9. Penghuni Laboratorium

1593 Words
Ranti berjalan tergesa-gesa menuruni tangga menuju lantai satu, karena Yuda akan menunggu di pintu masuk gedung kampus. Langkah Ranti semakin cepat, lantaran ia sudah merasa ada sepasang mata yang selalu mengawasinya. Menyadari hal itu, Ranti lebih mempercepat langkahnya lagi, karena bayangan yang mengikutinya semakin mendekat. “Aaarrrggghhh!” jerit Ranti ketika ia baru saja berbelok di tangga menuju lantai satu. Ranti terkejut karena tiba-tiba Erika muncul di hadapannya. Ia sedang berdiri menatap ke lantai satu. Ranti melihatnya dari samping sisi sebelah kiri. Tatapan mata Erika kosong. Ia terlihat melamun. Rambutnya yang lurus dan lumayan panjang ia biarkan tergerai dan tertiup angin. “Erika?” Ranti menyapa Erika yang masih bergeming di sana. Suara Ranti seperti tidak didengar oleh Erika. Ranti menatap Erika bagai raga tak berjiwa. Terdiam, kosong, dan menyendiri. Melihat Erika yang masih mematung di sana, Ranti segera mendekat dan menepuk bahunya perlahan. “Erika?” sapa Ranti secara dekat. Sembari menepuk pundaknya. “Ranti?” Erika menoleh ke arah Ranti dan menjawab dengan terkejut. “Kakak sedang apa?” Ranti merasa Erika terlihat sering murung. “Nggak apa-apa, Ran. Aku biasa ada di sini. Dalam sunyi dan gelap aku sendiri.” Erika menatap Ranti dengan wajah sendu. “Bi—biasa di sini?” Ranti merasa tubuhnya bergetar hebat. “Iya, Ran ... sejak penelitian, Aku jarang pulang ke rumah. Itu pun sampai detik ini aku merasa seperti penghuni laboratorium.” Erika menatap Ranti dengan wajah yang menampakkan sedikit senyuman misterius. “Astaga! Aku pikir ... ternyata Kak Erika senasib dengan Kak Wibi? Jarang pulang sudah seperti penghuni laboratorium karena kampus ini ibarat rumah kedua, ya?” Ranti menghela napas lega. Karena apa yang sempat Ranti pikirkan, ternyata tidak benar. “Ya seperti itu, Ran. Kami sudah terkenal sebagai penghuni laboratorium bawah. Hampir semua mahasiswa dan dosen mengetahui hal itu, Ran.” Erika kembali menatap Ranti dengan manik mata sendu dan sedikit senyuman. “Yang terpenting Kak Erika jaga kesehatan, aku juga baru saja ketemu Kak Wibi. Kami ketemu di perpustakaan. Dia juga selalu mengatakan kalau dia jarang pulang ke rumah.” Ranti mencoba memberikan semangat kepada Erika. “Semua penghuni laboratorium bawah sulit untuk pulang ke rumah, Ran. Sebelum kami selesai menjalankan tugas.” Erika kembali menatap ke lantai satu dengan tatapan kosong. Drrrttt .... Drrrttt .... Secara spontan, Ranti melihat layar ponselnya. Dua panggilan tidak terjawab dari Yuda. Satu chat masuk dari Yuda yang memberitahu Ranti, bahwa dirinya berada di depan kampus. “Kak, maaf ... aku nggak bisa lama-lama di kampus, soalnya sudah ditunggu sama teman di depan situ. Jangan lupa istirahat, Kak.” Ranti kembali menepuk pundak Erika. Ia merasakan kalau tubuh Erika sangat dingin sedingin senyuman di wajahnya. “Mampirlah lagi ke laboratorium bawah lain waktu, Ran!” Erika masih mematung di sana. “Tentu saja!” Ranti menjawab tanpa berpikir panjang. Ia berjalan sembari melambaikan tangan kepada Erika. *** Tidak ada sesuatu yang aneh yang Ranti rasakan lagi. Walau ia berjalan di koridor kampus menuju lobi utama. Lantaran di sana Ranti berpapasan dengan Pak Jono, yang kebetulan sedang berkeliling untuk memeriksa setiap ruangan kampus, karena sebentar lagi gerbang kampus akan di tutup. “Pak Jono, saya permisi pulang “ Ranti menyapa satpam kampus itu sebelum Ranti keluar dari lobi utama. “Ya, sebentar