BAB 6 BJIR KENA LABRAK

889 Words
Zahra duduk tegak, berusaha fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Namun, pikirannya melayang jauh. Pertanyaan Raynold tadi pagi tentang pacar dan ajakan makan di kantin siang ini masih berputar-putar di kepalanya. Kenapa tiba-tiba dia canggung banget waktu itu? Apa sebenarnya yang dimaksud Raynold dengan ajakan itu? Tiba-tiba, suara guru memanggilnya, “Zahra, bisa jawab soal ini?” Guru yang sejak dua jam pelajaran di mulai sudah menghilang, dan muncul kembali karena sebentar lagi bell istirahat pertama akan berbunyi. Jadi guru muda itu buru-buru masuk ke kelas, menjelaskan sekitar tiga menit tentang sejarah Indonesia, yang bahkan dilihat dari cara menjelaskan dan bahasanya yang terasa ragu, sepertinya guru itu kurang menguasai atau mungkin memang tidak mengerti apa yang dia jelaskan. Zahra terperangah. Dia menatap papan tulis, namun otaknya kosong. Semua yang tertulis di sana tiba-tiba sulit dipahami. "Kenapa Zahra? Melamun mikirin apa tadi?" lanjut guru itu. Sebelum Zahra sempat menjawab, salah satu murid cewek menjawab dengan suara yang cukup keras, "Dia melamun karena mikirin Bang Ray, Bu. Tadi pagi dia mau diajak makan bareng di kantin, ang ang ang!" "Ketawa macam apa itu? Ang ang ang!" Guru muda itu tampak kaget. "Biasa, Bok, cewe-cewe sekarang patokannya t****k. Kocak!" sinis murid cowok bangku belakang. "Dih, kau yang kocak!" "Kau kocak, mukamu tuh kek badut, pipi merah bibir merah kayak disengat tawon." "Iri bilang!!" "Udah-udah, kenapa malah gaduh," ucap Bu guru melerai. "Bener Zahra lagi dekat sama Ray?" tanya bu Guru. Zahra yang sudah bernapas legah karena topik pembahasan sudah melenceng, malah ditanya lagi sama guru itu. Teman-teman cewek di sekeliling Zahra mulai bersiul dan menambahkan, “Cie-cie, Zahra!” Zahra mendadak kikuk dengan wajah yang memerah. "Hah? Nggak kok," jawabnya cepat, berusaha menutupi rasa malunya. Guru hanya tersenyum mendengar obrolan itu. Dia melanjutkan penjelasan dengan santai, sementara teman-teman Zahra terus bergosip di sekelilingnya. Zahra hanya bisa diam, berusaha untuk tetap tenang meski hatinya berdebar-debar. "Gak mungkinlah Zahra pacaran, dia, kan pesantren. Ilmu agamanya kuat, gak kayak kalian!" ucap Bu Guru. "Yakan, Bu. Definisi istri idaman." cowo yang tadi menjawab lagi sambil menatap ke arah Zahra yang hanya menatap tumpukan bukunya di atas meja. Bell berbunyi. "Oke anak-anak, sekian pelajaran kita hari inii. PR di rumah, catat buku paket dari halaman 1 sampe 50". "Buk yang bener aja, Bu!" protes murid cowo itu lagi. Zahra menoleh, dia tidak tahu namanya siapa,tapi mulutnya tidak bisa diam dari tadi membuat kuping Zahra panas. Tapi kali ini komplennya benar, yang benar saja, memberikan tugas mencatat dari halaman 1 sampai 50, jadi apa fungsinya buku paket itu? Pikir murid laki-laki itu. Tapi yang lain hanya memilih diam, meskipun sama kesal dan tidak terima diberi tugas sebanyak itu. Amel baru saja meletakkan botol minumnya di meja ketika Futi menyodorkan ponselnya dengan ekspresi penuh antusiasme. “Mel, lo udah tau belum?” tanyanya dengan nada penuh gosip. Amel mengangkat alis dengan malas. “Tau apa?” Futi tersenyum tipis sebelum mengetik sesuatu di ponselnya. Beberapa detik kemudian, dia memperlihatkan layar itu kepada Amel. “Ray ngajak anak kelas 10 makan bareng.” Sekilas ekspresi Amel tidak berubah, tetapi tatapannya mengeras. “Siapa?” tanyanya, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Futi menekan layar ponselnya beberapa kali, lalu menunjukkan sebuah nama. “Zahra. Yang jilbabnya lebar itu.” "Kayak guru ngaji anjir. Kelas 10, gayanya tua banget!" celetuk Risty. Rahang Amel mengatup rapat. Ada sensasi panas menjalar di dadanya, dan tanpa berpikir panjang, dia langsung berdiri dari kursinya. “Ayo,” ucapnya singkat. Tanpa banyak bertanya, Futi dan anggota geng lainnya mengikuti langkahnya. Mereka berlima melangkah dengan tujuan yang jelas, melewati koridor sekolah yang mulai dipenuhi bisik-bisik para siswa yang memperhatikan mereka. Namun, tidak ada satu pun yang berani menghentikan langkah mereka. Setibanya di depan kelas Zahra, Amel tidak ragu untuk mendorong pintu dengan keras. BRAK!! Kelas langsung sunyi. Beberapa siswa menoleh dengan terkejut, sementara Zahra, yang sedang berbicara dengan temannya, refleks mengangkat kepala. Amel melangkah masuk dengan tenang, namun tatapan matanya tajam menusuk ke arah gadis yang sedang duduk itu. “Zahra.” Zahra berkedip, tampak kebingungan. “Iya, Kak?” Tanpa mengalihkan pandangannya, Amel berjalan semakin dekat, kedua tangannya bertumpu di atas meja Zahra. “Lo ngapain?” suaranya terdengar tenang, tetapi penuh tekanan. Zahra semakin tidak mengerti. “Maksudnya?” Amel menghela napas pendek, lalu menyipitkan matanya. “Ray ngajak lo makan, kan? Kok lo mau?” Suasana kelas semakin mencekam. Zahra membuka mulut hendak menjawab, tetapi Futi lebih dulu menyela dengan nada mencemooh. “Baru kelas 10, baru setahun di sekolah ini, udah berani caper ke cowok orang? Gak malu lo?” Beberapa siswa lain mulai berbisik-bisik, sementara anggota geng Amel menahan tawa sinis. Zahra menelan ludah. Wajahnya mulai terlihat tegang. “Gue gak caper, Kak. Dia yang ngajak gue.” Amel menatapnya lebih tajam. “Dengerin baik-baik. Sekali lagi Ray ngajak lo makan, tolak. Gue gak mau lihat lo deket-deket dia.” Zahra diam, tidak membantah. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Amel. “Jilbab gede, tapi kelakuan gak nyambung.” Setelah memastikan Zahra memahami peringatannya, Amel berdiri tegak dan menoleh ke arah Futi, memberikan isyarat dengan anggukan kecil. “Kelar.” Tanpa menunggu reaksi lebih lama, Amel berbalik dan melangkah keluar kelas. Gengnya mengikutinya dari belakang, meninggalkan Zahra yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah yang kini memerah, entah karena malu atau marah. Kelas mulai dipenuhi suara bisik-bisik, tetapi bagi Amel, urusannya sudah selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD