Zahra turun dari angkot dengan langkah ringan, merapikan jilbab lebarnya sebelum mulai berjalan menuju gerbang sekolah. Udara pagi masih terasa segar, meskipun lalu lintas di depan sekolah sudah mulai ramai. Baru beberapa langkah, suara seseorang memanggilnya dari belakang.
"Zahra!"
Zahra refleks menoleh. Seorang cowok dengan seragam sedikit berantakan dan tas diselempangkan di satu bahu berjalan santai ke arahnya. Itu Raynold. Semua anak baru pasti tahu siapa Raynold. Saat MPLS, dia tampil di pensi untuk siswa baru sebagai basis. Gayanya yang santai, sedikit berandalan, dan aura anak band membuatnya cukup dikenal—terutama di kalangan cewek yang suka anak bad boy. Tapi menurut Zahra dia bukan bad boy, tapi.. anak slengean yang kurang kasih sayang orang tua. Raynold kini berjalan di samping Zahra, memasukkan tangan ke saku celana.
"Eh, gimana lutut lo? Masih sakit?" tanyanya santai, merujuk pada kejadian kemarin saat ia menabrak Zahra di koridor.
Zahra, yang pendiam dan tidak terbiasa ngobrol dengan cowok, merasa canggung. "Enggak," jawabnya singkat.
Ray mengangguk kecil. "Yaudah, bagus deh. Gue masih merasa bersalah, sumpah."
Zahra hanya diam.
Setelah beberapa detik hening, Raynold meliriknya lagi. "Eh, lo dulu sekolah di mana?"
"Pesantren."
"Oh, lo dari pesantren? Pantes vibe-nya beda." Ray terkekeh kecil, lalu bertanya lagi, "Terus kenapa nggak lanjut pesantren aja?"
Zahra diam sejenak, lalu menjawab singkat, "Gapapa."
Raynold mengangkat alis. "Gapapa aja?"
Zahra hanya mengangguk.
Mereka akhirnya sampai di gerbang sekolah. Beberapa guru berdiri di sana, seperti biasa, mengawasi murid-murid yang datang. Tapi begitu melihat Raynold, beberapa dari mereka tampak terkejut. "Lho, Raynold?!" salah satu guru laki-laki berseru. "Tumben kamu datang cepat? Biasanya telat melulu!"
Raynold langsung menyeringai, memasang ekspresi cengegesan tapi tetap berusaha sok cool. "Iya, Pak. Sekali-kali pengen ngerasain jadi anak rajin," jawabnya santai.
Beberapa guru hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Zahra tetap diam, merasa sedikit risih karena ikut diperhatikan.
Mereka berjalan sedikit lagi sebelum harus berpisah ke kelas masing-masing. Sebelum benar-benar menuju tangga ke lantai dua, Raynold menoleh ke Zahra lagi. "Eh, nanti makan di kantin bareng yuk?" katanya enteng. Zahra tidak langsung menjawab, hanya diam dengan ekspresi bingung.
Raynold melihat itu sebagai persetujuan. "Oke, sip! Jangan kabur ya!" katanya sambil melangkah pergi dengan santai. Zahra hanya bisa menarik napas dalam, merasa pagi ini sudah terlalu banyak interaksi yang membuatnya gugup. Begitu Raynold melangkah pergi dengan santai, Zahra hendak melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tapi baru saja sampai di depan pintu, suara jeritan heboh dari beberapa murid langsung menyambutnya.
"KYAAAAA!!!"
"Astaga, Zahra diajak makan sama Raynold?!"
"SERIOUSLY?!?!"
Zahra langsung kaget dan refleks mundur sedikit. Wajahnya mulai panas karena semua mata sekarang tertuju padanya.
Beberapa anak cewek sudah berdiri berkerumun di depan pintu kelas, ekspresi mereka antara heboh, shock, dan penuh gosip.
"Lah, kapan akrabnya?!"
"Raynold ngajak makan bareng?! Anjirrr, Zahra, lo deket sama dia?!"
Zahra menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Dia bahkan tidak yakin apakah ajakan Raynold tadi itu serius atau cuma bercanda. Lalu, satu suara nyeletuk dari belakang.
"Oh, jadi selera Bang Raynold yang ukhty-ukhty, ya?"
Sontak, kelas makin riuh. Beberapa anak mulai bersorak menggoda, sementara Zahra ingin menghilang saat itu juga.
Wajahnya makin memanas, dan dia langsung masuk kelas tanpa menanggapi ocehan teman-temannya. Jilbab lebarnya sedikit berkibar saat dia berjalan cepat menuju tempat duduknya. Sementara itu, beberapa anak masih sibuk berbisik-bisik dan saling lirik.
"Ya ampun, fix dia pasti kepincut vibes kalemnya Zahra!"
"Raynold suka tantangan kali, biasanya dia deketnya sama yang vibesnya rebel, kan?"
Zahra hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Baru masuk kelas 10, dan rasanya hidupnya sudah mulai penuh drama yang tidak dia duga.