Nilam serasa tertampar, dia menelan saliva, dadanya tampak naik-turun. "Apa aku udah cinta? Atau ... aku cuma nafsu?" batinnya lalu beringsut mundur dan memilih mundur duduk di tepi ranjang. “Maaf, Pak ….” Suara Nilam nyaris tak terdengar. “Maaf, saya sudah sangat keterlaluan, saya khilaf sampai-sampai mau menodai Pak Tirta.” Tirta ikut duduk di sisi ranjang, di samping Nilam, tapi tak menyentuh wanita itu. “Aku nggak mau nyakitin kamu, Nil. Kalau kita mulai ini semua tanpa hati dan cuma nafsu aja, nanti hubungan kita hambar kalau nggak begituan dan pasti kita akan sangat menyesal. Aku nggak mau itu. Aku ingin melakukan itu asal kita sama-sama cinta ... kamu cinta sama aku lebih tepatnya, karena aku udah cinta sama kamu.” "Bapak kok bisa cepet banget jatuh cinta ke saya?" Nilam terkekeh

