Bab 2. Kisah Kelam Nilam

1204 Words
“Saya kan janda, Pak. Udah nggak punya suami. Lagian, dia mana peduli sama Nizam? Palingan dia sekarang lagi senang-senang sama pacarnya.” Suara Nilam terdengar tenang, tapi sorot matanya menyiratkan rasa kecewa yang sangat dalam. Tirta mengangkat alis, dalam hati dia bergumam, "Owh … dia jadi janda gara-gara suaminya selingkuh." Tatapan Tirta secara tak sadar menelusuri wajah Nilam. "Kasihan banget, padahal dia cantik loh, mana masih muda banget." Merasa diperhatikan terlalu lama, Nilam mengibaskan tangan di depan wajah Tirta. “Pak … Pak? Are you okay?” tanyanya sambil tersenyum tipis. Tirta seketika berkedip, seperti baru tersadar. “Ah, iya.” Dia mencondongkan tubuh sedikit. “Umur kamu dan umur anakmu berapa, sih?” Nilam mengangkat dagu sambil terkekeh kecil. “Saya 24 tahun, Pak. Nizam sebentar lagi mau 6 tahun.” Tirta refleks menegakkan badan, nyaris tersedak ucapannya sendiri. “Lah … kamu sama mantan suami nikahnya umur berapa, dong?” tanyanya tak percaya. “Ehm …" Nilam menahan tawa. "Saya hamil pas semester satu, Pak. Itu pun saya nggak tahu kalau sebenarnya saya sedang hamil.” “Lah, kok bisa gitu?” Tirta memicingkan mata, raut wajahnya bingung. “Karena kenalan remaja, Pak. Waktu itu pas pesta malam perpisahan SMA …." Nilam menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk sebentar. "Ada yang naruh obat perangsang di minuman saya dan di minuman papanya Nizam. Jadi … ya begitulah terjadinya.” Nilam menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya lagi. “Parahnya, minuman itu sebenarnya bukan buat saya. Jadi minuman saya dan minuman sahabat saya itu tertukar.” “Jadi …." Tirta hanya bisa mengangguk pelan, mencoba mencerna. "Apa sebenarnya kalian berdua nggak saling cinta?” Nilam menggeleng, matanya menerawang. “Sebenarnya saya cinta sama papanya Nizam. Tapi … dia nggak cinta sama saya. Jadi ya ... akhirnya dia memilih orang yang dia cintai dan milih ninggalin saya sama Nizam.” Ada jeda sunyi. Tatapan Nilam melembut, tapi terselip gurat luka lama. Meski suaranya tenang, Tirta bisa merasakan ada sisa sakit di baliknya. Tirta menatap Nilam lekat-lekat, rasa iba menyeruak di dadanya. Dia tak menyangka wanita yang usianya lebih muda darinya itu, yang sedang duduk di hadapannya mampu memikul cobaan hidup yang sangat berat. Namun, Nilam tersenyum tipis, seperti menepis rasa iba itu. “Nggak usah kasihan sama saya, Pak. Saya tahu kok, kalau orang yang dengar kisah saya, pasti mereka kasihan. Tapi saya beneran baik-baik saja. Saya senang punya Nizam. Kayak kata Nizam tadi … saya sengaja kasih dia nama ‘Dewanto’ biar dia bisa jadi seorang dewa pembawa kebahagiaan di kehidupan saya.” Tirta mengangguk dan tersenyum tipis. “Berapa lama orang tuamu pergi?” “Satu bulan, Pak.” Nilam merapatkan tubuhnya sedikit ke meja. “Tolong izinkan saya bawa Nizam ke kelas ya, Pak. Saya janji bakal bikin dia diam dan nggak ganggu Bapak lagi. Soalnya jam kuliah Bapak kan siang terus. Kalau pagi sih aman, Nizam di TK. Tapi kalau jam Bapak, ya, mau nggak mau saya harus bawa dia karena enggak ada orang di rumah.” Tirta mengernyit penasaran. “Terus … siapa yang nganterin dia ke kampus?” “Ada, Pak." Nilam tersenyum lebar, seperti sudah menyiapkan jawabannya. "Driver ojek online tetangga saya. Dia yang akan jemput Nizam dari TK terus anter ke kampus. Saya tinggal nunggu di depan kampus. Serius, cuma sebulan kok, Pak. Please … tolong ya!” Suaranya memohon dan kedua mata menatap Tirta penuh harap. Tirta tampak berpikir. Jari telunjuknya bergerak pelan, mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja. Itu memang kebiasaannya kalau sedang menimbang sesuatu. “Ya … boleh. Nggak apa-apa deh,” ujarnya akhirnya, nada suaranya pelan tapi tegas. “Tapi ingat ya, Nil. Satu bulan saja, ya!” Nilam merasa lega dan tersenyum lebar, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Tanpa sadar, dia meraih tangan Tirta, menggenggamnya erat. “Makasih, Pak. Makasih banget. Saya bener-bener berterima kasih, Pak.” Suaranya sarat rasa lega sekaligus haru. Tirta hanya terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk sambil membatin, "Astaga … tangan Nilam halus banget." Nilam segera berdiri dan melangkah ke arah putranya. "Nizam, yuk kita pulang. Tapi, kamu harus pamit dulu sama Pak Guru!" Nizam menyerahkan ponselnya kepada Nilam, lalu bangkit dari sofa. Dengan langkah mungilnya yang gembul, ia berjalan menghampiri Tirta. “Pak Guru, Nizam pamit pulang,” ucapnya sopan. Tangannya yang kecil meraih tangan Tirta, lalu dia menunduk dan mengecup punggung tangan pria yang dia anggap gurunya dengan penuh hormat. Nilam ikut menunduk sedikit. “Kami pamit, Pak. Permisi,” ucapnya dengan nada formal. Namun, Nizam yang sedari tadi memperhatikan justru mengerutkan kening. “Mama itu nggak sopan,” protesnya polos. “Mama kok nggak salim sama Pak Guru? Salim dong, Ma! Cium tangan Pak Guru!” “Hah?!” Mata Nilam langsung membesar, bibirnya sedikit terbuka menahan keterkejutan. Dia sempat melirik Nizam, berharap anak itu bercanda. Namun tatapan memohon dari mata bulat sang putra membuatnya tak tega menolak. Nilam menarik napas singkat, dia merasa kikuk. Perlahan, wanita itu mengulurkan tangan — sedikit ragu — ke arah Tirta, lalu menunduk mencium punggung tangan sang dosen. Adegan itu entah bagaimana malah memberi kesan aneh di hati keduanya. Dari luar, mungkin terlihat seperti sepasang suami istri muda yang sedang berpamitan. Blush. Tirta merasakan sesuatu yang menghangat di dadanya dan refleks membatin, "Ya ampun … cuma dicium tangan begini aja sama Nilam kok rasanya kayak, eh stop ...!" Pria itu buru-buru menepis pikirannya. Sementara Nilam sendiri jelas terlihat tersipu, pipinya merona merah muda dan saat melihat hal itu, Tirta kembali membatin, "Duh … Nilam kok menggemaskan banget. Jadi peng—" “Nah, gitu dong!” ucap Nizam puas membuat Tirta tersadar. “Ya udah, yuk, Mah. Sekarang kita beli es krim ke cafe yang di sana itu!” Nilam tertawa kecil sambil mengangguk dan menggandeng tangan putranya. "Siap, Paduka Raja Dewanto." "Bye, Pak Guru." Nizam melambaikan tangan dan kemudian melangkah keluar dari ruangan bersama Nilam. Pandangan Tirta tak lepas mengikuti langkah ibu dan anak itu hingga bayangan mereka menghilang di balik pintu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Lucu banget … malah lebih mirip kakak sama adik daripada ibu dan anak." Belum sempat senyum di bibirnya reda, ponsel Tirta bergetar di atas meja. Layar menampilkan nama “Bunda”. Dia memijat pelipis sebentar, mencoba meredakan rasa lelah sekaligus menyiapkan diri sebelum mengangkatnya. “Ya, Bun. Gimana?” Suara Tirta terdengar datar tapi tetap sopan. “Kamu di mana, Tir?” Suara sang ibu terdengar lembut tapi tegas dari seberang. “Masih di kampus, Bun.” “Jangan lupa loh nanti malam.” Nada suara sang Ibu berubah sedikit menekan, seolah mengingatkan janji yang sudah berulang kali disampaikan. Tirta mengangguk seolah-olah sang Ibu ada di hadapannya. “Iya, Bun. Aku nggak lupa.” “Ya sudah, Bunda cuma mau mengingatkan.” Lalu, sambungan terputus begitu saja. Tirta menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Pikirannya langsung tertuju pada satu hal, tentang pertemuan malam nanti. Dia tahu, Ibunya sudah lama ingin menjodohkan dia dengan perempuan pilihan keluarga. Padahal bagi Tirta, rasanya malas sekali membayangkan makan malam canggung dengan orang asing hanya demi memenuhi keinginan orang tua. Pria itu kemudian duduk dan bersandar di kursi, menatap kosong ke langit-langit ruangan. "Kenapa sih manusia harus nikah? Sepenting itukah kehidupan berumah tangga? Padahal hatiku sudah lama mati sejak ... kejadian waktu itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD