Bab 6. Nilam Si Janda Nakal

1100 Words
Nilam bergegas menghampiri. Begitu membuka pintu, air dari keran yang rusak memancar liar, membasahi tubuh Tirta dari kepala hingga ujung kaki. Tanpa pikir panjang, dia ikut masuk dan membantu memutar tuas keran. Mereka sibuk berjongkok, berdiri, lalu membungkuk lagi, berusaha menghentikan semburan itu. “Cepet, tahan ke arah kanan, Nil!” seru Tirta. “Aku udah berusaha tahan, Pak. Tapi ini licin!” balas Nilam panik. Dalam hiruk-pikuk air yang tak kunjung berhenti, tubuh mereka sama-sama basah kuyup. Baju Nilam yang tipis mulai menempel di kulit, membentuk siluet lembut yang membuat Tirta sempat terdiam sepersekian detik. Hingga akhirnya aliran air berhasil dihentikan. Lalu, suasana terasa hening. Hanya ada suara tetesan air yang terdengar. Mereka berdiri saling berhadapan, dengan napas yang terengah, dan rambut sama-sama meneteskan air ke lantai. Nilam merasakan tatapan Tirta yang sesaat membuat jantungnya berdebar tak karuan, dengan cepat dia berucap, “Pak … saya ambilin baju Ayah saya, ya. Tunggu sebentar.” Nilam buru-buru keluar kamar mandi, menuju kamar orang tuanya untuk mengambil baju. Begitu kembali dan membuka pintu kamar mandi, langkahnya spontan terhenti. Pandangannya terpaku pada sosok Tirta yang kini sudah bertelanjang d**a. Tubuh pria itu basah kuyup, tetesan air mengalir dari d**a bidangnya, menuruni lekuk perut berotot hingga menghilang di balik celananya. Nilam menelan saliva, ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekat ke arah Tirta. Dia tak paham — mungkin ini kelemahan seorang wanita yang sudah terlalu lama tak tersentuh, atau sekadar momen yang menyeretnya tanpa kendali. Tangan Nilam terangkat, ragu awalnya, tapi akhirnya menyentuh permukaan hangat d**a Tirta yang berdegup tenang di balik kulitnya. Sementara Tirta mematung, tak bergerak, dia hanya menunduk menatap expresi wajah Nilam yang lebih pendek darinya. Tiba-tiba, Nilam mendongak, wajah mereka berhadapan dengan napas yang sama-sama tercekat. Lalu, dalam jarak sedekat itu, seolah ada magnet yang menarik keduanya. Nilam berjinjit, jemarinya bertumpu di tengkuk pria itu, lalu … bibirnya menemukan bibir Tirta. Sebuah ciuman yang pelan, ragu, tapi sarat dengan rasa yang tak terucap. Ciuman itu awalnya ringan, seperti sentuhan sayap kupu-kupu yang takut merusak bunga. Namun detik demi detik, Nilam semakin meliar, dia melumat bibir Tirta lebih dalam. Hingga membuat Tirta semula terdiam, akhirnya membalas lumatan itu. Rasa hangat itu menjalar cepat, menembus dingin air yang masih menetes dari rambut mereka. Napas berpadu, terseret dalam irama yang sama. Tidak ada kata-kata, hanya desir di d**a dan detak jantung yang saling berkejaran. Tirta mengangkat satu tangannya, menahan lembut tengkuk Nilam, memperdalam ciuman itu tanpa memaksakan. Lidah mereka basah, saling mencari, saling membelit untuk berebut saliva. Dunia di sekitar seakan lenyap, yang tersisa hanya dua hati yang diam-diam rindu akan kehangatan. Nilam merasakan jemarinya menggenggam kuat tengkuk Tirta, seolah takut terlepas dari momen itu. Semua keraguan, semua batas yang selama ini dijaga, runtuh begitu saja. Yang tersisa hanyalah kejujuran rasa yang mereka mungkin takkan pernah akui secara terang-terangan. Ciuman itu semakin dalam, deras, hingga membuat dunia di sekitar mereka seperti menghilang. Kini tangan Tirta berpindah, bergerak pelan seolah ragu tapi juga tak mampu menahan dorongan rasa. Jemari pria itu singgah di lekuk yang tadi sempat dia pandang sekilas, merasakan kehangatan yang memancar dari sana. Sentuhan itu bukan sekadar fisik, ada getar aneh yang menjalar, menghubungkan napas keduanya dalam satu irama. Mata Nilam terpejam rapat, dadanya naik-turun cepat, seperti mencoba menahan gelombang yang tak terbendung. Sentuhan Tirta membuatnya seolah semakin terhanyut ke dalam pusaran yang manis dan menyesakkan di saat bersamaan. Di antara derasnya napas dan debar jantung yang berpacu, mereka tahu jika ini adalah momen yang akan menempel di ingatan selamanya. Dan tiba-tiba, kringgg … kringgg … kringgg … Suara telepon rumah meraung nyaring, memecah gelembung keintiman yang baru saja tercipta. Nilam sontak terhentak, napasnya masih memburu, dia menatap Tirta sekilas dengan mata yang tampak bergetar, lalu buru-buru mundur satu langkah. “Maaf, Pak …” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Tanpa menunggu reaksi Tirta, Nilam berbalik, cepat meninggalkan kamar mandi. Punggungnya tegak, tapi getar di jemarinya tak bisa dia sembunyikan. Kemudian dia meraih kenop pintu, lalu berlari menuju arah telepon yang masih meraung di ruang tamu. Sementara Tirta masih berdiri mematung di tempatnya. Air masih menetes dari rambut dan tubuhnya. Dia merasakan sensasi hangat dan nyaman yang tertinggal di bibirnya. "Astaga, apa yang barusan kami lakukan?" Saat Nilam menutup telepon, dia menoleh, dan dia melihat Tirta sudah berdiri tepat di belakangnya. Dengan rambut yang masih sedikit basah, tapi kini dia telah berganti baju, memakai kaus longgar milik ayah Nilam. Sejenak, udara di antara mereka terasa berat. Nilam menarik napas panjang, menatap Tirta tanpa berani benar-benar menatap matanya. Jemarinya saling meremas, mencari pegangan yang tak ada. “Pak …” Suaranya lirih, bergetar. “Sekali lagi saya minta maaf … tolong … lupakan kejadian tadi. Saya … khilaf. Maaf … saya mohon maaf.” Tirta menghela napas panjang dan dengan suaranya datar dia menjawab, “Iya … oke. Saya pulang dulu, Nil.” "Baik, Pak. Hati-hati di jalan." Nilam mengantar Tirta sampai teras, wanita itu hanya mampu memandang punggung pria itu menjauh dengan perasaan campur aduk. Begitu masuk ke mobil dan pintu tertutup rapat, wajah Tirta berubah. Rahangnya mengeras, tangan mencengkeram setir erat-erat. “Enak aja … dia bilang lupain?! Emangnya aku amnesia?! Harusnya dia tanggung jawab! Dia udah … udah nyosor duluan, dia berani banget nyium dosennya!” Tirta benar-benar merasa kesal, rasa panas di dadanya tak mereda. “Dasar Nilam … si janda muda yang super nakal!” gumamnya sambil menyalakan mesin, memacu mobil keluar dari halaman rumah Nilam. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Tirta tak henti-hentinya memukul ringan setir, seperti sedang menyalurkan kekesalannya. Tapi yang membuatnya kesal justru bukan hanya sikap Nilam, melainkan dirinya sendiri. “Bodoh! Harusnya tadi aku menjauh! Tapi aku diem aja kayak patung dan parahnya aku menikmati.” Seiring suara mesin mobilnya yang berdengung, bayangan tadi di kamar mandi kembali menyeruak. Wajah Nilam yang begitu dekat dengan napas yang memburu, hingga tangan mungilnya yang menyentuh d**a bidangnya, lalu bibir mungil itu, yang terasa hangat, lembut, menempel di bibirnya. Tirta meremas setir lebih kencang. “Gila …! Gimana caraku lupain kejadian tadi?!” Tirta menoleh sekilas ke kaca spion, melihat pantulan wajahnya sendiri. Ada rona merah samar di pipinya yang membuatnya makin jengkel. “Janda muda nakal emang meresahkan dan membahayakan keselamatan mentalku,” bisiknya sekali lagi, tapi kali ini nadanya terdengar seperti perpaduan antara kesal dan penasaran. Bahkan saat lampu merah menyala dan mobil Tirta berhenti, pikirannya tetap terjebak di momen itu. Suara air memercik, baju basah yang menempel di tubuh Nilam, tatapan matanya yang tak biasa, semua itu malah membuat Tirta bertanya-tanya, “Andai tadi nggak ada telepon, apa yang bakal terjadi di antara kita, ya? Apa ... ah nggak-nggak! Stop berpikiran m***m, Tir!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD