Zahra berjalan perlahan di koridor sekolah, menggenggam bukti pembayaran SPP di tangannya. Bel masuk tinggal lima menit lagi. Dia baru masuk kelas 10, masih canggung dan belum terbiasa dengan lingkungan baru. Langkahnya hati-hati, berusaha tidak menarik perhatian siapa pun.
Tapi harapannya buyar ketika seorang guru perempuan yang mengenakan turban tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajah guru itu tampak tidak senang saat menatap Zahra dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu ini kenapa pakai jilbab lebar begitu?" Nada suaranya terdengar tajam.
Zahra terdiam, menunduk sedikit. "Saya… memang biasa pakai begini, Bu," jawabnya pelan.
Guru itu mendengus, menyilangkan tangan di d**a. "Dengar ya, Zahra. Kamu masih muda, jangan terlalu fanatik dalam beragama! Sekolah ini punya aturan, dan simbol sekolah di seragammu harus kelihatan. Jilbab segede itu menutupi semuanya!"
Zahra menelan ludah, merasa semua orang di koridor kini memperhatikannya. Dia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa dia nyaman dengan jilbab syar’inya. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
"Besok pakai jilbab yang normal, jangan terlalu ekstrem begitu. Mengerti?"
Zahra hanya mengangguk pelan. "Iya, Bu…"
Guru itu menggeleng sambil mendesah kesal, lalu berbalik pergi. Zahra menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Tapi baru saja dia ingin melangkah lagi—
BRUK!
Seseorang menabraknya dengan keras dari samping. Zahra terjatuh ke lantai, buku dan kertas-kertasnya berserakan.
"WOI, SORRY!"
Suara itu berasal dari seorang cowok yang langsung bangkit dan berlari lagi. Zahra mendongak, mengenali sosok Raynold, siswa terkenal berandal di sekolah ini. Nafasnya ngos-ngosan, ekspresinya panik. Tak lama, suara langkah cepat terdengar dari arah belakang. Guru BK muncul dengan wajah merah padam.
"RAYNOLD! BERHENTI KAMU!"
Raynold menoleh sekilas, lalu makin ngebut. "GAK BISA, PAK! SAYA MASIH MAU HIDUP!"
Salah satu siswa lain yang melihat kejadian itu berbisik pelan ke temannya, tapi Zahra masih bisa mendengar. "Katanya ketahuan bawa HP… lagi nonton bokep pas jam kosong."
Zahra menghela napas, memungut bukti pembayaran SPP-nya yang terlempar ke lantai. Lututnya terasa sedikit perih karena terbentur. Sementara itu, suasana koridor kembali normal seolah tak terjadi apa-apa. Zahra berdiri perlahan, merapikan jilbabnya, lalu berjalan menuju kelas tanpa berkata apa pun. Minggu pertama sekolah, dan dua kesialan mulai muncul. Sekolah aneh. Masyarakat sudah tahu sekolah ini sekolah abal-abal, tapi Bapak bilang yang penting sekolah, urusan sekolahnya jelek atau engga mungkin Bapak gak tahu. Tapi, yang merasakan lingkungannya adalah Zahra
Zahra tiba di rumah menjelang maghrib. Matahari sudah hampir tenggelam, meninggalkan langit yang memerah di ufuk barat. Langkahnya terasa berat, tetapi ia tetap masuk ke dalam rumah, meskipun hatinya penuh dengan rasa enggan. Di ruang tamu, Bapak sedang duduk sambil membaca koran tua yang dilipat rapi. Di sebelahnya, secangkir teh hangat terletak di meja kecil. Televisi di sudut ruangan menyala, menampilkan acara berita yang suaranya hampir tidak terdengar.
“Kamu kenapa pulang terlambat?” kata Bapak tanpa menoleh, suaranya datar.
Zahra hanya bergumam pelan, tidak ingin menjawab dengan kata-kata. Ia melewati ruang tamu menuju dapur, mencari sesuatu untuk dimakan. Lemari kayu di sudut dapur terbuka sedikit, memperlihatkan deretan biskuit dan makanan ringan. Zahra mengambil satu bungkus roti, lalu kembali ke kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
Di dalam kamar, Zahra duduk di atas tempat tidurnya. Ia membuka bungkus roti dengan perlahan, tetapi tangannya gemetar. Ia tidak benar-benar lapar. Kepalanya penuh dengan pikiran yang bercampur aduk. Kenapa semuanya berubah? Kenapa Bapak tidak bisa melihat bagaimana Zahra berusaha keras untuk menerima semua ini?
Ingatan tentang kelompok anak perempuan di sekolah tadi siang muncul kembali. Tatapan sinis mereka, bisikan yang mereka pikir Zahra tidak dengar. Semuanya membuat Zahra merasa seperti tidak memiliki tempat di dunia ini—baik di sekolah maupun di rumah.
Ponselnya bergetar di atas meja. Zahra melirik layar, tetapi tidak ada nama yang muncul, hanya nomor tak dikenal. Dengan malas, ia mengangkatnya.
