“Bunda .…” Tirta bergegas menghampiri dan menunduk hormat, mencium tangan wanita paruh baya yang berdiri di ruang tengahnya itu. “Kenapa Bunda ke sini?”
“Mau ngasih bahan makanan buat kamu, Bunda bawa banyak bahan makanan di mobil,” jawab Hethy — ibu Tirta sambil menatap ke arah Nilam dan Nizam yang berdiri di belakang anaknya. “Siapa mereka?”
Tirta menoleh sebentar. “Dia Nilam, mahasiswiku … dan ini Nizam, anaknya Nilam.”
Hethy mengangkat alis. “Anak?”
“Iya, Bu.” Nilam langsung menyahut cepat sebelum Tirta sempat bicara lagi. “Nizam anak saya. Salam kenal dari kami.”
Lalu, Nilam mmenepuk kedua bahu Nizam seraya berkata, “Ayo salaman dulu sama bundanya Pak Guru!”
"Iya, Mah." Nizam mengangguk patuh, lalu meraih tangan Hethy dan menempelkannya ke keningnya. “Namaku Nizam. Nama Nenek siapa?”
“Pintar sekali kamu,” ujar Hethy tersenyum kecil. "Panggil saya Nenek Hethy, ya!"
“Bunda udah makan belum?" Expresi Tirta gugup. "Aku kebetulan tadi masak banyak dan mau makan bareng sama Nilam sama Nizam. Kalau belum, ayo ikut kita makan!”
“Bunda belum makan ...." Hethy tersenyum, tapi matanya sempat melirik cepat ke arah Nilam dan Nizam. "Ayo kita makan bareng. Udah lama banget Bunda nggak makan masakan kamu."
Mereka pun menuju meja makan. Tirta menaruh hidangan yang sudah matang, aroma gurihnya memenuhi ruangan. Nilam dengan sigap membantu menata piring dan gelas, sementara Nizam — tak menyadari tatapan kurang ramah dari Hethy — justru sibuk memperhatikan semua makanan di meja dengan mata berbinar-binar.
“Wah … ini semua Pak Guru sama Mama yang masak tadi, ya?” seru Nizam takjub.
“Iya dong,” jawab Tirta sambil menuangkan air bening di gelas, mencoba menjaga nada suaranya tetap ceria. “Makan yang banyak ya, Nizam. Biar cepet gede.”
"Oke, Pak Guru." Nizam dengan senyum ceria menunjukkan dua ibu jarinya.
Tak lama kemudian mereka duduk bersama. Hethy mengambil tempat di ujung meja, Tirta di sisi lainnya, sedangkan Nilam dan Nizam duduk bersebelahan. Suasana awalnya hening. Hethy makan dengan tenang, tapi tak sekali pun mencoba mengajak Nilam berbicara. Sesekali, pandangannya jatuh ke arah Nizam yang tampak lahap menyuap nasi, tapi bukan pandangan yang hangat — lebih seperti menilai dan mengukur.
Tirta mencoba mencairkan suasana dengan beberapa komentar ringan, tapi semua terasa hambar. Suasana makan yang tadi pria itu bayangkan bakal terasa menyenangkan, ternyata justru berubah menjadi kikuk. Setiap dentingan sendok dan garpu terdengar terlalu keras di telinga, seolah menegaskan jarak tak kasat mata yang memisahkan mereka bertiga dari Hethy.
“Aku ajak Nilam sama Nizam makan di sini sebagai ucapan terimakasih karena mereka udah nganterin aku pulang, Bun." Tirta memaksakan diri untuk tersenyum ramah. "Mobilku tiba-tiba rusak soalnya.”
Tangan Hethy berhenti menyuap. “Owh, begitu. Makasih ya, Nilam, Nizam.”
“Sama-sama, Bu,” jawab Nilam mengangguk sopan.
Suasana hening lagi. Sendok dan garpu beradu pelan dengan piring. Hingga tiba-tiba Hethy berkata santai tapi terasa menohok. “Ngomong-ngomong soal Valen ... Mama rasa lebih baik kamu jangan lama-lama, Tir. Kalian cocok banget, lho. Dia perawan ting-ting, nggak sempat pacar-pacaran karena fokus mengejar karier. Ya mirip kayak kamu yang nggak sempat pacaran karena fokus belajar di Inggris. Buruan lamar dan nikahin dia.”
"Mah, soal itu ...." Tirta melirik ke arah Nilam dan Nizam. "Kita bahas nanti, ya!"
"Iya ... tapi Bunda harap kamu jangan mengulur waktu! Pacar adekmu udah minta izin Bunda buat nikahin adekmu. Bunda nggak mau kamu dilangkahi lagi. Pamali, Tir! Ndak elok!" Hethy mendengus kesal. "Mama nggak mau lagi denger omongan orang yang ngatain kamu perjaka tua."
"Bun!" Tirta mengengam erat sendoknya menahan diri untuk tidak meledak. "Kita bahas itu nanti! Ada Nilam dan Nizam di sini. Obrolan kita itu masuk ke ranah privasi keluarga kita. Jadi tolong diam dulu lah, Bun!"
Mendengar obrolan itu , d**a Nilam terasa seperti diremas. Kata-kata Hethy barusan menghantamnya lebih keras daripada yang dia kira. Nilam berusaha tersenyum, sekadar menjaga wajahnya tetap ramah, tapi senyum itu hambar — hanya topeng untuk menutupi perasaan yang berantakan di dalam hati.
Padahal, diam-diam Nilam sempat memupuk harapan. Harapan bahwa Tirta mungkin punya rasa yang sama, bahwa kebersamaan mereka belakangan ini bukan sekadar kebetulan. Namun, mendengar nama Valen disebut begitu mantap sebagai calon istri yang “cocok”, hatinya seperti terhempas ke dasar. Rasanya dia hanyalah orang luar yang sangat tidak pantas untuk berharap lebih.
Di depannya, Tirta masih berbicara dengan Hethy, tapi suara mereka terdengar jauh, seperti sayup di telinga. Yang Nilam rasakan hanyalah dinginnya udara yang tiba-tiba membungkusnya, dan sesak yang pelan-pelan mengikis napasnya. Jadi Selesai makan, dia memilih untuk segera pamit pulang.
Tirta pun mengantar Nilam dan Nizam sampai ke gerbang. Setelah kembali ke rumah, pria itu menemukan Hethy masih duduk di meja makan sambil memandanginya penuh selidik.
“Dia pacarmu?” tanya Hethy tiba-tiba. “Kamu pacaran sama janda, ya? Pasti dia yang menggatal dan menggoda kamu, kan?”
“Mama kok ngomong gitu sih? Aku sama Nilam nggak nggak ada hubungan apa-apa dan Nilam bukan orang yang seperti itu!” balas Tirta cepat, expresinya terlihat kesal.
Hethy menggeleng, tatapannya penuh keyakinan. “Nggak mungkin kalau kamu dan janda itu nggak ada hubungan apa-apa. Anaknya saja kamu biarkan mainin koleksi gundam kamu yang ada di lemari. Padahal, anak adikmu sendiri pernah kamu marahin pas waktu pegang gundammu!”
Tirta terdiam, tak bisa membantah. Dia tahu ucapan Hethy benar.
***
"Dini!" Nilam memeluk sahabatnya erat-erat di ambang pintu rumahnya. "Makasih udah mau datang ke sini. Ayo masuk!"
Setelah pulang dari rumah Tirta, Nilam langsung menelpon Dini. Nada suaranya terdengar berat di ujung sambungan, membuat Dini tak banyak bertanya dan segera menyanggupi untuk datang. Nilam tahu, hanya pada Dini dia bisa bercerita tanpa takut dihakimi — teman yang sudah mengenalnya sejak SMP, yang hafal semua suka dukanya.
Begitu pintu tertutup, aroma teh melati yang baru saja diseduh memenuhi ruang tamu. Nilam mempersilakan Dini duduk di sofa, sementara dia sendiri berjalan ke dapur mengambil minuman. Nizam sudah tertidur di kamarnya, sehingga rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Saat kembali membawa dua cangkir teh hangat, Nilam duduk di samping Dini. Ada jeda hening sejenak — seakan dia sedang menyusun kata-kata di kepalanya.
"Zamil berulah lagi?" tanya Lita to the point.
"Bukan Zamil, kok." Nilam menghela napas panjang. "Ini soal ... soal Pak Tirta. Kamu tahu kan, dosen baru yang dulu sempat mengajar kita di semester akhir waktu itu?"
"Owh dosen ganteng itu." Dini mengangguk. "Iya aku ingat. Jadi sekarang dia ngajarin kamu di kelas magister?"
"Iya." Gantikan Nilam yang mengangguk. "Aku melakukan kesalahan dengan dia, Din." Nilam menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kesalahan yang sangat fatal."
"Astaga!" Dini menutup mulutnya dengan mata membelalak lebar. "Lo ngeuwe sama Pak Tirta? Lo hamil adeknya Nizam?"