bc

Pesona Dosen Perjaka Tua

book_age18+
96
FOLLOW
1.1K
READ
love-triangle
friends to lovers
heir/heiress
drama
sweet
bxg
kicking
campus
professor
like
intro-logo
Blurb

Bagi Tirta Agung Dewanto, menjadi dosen magister itu menyenangkan, setidaknya sampai seorang mahasiswi baru datang bersama anak laki-laki gembul berusia lima tahun yang memanggilnya “Pak Guru” dengan penuh percaya diri.Dialah Zulaikha Nilam Puspita, janda muda yang baru bercerai dari suaminya karena perselingkuhan. Demi masa depan, Nilam mendaftar kuliah magister meski harus membawa serta putranya yang bernama Nizam, ke kelas. Bagi Tirta, itu berarti ada banyak interupsi yang tak terduga, mulai dari suara bocah polos yang memecah konsentrasi di tengah dia mengajar. Awalnya terasa menyebalkan, tapi lama-lama entah kenapa itu terasa menyenangkan. Dari yang awalnya sekadar urusan di kelas, lalu muncul pula urusan hati.Namun, kedekatan yang terjalin karena tingkah polos Nizam ini membuat Tirta mulai mempertanyakan, apakah dia siap mengisi peran yang lebih dari sekadar “Pak Guru” bagi anak kecil itu? Dan apakah Nilam siap membuka hati untuk perjaka tua yang mulai mengusik pikirannya?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Gangguan Bocah Gembul
“Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Tirta Agung Dewanto. Sebelum kita memulai perkuliahan, izinkan saya mengabsen terlebih dahulu, supaya kita bisa saling mengenal.” Tirta mengabsen nama-nama mahasiswa magister satu per satu sambil menatap mereka, mencoba mengingat wajah demi wajah. Sampai pada nama terakhir di daftar, ia pun menyebutkannya dengan suara lantang, disertai senyuman di wajah tampannya. “Zulaikha Nilam Puspita.” “Saya, Pak,” ucap Nilam sambil mengangkat tangan. Tirta mengangguk, lalu menurunkan kertas absen yang dibawanya ke meja dosen. "Baik, sudah saya absen semua, ya. Mari kita mulai saja materi hari ini." "Pak Guru, Nizam belum diabsen!" cicit seorang bocah bertubuh gembul yang duduk di kursi paling belakang. Dia tampak mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kebetulan, di depan bocah gembul itu duduk seorang pria bertubuh tinggi dan gagah. Karena itulah, sedari tadi Tirta tak melihatnya saat mengabsen. Tirta pun melangkah maju, menghampiri sumber suara sekaligus tangan mungil yang teracung itu. "Hah ...? Anak siapa kamu? Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Tirta dengan ekspresi yang terlihat terkejut. "Aku anak Mama Nilam, Pak Guru." Nizam menunjuk ke arah Nilam. "Kata Mama aku disuruh ikut belajar di kelas ini. Tapi kenapa Pak Guru nggak absen nama aku, sih?" Sontak semua mahasiswa dan mahasiswi tertawa mendengar ocehan Nizam. “Maaf ya, Pak. Saya terpaksa membawa anak saya. Nenek dan kakeknya sedang pergi, jadi dia di rumah sendirian,” ucap Nilam sambil mendongak menatap wajah Tirta. “Ya, nggak apa-apa.” Tirta memutar tumit, berniat kembali ke depan kelas. Namun, suara Nizam kembali terdengar, membuat langkahnya terhenti. "Pak Guru, jangan pergi dulu! Absen nama Nizam dulu dong!" Tirta kembali menghadap Nizam. Dia menghela napas panjang dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Iya, siapa nama lengkapmu?" "Abraham Nizam Dewanto." “Baik, nanti saya catat di buku absen, ya,” jawab Tirta sambil mengusap puncak kepala Nizam. “Ngomong-ngomong, namamu sama seperti nama belakang saya, Dewanto.” “Kata Mama, biar Nizam jadi dewa penyelamat Mama, Pak Guru,” cicit Nizam sambil menyeringai polos, matanya berbinar-binar seperti merasa bangga dengan ucapannya sendiri. “Ya, semoga kelak kamu akan menjadi dewa penyelamat mamamu,” ujar Tirta sebelum memutar tumit dan berjalan ke depan kelas untuk mulai menjelaskan materi. "Hari ini, kita ak—" Baru saja Tirta membuka buku dan memulai penjelasan, tiba-tiba suara nyaring memecah suasana kelas. “Mama, Nizam mau pipis!” cicit Nizam dengan suara keras dan jelas, membuat beberapa mahasiswa tersenyum menahan tawa. Nilam segera berdiri dan menggandeng tangan putranya. “Maaf, Pak, kami mau ke toilet,” ucapnya sambil menundukkan kepala, wajah wanita itu memerah karena malu. Tirta mengangguk. "Ya, silakan." Begitu Nilam dan Nizam kembali ke kelas, suasana kembali kondusif. Nizam duduk sambil mewarnai, sementara Tirta fokus menjelaskan materi. Ruangan kelas perlahan kembali tenang, hanya terdengar suara Tirta yang mantap menjelaskan, sesekali diiringi suara gesekan pena di kertas catatan. Namun, baru sepuluh menit berlalu, ketenangan itu kembali terusik. Nizam tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan wajah sumringah. Tanpa sepengetahuan Nilam yang sedang asyik menulis dan fokus mendengarkan penjelasan Tirta, bocah gembul itu berlari kecil menuju depan kelas. Beberapa mahasiswa yang duduk di deretan tengah spontan saling melirik dan menahan tawa, memperhatikan Nizam yang sedang melakukan misi pentingnya. Sementara itu, Nilam baru tersadar ketika mendapati kursi di sampingnya kosong. Matanya membesar, buru-buru menoleh ke depan — dan betapa kagetnya dia melihat Nizam sudah berdiri manis di sisi Tirta sambil menggenggam buku gambar yang sudah dia warnai. “Pak Guru, ini Nizam sudah selesai mewarnai. Tolong dikasih nilai, dong!” perintahnya dengan senyuman polos. Tirta memejamkan mata sejenak. Sebenarnya, dia tidak suka kalau ada yang menyela di saat dia sedang menjelaskan materi. “Nizam, kamu tolong duduk di sana dulu, ya! Nanti Pak Guru kasih nilainya setelah kelas ini selesai." “Nggak bisa! Pak Guru harus kasih nilai sekarang, dong!” protes Nizam keras, membuat seisi kelas nyaris meledak tertawa. "Astaga!" Nilam panik. Dia tahu ekspresi Tirta sedang menunjukkan rasa tidak nyaman, jadi dia bergegas berdiri dan menghampiri anaknya di depan kelas. “Nizam, dengar apa kata Pak Guru, kan? Ayo duduk di samping Mama. Setelah kelas selesai, baru kita minta nilai ke Pak Guru, ya!” ucap Nilam lembut sambil mengelus pipi gembul anaknya. "Tapi aku pengen dinilai sekarang, Mah." Nizam masih bersikeras. "Kalau di sekolahku kan setelah selesai mengerjakan tugas harus disetor ke Bunda Guru." "Tapi ini kan sekolahnya Mama." Nilam membungkuk dan tersenyum manis. "Anak baik dan sholeh harus sabar ya, Sayang. Kan pelajarannya Pak Guru belum selesai. Nanti pasti Pak Guru bakal kasih kamu nilai. Sekarang, Nizam warnain gambar yang lainnya lagi, yuk!" "Tapi nanti janji beliin Nizam es krim cokelat ya, Ma!" Nizam mengangguk pasrah. "Aku mau yang makok besar dengan topping yang super banyak." "Iya." Nilam mengangguk dan menggandeng tangan Nizam berjalan ke belakang kelas dan menyuruh sang anak untuk duduk dengan tenang kembali. Tirta menghela napas panjang, berusaha memfokuskan kembali pikirannya sebelum melanjutkan penjelasan materi. Dia benar-benar tidak menyangka, hari pertamanya mengajar di kelas magister justru terasa kacau sekaligus melelahkan. "Baik, sekian kelas saya. Jangan lupa besok tugasnya dikumpulkan ke email saya!" ucap Tirta, lalu mulai melangkah meninggalkan kelas. "Selamat siang, semuanya." Para mahasiswa dan mahasiswi segera membereskan barang-barang mereka dan keluar. Tak terkecuali Nilam, yang sibuk merapikan crayon dan buku gambar Nizam. Tiba-tiba, tangan Nizam mencengkeram tangan mamanya, membuat Nilam terkejut. “Mama, gawat nih! Pak Guru belum nilai tugas Nizam, loh. Ayo, Mah, kita kejar Pak Guru!” seru Nizam penuh semangat. Tanpa menunggu jawaban, Nizam berdiri dan berlari keluar kelas. Lalu, Nilam buru-buru menggendong ransel dan mengejar anaknya. Beruntung, Nizam tak kehilangan jejak Tirta. Bocah gembul itu berlari kencang, sementara Nilam terpaksa ikut berlari di belakangnya. “Pak Guru, tungguin!” cicit Nizam. "Astaga." Tirta yang mendengar suara itu, refleks menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. “Ada apa lagi, Nizam?" “Pak Guru belum nilai tugas Nizam, loh,” jawab bocah itu polos sambil mendengus kesal. "Kan tadi Pak Guru janji mau kasih nilai tugas aku! Kok malah pergi, sih?" "Ah, iya." Tirta terkekeh. “Mana tugasmu? Sini saya nilai.” “Eh … di mana, ya?" Nizam berpikir sejenak. Kayaknya Mama yang bawa, deh. Oh! Itu dia tuh Mama datang,” katanya sambil menunjuk ke belakang. Nilam muncul sambil terengah-engah. "Ya ampun, Nizam … jangan lari-lari! Mama capek ngejar kamu." Namun, bukannya merasa bersalah, Nizam malah mengulurkan tangannya ke Nilam. “Mana, Ma, tugas Nizam tadi? Biar dinilai sama Pak Guru. Cepetan!" Nilam memutar bola matanya. “Iya, iya … bentar. Mama ambilin dulu. Tadi Mama taruh di ransel,” ujarnya sambil menggeledah tasnya. “Ayo kita masuk ke ruanganku saja!" ujar Tirta yang merasa kasihan melihat Nilam yang tampak kesulitan mencari sesuatu di dalam ranselnya. Kebetulan, posisi mereka sudah berada di koridor dekat ruang kerja Tirta, tanpa perlu berjalan jauh. Ketiganya pun melangkah menyusuri lorong singkat itu. Nizam berjalan di depan sambil menoleh kanan-kiri, terlihat penasaran dengan isi gedung. Sementara Nilam mengikuti di belakangnya, masih sibuk memegang ransel yang separuh terbuka. Begitu tiba, Tirta membuka pintu ruangannya dan memberi isyarat untuk masuk. Nizam dengan semangat langsung melompat kecil dan duduk di sofa empuk tanpa menunggu dipersilakan, sedangkan Nilam tetap berdiri tegak, menghormati Tirta. “Duduklah!” pinta Tirta. Nilam pun duduk di samping Nizam. “Makasih, Pak,” ucapnya, lalu mengeluarkan buku gambar dari tas. Sebelum Nilam memberikannya kepada Tirta, Nizam dengan sigap mengambilnya dan menyerahkannya kepada Tirta. “Ini, Pak Guru. Dikasih nilai yang bagus, ya!” "Baik." Tirta tersenyum tipis dan menulis A+ di sudut gambar. “Wah, makasih ya, Pak Guru!” seru Nizam senang, tanpa benar-benar mengerti arti nilainya. Tirta lalu menatap Nilam. “Kamu, ayo kita bicara sebentar di meja saya. Biar anakmu duduk di sofa.” Nilam mengangguk dan memberikan ponsel pada Nizam. “Kamu main game dulu, ya. Mama mau ngomong berdua sama Pak Guru sebentar.” "Oke, Ma." Nizam mengangguk. “Siapa namamu? Tadi saya lupa,” tanya Tirta setelah mereka duduk berhadapan “Saya Nilam, Pak.” jawabnya tersenyum ramah. "Zulaikha Nilam Puspita." “Kamu saudaranya ikan nila, ya?” tanya Tirta mencoba bercanda. “Iya, Pak," balas Nilam cepat. "Kalau ikan nila berenang di kolam, kalau saya berenang di hati Pak Tirta." “Sayangnya di hati saya nggak ada airnya,” ujar Tirta pura-pura serius. “Beli Aqua dong, Pak!” “Saya sukanya Le Minerale … yang ada manis-manisnya, kayak kamu.” "Astaga." Nilam terkekeh. “Ternyata Pak Profesor bisa gombal juga, ya.” “Oke, stop bercanda!" Tirta menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. "Nilam, jujur saja, saya agak keberatan dengan keberadaan anak kamu di kelas,” ucapnya dengan nada serius. Nilam menelan ludahnya. “Ma–maaf, Pak. Saya terpaksa membawa Nizam. Ibu dan Bapak saya sedang pergi beribadah. Biasanya, ibu saya yang menjaga Nizam.” Tirta mengangguk tipis, lalu bertanya pelan, “Kalau suami kamu … ke mana?”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook