"Arana!"
Panggil Bara ketika Arana memasuki rumah, gadis itu mengernyitkan dahinya tidak biasanya papa nya bersantai di ruang keluarga.
Arana pun mendudukkan dirinya di sofa yg berhadapan dengan papanya, "ada apa pa?"
"Jalankan misi seperti biasa, saya harap kamu tidak gagal lagi," ucap Bara meletakan berbagai macam s*****a dihadapan Arana.
Mata Arana mulai memanas, gadis itu segera bangkit, "maaf Arana gabisa pa," ucap gadis itu dan hendak berjalan menuju kamarnya.
"Hidup atau mati?" Ucap Bara memberikan dua pilihan membuat langkah Arana terhenti.
Setetes air mata gadis itu terjatuh, ia dengan segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya, Arana menutup pintu kamarnya dengan keras.
Ia berjalan menuju meja belajarnya dan membuka salah satu lacinya lalu mengambil sebingkai foto yang didalamnya terdapat dua gadis yang tersenyum bahagia.
Arana mengusap foto itu, "maaf untuk kesekian kalianya."
***
Valdo melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan bernuansa putih, Valdo tersenyum tipis ketika melihat temanya yang telah berkumpul mengelilingi meja bundar yang bewarna senada dengan ruangan itu.
"Akhirnya pak ketu sampai," ucap Anje yang terselip nada kesal karena keterlambatan Valdo.
"Sorry gue telat," ujar Valdo dan duduk di kursinya.
Yang lain hanya menganggukkan kepalanya, Zean dengan segera menekan remote control berukuran kecil yang ada ditangannya dan ditengah meja tersebut keluar sebuah cahaya yang menampilkan beberapa data dan file.
"Baru ini data yang kita dapat," ucap Zean.
Valdo menganggukkan kepalanya, "tampilin semuanya," perintah Valdo.
Zean kembali menekan remote control dan tampaklah semua data yang mereka kumpulkan selama beberapa bulam ini.
"Data pertama yang kita kumpulin waktu ngempesin ban motor dan mobil guru, disana dapat kita simpulin bu Susi yang paling menonjol, menurut informasi yang di dapat Andara sebelumnya, pukul 16.00 akan ada pertemuan rahasia yang akan di lakukan target, dan bu Susi lah yang kelihatan paling panik dan gelisah bahkan memutuskan meninggalkan mobilnya dan pergi dengan taksi," jelas Zean, Zean memang irit bicara tapi itu untuk hal yang tidak penting, jika hal yang dianggap penting ia akan menjelaskannya secara detail.
"Berarti tersangka pertama bu Susi?" Tanya Wanda.
Valdo membalasnya dengan anggukan dan bangkit dari duduknya dan menempelkan foto bu Susi pada sebuah papan.
Zean kembali melanjutkan tentang data yang ia kumpulkan, "data kedua kita dapat waktu bikin heboh satu sekolahan, menurut data yang di salin Valdo dari ruang kepsek pemasukan kesekolah semakin banyak, perbulan sekolah dapat uang 100 juta, itu jauh lebih banyak dari uang komite yang seharusnya diterima sekolah, sekolah punya 1200 murid yang berarti sekolah hanya mendapat 24 juta perbulan,"
"Jadi yang perlu dibulatin 100 juta di kurang 24 juta berarti 76 juta, pertanyaanya, dari mana uang sebanyak 76 juta berasal?"
Valdo menuliskan pokok-pokok dari penjelaskan Zean, dari Foto bu Susi Valdo membuat panah dan menulis angka 76 dan membulatkan nya dengan spidol merah.
"Jadi misi kita berikutnya menelusuri dari mana uang sebanyak itu berasal," ucap Valdo buka suara.
Semuanya menganggukkan kepala, "banyak yang gaberes," ucap Andara dianggukki Anje dan Wanda.
Anje yang teringat sesuatu segera merogoh tasnya dan melemparkan beberapa hoodie bewarna hitam dengan tulisan R di d**a nya keatas meja, "lain kali kalo jalanin misi diluar sekolah pakai ini," ucap Anje.
Andara mengernyitkan dahinya,"buat apa?"
"Biar keliatan lebih keren aja."
Wanda memukul belakang kepala Anje,"makasi ya Anjeng."
Anje mendelik kesal, "s****n lo!"
Andara menggelengkan kepalanya, "holkay mah beda ya, mau apa pun tinggal beli," sindir Andara dan mengambil satu hoodie yang ada di atas meja.
Setelah melihat hoodie itu Andara mengernyitkan dahinya, "menghormati dan dihormati?" Heran Andara.
"Itu slogan kita dan itu arti Respect yang sesungguhnya," bangga Anje.
Valdo meraih salah satu hoodie dengan tergesa-gesa, "gue ada urusan, lanjut besok," pamit Valdo dan berlari keluar ruangan dengan raut panik.
Anje menggelengkan kepalanya tak percaya melihat Valdo, "datang paling akhir pulang paling awal untung aja pinter," ucap Anje.
Valdo terus berlari dengan sesekali melihat hp nya dimana sebuah titik merah berada, "bodoh!" Umpat Valdo.
Dilain tempat Vanya tersenyum menghadap musuhnya, "ayo na bunuh gue, ini kan yang lo mau?" Ucap Vanya.
Arana berdecak kesal, "gausa drama lo, gue muak liat wajah lo."
Vanya tersenyum dan memegang tangannya yang tergores akibat serangan Arana, "lo pengecut Arana! Bunuh gue kalau lo bisa!" Tantang Vanya.
Arana mengeratkan genggaman pisau ditangannya dan hendak menusukannya ke perut Vanya namun tangannya tiba-tiba di tahan seseorang.
"Lo nyakitin dia sedikit aja lo berurusan sama gue Arana!" Ucap seorang cowok dengan nada menusuk.
Arana menghempaskan tangan Valdo, "lo gausa ikut campur!" Kesal Arana.
"Lo nyakitin orang yang gue sayang tentu gue harus ikut," ucap Valdo menyorot tajam mata Arana.
Bughhh....
Bughh..
Bughhh..
Arana dengan segera melepaskan tinjuan dan tendangannya membuat Valdo sedikit oleng.
Valdo berdecak kesal, "Jangan buat gue jadi pengecut dengan lawan perempuan."
"Lo sendiri yang mau ikut campur s****n!" Maki Arana dan terus melepaskan tendang membuat Valdo kewalahan menghindarinya.
Hingga di satu titik Arana mendekati Vanya dan menahan pergerakan gadis itu, Arana melingkarkan pisau dileher Vanya.
"Dia orang yang lo sayang? Jadi ayo saksiin dia mati ditangan gue Rivaldo Alexandra."
Valdo yang hendak melangkah maju harus terhenti, "lo maju sedikit aja pisau ini akan semakin melukai kulit orang yang lo sayang valdo!"
Baru saja Arana hendak menggores leher Vanya seseorang tiba-tiba menendang tangan Arana membuat pisau yang ada ditangan gadis itu terjatuh.
"Zean!" Kaget Arana.
"Lo sinting Arana!" Maki Zean.
"Lo gaakan ngerti dan kalian gaakan pernah ngerti!" Pekik Arana.
"Na, gue mohon ini bukan lo," ucap Vanya megenggam tangan Arana.
Arana menghempaskan tangan Vanya, "ini gue! Dan gue sadar apa pun yang gue lakuin!"
Arana segera menjauh dan berlari secepat mungkin, Vanya menatap nanar punggung Arana, "balik na, ayo balik, ini bukan lo," lirih gadis itu.
***
"Arana, sudah berapa kali ibuk katakan, kamu harus meningkatkan nilai mu, jika terus begini ibuk tidak yakin kamu akan naik kelas," ucap Bu Susi.
Arana menatap bu Susi datar, "saya sudah belajar semampu saya."
"Kamu harus belajar lebih giat lagi Arana."
Arana menaikkan satu alisnya, "maksud ibu saya harus belajar 24 jam?"
"Bukan begitu, tapi kamu harus lebih giat lagi agar nilai kamu meningkat."
Arana menghela napas lelah, "baiklah saya akan belajar lebih giat," ucap Arana mengakhiri pembicaraan itu dan segera bangkit.
"Permisi," pamit Arana dan berlalu meninggalkan ruang Bk.
Arana melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masi menunjukan pukul 10, Arana melangkahkan kakinya menuju kantin, ia yakin teman-temanya sedang berada di kantin saat ini.
Sesampainya di kantin, Arana mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Gita dan Nesya, Arana kembali menghela napas ketika melihat kedua temanya duduk dipojok kantin yang menjadi sarang anak Respect.
"Arana!" Panggil Nesya ketika menydari kehadiran gadis itu.
Arana melangkahkan kakinya mendekat, Nesya dengan segera menarik tangan Arana untuk duduk disebelahnya dan tepat berhadapan dengan Valdo.
"Katanya lo bakal naklukin Valdo, ini kesempatan lo na," bisik Nesya.
Arana menaikkan satu alisnya dan menatap Valdo datar, "na jangan gitu! Ini kesempatan lo," bisik Nesya lagi.
Arana melihat sekelilingnya dan baru lah kembali menatap sosok yang ada di hadapanya dengan senyuman.
"Lo lagi ngapain?" Tanya Arana berbasa basi.
Valdo manaikkan satu alisnya dan menatap Arana datar, "lo buta gabisa liat gue lagi makan?"
Arana menggaruk tengkuknya dan menundukkan kepalanya.
"VALDO!" teriak seorang gadis membuat semua makhluk yang menduduki meja yang berada dipojok itu menoleh.
"Aku bo—"
"Minta no lo!" Ucap Arana memotong perkataan gadis yang berdiri disebelahnya.
Arana yang melihat Valdo hanya diam berdiri dan mencondongkan tubuhnya mendekati Valdo, "buruan! Atau ga orang yang lo sayang bakal mati ditangan gue!" Ancam Arana.
Valdo merebut ponsel yang ada ditangan Arana dan menuliskan beberapa deret angka dan mengembalikannya kepada Arana.
Arana mengangkat kedua sudut bibirnya, "thanks!"
Arana menoleh ke sebelahnya, "eh ada lo! Mau ngapain?" Tanya Arana kepada gadis yang berdiri disebelahnya.
Melisa menggaruk tengkuknya, "em-itu Valdo dipanggil sama pak Septi."
Gita yang duduk disebelah kanan Nesya tersenyum sinis, "jadi babu nya guru ya neng," sindir Gita tanpa menoleh kearah Melisa, Gita dengan santainya terus menyuap makanannya seolah berbicara kepada angin.
Valdo menoleh kearah Melisa, "ok, thanks."
"Yaudah aku pergi dulu, jangan lupa ya," pamit Melisa dan dianggukki Valdo.
Wanda menggelengkan kepalanya melihat Gita, "gacuma bibir lo yang dikasi warna cabe, ternyata kata-kata lo juga dibumbui cabe ya," ucap Wanda.
Anje yang duduk disebelah Wanda menganggukkan kepalanya menyetujui, "pedes bener neng."
Gita menatap dua cowok dihadapanya, "terus masalah buat lo?"
Wanda sontak menggelengkan kepalanya, "Ga kok, eneng Gita mah selalu bener."
***
Disepanjang koridor menuju kelas, Nesya sedari tadi tak hentinya berteriak histeris, "SUMPAH NA! DEMI APA!"
"GUE GANYANGKA BANGET!"
"LO PAKAI PELET DIMANA? BIAR GUE JUGA BISA PELET ZEAN!"
Gita yang melihat Nesya kambuh memasang earphone nya dan menyetel lagu kesukaannya dibanding mendengarkan celotehan Nesya.
"Valdo kenapa bisa ngasi nomornya ke lo si? Setau gue Valdo tuh gapernah ngasi nomornya kesiapa pun kecuali ke keluarga sama temenya!" Heboh Nesya.
Arana menatap Nesya datar, "gue ga pakai apa-apa."
"Ayolah na, bagi tips nya biar gue juga biaa luluhin Zean," mohon Nesya.
Arana menghela napas lelah dengan Nesya yang tidak berhenti berceloteh, "gue pakai pelet nya mang oleh," ujar Arana asal.
Nesya dengan segera mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu, "na kok yang keluar odading? Peletnya pakai odading?" Tanya Nesya dengan polosnya.
Gita melepaskan earphone nya dan memegang kedua bahu Nesya agar berhadapan dengan dirinya, "plis ya Nesya! g****k lo jangan kelewatan!" Kesal Gita.
Nesya mengembungkan pipinya, "padahal gue cuma minta tips biar bisa luluhin Zean yang dinginya kayak es."
"Zean nya lo bakar aja," ucap Gita.
Nesya menatap Gita serius, "kalau dibakar emang bisa ga dingin lagi?"
"Menurut lo? Udahla ayo na ke kelas tinggalin aja tu bocah," ucap Gita merangkul bahu Arana.
Nesya mengerjapkan matanya, "kalau dibakar Zean nya mati dong?" Gumam gadis itu.
Nesya dengan segera berlari menyusul Arana dan Gita yang dengan tega meninggalkan dirinya.
***
"Pak Septi ngapain manggil lo?" Kepo Wanda ketika Valdo memasuki kelas.
Valdo mengedarkan pandanganya dan melihat semua murid yang sibuk dengan dunia nya masing-masing, "guru ga masuk?" Tanya Valdo.
"Bu Fita gamasuk katanya sakit," jawab Andara.
Valdo memberi kode agar teman-temanya mengikutinya, kelima cowok itu pun berjalan keluar kelas berjalan berdampingan menyusuri koridor yang sepi.
Sesampainya di Rooftop mereka berjalan menuju sebuah pintu usang yang ada di sudut kanan yang di depannya dipenuhi oleh meja-meja dan kursi-kursi bekas yang telah rusak.
Mereka menyelip diantara selah-selah kursi dan meja dengan lihai seperti telah biasa melakukanya, Valdo merogoh kantung celana nya dan mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu usang itu.
Kelima cowok itu memasuki ruangan bernuansa putih, tempat dimana mereka berkumpul kemarin dan tempat yang menjadi sarang mereka selama ini.
Mereka menduduki kursi masing-masing dan Valdo berdehem sebelum membuka suaranya.
"Tadi waktu nyamperin pak Septi gue gasengaja denger bu Susi lagi telfonan."
"Telfonan sama siapa?" Kepo Anje.
"Gue gatau, tapi gue yakin dia orang yang kita incer,"
"Lo denger percakapan mereka?" Tanya Andara.
Valdo menggelengkan kepalanya, "gue gabisa denger karna jaraknya jauh."
"Yaelah, kalau gitu mah apa yang mau dicari," kesal Wanda.
Zean meraih laptopnya dan sibuk mengotak atik benda itu, setelah beberapa menit Zean meletakkan laptopnya diatas meja.
Disana terputarlah bu Susi yang sedang berbicara dengan seseorang ditelfon.
"Iya ada apa?"
"......"
"Baik saya akan melakukanya."
"......"
"Taman deket sekolah?"
"......"
"Baik, saya akan kesana jam 11 malam nanti."
"Lo bobol cctv sekolah? Dan masang penyadap suara?" Tanya Anje yang dibalas Zean dengan anggukan.
Anje menggelengkan kepalanya tak percaya, "jangan-jangan lo juga pernah bobol cctv dikamar gue."
Zean mengangkat satu alisnya, "kamar lo pakai cctv? Yaudah ntar gue coba?" Ucap Zean dengan santainya.
"Gila lo! Awas aja kalau sampai bobol cctv di kamar gue."
Wanda menepuk bahu Anje, "kenapa gaboleh? Emang lo ngelakuin hal yang aneh-aneh?"
Anje mendelik kesal, "ya tetap aja itu langgar privasi."
"Jadi apa?" Tanya Andara menghentikan perdebatan antara Anje dan Wanda.
"Ntar malam kita ikutin bu susi," ucap Valdo dan dianggukki semuanya.
"Jangan lupa pakai hoodie yang gue kasi," ingat Anje.
Kelima cowok itu pun berjalan keluar ruangan untuk kembali ke kelas, untungnya Rooftop selalu sepi dan tidak ada yang pernah menyadari keberadaan pintu usang yang ditutupi dengan meja dan kursi rongsokan.