7. Wanita Bergaun Merah

1962 Words
Suasana kantin siang itu berubah mencekam bagi kelima mahasiswa itu. Sikap Nur yang tiba-tiba berubah membuat Farah merasa sangat takut. Namun, Ranti tetap memberanikan diri untuk berinteraksi dengan Nur. Sedangkan Yuda dan Alex saling menatap. Sesekali mereka melihat sekeliling untuk memastikan apa yang dimaksud dengan ucapan Nur. “Nur? Ma—maksudnya siapa? Yang ada di sini?” Ranti mencoba memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada Nur yang masih menunduk sembari melirik ke salah satu sudut kantin. Ranti mengikuti ke mana arah tatapan mata Nur. Ranti memastikan kembali kalau Nur menatap ke arah sudut kantin. Di sana Ranti melihat seorang mahasiswi yang sedang duduk termenung dengan pandangan kosong ke depan. ‘Erika?’ Ranti merasa sangat terkejut. Ia kembali menatap ke arah Nur yang masih melirik tajam ke sudut kantin. ‘Kenapa Nur menatap Erika seperti terhanyut dalam amarah?’ Ranti kembali berbicara dalam hatinya yang penuh tanda tanya. Ranti yang masih penasaran dengan kalimat yang tadi diucapkan oleh Nur, berusaha memastikan. Ranti pun menoleh ke sekelilingnya. Pandangan Ranti membidik seseorang yang duduk di bangku belakang mereka. Tatapan Ranti terpaku melihat sosok wanita yang mengenakan gaun merah yang juga sedang menatap tajam ke arah Ranti. Wanita berambut panjang menjuntai hingga menutupi lengan wanita itu. Wajahnya pucat, matanya menggelap bagai obsidian yang sangat pekat. ‘I—itu siapa?’ Ranti kembali berbicara dalam hatinya. Ia berusaha memejamkan mata. Namun, setelah kembali membukanya, wanita itu masih ada di tempat duduknya. Justru saat itu wanita bergaun merah menatap tajam ke arah Ranti. “Nur? Kamu nggak apa-apa?” Yuda memberanikan diri melambaikan tangan di depan mata Nur. Seketika Nur mengerjapkan matanya. Napasnya seakan tersentak dan Nur langsung melihat satu-persatu teman-temannya. “Ayo, kita pergi! Cepat!” Nur beranjak dari kursinya dan mengambil tasnya. Sikap Nur yang tiba-tiba aneh, membuat mereka merasa takut. Tidak terkecuali Ranti yang ikut beranjak dan menggendong tasnya. Walau pandangan matanya masih terpaku menatap wanita bergaun merah itu. “Ran! Cepat!” Yuda menarik pergelangan tangan Ranti. Mereka berlima bergegas untuk meninggalkan kantin. Farah berjalan paling depan karena dia takut kalau berjalan paling belakang. Takut kalau ada yang tiba-tiba menepuk bahunya. *** (Hayo, siapa yang suka begini kalau lagi ketakutan?) *** Mereka berlima berjalan dengan tergesa-gesa. Bulu kuduk mereka merinding setelah Nur bersikap aneh. Semuanya merasa ketakutan karena peristiwa yang tidak terduga hari itu. Mereka berjalan terus sampai keluar dari kampus. “Huft! Lega banget udah ngacir sampai halaman kampus, Astaga!” Farah mulai bernapas lega, ia mengelap keringat di dahinya menggunakan punggung tangan. “Nur! Berhenti!” Yuda menahan pundak Nur. “Semuanya berhenti!” Sekali lagi, Yuda meminta semua temannya berhenti berjalan. Mereka berkumpul di persimpangan jalan menuju kampus mereka. Tepatnya di bawah pohon rindang menuju pintu gerbang kampus mereka. Nur menoleh melihat telapak tangan Yuda yang masih berada di pundak Nur. Alex berusaha menenangkan Farah yang terlihat pucat karena peristiwa yang baru saja mereka alami. “Nur ... ada apa sebenarnya?” Ranti merasa ada sesuatu yang Nur ketahui. Nur menoleh ke arah Ranti. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Kilatan matanya terlihat menyimpan dendam. Namun perlahan Nur menghirup napas dan menghelanya perlahan. “Aku nggak mau kalian menjadi sasaran mereka. Aku minta sama kalian! Jangan ada yang melamun terutama jika kalian di lobi belakang kampus. Terutama kamu, Ran! Aku nggak mau kejadian seperti tadi terulang.” Nur menatap Ranti dengan serius. “Ma—maaf, Nur!” Ranti tidak bisa berkata banyak. Lantaran dirinya pun tidak menginginkan pikiran kosong itu menyambangi dirinya. Namun, Ranti tidak berdaya. “Nur, apa kamu mengetahui sesuatu?” Yuda berusaha mengungkap apa yang Nur ketahui. “Aku tidak mengetahui apa pun! Hanya saja, bisikan itu sering aku dengar ketika ada makhluk astral yang hadir di sekitarku. Seperti yang tadi aku rasakan di kantin. Aku minta siapa pun, tolong jangan melamun! Terutama kamu, Ran! Aku perhatikan sering sekali melamun!” Nur menunduk ketika mengatakan hal itu. “Kamu bisa melihat mereka yang kasat mata?” Alex penasaran dengan kemampuan Nur. “Aku tidak bisa melihat mereka! Aku hanya bisa merasakan kehadiran mereka. Lalu ... bisikan itu akan terdengar di telingaku, mengerikan. Aku seperti ... merasakan aura mereka yang marah, sedih, penuh dendam.” Nur mengatakan hal yang sebenarnya. “Lalu ... tadi di kantin, kamu menatap ke siapa? Sepertinya kamu terlihat serius, Nur?” Ranti memastikan apa yang terjadi di sana. “Aku hanya merasa ada aura panas di sudut kantin itu. Aku mencoba menatap ke sana. Memastikan ada energi besar yang tiba-tiba hadir, saat Farah menceritakan sesuatu tentang mereka.” Nur menatap Farah yang sedang ketakutan memegangi lengan baju Alex. “Berarti ... kampus kita angker? Itu maksudnya?” Alex memastikan apa yang ia pikirkan. “Aku nggak mengatakan begitu, Lex ... tapi bisikan itu muncul secara tiba-tiba ... jika energi yang hadir berbahaya. Terserah kalian mau percaya atau nggak, yang pasti aku nggak mau kalian terkena petaka.” Nur melanjutkan perjalanan pulang. Sedangkan Ranti, Yuda, Farah, dan Alex masih terpaku di sana. Mereka saling menatap. Seakan menyiratkan tanda tanya besar. Namun, mereka bingung barus bagaimana. Karena yang jelas, Ranti baru saja mengalami hal aneh yang tidak biasa. “Apa kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Soalnya ... hari ini aku benar-benar mengalami hal aneh, aku nggak merasa pingsan, tapi ... katanya aku pingsan. Aku nggak merasa nangis atau menjerit. Tapi ....” “Kamu kesurupan, Ran!” Farah memotong ucapan Ranti. “Ran! Mulai sekarang ... kalau kamu mau ke perpustakaan, biar aku temani!” Yuda merasa bertanggung jawab, karena mandat dari kedua orang tua Ranti. “Iya, Yud! Maafin aku ya! Sudah membuat kalian ikut merasakan sesuatu yang mencekam.” Ranti menatap ketiga temannya. “Tapi ... serius, aku benar-benar penasaran.” Alex menatap Yuda. “Nggak usah aneh-aneh, deh! Kita fokus saja sama belajar! Jangan mengganggu mereka!” Yuda tidak mau melanjutkan rasa penasarannya. Bagi Yuda yang terpenting adalah fokus belajar dan menjaga Ranti. “Sudah! Lebih baik kita pulang saja!” Ranti mengajak mereka pulang ke kos masing-masing. *** Selepas petang, Ranti berniat membeli makan malam. Namun, dia teringat akan tugas Kalkulus yang belum selesai dia kerjakan, lantaran kejadian tadi pagi di perpustakaan yang membuatnya tidak jadi mengerjakan tugas. “Aduh! Aku nggak punya buku referensinya, tapi ... ah!” Ranti merasa gelisah. Dia ragu untuk datang ke kampus malam hari, setelah kejadian aneh yang dia alami di siang hari. Namun, tuntutan itu membuatnya memberanikan diri mengunjungi perpustakaan malam hari. Ranti mengenakan celana jeans berwarna hitam, kaos berwarna putih, dan kardigan berwarna biru bermotif garis. Rambutnya ia ikat seperti biasa. Tas ransel andalan yang selalu dia gunakan ke kampus. Sepatu flip flop berwarna putih. Tak lupa ia membawa ID Card dan ponselnya. Ranti berpamitan kepada teman kosnya untuk pergi ke perpustakaan kampusnya yang masih buka sampai jam sembilan malam. Ranti tidak memiliki kendaraan yang digunakan untuk mobilitasnya ke kampus. Ia selalu berjalan kaki menyusuri jalanan menuju kampus. Ranti lupa untuk memberitahu Yuda kalau malam ini dia mengunjungi perpustakaan. Lantaran situasi yang mendadak. Sepanjang perjalanan, suasana ramai, karena banyak mahasiswa yang berjalan-jalan untuk pergi membeli makan atau sekadar mencari udara segar. Sehingga Ranti merasa aman sepanjang perjalanan. Namun, sesuatu yang membuat Ranti menghela napas yaitu saat dirinya mulai masuk ke kompleks kampusnya. Ranti sempat menghentikan langkahnya ketika dia berdiri di depan pintu gerbang kampus. Pandangan Ranti mengedar menatap ke arah kampusnya. Suasana gelap menyelimuti area gedung kampus yang kokoh dan misterius. Bercahaya kan lampu taman dan penerangan di beberapa sudut, walau gelap tetap mendominasi. Terlihat ruang perpustakaan di lantai dua itu masih menyala. Ranti berusaha menenangkan dirinya. Menghirup napas panjang untuk membuat hatinya tenang. Sekali lagi Ranti menatap bangunan kokoh yang menjulang di hadapannya. Ranti kembali melangkah memasuki pintu gerbang itu beriringan dengan helaan napasnya. Ranti mencoba mengabaikan semua perasaan negatifnya yang seakan mulai menggelayut dalam benaknya. Ia mulai melangkah memasuki gerbang dan terus berjalan menuju kampusnya. Ranti bertemu salah satu satpam yang sedang berjaga di lobi depan kampus. “Selamat malam, Pak.” Ranti menyapa dengan ramah. “Malam, Mbak! Mau ke mana?” Pak Satpam yang bernama Jono membalas sapaan Ranti dengan ramah. “Saya mau ke perpustakaan, apa masih buka?” Ranti memastikan sebelum melangkah terlalu jauh. “Masih buka, Mbak. Sampai jam sembilan malam. Silakan kalau mau mengunjungi perpustakaan.” Pak Jono menjawab dengan sangat ramah. “Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ranti mengulas senyuman. “Hati-hati, Mbak!” Pak Satpam dengan ramah memberitahu jadwal perpustakaan kepada Ranti. *** Ranti kembali melangkah memasuki gedung kampus. Ia mulai tegang, lantaran melihat setiap koridor di gedung itu bagai jalur memasuki dimensi lain. Ranti mengabaikan perasaan aneh itu untuk ke sekian kalinya. Ia terus melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Karena perpustakaan terletak di lantai dua gedung itu. Secara perlahan, langkah Ranti mulai menaiki anak tangga itu satu-persatu. Langkahnya terasa berat ketika dirinya sampai pada tikungan tangga yang pertama. Bulu kuduk Ranti mulai merinding bersama desir angin yang menerpa wajahnya. Ranti sempat menutup mata, berharap jika angin yang menerpa wajahnya hanyalah angin malam biasa. Napas Ranti semakin terasa berat, ia memberanikan diri untuk membuka mata secara perlahan. Tidak ada seorang pun di atas sana. Ranti terus berjalan menaiki tangga tanpa menoleh ke belakang. Karena Ranti merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Ranti terus berjalan menaiki anak tangga. Hingga sampai di lantai dua. Ia terus berjalan. Lantaran teringat akan pesan dari sang Kakek. “Jika kamu mulai merasa takut, jangan berlari! Karena Dia yang tak kasat mata, justru akan semakin mengejarmu! Maka lawan rasa takut itu. Buat tubuhmu kembali menghangat jika merasakan dingin yang mulai menjalar di sekujur tubuh. Yakinlah manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Lawan rasa takut itu dengan memikirkan sesuatu yang membuatmu hangat, bersemangat, dan menyenangkan.” Ucapan sang Kakek selalu Ranti ingat. Lalu Ranti mencoba untuk mengingat sesuatu yang membuat hatinya menghangat. Ranti merasa suasana yang tadinya mencekam, terasa lebih baik. Hingga tidak terasa langkahnya sudah sampai di depan pintu perpustakaan. Ia langsung menyimpan tasnya di lemari loker. Ranti hanya membawa ponsel serta ID card. Ia melangkah kembali ke perpustakaan, setelah alat pemindai selesai memindai ID card milik Ranti. Kebetulan Pak Asep masih lembur menjaga perpustakaan. Sehingga ia kembali mengingatkan kepada Ranti untuk tidak melamun lagi. Ranti mengingat selalu ucapan Pak Asep. Ia kembali berjalan menuju rak buku yang ia cari. Ranti di hadapkan pada banyak koridor rak buku yang seakan bagai gerbang dimensi lain. Lagi-lagi Ranti berusaha menenangkan dirinya. Ia mengerjapkan matanya sembari menghela napas. Pandangan Ranti terfokus pada barisan gondola di sisi kiri ruangan besar itu. Perlahan Ranti meneguhkan hati dan pikirannya untuk berjalan di antara gondola yang menjulang berisi penuh buku-buku. Ketika Ranti hampir sampai di persimpangan rak yang pertama. Ia merasa seperti ada yang mengikuti langkahnya. Ranti terpaku, rasanya sesuatu yang ada di belakang Ranti sangat menarik perhatiannya. ‘Rasanya aku ingin menoleh, tapi ... hati kecilku mengatakan jangan menoleh. Ini membuatku semakin penasaran dan takut,' ujar Ranti dalam hatinya. Ranti kembali menghirup napas panjang dan mengembuskannya. Sorot mata Ranti tampak tajam menatap lurus ke depan. Ia kembali melangkah menuju rak yang ia tuju. Rak paling ujung di sudut ruangan. Ranti merasa ada sesuatu yang terus mengikuti langkahnya. Ranti mempercepat langkahnya dan tidak mau menoleh ke belakang. Tatapan Ranti masih fokus pada langkah kakinya. Ia terus berjalan hingga sampai di ujung koridor. Ranti menghentikan langkahnya. Perlahan Ranti memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Memastikan siapa orang yang mengikuti langkahnya. Dengan cepat Ranti menoleh ke belakang. ‘Astaga! Nggak ada siapa-siapa? Mungkin tingkat halusinasiku tinggi? Huft ....” Ranti menghela napas dan kembali menatap ke jendela kaca di hadapannya. Terlihat jelas seseorang berdiri di belakang Ranti. Wanita bergaun merah dengan rambut menjuntai menutupi wajahnya. Penampakan itu seperti tembus cahaya. menerawang karena benda-benda di belakang wanita itu masih jelas terlihat. Wanita yang agak menundukkan wajahnya itu berhasil membuat Ranti tercengang. Napasnya seakan tercekat dan tidak bisa berkutik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD