lift,sebuah tangan menghalangi pintu tertutup,di depan keduanya muncul seorang gadis dengan gaun merah muda selutut dan berambut panjang,terlihat gadis itu ngos-ngosan karena berlari menyusul keduanya.
"Hah..hah...QINA SIALAN! KENAPA KAMU TIDAK BERHENTI SAAT AKU MEMANGGILMU."Teriak gadis itu dengan sangat kuat.
Qina hanya menatapnya bingung dan menganggap gadis itu gila,sedangkan Dave sudah mengepalkan tangannya marah.
"Kenapa kamu diam saja,Hah."Seru gadis itu marah saat menerima tatapan aneh dari Qina,seakan dia tidak mengenalnya.
"Kamu adalah..."Qina berusaha mencari sesuatu di memorinya tapi tidak ada wajah orang ini.
Gadis itu memerah karena malu, "Qina si***ln...Apa karena kamu hidup susah setelah diusir dari rumah Wilton,heh."
Mendengar kata 'Wilton' Qina langsung paham bahwa Gadis didepannya pasti gadis yang mengambil posisi 'pemilik asli' yang sebenarnya.
Dave yang sudah menahan emosinya melangkah ke depan,gadis asing itu mundur karena takut.
"Kakakku sudah tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga jelek itu,jadi jangan ganggu kakakku lagi atau aku akan memukulmu."
"A-Apa? Memukulku? Apa kamu tidak malu memukul perempuan!"
"Bagiku,hanya Kakakku yang ku anggap sebagai Perempuan yang harus dihargai,sedangkan kamu dan yang lainnya,hanya lalat yang berdengung di telinga dan menganggu."Qina bertepuk tangan dengan polosnya karena kata-kata manis adiknya
"Ka-Kau bocah ba***ng!" Gadis itu mengumpat marah sambil menunjuk Dave.
Qina yang tadi masih senang langsung menyipitkan matanya saat mendengar ucapan kasar dan jari orang itu pada adiknya,dengan gerakan cepat Qina memegang jari gadis itu dan langsing 'Crak' Mematahkannya dengan wajah tenang.
"AAKHH..."gadis itu berteriak kesakitan dan jatuh ke lantai memegang jarinya yang patah.
Dave terkejut dan menatap kakak perempuannya dengan penuh kekaguman.
Qina menggunakan kakinya dan mengangkat dagu gadis itu,menunjukkan Senyuman penuh hinaannya. "Lain kali kamu menganggu adikku..bukan jarimu saja,mungkin lain kali kepalamu yang akan ku patahkan."Gadis itu ketakutan dan mundur tanpa sadar ke belakang.
Qina Tersenyum penuh kemenangan dan langsung menutup lift itu. "..oh aku lupa siapa nama orang itu?"
"..."kamu mematahkan jarinya,tapi tidak tahu dia siapa?Wah!
"Dia anak adopsi keluarga Wilton,kalau tidak salah namanya lalat- maksudku Yuna."mengingat nama itu saja membuat Dave merasa jijik.
"Oh..Seharusnya tadi aku mematahkan kelima jarinya..aku terlalu lemah lembut."
"....."
?⭐⭐?⭐⭐?
Next Chapter