Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tirta bergegas menuju sebuah kafe tempat dia akan bertemu dengan perempuan yang — menurut ibunya — bisa saja menjadi calon istrinya kelak. Begitu masuk, dia melangkah sambil melirik kanan-kiri, mencari meja nomor 20 sesuai arahan yang dia terima lewat telepon dari nomor tak dikenal sebelumnya.
“Mas Tirta, ya?” sapa seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai yang berdiri di dekat meja tersebut.
Tirta refleks mengangguk, matanya meneliti sosok di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Iya, saya Tirta.”
“Saya Valen. Salam kenal, Mas. Mari kita ngobrol sambil duduk dulu,” ujarnya lembut memasang senyuman manis di wajahnya.
"Thanks, Val." Tirta menarik kursi dan duduk. "Maaf ya kalau kamu nunggu lama."
"Enggak kok, Mas. Aku aja baru nyampe beberapa menit yang lalu." Valen tersenyum tipis sambil menyodorkan buku menu. “Mas Tirta mau pesan apa?”
Tirta membuka buku menu yang diberikan Valen. “Nasi goreng sama es jeruk aja, Val."
Valen mencatat pesanan, memanggil pramusaji, lalu menyerahkan catatan itu. Sejenak, suasana di antara mereka terasa hening. Mereka berdua terdiam, sama-sama diliputi rasa canggung. Ibu Tirta dan ibu Valen adalah teman arisan yang berinisiatif menjodohkan mereka. Menurut para orang tua, Tirta dan Valen dinilai cocok — sama-sama berusia matang, sama-sama mapan, dan dianggap sudah waktunya membangun rumah tangga.
“Mas Tirta dari mana tadi?” tanya Valen lembut, mencoba memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.
“Dari rumah, terus langsung ke sini,” jawab Tirta singkat.
Valen tersenyum sambil menunduk sebentar, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. Di matanya, Tirta adalah sosok yang nyaris sempurna dengan wajah tampan, tubuh tegap, dan tinggi menjulang yang membuatnya terlihat gagah. Apalagi, dia tahu dari cerita ibunya bahwa Tirta adalah seorang dosen S2, profesi yang terdengar begitu berwibawa.
“Mas Tirta ngajar S2, ya? Mahasiswa-mahasiswinya udah pada dewasa semua, berarti, ya?” tanyanya lagi, nada suaranya dibuat sesantai mungkin.
"Iya, soalnya di kelas magister itu kebanyakan orang yang benar-benar niat melanjutkan kuliah." Kali ini Tirta sempat melirik ke wajah Valen sekilas meski nadanya tetap datar.
Tirta mengakui, Valen memang cantik. Senyumnya manis, tutur katanya lembut. Namun, entah mengapa, hatinya tak merasakan gairah apa pun. Tidak ada getaran, tidak ada sesuatu yang menyalakan percikan di dadanya. Baginya, cantik saja tidak cukup, dia mencari sesuatu yang lebih … sesuatu yang mampu membangkitkan rasa dan membuatnya jatuh tanpa sadar. Dan itu, ia tahu, sangat sulit ditemukan.
“Wah, aku jadi pengen kuliah S2 kalau dosennya kayak Mas Tirta,” Valen terkekeh kecil dengan mata berbinar, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Umur 27 masih bisa kan, ya?”
“Dalam mencari ilmu, umur nggak jadi patokan. Semua orang berhak belajar, berapa pun usianya,” jawab Tirta dengan mode dosennya yang super cool.
Valen meraih rambutnya yang tergerai lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Pipi mulusnya sedikit merona. “Hem … iya juga, ya. Kalau begitu, aku pengen deh lanjut S2 nanti.”
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, memperlihatkan seorang wanita muda melangkah masuk sambil menggandeng tangan seorang anak balita. Mata sang anak langsung berbinar, seolah menemukan kejutan yang tak disangka. Senyum lebar merekah di wajah bulat anak itu ketika pandangannya tertuju pada sosok yang begitu dia kenal.
“Ma! Ma! Lihat! Itu Pak Guru!” serunya riang, lalu langsung berlari ke arah Tirta. “Halo, Pak Guru! Kita ketemu lagi!”
“Wah ... halo, Nizam." Tirta sedikit terkejut, tapi segera tersenyum. "Kamu kok bisa di sini?”
"Aku sama Mama mau makan malam di sini, Pak Guru," seru Nizam riang. "Soalnya tadi Mama habis ketemu Papa, jadi dia ngajak aku makan malam di sini biar dia happy lagi."
Nilam yang baru tiba di sisi meja merasa kikuk, dia buru-buru melangkah mendekat, sedikit menundukkan kepala. “Maaf ya, Pak Tirta, kalau Nizam menganggu kalian.”
Kemudian, Nilam menyentuh kedua pundak anaknya. “Nizam, ayo kita duduk di meja lain. Jangan ganggu Pak Guru, ya!”
Tangannya terulur, hendak meraih jemari Nizam dengan lembut, berusaha membimbing sang anak menjauh. Dari sekilas pandang, Nilam bisa menebak bahwa perempuan yang duduk bersama Tirta itu kemungkinan memiliki hubungan dekat dengannya—entah pacar atau istri. Karena itulah, ia ingin segera membawa Nizam pergi sebelum keberadaan mereka menimbulkan kesan keliru di mata perempuan tersebut.
“Bentar dulu, Ma." Nizam malah memeluk lengan tangan Tirta erat-erat, menolak saat Nilam mencoba menariknya. "Aku kan baru nyapa Pak Guru.”
“Nggak apa-apa, Nilam." Tirta terkekeh kecil. "Biarin aja Nizam di sini sebentar.”
Nilam melirik sekilas ke arah Valen, lalu kembali menatap putranya. Wajahnya sedikit tegang karena tak enak hati. “Nizam … ayo kita duduk di atas. Di sana, kita bisa lihat bintang-bintang, loh,” bujuknya sambil membelai kepala anaknya.
Nizam mengerutkan dahi. “Pak Guru, ayo kita pindah ke atas aja! Kita makan bareng-bareng sambil lihat bintang."
“Iya, nanti Pak Guru nyusul ke atas, ya.” Tirta terkekeh lagi, kali ini dengan senyum lebih lebar. "Sekarang, kamu sama Mamamu naik ke atas dulu, oke!"
“Janji, ya!” Nizam menunjuk Tirta dengan jari kelingking dengan ekspresi serius.
“Janji,” balas Tirta sambil mengangguk mantap dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Nizam.
Sebelum pergi, Nilam menatap Valen sekali lagi sambil berkata sopan, “Maaf ya, Pak dan ... Mbaknya juga. Anak saya emang suka begitu. Kami permisi dulu.”
Nilam dan Nizam pun berjalan ke lantai dua.
Valen yang sedari tadi memperhatikan Tirta bersikap begitu hangat pada Nizam, tak bisa menahan rasa kagumnya. "Ya ampun … Mas Tirta tuh ternyata punya sifat kebapakan yang super lembut. Gimana aku nggak jatuh hati, coba?" batinnya dengan mata berbinar-binar.
“Mereka tadi siapa, Mas? Kok kelihatannya akrab banget?” tanya Valen penasaran.
“Oh, mereka tadi mahasiswiku sama anaknya. Dia tadi bawa anaknya ke kampus, makanya anak itu kenal sama aku dan manggil aku Pak Guru,” jelas Tirta santai.
"Kuliah bawa anak?" Valen mengerutkan kening "Memang boleh?”
Tirta menyandarkan punggungnya ke kursi. “Dia nggak punya pilihan. Katanya, orang tuanya lagi pergi ibadah, jadi mau nggak mau dia bawa anaknya.”
Valen menautkan alis sambil mengangguk pelan. “Oh…” ia ragu sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Kalau suaminya?”
“Dia janda." Tirta menghela napas sejenak sebelum berkata lagi. "Tadi dia cerita ke aku kalau mantan suaminya udah nggak peduli lagi sama anaknya.”
Valen tertegun, keningnya berkerut. “Masih muda gitu udah janda?” Ia memiringkan kepala sedikit, penasaran. “Umurnya berapa?”
“Tadi sih bilangnya 25 tahun dan anaknya itu 5 tahun,” jawab Tirta tanpa banyak ekspresi.
"Astaga." Valen menutupi mulutnya. “Kasihan juga dia. Masih muda sudah jadi janda.”
Obrolan mereka terhenti ketika pramusaji datang membawa pesanan. Aroma makanan yang menggugah selera memenuhi meja. Tirta dan Valen saling mengucapkan terima kasih pada pramusaji sebelum mulai menyantap hidangan. Sambil makan, obrolan ringan mengalir di antara kunyahan.
Mereka membahas hal-hal remeh, yaitu tentang rasa makanan, interior kafe, hingga cuaca malam itu. Namun, di balik senyumnya, Valen tampak seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu, matanya beberapa kali melirik Tirta seolah mencari momen yang pas untuk berbicara serius.
Hingga akhirnya Valen mantap memberanikan diri. “Mas, gimana soal perjodohan kita?” Suaranya terdengar hati-hati, tapi tatapannya penuh rasa ingin tahu.
Tirta meletakkan sendoknya sejenak, lalu mengangkat bahu. “Entahlah, Len. Aku juga bingung dan aku nggak bisa nolak permintaan ibuku.” Nada suara pria itu datar, tapi jelas bahwa dia tidak ingin memberi janji manis yang belum tentu bisa dia tepati.
Valen tersenyum tipis, mencoba membaca ekspresi Tirta. “Kalau gitu … gimana kalau kita coba aja dulu? Kita bisa PDKT, sering ngobrol bareng biar kita jadi kenal lebih jauh. Nggak usah buru-buru, tapi setidaknya ada langkah,” usulnya dengan suara yang lebih lembut, seakan takut pria di hadapannya menolak.
“Iya, boleh,” jawab Tirta singkat sambil kembali menyuap makanannya.
Valen tak bisa menyembunyikan senyum lega yang perlahan merekah di bibirnya. “Maaf, Mas. Tapi ... kamu beneran nggak punya pacar, kan? Soalnya aku takut banget kalau aku dikira pelakor nanti,” candanya setengah serius, matanya menyipit nakal.
“Gak ada,” jawab Tirta tegas, menatapnya sejenak sebelum kembali fokus ke piring.
Mereka sempat tertawa, bercanda ringan tentang hubungan, bahkan Valen sempat melontarkan godaan soal Tirta yang mungkin punya penggemar rahasia di kampus. Tirta menanggapi seadanya, tidak terlalu larut, tapi cukup untuk membuat suasana di meja itu sedikit lebih hangat. Namun tawa mereka terhenti ketika nada dering ponsel Tirta tiba-tiba memecah suasana.
Layarnya memantulkan cahaya, sebuah nomor baru muncul, tapi ada foto profil di layar yang membuat Tirta langsung mengenali siapa si penelpon itu. Seketika expresi di wajah tampannya berubah, tidak kaku lagi, tapi jelas ada sesuatu di sana. Tanpa ragu, dia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"