Bab 7. Membalas Kenakalan Nilam

1086 Words
“Mah, aku mau duduk di depan!” ujar Nizam sambil menarik tangan Nilam. Nilam mengangguk. “Oke, tapi ingat ya ... kamu nggak boleh gangguin Pak Guru!” "Iya, Mah ... iya. Nizam janji bakal anteng." Bocah gembul itu menunjukkan jari kelingkingnya. "Good boy." Nilam juga menunjukkan jari kelingkingnya dan menautkanya ke jari mungil anaknya. "Anak Mama memang pinter." Ibu dan anak itu melangkah pelan menuju bangku paling depan, tepat di sisi meja dosen. Suara langkah kecil Nizam terdengar beriringan dengan langkah ibunya yang lembut. Bocah itu langsung naik ke kursi, lalu meletakkan tas kecil bergambar tokoh kartun kesukaannya di atas meja. Dengan riang, dia mengeluarkan buku gambar dan sebuah kotak krayon warna-warni. Jemarinya yang mungil mulai merapikan peralatan itu di meja, seolah tengah menata dunia kecilnya sendiri. Tak lama kemudian, suara engsel pintu berderit halus terdengar. Pintu kelas terbuka, dan seorang pria berpostur tegap melangkah masuk sambil menjinjing map hitam di tangan kiri dan laptop di tangan kanan. Sepatunya berdetak ringan di lantai keramik, mengisi keheningan pagi itu. Pandangan matanya menyapu barisan bangku, hingga mata pria itu berhenti di bangku paling depan. "Kenapa mereka malah duduk di dekat mejaku, sih?" Langkah pria itu seketika melambat, ada jeda sesaat, seolah pikirannya menahan napas, menyadari siapa yang duduk di sana. Dua sosok itu … dan salah satunya adalah tersangka yang semalam membuat pikirannya kalut hingga dia sulit memejamkan mata, dan kini, entah kenapa, tanpa merasa berdosa malah memilih duduk tepat di dekat mejanya. “Eh .…” Tirta berdeham pelan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Pagi, Nizam.” “Pagi, Pak Guru,” sahut Nizam dengan mata berbinar-binar. Tirta meletakkan barang-barangnya di meja dosen, lalu kembali berdiri di hadapan Nizam. “Kamu milih duduk depan ya, sekarang?” “Iya, Pak! Biar Nizam bisa lebih deket sama Pak Guru.” Bocah itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi susunya yang rapi. "Owh gitu." Tirta mengangkat alis, tapi bibirnya membentuk senyum tipis. “Tapi kamu harus anteng, ya. Jangan ganggu Pak Guru pas lagi ngajar nanti, oke!” “Oke, Pak Guru!” sahut Nizam mantap. Tirta menghela napas, lalu menatap seluruh kelas. “Selamat pagi,” sapanya, dengan suara yang terdengar ramah dan berwibawa. "Pagi, Pak." Para mahasiswa menjawab serempak, beberapa menoleh sebentar ke arah Nizam yang duduk manis di depan. Tirta kemudian membuka buku absensi, dan mulai memanggil satu per satu nama mahasiswa dan mahasiswinya. Suara jawab “Hadir!” bergantian terdengar, hingga akhirnya Tirta sampai di daftar nama yang paling akhir. “Zulaikha Nilam Puspita.” “Hadir,” sahut Nilam dengan nada sopan. Tirta tersenyum tipis, lalu dengan nada sengaja dibuat formal, dia melanjutkan, “Abraham Nizam Dewanto?” “Saya hadir, Pak Guru!” jawab Nizam lantang sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Seluruh kelas sontak tertawa, beberapa mahasiswa bahkan menutup mulut untuk menahan geli. Nilam hanya tersenyum malu sambil menggeleng pelan, sedangkan Tirta ikut terkekeh, merasakan suasana kelasnya jadi sedikit lebih menyenangkan. Dan kelas pun dimulai. Suara Tirta menjelaskan materi terdengar mengalun di udara, tapi pikiran pria itu tak sepenuhnya ada di papan tulis. Sesekali, mata Tirta melirik ke bangku depan. Ke arah Nilam lebih tepatnya. Wanita itu menggunakan blus biru tua hari ini, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Rambut tergerai rapi, sesekali Nilam menunduk untuk mengecek hasil gambar Nizam, lalu tersenyum tipis. Gerakan sederhana, tapi entah mengapa justru mengusik pikiran Tirta. Tak peduli seberapa keras Tirta mencoba fokus pada materi, bayangan kegiatan terlarang semalam menyelinap kembali di pikiran. Air yang memancar dari keran rusak. Tubuh mereka basah kuyup. Tatapan mata yang berkilat penuh gelora. Dan … ciuman panas, lembut dan basah dalam waktu yang terlalu lama untuk disebut khilaf biasa. Sementara Nilam tampak duduk santai di dekatnya seolah tak ada apapun yang pernah terjadi. Dan itu, bagi Tirta, membuat dadanya terasa semakin panas dan membatin dengan perasaan kesal, "Bisa-bisanya dia amnesia di depanku. Awas aja! Nanti akan aku balas dia!" Setelah selesai mengajar, Tirta buru-buru pergi dari ruang kelas. Dosen itu sengaja berpura-pura lupa memberikan Nizam nilai. Padahal itu hanya akalnya saja supaya Nilam dan Nizam mau menyusulnya ke ruang dosen. Dan, sesuai prediksinya, baru saja dia duduk di kursinya, terdengar ketukan pelan di pintu. “Masuk!” seru Tirta menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Pintu terbuka, Nizam masuk sambil membawa buku gambarnya. “Pak Guru, ini gambarku belum dinilai loh.” Nilam tersenyum tipis di belakang putranya. "Maaf ya, Pak. Nizam merengek minta ke sini." "Owh iya. Sini-sini, Pak Guru nilai." Tirta menerima buku itu, membukanya, lalu memberi tanda bintang besar di sudut halaman. “Jangan lupa, besok belajar lagi, ya!” ucapnya sambil mengembalikan buku itu. "Siap, Pak Guru." Nizam memeluk buku gambarnya. "Terimakasih." Nilam kemudian berkata, “Kalau gitu, kami pamit pulang dulu ya, Pak.” Tirta langsung berdiri dan berkata dengan cepat. “Nil, bisa gantian nggak saya nebeng mobilmu? Maksudku … tolong anterin saya pulang, soalnya mobilku rusak.” "Dengan senang hati, Pak." Nilam mengangguk. “Ayo, kita jalan sekarang ke parkiran!” “Hore!" Nizam bersorak gembira. "Mama gantian nganter Pak Guru pulang!” Tirta tersenyum tipis melihat reaksi bocah itu. Dalam hati dia berkata, "Sepertinya rencanaku akan berjalan mulus." Setelah keluar dari gedung kampus, Nilam membuka pintu pengemudi, sementara Nizam bergegas membuka pintu belakang untuk duduk di kursinya sendiri. Tirta yang tadi tampak berjalan santai di belakang mereka memilih duduk di kursi penumpang depan, dan Mobil yang mereka tumpangi, perlahan melaju meninggalkan area kampus. Tirta menyandarkan punggung ke jok, posturnya terlihat santai, tapi matanya diam-diam memperhatikan. Sekilas pria itu melirik ke arah Nilam yang fokus memegang kemudi dengan rambut tergerai rapi menutupi sebagian pipi. Dari kaca spion tengah, Tirta dapat melihat pantulan wajah bulat ceria Nizam yang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya, jelas masih penuh energi meski sudah melewati jam belajar. “Nil .…" Senyum tipis tersungging di bibir Tirta. "Gimana kalau kalian mampir dulu ke rumahku? Aku mau masakin makanan buat kalian,” kata pria itu santai, tapi matanya menyiratkan sesuatu. Belum sempat Nilam menjawab, Nizam langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. “Iyaaa! Mau, mau! Nizam mau banget, Pak Guru! Ayo kita makan di rumah Pak Guru aja ya, Ma!” serunya riang. "Tuh kan …." Tirta terkekeh. “ Nizam setuju,” ujarnya sambil melirik Nilam. Nilam menatap anaknya melalui rare view miror, lalu menarik napas pelan. “Duh … maaf banget ya, Pak. Kita jadi ngrepotin lagi, nih.” “Nggak ada kata repot kalau buat kalian,” jawab Tirta singkat tapi mantap. Dan di dalam hati, Tirta kembali berkata, "Awas ya, Nil. Aku bakal balas kenakalan kamu nanti. Dasar janda muda cantik tapi menyebalkan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD