8. Ada yang Mengikuti

1310 Words
Ranti mematung menatap jendela kaca yang ada di hadapannya. Perasaan takut mulai mengitari pikirannya. Jelas-jelas Ranti baru saja menoleh ke belakang dan tidak ada satu orang pun di belakangnya. Namun setelah Ranti menatap ke arah jendela yang ada di hadapannya, terpampang jelas bayangan wanita bergaun merah di sana. 'Di—dia ... wanita itu ....’ Cukup lama Ranti bergeming. Tatapannya menangkap sosok asing dari pantulan jendela kaca itu. Tinggi semampai, rambutnya panjang menjuntai hingga kaki. Wajahnya terlihat sebagian karena yang sebagian lagi tertutup rambut panjangnya itu. Agak menunduk seolah menyembunyikan wajahnya itu. Mengenakan gaun merah menutupi tangan dan kakinya. Ranti ingin menjerit meminta tolong, tetapi suaranya tercekat. Seakan-akan memekik dalam hati saja tanpa bisa ia keluarkan. Ingin berlari tapi langkahnya terhenti. Terasa berat untuk melangkahkan kaki. Ranti hanya bisa bergeming dan mencoba mengerjapkan matanya. ‘Astaga ... dia masih di sana.’ Ranti kembali berbicara dalam hatinya. Rasa sesak mulai menyelusup ke dalam paru-parunya. Dia yang terlihat dalam pantulan kaca jendela itu, seolah ingin menarik perhatian Ranti. Tak lama berselang angin berembus menyibak sisi kana tubuh Ranti. Hingga membuat Ranti memejamkan mata. Desir angin yang berembus diiringi aroma Cytrus yang menguar di dalam ruangan perpustakaan. Aroma yang tidak asing bagi Ranti. Aromanya menenangkan. Membuat Ranti yakin bahwa ada seseorang yang ia kenal di ruangan itu. Perasaan takut dan dingin yang tadi Ranti rasakan, berubah menghangat karena hatinya yakin bahwa Wibi baru saja memasuki perpustakaan. Ranti kembali terkejut karena seseorang menepuk bahunya. Terasa dingin. Ranti semakin menguatkan diri untuk memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Peluh bercucuran sebagai reaksi tubuh melawan perasaan takut itu. “Ran?” ‘Suara itu? Wibi?’ Ranti mencoba menoleh dan memutar arah tubuhnya ke sumber suara. “Kak Wibi?” Mata Ranti berbinar melihat sosok itu di hadapannya. “Hei? Kamu kenapa?” Wibi mengernyitkan dahinya melihat ekspresi Ranti yang dirasa aneh. “Syukurlah!” Ranti menghela napas, lalu ambruk bersimpuh di atas lantai. Ia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Ran? Hei? Kamu kenapa? Ap—apa kamu sakit?” Wibi menaruh perhatian kepada Ranti. “Aku ... tadi, aku mengalami hal aneh, Kak. Menyeramkan, sangat seram!” Ranti menatap Wibi yang ikut berjongkok di hadapan Ranti. Wibi ikut duduk di lantai bersama Ranti. Wajah tampan Wibi terpampang nyata bersama dengan senyuman hangat yang ia lontarkan. Ranti menatap Wibi dengan lega. Namun, Wibi menatap Ranti dengan penuh tanda tanya. “Cerita sama saya, Ran! Kamu mengalami hal aneh apa?” Wibi merasa sangat penasaran. “Sejak tadi pagi, aku mengalami hal aneh, Kak. Sesuatu di luar nalar, seolah mereka mengikuti ke mana pun aku pergi. Tapi aku yakin kalau itu terjadi karena pikiranku sering kali kosong, melamun, akhirnya berhalusinasi yang bisa membuat diriku ketakutan.” Ranti menatap Wibi dengan wajah yang lelah karena ketakutan. “Ranti ... mungkin kamu sedang memikirkan banyak hal. Jadi kurang fokus. Butuh refreshing, Ran! Ayo, bangun!” Wibi mengulurkan tangannya mengajak Ranti untuk beranjak. “Baiklah!” Ranti menyambut uluran tangan Wibi. Ia bertumpu pada tangan Wibi untuk membantunya berdiri. “Oh, iya ... kamu malam-malam begini? Ke perpustakaan?” Wibi yang menawan menatap Ranti yang sedang menepuk-nepuk tangan dan celana jeansnya yang terkena debu di lantai. “Iya, Kak. Tadi siang sebenarnya mau mengerjakan tugas. Tapi karena terjadi peristiwa aneh. Aku sampai lupa kalau aku membutuhkan buku itu. Mencari referensi di internet kurang puas saja, Kak! Jadi aku datang ke sini.” Ranti menjelaskan dengan jujur. “Sudah ketemu bukunya?” Wibi mencoba membantu Ranti. “I—itu, Kak! Di atas!” Ranti menunjukkan bukunya kepada Wibi. Suasana ruangan menghangat setelah Wibi datang. Mahasiswa tampan yang mengenakan jaket jeans biru itu terlihat sangat maskulin. “Ini, kan?” Wibi mengambilkannya untuk Ranti. “Iya, Kak. Makasih, ya!” Ranti hanya terpaku melihat sikap Wibi yang mampu membuat hati Ranti ingin melompat-lompat. ‘Wibi ... udah cakep, baik, meleleh deh kalau ada dia. Walau ... aku baru mengenalnya, tapi ... dia seakan menjadi Dewa penyelamat di saat sesuatu yang aneh menghampiriku. Dia datang di waktu yang tepat. Tapi ... kok bisa kebetulan ya?’ Pikiran Ranti berkecamuk. Ada rasa melted karena sikap Wibi, ada pula rasa penasaran yang tinggi. Ranti berpikir kalau pertemuannya dengan Wibi hanya kebetulan. Namun, kebetulan yang sering terjadi. Hal ini membuat Ranti bertanya-tanya. “Kak Wibi ... kok tiba-tiba ada di perpustakaan? Rasanya aku sama Kak Wibi sering sekali mengalami suatu kebetulan. Ya ... gitu lah, kebetulan yang sering. Eh ... gimana sih ya?” Ranti mulai grogi menatap Wibi yang juga sedang tersenyum menatapnya. “Kebetulan memang, Ran. Saya kan sedang penelitian di Laboratorium. Tidak pulang juga, Ran. Saya menginap di kampus. Terkadang ... saya butuh buku referensi, jadi ya ... saya ke sini. Kebetulan kamu sering mengunjungi perpustakaan.” Wibi tersenyum kembali setelah menjelaskan apa yang dia lakukan di kampus. “Sampai menginap?” Ranti terkejut dengan apa yang Wibi ceritakan. “Iya, Ran. Ini seperti perjuangan! Kalau saya selesai, saya bisa pulang.” Wibi kembali tersenyum penuh harap. Namun kalimat yang baru saja dia lontarkan terasa aneh. “Semoga cepat selesai, Kak. Biar bisa pulang dan tenang.” Ranti mengulas senyuman manis. Drrrttt ... Drrrttt ... Ponsel Ranti bergetar. Seketika Ranti memeriksanya. Ternyata itu panggilan telepon dari Yuda. “Kak, aku terima telepon dulu ya!” Ranti berjalan agak menepi ke arah sudut ruangan. “Halo, Yud?” Ranti dengan ramah menyapa Yuda via telepon. “Kamu lagi di mana, Ran? Aku lagi di kos kamu.” Nada bicara Yuda seakan mengintimidasi. “Pe—perpustakaan.” Ranti menepuk dahinya. Lantaran ia lupa kalau Yuda mengetahui hal ini, pasti dia akan mengomel. “Nah, kan? Berapa kali aku harus mengatakan sama kamu, Ran?” Yuda bernada kesal. “Bu—bukan gitu, Yud! Tap—tapi ....” “Aku jemput kamu sekarang! Tunggu di sana jangan ke mana-mana! Kebetulan tadi sore Kakakku datang mengantar motorku! Sekarang aku jemput kamu ke kampus.” “Iya ....” Ranti menghela napas setelah Yuda mematikan teleponnya. Yuda menjadi sangat posesif karena merasa bertanggung jawab dengan keselamatan Ranti selama mereka merantau. Setelah kedua orang tua Ranti menitipkannya kepada Yuda. Ditambah lagi Yuda yang sudah memendam perasaan kepada Ranti sejak lama. Semua alasan itu, membuat Yuda semakin posesif kepada Ranti. Ranti melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.33 WIB. Ranti kembali menoleh kepada Wibi yang masih berada di sana, menunggu Ranti. “Maaf, Kak! Aku harus kembali ke kos. Kak Wibi masih mau di perpustakaan?” Ranti menatap Wibi dengan perasaan enggan untuk berpisah secepat itu. “Sebentar lagi perpustakaan tutup, Ran. Saya mau kembali ke laboratorium setelah meminjam buku,” jelas Wibi cukup beralasan. “Kalau begitu terima kasih, Kak. Aku pulang.” Ranti mengulas senyuman manis. “Mau saya antar?” Wibi menatap Ranti dengan membalas senyuman. “Oh ... nggak usah, Kak! Biar aku sendiri saja.” Ranti tidak mau kalau Yuda bertemu dengan Wibi. “Yakin?” “Iya ... duluan, Kak!” Dengan cepat Ranti berjalan untuk menemui Pak Asep karena dia akan meminjam buku referensi yang seharusnya sudah dia pinjam tadi pagi. *** Langkah Ranti seakan selalu diintai oleh dia yang kasat mata. Ranti berjalan di antara barisan gondola yang membentuk koridor panjang dan misterius. Ia merasa ada sekelebat bayangan yang terlihat mengikutinya dari balik gondola. Namun, Ranti tetap fokus berjalan. Ia kembali teringat nasihat sang Kakek. Setelah berjalan melewati barisan gondola yang membentuk suatu lorong berisikan buku-buku, yang seolah mengantarkanmu pada gerbang dimensi lain, sampailah Ranti di depan meja Pak Asep. Ia langsung mengurus administrasi peminjaman buku. Setelah itu Ranti keluar dari perpustakaan. Ia berjalan di antara lorong kampus yang remang menuju tangga. Tanpa Ranti sadari ada langkah yang mengikutinya dari belakang. Bulu kuduk Ranti meremang. Ranti tidak memedulikannya. Ia terus berjalan menuruni tangga dengan cepat. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Lantaran dia merasa ada sesuatu yang aneh sedang mengikutinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD