BAB 7 TELAT 3 MENIT COY

711 Words
Zahra duduk terpaku di bangkunya, napasnya sedikit tersengal. Ruangan kelas terasa lebih sempit dari biasanya, udara mendadak berat. Amel baru saja pergi setelah melabraknya dengan wajah merah padam dan suara yang hampir memecahkan gendang telinga. Dia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Siapa sih Amel itu? Kenal juga enggak. Marah-marah gak jelas karena si Raynold jamet itu? Dih, makan tuh si jamet kuproy, karungi, bawa aja pulang sekalian. Aku juga ogah diajak dia makan. Padahal, kalaupun Ray ngajak, belum tentu juga aku mau. Kaka kelas gila. Cocok tuh gila sama gila. Zahra mendengus, matanya mengerjap beberapa kali. Dadanya naik-turun pelan, menekan emosi yang perlahan membuncah. ‘Idih,’ batinnya, najis. Hatinya panas, bukan karena takut, tapi karena absurdnya situasi barusan. Dia akhirnya bangkit dari bangkunya, menarik napas panjang, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, jari-jarinya sedikit gemetar karena sisa adrenalin yang masih mengalir. Dia butuh waktu untuk sendiri. Butuh menjernihkan pikirannya. Mushola. Zahra masuk ke dalam salah satu bilik mushola, lalu membuka keran air dengan dorongan agak kasar mengecek apakah airnya ada atau tidak. Air mengucur deras. Zahra segera mematikannya. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur ritme napasnya. Kepalanya menunduk, kedua tangannya bertumpu di atas lututnya. "Gila, ada juga ya orang kayak gitu?" gumamnya pelan. Lalu mulai berwudu; membasuh tangan, kemudian wajah, lalu kepala, dan seterusnya. Setelah Zahra pergi, Ray baru saja tiba di kelas Zahra. Rambutnya sedikit berantakan akibat angin luar, seragam putihnya menjuntai keluar, agak kusut karena tadi buru-buru. Dia melangkah masuk dengan santai, matanya langsung menyapu ruangan, mencari sosok Zahra. Tapi yang dia dapat bukan Zahra, melainkan tatapan beberapa teman sekelas yang tampak ribut sendiri. Salah satu dari mereka menoleh ke arah Ray dan menyeringai. "Lo tahu gak, baru aja si Zahra dilabrak cewek." Alis Ray langsung bertaut. "Hah? Siapa?" "Kayaknya ka Amel, yang suka sama lo itu," kata temannya, terkekeh kecil. "Dia ngamuk gara-gara Zahra, padahal lo aja belum ngajak Zahra makan bareng, kan?" Ray mengerutkan kening, rahangnya sedikit mengeras. "Zahra di mana sekarang?" tanyanya, nada suaranya terdengar lebih serius. Seorang cewek yang duduk di dekat jendela menimpali, "Barusan dia ke toilet." Ray tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung berbalik, melangkah keluar kelas dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya. Zahra melipat telekungnya perlahan, merapikannya di atas rak kecil di sudut mushola. Udara di dalam masih terasa sejuk, menyisakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Setelah sholat dhuha, pikirannya sedikit lebih jernih. Dia menarik napas dalam, membiarkan dadanya mengembang sebelum menghembuskannya perlahan. Langkahnya ringan saat keluar dari mushola. Koridor sekolah lengang, hanya suara gemerisik kain kerudung dan gesekan sol sepatunya dengan lantai yang terdengar. Cahaya matahari menyusup lewat jendela-jendela besar, memantulkan bayangan panjang di lantai keramik yang mengkilap. Dia berjalan tanpa terburu-buru, tanpa tahu bahwa di sisi lain sekolah, seseorang tengah menunggunya. Ray masih bersandar di dinding dekat lorong toilet cewek, satu tangan disilangkan di d**a, sementara yang lain memainkan ujung lengan bajunya. Matanya tak lepas dari pintu toilet, menunggu Zahra keluar. Udah hampir sepuluh menit, tapi gak ada tanda-tanda. Dia mulai mengusap tengkuknya, merasa bodoh karena berdiri di situ selama ini. Baru aja dia mau menyerah, gerakan di ujung koridor menarik perhatiannya. Zahra. Ray langsung mendorong tubuhnya dari dinding, langkahnya cepat dan mantap. Tapi sebelum dia sempat memanggil, Zahra sudah lebih dulu masuk ke kelas, menghilang di balik pintu. Sial. Sementara itu, di dalam toilet, Amel menatap bayangannya di kaca wastafel, napasnya sedikit tersengal karena emosinya belum reda sejak tadi. Air dingin masih mengalir di tangannya ketika ekor matanya menangkap sesuatu di cermin—sesosok bayangan yang berlari di luar. Refleks, dia menoleh ke pintu. "Raynold!" Suaranya menggema di dalam ruangan sempit itu, tajam dan penuh tuntutan. Tapi bukannya berhenti, Ray justru mempercepat langkahnya. Bukan buat nyamperin Zahra. Bukan buat menoleh ke belakang. Tapi buat kabur dari Amel. Di dalam kelas, Zahra baru saja duduk ketika seorang teman mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. "Zah, tadi Bang Ray nyariin lo." Zahra menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Oh ya?" "Jumpa gak?" Zahra menggeleng. "Enggak." Temannya mengerutkan kening. "Hah? Kok bisa enggak? Dia tadi nungguin lo di toilet, lama banget malah." Zahra terkekeh kecil, menepuk ujung kerudungnya yang sedikit miring. "Aku gak di toilet. Aku di mushola kok." Seketika, temannya menepuk jidat sendiri. "Oalah… pantes!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD