Usai menikmati es krim di salah satu cafe yang ada di dekat kampus, Nilam dan Nizam pulang dengan hati senang. Sepanjang perjalanan, Nizam duduk di kursi penumpang depan, kakinya bergoyang-goyang sambil bercerita panjang lebar tentang rasa es krim cokelat favoritnya yang baru saja dia makan.
“Mama tau nggak, es krimnya tadi tuh kayak ada coklat yang meledak di mulut! Terus di bawahnya ada biskuitnya yang rasanya gurih dan renyah. Pokoknya enak banget. Besok kita harus banget makan es krim di sana lagi ya, Mah!” celotehnya penuh semangat dengan mata berbinar-binar.
“Wow, yang bener?" Nilam yang menyetir melirik ke arah putranya sambil tersenyum. "Pantes tadi kamu makannya lahap banget. Untung Mama nggak ikutan pesen yang itu. Soalnya gawat banget, nanti Mama bisa ketagihan dan gagal diet."
Di antara suara mesin mobil dan deru angin dari jendela yang sedikit terbuka, percakapan ringan ibu dan anak itu terdengar mengalir. Nilam selalu menimpali cerita Nizam dengan komentar singkat, kadang tertawa, kadang pura-pura kaget, membuat anaknya bahagia dan semakin bersemangat untuk bercerita.
Setibanya di rumah, mereka langsung berganti pakaian dan duduk santai di ruang keluarga. TV menyala, menayangkan acara kartun favorit Nizam, sementara Nilam bersandar di sofa sambil melirik putranya yang tertawa melihat layar. Di sela-sela suasana nyaman itu, hati Nilam mengingat bahwa sebentar lagi Zamil — mantan suaminya sekaligus papa kandung Nizam — akan datang berkunjung.
Tak lama setelah mereka mulai larut dalam tontonan, suara bel rumah terdengar nyaring memecah suasana.
Nilam menghela napas sambil melirik sekilas ke arah pintu. “Kayaknya Papa kamu udah datang,” ujarnya lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu, langkahnya mantap tapi tak terlalu bersemangat.
Begitu pintu terbuka, sesuai dugaan, Zamil berdiri di sana — rapi dengan kemeja lengan panjang, senyum tipis mengembang di wajahnya. "Hay, Nil. Nizam mana?"
“Lagi nonton TV. Ayo masuk, Mil,” ucap Nilam datar, memberi jalan sambil sedikit memiringkan tubuh.
Zamil melangkah masuk, senyum langsung merekah ketika melihat Nizam. “Halo, Nizam. Apa kabar, Bro? Papa kangen banget sama kamu,” ucapnya hangat, menghampiri putranya lalu memeluk erat tubuh bocah gembul itu, dan menciumi pipi berkali-kali.
Nizam membalas pelukan papanya erat-erat. “Iya, Pah. Nizam juga kangen banget.”
Begitu pelukan mereka terlepas, pandangan Nizam langsung tertuju pada bungkusan di tangan Zamil. Mata bocah itu tampak berbinar dan bibir menyunggingkan senyum penuh rasa ingin tahu. “Papa bawa apa, nih?”
“Tara …." Zamil tersenyum, mengangkat paper bag yang dibawanya. "Papa bawain gundam buat Nizam. Kata Mama, Nizam suka liatin koleksi gundamnya Om Jaka, ya?”
“Iya! Nizam kan seneng robot,” sahut Nizam bersemangat. "Terimakasih ya, Pah."
"Sama-sama, Bro." Setelah menyerahkan paper bag pada Nizam, pandangan mata Zamil kembali melirik ke arah Nilam. “Kamu kok kurusan, Nil?” tanyanya mencoba membuka pembicaraan.
Nilam memutar bola matanya. “Ya karena sibuk ngurusin anak yang lagi super aktif-aktifnya lah.”
“Maaf, Nil." Zamil menarik napas. "Aku tahu … aku jarang ada waktu buat Nizam belakangan ini karena aku terlalu sibuk kerja dan—”
“Dan sibuk pacaran,” potong Nilam dengan nada datar, dia menyilangkan tangan di d**a. “Kamu pikir aku nggak tahu?”
Zamil terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Aku nggak mau kita ribut sekarang, Nil. Aku cuma mau bilang terima kasih karena kamu sudah merawat anak kita dengan baik. Aku tahu diri kok, kalau aku ini … aku adalah orang tua yang lalai. Aku bukan suami yang baik buat kamu, atau papa yang baik buat Nizam.”
“Bagus kalau kamu sadar diri." Nilam menatap mantan suaminya tanpa ekspresi. "Cuma sayangnya, sadar dirinya kamu itu nggak bakalan bisa bikin semua yang udah kamu hancurin jadi kembali utuh kayak dulu.”
Ucapan itu terasa seperti tamparan keras bagi Zamil, membuat dadanya sesak seolah dipelintir dari dalam. Dia tahu betul, kehancuran keluarga kecilnya adalah akibat dari kebodohannya sendiri. Dialah yang mengkhianati, dialah yang meruntuhkan kepercayaan, dan kini pria itu sedang menanggung akibatnya.
Zamil sudah kehilangan segalanya — istri yang pernah dia cintai, rumah yang dulu terasa hangat penuh tawa, dan hak asuh putra kecilnya. Yang tersisa hanyalah kesempatan singkat bertemu sang anak, itu pun dibayangi tatapan dingin sang mantan istri yang seperti mengingatkan bahwa dia tak lagi punya tempat di hati mereka.
Zamil hanya berdiri terpaku di hadapan Nilam, mencoba memaksakan senyum meski hatinya terasa perih. Dia sadar, di mata sang mantan istri, dirinya tak ubahnya seperti sampah yang ingin segera dienyahkan – bagian kelam dari masa lalu yang tak pernah diinginkan kembali. Keheningan di ruang tamu itu terasa menekan.
Nizam yang sedari tadi memperhatikan suasana di antara Mama dan Papanya, tampak mengernyit. Dengan nada polos tapi seolah ingin mencairkan suasana, dia tiba-tiba bersuara, “Papa, boleh nggak Nizam minta sepeda baru? Sepeda Nizam udah kekecilan.”
"Boleh banget, Bro." Zamil tersenyum lembut pada putranya, mencoba menepis ketegangan dengan Nilam. “Besok siang Papa kirimin paket sepedanya, ya. Kamu mau warna apa?”
“Biru aja, Pah. Tapi kenapa kita nggak langsung beli ke toko aja sih, Pah? Kan Nizam bisa milih-milih sendiri.”
Sebelum Zamil menjawab, Nilam cepat-cepat menimpali, “Karena papa kamu besok mau jalan-jalan sama calon Mama baru kamu, Zam. Jadi ya ... mana sempet dia ngajak kamu jalan-jalan ke toko milih sepeda.”
“Maafin Papa, ya," balas Zamil cepat, dia mencoba menahan diri agar tidak membalas kata-kata Nilam. "Lain waktu, Papa janji bakal ajak kamu jalan-jalan.”
“Nggak usah janji-janji, Mil!" Nilam terkekeh, nada suaranya terdengar penuh sindiran. "Besok juga kamu bakal sibuk sama keluarga barumu … sama anak barumu nanti. Kalau kamu nggak bisa nepatin janji, jangan umbar janji! Kasihan anakku kamu bohongin terus!”
Zamil menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di d**a. Tatapannya tetap lembut, meski suaranya terdengar lirih. “Nil … kalau kamu mau hina aku, silakan. Aku nggak akan membela diri. Tapi tolong ... tolong banget jangan di depan Nizam!”
“Kalau ada aku ya pasti ada Nizam." Nilam mengangkat alis dan tersenyum smirk. "Mana mungkin aku mau duduk berdua aja sama kamu? Najis!”
Sebenarnya Nilam paham betul, menjelek-jelekkan seorang ayah di depan anaknya adalah hal yang keliru. Dia tahu, seharusnya Nizam tidak menjadi saksi dari pertengkaran orang tuanya atau menjadi tempat pelampiasan rasa sakit hati. Namun, setiap kali berhadapan dengan Zamil, semua logika itu runtuh. Amarah selalu meledak tanpa bisa dia kendalikan. Luka yang ditorehkan pria itu terlalu dalam — teramat membekas hingga sulit dilupakan.
Wanita itu masih ingat jelas bagaimana seorang Zamil merenggut kesucian dan mengubah hidupnya. Lalu, seakan belum cukup, pria itu kemudian mengkhianati dia dengan cara berselingkuh, bahkan sampai membuat selingkuhannya itu hamil. Semua kenangan pahit itu terus-menerus menghantui, membuat setiap tatapan pada Zamil terasa seperti membuka luka lama yang belum juga mengering.
Ponsel Zamil tiba-tiba berdering, nada deringnya memecah suasana yang sudah penuh ketegangan. Dia melirik layar, dan seperti yang sudah dia duga, nama Orin terpampang jelas di sana. Bibirnya mengatup rapat, rasa kesal dan lelah bercampur jadi satu. Memang sudah menjadi kebiasaan, setiap kali dia meluangkan waktu menemui sang anak, calon istrinya itu selalu menelepon, seakan tak mau memberi ruang bagi Zamil untuk menghabiskan waktu bersama Nizam.
“Kenapa? Dicariin calon istri, ya?” tanya Nilam, dengan nada suara yang dingin dan menusuk. “Ya udah, cepetan sana pulang! Jangan sampai calon istrimu yang sedang hamil itu bete gara-gara kamu kelamaan di sini!”
Zamil tidak langsung menanggapi ucapan Nilam. Dia menatap wajah Nilam sebentar, mencoba membaca apakah masih ada sisa kelembutan yang dulu pernah dia kenal. Tapi, yang dia dapat hanyalah tembok dingin. Setelah menghela napas pelan, Zamil memutuskan mengabaikan nada sindiran itu. Dia lalu berjongkok di hadapan putranya, mencoba memusatkan perhatian pada alasan utama dia datang ke sini.
Tangannya terulur, mengusap lembut kepala Nizam yang lembutnya seperti menghapus sedikit penat di dadanya. Dia mencium pipi tembam putranya perlahan, menahan sedikit lebih lama. "Papa pulang dulu, ya. Jadi anak baik, jangan pernah nyusahin Mama. Kalau besar nanti … kamu harus bahagiain Mama!"
“Iya, Pa." Nizam mengangguk mantap. "Hati-hati di jalan!” Bocah itu lalu menggenggam tangan ayahnya yang jauh lebih besar, langkahnya yang mungil dan penuh ketulusan, mengantarkan Zamil sampai ke depan pintu.
Nilam mengikuti dari belakang. Langkahnya pelan, tetapi tatapan matanya tetap keras. Tak ada kata perpisahan, tak ada senyum yang dia sisihkan untuk pria itu. Hanya sepasang mata yang dingin, mengawasi punggung sang mantan suami hingga pria itu keluar rumah.
Begitu sampai di teras, Nizam melepaskan genggaman tangannya. “Good bye, Papa. Hati-hati di jalan,” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum tulus.
"Thanks, Bro." Zamil membalas lambaian itu, lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan. Namun sebelum masuk, dia sempat menoleh, dan pandangannya jatuh pada sosok Nilam yang berdiri tegak di ambang pintu.
Ada sesuatu di mata Zamil, yaitu penyesalan yang tak pernah sempat dia ucapkan. Bibirnya terkatup rapat, menahan ribuan kata yang sangat ingin dia sampaikan, tapi dia tahu hal itu tak akan ada gunanya lagi. Jadi, dia memilih menghela napas panjang, menunduk, lalu membuka pintu mobil. Begitu duduk di balik kemudi, ponselnya kembali berdering. Nama Orin muncul lagi di layar.
Zamil memejamkan mata sejenak, lalu menjawab singkat, “Iya, Rin. Aku bentar lagi sampai. Ini lagi di jalan.” Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa ekspresi.
Mesin mobil menyala. Dengan sekali injak gas, kendaraan itu perlahan menjauh. Dari kaca spion, Zamil masih sempat melihat Nizam yang berdiri di depan gerbang sambil melambaikan tangan sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangan. Di balik tatapan anaknya yang penuh cinta itu, Zamil tahu, dia hanya tamu yang datang dan pergi. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, dia takut ... takut suatu hari nanti, Nizam berhenti melambaikan tangan untuknya.
"Maafkan, Papah, Zam. Maaf ... tapi setelah ini ... setelah Orin melahirkan, Papa akan berjuang untuk mendapatkan hati Mamamu lagi dan kita akan hidup bahagia bertiga."