lagi, pintu gerbang akan dikunci. Hati-hati di jalan, De!” Pak Jono tersenyum ramah. “Terima kasih.” Ranti kembali melanjutkan langkahnya menuju Yuda yang sudah terlihat dari pintu kaca lobi utama kampus. Ranti berjalan dengan langkah pasti. Ia tidak lagi merasa ada yang mata-mata yang mengawasinya. Setelah Ranti keluar dari pintu lobi, Yuda menyambut Ranti dengan menekuk wajahnya yang maskulin. “Yud! Maaf, nunggu lama, ya?” Ranti paham betul bagaimana ekspresi Yuda yang sedang kesal. Mereka memang berteman sejak kecil, bertetangga, sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama pun mereka bersama. Hanya saja, setelah mereka SMA tidak lagi satu sekolahan. “Yuk, naik!” Yuda meminta Ranti untuk membonceng motor matic miliknya. “Oke!” Ranti dengan cepat naik ke motor Yuda. Beberapa menit kemudian. “Yud? Nunggu apa lagi?” Ranti merasa agak sedikit aneh karena Yuda bergeming tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah Ranti menaiki boncengan motornya. “Yud? Nggak usah bikin aku takut! Bukan waktunya bercanda!” Ranti merasa kesal dengan sikap Yuda yang tiba-tiba diam. “Nggak akan jalan kalau nggak berpegangan!” jawab Yuda singkat. “Hah? Idih ... nggak! Mending aku jalan kaki!” ancam Ranti tegas. “I—iya, Ran! Aku Cuma bercanda!” Yuda takut kalau Ranti kesal. “Awas aja kalau macam-macam!” Ranti kesal dan kembali mengancam. “Kalau satu macam boleh, Ran?” “Heh!” “I—iya ... iya!” Yuda langsung tancap gas. Sepanjang perjalanan, Ranti bergeming mengingat kejadian hari ini yang sangat membuatnya bingung. Ranti menyadari ada yang tidak beres dengan suasana kampusnya. ‘Wanita bergaun merah itu ... apakah dia penghuni yang sering meneror beberapa mahasiswa yang pikirannya kosong? Sepertiku? Tapi ... kenapa?’ Ranti merenung. Yuda menatap wajah Ranti dari kaca spion motornya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang Ranti tutup-tutupi. Namun, Yuda takut untuk menanyakannya kepada Ranti. Sehingga Yuda berinisiatif untuk meminta bantuan kepada Farah. “Ran! Kamu sudah makan?” suara Yuda memecah kesunyian. “Ya ... belum sih.” Ranti merasakan perutnya keroncongan. “Giman kalau kita makan dulu, Ran! Kita beli nasi goreng? Gimana?” Yuda merasa malam itu kesempatannya untuk berbincang agak lama dengan Ranti. “Oke, Yud! Beli di perempatan jalan yang mau ke kos kamu aja, Yud! Jadi nggak terlalu jauh!” Ranti sudah merasakan kelaparan tingkat dewa. “Oke, Ran!” Yuda langsung tancap gas. *** Dua piring nasi goreng lengkap dengan acar sudah tersedia di atas meja kayu yang sederhana. Ditambah lagi satu gelas teh manis hangat dan satu gelas es jeruk melengkapi kelezatan hidangan. Aroma nasi goreng yang memikat membuat perut tidak bisa menolak untuk menikmati suguhan sederhana nan istimewa itu. Mereka berdua makan dengan lahap. Perbincangan pun dimulai dari Yuda. “Ran! Kamu tahu nggak? Aku diberi mandat untuk jaga kamu di perantauan. Jadi maaf kalau aku terlalu khawatir sama kamu! Karena ini sudah menjadi tanggung jawabku.” Yuda menegaskan posisinya kepada Ranti. “Aku ngerti, kok! Tapi bukan berarti kamu berhak posesif sama aku, Yud! Terkadang aku juga ingin menjelajah sendiri, mencari pengalaman sendiri, Yud! Nggak melulu ke mana-mana sama kamu.” Ranti merasa keberatan jika Yuda terlalu bersikap posesif kepadanya. “Oh ... aku hanya mengkhawatirkanmu saja, Ran! Contohnya malam ini, kamu pergi sendirian ke perpustakaan. Kalau terjadi hal yang lebih buruk dari kejadian siang tadi, bagaimana? Kalau terjadi sesuatu sama kamu, pasti aku orang yang pertama kali akan ditanya sama kedua orang tua kamu, Ran.” Yuda menatap Ranti dengan serius. “Kamu nggak perlu khawatir berlebihan, Yud! Aku masih bisa jaga diri! Aku juga mengenal beberapa teman baru di kampus. Jadi kamu nggak perlu khawatir berlebihan. Kalau mau memantau silakan. Tapi aku nggak mau kalau kamu terlalu ikut campur sama urusanku.” Ranti tidak mau kalau Yuda berharap lebih dan bersikap posesif kepadanya. “Emmm ... i—iya.” Yuda tidak bisa berkutik karena ucapan Ranti seakan membuatnya Sekakmat. *** Sebenarnya Ranti adalah seorang gadis indigo yang bisa berinteraksi dengan mereka yang kasat mata. Hanya saja, Ranti sulit membedakan mana makhluk astral mana manusia. Karena bagi penglihatan Ranti, tidak ada bedanya kecuali mereka memperlihatkan kekuatan dan eksistensi mereka yang berbeda dengan manusia. Seperti wanita bergaun merah yang ia lihat di kantin dan perpustakaan. Ranti menyadari dia makhluk astral karena dia menunjukkan eksistensi dan kemampuannya. Seperti mengintai atau menampakkan diri dengan tidak sewajarnya. Dalam hati Ranti menyimpan pertanyaan besar, mengapa dia menampakkan diri dan mengganggu mahasiswa. Menurut Ranti, jika memang demikian pasti ada penyebabnya. Kemunculan wanita bergaun merah itu meyakinkan Ranti untuk menyelidiki lebih jauh. Namun, dia tidak mengatakan hal itu kepada teman-teman dekatnya termasuk Yuda. Ranti akan mencari tahu sendiri apa yang selama ini tengah menjadi misteri. *** Pada zaman dahulu kala, sebelum kampus itu dibangun di sana, sebenarnya tanah kosong itu menyimpan sebuah misteri. Sosok gadis desa yang sering di-bully dan dicemooh oleh banyak orang, akhirnya menjalani hidup yang sesat. Gadis desa itu merantau ke kota untuk bekerja ikut dengan sebuah keluarga kaya. Lantaran ekonomi keluarga si gadis desa memang berada dalam garis kemiskinan, membuat si gadis desa ingin membuktikan kepada semua orang di desanya bahwa dia bisa sukses. Namun, jalan yang dia lalui terjerumus dalam kesesatan. Dia belajar ilmu hitam untuk memikat sang majikan pria. Demi mendapatkan posisi walau harus menjadi duri di keluarga kaya itu. Setelah ia mendapatkan kekayaan yang seperti ia idamkan, dengan bangga ia pulang ke kampung. Kedua orang tua yang awalnya bangga karena putrinya sukses, berbalik kecewa lantaran mendapat kabar aib yang sudah ditorehkan sang putri. Gadis itu akhirnya diusir oleh kedua orang tuanya. Merasa bahwa hidupnya sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi, dia melakukan hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Gadis desa itu bunuh diri di area yang kini menjadi gedung kampus. Dahulu di sana terdapat sebuah pohon besar yang menjadi tempat gantung diri si gadis desa bergaun merah. Karena angker, pemilik lahan menjual tanah itu kepada pihak Universitas. Lantaran memang pihak Universitas sedang mencanangkan penambahan gedung fakultas. Kebetulan, pohon besar yang sudah ditebang itu, kini dibangun menjadi sebuah laboratorium kampus. Itulah mengapa si wanita bergaun merah menjadi penghuni di sana. Ia sering menampakkan diri, meneror, mengganggu, bahkan sering mengajak beberapa mahasiswa yang sedang patah hati, galau, dan kecewa, untuk melakukan tindakan bunuh diri di area laboratorium. *** Mampukah Ranti dan teman-temannya mengungkapkan sebuah fakta lain yang masih menjadi misteri di kampusnya? Semua berhubungan dengan teror wanita bergaun merah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD