Bab 8. Tirta Si Dosen Nakal

1079 Words
Mobil pun berbelok, memasuki jalan kecil yang menuju rumah Tirta. Sementara Nizam tanpak tersenyum lebar di kursi belakang, seakan sudah membayangkan hidangan lezat yang akan dia santap nanti. Sesekali bocah gembul itu menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan riang, kakinya bergoyang tanpa sadar. Begitu mobil berhenti di halaman, Tirta turun lebih dulu lalu mempersilakan Nilam dan Nizam masuk. Saat pintu rumah terbuka, aroma lembut kayu manis dari pengharum ruangan menyambut. Mata Nizam tampak membelalak begitu pandangannya tertumbuk pada lemari kaca besar di ruang tamu. “Waaah!” serunya girang, nyaris melompat ke depan. Di balik kaca bening itu, berjajar rapi koleksi gundam dari berbagai ukuran, ada yang kecil seukuran telapak tangan, hingga ada yang ukurannya hampir setinggi lutut orang dewasa. Warna mencolok, cat mengilap, dan setiap detailnya tampak sempurna. Di sisi lain lemari, terpajang miniatur tokoh anime populer, sebagian bahkan lengkap dengan diorama latar belakang yang dibuat dengan teliti. Lampu-lampu kecil di dalam lemari memancarkan cahaya, membuat koleksi itu tampak semakin hidup dan memukau. Nizam menempelkan wajahnya ke kaca, matanya tampak berbinar penuh takjub. “Pak Guru … ini semua punyanya Pak Guru?” tanyanya, suaranya sarat kekaguman. "Iya, dong. Ini kan rumah Pak Guru." Tirta tersenyum, melihat reaksi polos Nizam. “Pak Guru keren banget deh. Apa Nizam boleh pinjam gundam-nya?” tanyanya penuh harap. “Boleh dong." Tirta tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Tapi kamu harus pegang dengan lembut dan hati-hati, ya. Jangan sampai gundam-nya jatuh.” "Iya, Pak Guru!" sahut Nizam penuh semangat. Begitu Tirta memutar anak kunci dan pintu lemari kaca itu terbuka, mata bocah itu makin membesar. Tangannya langsung bergerak pelan, seolah takut merusak, saat memilih gundam mana yang mau dia pegang lebih dulu. Jemarinya menyapu perlahan sayap dan senjata miniatur itu, kagum pada detailnya. Saat memastikan Nizam sudah larut dengan dunianya sendiri, Tirta berbalik dan melangkah menuju dapur dan Nilam otomatis mengekor di belakangnya, sambil sesekali melirik ke arah Nizam yang sedang asyik. “Saya bantu masak, ya, Pak?” Kedua tangan Nilam terangkat, dia mulai menggulung lengan baju hingga ke siku, memperlihatkan kulit putihnya yang bersih. Tirta menoleh sambil membuka kulkas, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Boleh, kamu nanti yang nyuci sayurnya,” jawabnya dengan expresi yang tak mudah diartikan — antara senang, nyaman, dan sedikit penasaran pada sosok wanita muda yang kini berdiri di dapurnya. Mereka mulai bekerja sama. Tirta menyiapkan bumbu, sementara Nilam mencuci sayuran di bak cuci piring. Suara gemericik air berpadu dengan aroma bawang yang mulai tercium di udara. Saat Nilam sibuk membilas sayur, Tirta melangkah mendekat. Bukan sekadar dekat — tapi berdiri persis di belakangnya, begitu dekat hingga Tirta bisa merasakan keharuman sampo dari rambut Nilam. Pipi Nilam semerah strawberry, dia segera menoleh sedikit ke belakang. “Pak, itu … anu ... saya bisa nyuci sayurnya sendiri, kok.” “Iya, saya tahu." Tapi Tirta tidak bergerak menjauhi Nilam. "Saya cuma mau peluk kamu aja sekarang.” "Eh?" Refleks, tubuh Nilam berbalik penuh, hingga wajahnya dan wajah Tirta hanya terpaut beberapa sentimeter saja. “Loh? Kenapa, Pak?” tanyanya dengan nada heran. Tirta tidak menjawab. Pandangannya jatuh pada bibir mungil milik Nilam, lalu perlahan dia menunduk dan menyentuh bibir wanita itu dengan bibirnya sendiri. Sentuhan itu awalnya ringan, ragu-ragu, seperti seseorang yang mengetuk pintu dan menunggu izin untuk masuk. Namun, di detik berikutnya, ragu itu meleleh bersama kehangatan yang mengalir di antara mereka. Bibir Tirta bergerak lebih mantap, menekan lembut seolah mengukir rasa yang tak sempat diucapkan. Nilam tadinya sempat terdiam, napasnya tercekat, tapi tubuhnya tak mampu menolak. Ada sesuatu di balik ciuman itu yang membuatnya sulit berpaling, lalu dunia di sekitar mereka seakan memudar. Yang tersisa hanya detak jantung yang berpacu cepat dan rasa yang semakin menuntut di antara bibir yang bertaut. Ciuman itu dalam, lama, dan penuh gairah yang terbungkus manisnya pengekangan. Tirta nyaris melupakan dirinya berada di dapur, di rumahnya sendiri. Nilam pun demikian — pikirannya berbaur antara salah, rindu, dan kenikmatan yang enggan dia akui. Namun, dunia yang hanya milik mereka berdua itu runtuh seketika ketika terdengar suara riang bocah yang memecah udara. “Mama, aku mau pipis,” seru Nizam sambil berdiri di pintu dapur. Nilam sontak terlonjak, mendorong tubuh Tirta, memutuskan ciuman itu. Wajah memanas, napas tersengal, dan matanya membelalak menatap Tirta yang juga terdiam, posisi pria itu masih terlalu dekat dengannya. “Oh … iya, Sayang. Ayo, Mama antar kamu ke kamar mandi,” ucap Nilam terbata, lalu buru-buru melangkah menjauh. Tirta yang hanya bisa memandangi punggung kedua ibu dan anak itu sambil menelan napas panjang. "Yah ... sial banget, ada gangguan." Hingga beberapa menit kemudian, Nilam kembali ke dapur setelah mengantar Nizam ke kamar mandi. Tangannya sibuk mengelap sisa air, mencoba mengalihkan rasa gugup yang masih berdenyut di dadanya. Sementara Tirta, yang sedari tadi berdiri di dekat kompor, pura-pura sibuk memotong sayur. Namun matanya diam-diam mengikuti setiap gerak Nilam. Ada jarak yang tiba-tiba terasa asing — padahal baru saja mereka begitu dekat. “Maaf … soal tadi,” ujar Tirta lirih tanpa berani menatap wajah Nilam. “Saya khilaf, Nil. Jadi kita seri, kan? Kita satu sama.” Nilam berhenti bergerak, lalu menoleh ke arah Tirta. Ada senyum tipis yang nyaris tak terbaca di sudut bibirnya. “Kalau gitu ... jangan sampai ada ronde ketiga di antara kita ya, Pak,” ucapnya mencoba bercanda, tapi matanya memancarkan sesuatu yang tak bisa didefinisikan, campuran rasa gugup, malu, dan entah apa lagi. Tirta membalas dengan anggukan kecil, senyum yang dia tahan malah makin sulit disembunyikan. Untuk sesaat, keduanya hanya saling pandang, seperti menyimpan kalimat yang tak tega diucap. Lalu, tanpa sepatah kata lagi, mereka kembali ke kegiatan masing-masing, seakan mencoba berusaha keras untuk menegakkan batas tinggi yang sebenarnya sudah runtuh. Dan di ruang tengah, Nizam asik bersenandung riang sambil bermain dengan koleksi gundam Tirta, seolah dunia orang dewasa di dapur tadi tak pernah dia lihat. Lalu, suara pintu rumah yang tiba-tiba terbuka membuat bocah gembul itu sontak menoleh. Gundam yang tadi dia pegang hampir terjatuh dari tangannya. “Mama … Pak Guru ... ada orang masuk!” serunya kembali lagi berlari ke arah dapur. Nilam menghentikan gerakannya menoleh ke arah Tirta yang juga sedang terdiam. Pandangan mereka saling bertemu, seolah bertanya dalam hati yang sama, siapa orang yang masuk? Di saat itu juga, langkah kaki terdengar pelan dari arah ruang tengah. Tirta melepas celemeknya dan melangkah maju, dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas. Nilam mengikuti dari belakang sambil meraih tangan Nizam agar tidak jauh-jauh darinya. Begitu Tirta mencapai ambang pintu ruang tengah, matanya membesar. "Eh ... kok ... ada di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD