“Selamat malam, Pak. Saya Nilam.” Suara lembut tapi agak ragu terdengar dari seberang.
“Iya, saya tahu. Ada apa?” tanyanya pelan sambil sedikit mencondongkan badan ke meja, suaranya menurun agar tak mengganggu pengunjung lain.
“Itu … Nizam nanyain Bapak. Dia nggak mau pulang sebelum Bapak nyusul ke atas,” jawab Nilam, terdengar seperti sedang menahan tawa kecil sekaligus sedikit pasrah dengan kelakuan putranya.
Tirta tersenyum tipis, membayangkan wajah Nizam yang pasti sedang manyun menunggu. “Owh gitu … ya sudah, tunggu saya sebentar. Saya akan ke sana.”
“Maaf kalau saya ngerepotin terus, Pak,” ucap Nilam pelan, dia merasa bersalah.
“Nggak kok … nggak apa-apa. Bilang ke dia, tunggu kedatangan saya sebentar lagi,” balas Tirta, sebelum menutup telepon.
Lalu, dia kembali fokus menatap Valen. “Maaf, Len. Aku ada urusan penting, jadi aku harus pamit duluan.”
Valen menggeleng sambil tersenyum tipis. “Gak apa-apa, Mas. Kebetulan aku juga mau pulang sekarang.”
Mereka bangkit bersama. Tirta berjalan mengiringi Valen hingga pintu keluar. Sebelum benar-benar berpisah, dia sempat berbelok ke kasir untuk membayar makanan mereka, sementara Valen melangkah ke parkiran dengan langkah anggun.
Begitu melihat mobil Valen menjauh, Tirta berbali, kembali masuk ke kafe, dan langsung menuju tangga yang mengarah ke lantai dua. Begitu sampai di atas, matanya langsung menangkap sosok bocah berbadan gembul yang sudah tak sabar menunggunya.
“Pak Guru!” seru Nizam, wajahnya berubah sumringah, dia berlari kecil lalu memeluk pinggang Tirta erat-erat. “Wah, Pak Guru beneran nyusul!” suaranya penuh rasa puas, seakan sebuah janji besar telah ditepati.
Tirta terkekeh, mengusap kepala bocah gembul itu. “Iya dong. Kan tadi Pak Guru janji, dan janji itu harus ditepati.”
"Ayo duduk dulu, Pak Guru!" Nizam menarik tangan Tirta penuh semangat, seakan takut pria itu berubah pikiran dan pergi lagi.
“Makasih ya, Pak Tirta, udah mau nyusul ke sini,” ucap Nilam tersenyum lega, raut wajahnya jauh lebih rileks daripada tadi. “Mbak yang tadi… udah pulang?”
“Udah,” jawab Tirta santai sambil menaruh tasnya di kursi.
“Bukan gara-gara marah, kan?” Nilam mencondongkan tubuh sedikit, seolah ingin memastikan.
“Enggak lah. Ngapain dia marah, toh aku sama dia nggak punya hubungan spesial,” balas Tirta tersenyum dengan bahu yang terangkat sedikit.
Nilam terkekeh kecil. “Saya kira tadi itu, dia istrinya Pak Tirta.”
"Aku masih jomblo, Nil." Tirta tertawa. “Emangnya kamu, masih kecil udah nikah.”
Alih-alih menjawab, Nilam hanya meringis lalu meneguk air minum di hadapan Tirta.
Tepat di saat itu, Nizam berdiri, meraih tangan Tirta, lalu membisikkan sesuatu di telinganya dengan serius, “Pak Guru mau nggak jadi papa barunya Nizam?”
"Pffft!" Nilam spontan menyemburkan air minumnya tepat ke wajah Tirta. Matanya melebar, panik. “Ya ampun … maaf, Pak!” serunya panik sambil meraih tisu dan buru-buru mengelap wajah pria itu.
Tirta menutup mata saat air mengenai wajahnya. Begitu dibuka, yang dia lihat adalah wajah cantik Nilam dengan jarak yang sangat dekat. Leher hingga belahan d**a wanita itu sedikit terlihat karena kerah blus yang terbuka. Tirta terdiam sesaat, membiarkan Nilam mengusap wajahnya dan tanpa sadar dia membatin, "Badannya mungil, tapi ternyata asetnya besar. Duh kan, jadi gemes pengen—"
"Nah, sudah kering." Suara Nilam menghentikan pikiran kotor Tirta. "Sekali lagi maafin saya ya, Pak."
Tirta berdeham kecil untuk menormalkan pikirannya. “Iya, nggak apa-apa kok, Nil. Ngomong-ngomong, kalian ke sini naik apa?”
"Tadi sih naik taksi online. Kenapa, Pak?"
“Kalau mau, aku anterin pulang, yuk!" Tirta melirik Nizam dengan tatapan iba. “Jangan nolak, Nil. Udah malam begini, kasihan Nizam kalau harus lama nunggu taksi online.”
Nilam sempat ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. “Makasih banget ya, Pak.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di parkiran.
Tirta berjalan mendahului sedikit, lalu membukakan pintu belakang mobilnya. “Ayo, Nizam, naik,” ujarnya lembut.
Bocah gembul itu melangkah riang, naik ke kursi belakang tanpa perlu dibantu. Dia duduk manis sambil memeluk tas kecilnya, dengan kaki bergoyang-goyang tak sabar menunggu perjalanan dimulai. Tirta memastikan sabuk pengaman Nizam terpasang rapi sebelum menutup pintu perlahan. Sementara Nilam masuk lewat pintu depan sebelah kiri, dan Tirta masuk, memutar kunci, mesin mobil menderu pelan, lalu mereka pun mulai melaju meninggalkan parkiran yang mulai sepi.
Baru beberapa menit perjalanan, dari kaca spion tengah, Tirta melihat kepala mungil Nizam mulai terangguk-angguk. Mata bocah itu semakin berat, kelopak matanya turun, lalu naik lagi, seperti berjuang melawan kantuk. Hingga akhirnya, tubuh kecil itu bersandar ke jendela, terlelap dengan napas yang teratur.
“Lucu banget, Nizam ketiduran.”
Nilam menoleh ke belakang, senyum lembut menghiasi wajahnya. “Iya, Pak. Kalau udah malam biasanya gini. Dia suka ketiduran di mobil, terus biasanya pas sampai rumah, dia dibopong masuk ke kamar.”
Mobil melaju pelan membelah jalanan malam yang sepi. Tirta sempat melirik sekilas ke arah Nilam, sebelum dia kembali menatap jalanan di depannya. Suasana terasa hening hanya terdengar suara deru mesin yang berpadu dengan hembusan AC, seakan membentuk ritme tenang yang justru membuat pria itu ingin berbicara … tapi entah kenapa dia ragu.
“Kamu pasti capek, ya? Merawat Nizam sendirian,” tanyanya pada akhirnya, untuk memecah keheningan yang sedari tadi terasa menggantung.
Nilam tersenyum sambil mengangguk. “Jujur memang iya, Pak. Biasanya dia lebih sering nempel ke bunda atau ayahku. Tapi ya ... untuk sebulan ke depan mau nggak mau dia harus nempel sama aku.”
"Nizam itu lucu dan ngegemesin ...." Tirta mengangguk pelan. “Aku amati, dia itu juga anak yang pintar dan cerdas.”
“Ya, saking pintar dan cerdasnya, dia sering bikin saya pusing dengan berbagai pertanyaannya,” jawab Nilam dengan tawa yang membuat suasana sedikit lebih ringan.
Lalu hening kembali menyelimuti. Hanya suara mesin mobil dan hembusan AC yang terdengar. Di sela-sela sepi itu, Tirta sebenarnya ingin mengatakan banyak hal — tentang bagaimana malam ini yang terasa aneh baginya. Namun, semua itu hanya berputar di kepalanya. Bibir pria itu terkunci, menahan kata yang nyaris meluncur keluar.
Anehnya adalah dia baru saja menghabiskan waktu bersama Valen — perempuan yang diinginkan keluarganya, calon istri yang dianggap cocok untuknya — tapi tak ada sedikit pun getaran di hatinya. Semua terasa datar, hambar, sekadar formalitas. Tapi dengan Nilam, entah mengapa, hanya duduk berdekatan dengan wanita itu saja sudah cukup membuat dadanya berdegup tak beraturan. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi, justru dia rasakan malam ini.
Tak lama, mobil berhenti di depan rumah Nilam.
Tirta mematikan mesin, lalu menoleh. “Aku bantu bopong Nizam, ya?”
Nilam sempat menatap Tirta, lalu mengangguk. “Boleh, tapi dia lumayan berat loh, Pak.”
"Nggak apa-apa." Tirta terkekeh, lalu membuka pintu dan dengan mudah mengangkat tubuh Nizam ke pelukannya.
"Ayo masuk, Pak!" Nilam membukakan pintu rumah, matanya mengikuti langkah Tirta yang begitu hati-hati membawa Nizam dan dia merasakan rasa aneh di dadanya, seolah sedang melihat potongan kecil dari keluarga yang utuh.
Tirta melangkah pelan menyusuri lorong rumah. "Di mana kamar Nizam, Nil?"
“Kamarnya di sebelah kanan, Pak.” Nilam mengarahkan Tirta, dia berjalan lebih cepat di depan pria itu.
Dengan hati-hati, Nilam membuka pintu kamar Nizam. Di dalamnya, terdapat ranjang kecil dengan sprei bergambar tokoh kartun favorit anak laki-laki. Tirta menunduk, membaringkan Nizam perlahan di atas kasur. Dia memastikan kepala bocah gembul itu nyaman di bantal, lalu menarik selimut hingga menutupi d**a. Sementara Nilam berdiri di ambang pintu, memperhatikan dengan senyum yang sulit dia sembunyikan. Ada sesuatu pada pemandangan itu — Tirta yang begitu lembut dan penuh perhatian — yang membuat hatinya berdebar tanpa alasan.
“Terima kasih banyak karena Anda sudah mau repot-repot nganterin saya dan Nizam pulang, Pak,” ucap Nilam tulus sambil menutup pintu kamar anaknya perlahan.
“Ah, nggak apa-apa kok." Tirta tersenyum tipis. "Eh, Nil ... sebelum pulang, apa aku boleh numpang ke kamar mandi sebentar?”
“Oh tentu saja boleh banget." Nilam mengangguk. "Silakan, Pak. Kamar mandinya ada di sebelah sana.”
"Thanks." Tirta pun melangkah menuju kamar mandi.
Namun, tak lama kemudian, dari arah kamar mandi terdengar suara air memancar deras, disusul seruan panik dari Tirta. “Nilam …!”