“Halo?”
Suara laki-laki di seberang terdengar terburu-buru. “Ini Zahra, kan? Aku Raynold.”
Zahra terdiam. Nama itu asing baginya, tetapi suaranya terdengar familier. Ia mencoba mengingat-ingat, tetapi pikirannya terlalu lelah untuk bekerja.
“Aku yang tadi di koridor, waktu aku nabrak kamu sampe jatoh,” lanjut suara itu, kini terdengar lebih pelan.
“Oh,” Zahra menjawab singkat, masih tidak yakin kenapa orang ini meneleponnya.
Raynold yang biasa disapa Ray itu melanjutkan kalimatnya. “Maaf ya, tadi aku nggak sempat minta maaf langsung. Aku buru-buru dikejar BK. Tadi aku mau nolong kamu, tapi jarak guru Bk itu uda dekat banget, jadi ga bisa nolong kamu bangkit. Aku benar-benar ngerasa bersalah banget."
Zahra mendengus pelan, meskipun ia tahu Ray tidak bisa melihatnya. “Nggak usah dipikirin.”
Percakapan itu berakhir singkat, tetapi ada sesuatu dalam nada suara Ray yang membuat Zahra merasa aneh. Laki-laki itu terdengar… tulus. Dan itu sesuatu yang langka di hidup Zahra akhir-akhir ini. Anak itu duduk di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran tersebar di atas meja, tetapi Zahra tidak menyentuhnya. Pandangannya terfokus pada jendela di depan meja, yang menghadap langsung ke jalan kecil di luar rumah.
Bapak mengetuk pintu kamar, pelan. “Zahra, boleh Bapak masuk?”
Zahra tidak menjawab, tetapi Bapak membuka pintu sedikit, menyembulkan kepalanya. “Kita bicara sebentar, ya.” Zahra menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menghindar selamanya, meskipun ia ingin. Bapak masuk ke dalam kamar, membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkan cangkir itu di meja Zahra sebelum duduk di kursi kecil di sudut ruangan.
“Bapak tahu kamu masih marah,” kata Bapak, suaranya pelan tetapi terdengar tegas. “Dan Bapak nggak bisa menyalahkan kamu untuk itu.”
Zahra hanya diam. Ia menatap cangkir teh di depannya, tetapi tidak berniat menyentuhnya.
“Bapak cuma mau kamu tahu… semuanya nggak semudah yang kamu pikirkan,” lanjut Bapak. “Bapak nggak pernah bermaksud menggantikan posisi Mak kamu. Tapi hidup terus berjalan, Nak. Dan kadang, kita harus mengambil keputusan yang berat.”
Kata-kata itu membuat hati Zahra terasa perih. Bagaimana mungkin Bapak menganggap keputusannya itu hanya sebagai ‘keputusan yang berat’? Bagaimana dengan Zahra? Bagaimana dengan perasaan yang harus ia simpan sendirian selama ini?
“Apa Bapak pernah pikirin aku?” Zahra akhirnya membuka suara, meskipun suaranya bergetar. “Pernah nggak Bapak mikir gimana rasanya buat aku? Harus tinggal di rumah yang nggak lagi terasa seperti rumah, harus terima orang asing yang masuk ke hidup kita kayak nggak ada masalah?”
Bapak terdiam. Matanya menatap Zahra dengan penuh rasa bersalah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Zahra melanjutkan, suaranya kini lebih tegas. “Aku nggak butuh orang lain, Pak. Aku cuma butuh kita. Aku butuh Bapak yang dulu. Bukan Bapak yang sekarang.”
Setelah itu, kamar Zahra terasa hening. Hanya ada suara kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan. Bapak akhirnya berdiri.
“Bapak ngerti, Zahra,” katanya pelan sebelum melangkah keluar. “Tapi tolong, coba pahami juga Bapak. Kita nggak akan bisa maju kalau terus-terusan melihat ke belakang.”
Pintu kamar tertutup, meninggalkan Zahra sendirian dengan pikirannya.
Zahra memejamkan mata, merasa dadanya penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan. Ia tahu Bapak mencoba, tetapi Zahra merasa semuanya sudah terlalu jauh untuk diperbaiki.
Telepon dari Ray muncul kembali di benaknya. Suaranya yang ringan dan penuh semangat terasa seperti kontras yang tajam dengan apa yang Zahra rasakan saat ini. Mungkin… hanya mungkin, ada sesuatu yang bisa ia pelajari dari pertemuan singkat itu. Malam itu, Zahra memutuskan untuk mengangkat satu beban dari dadanya. Ia membuka ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Damar.
“Halo, Ka. Terima kasih sudah menelepon tadi. Maaf kalau aku terdengar dingin.”
Balasannya datang cepat. “Nggak apa-apa. Kalau ada yang bikin kamu sedih atau kesal, aku selalu siap dengerin.”
Zahra menatap layar ponselnya, terdiam untuk waktu yang lama. Mungkin ia memang butuh seseorang untuk mendengarkan, bahkan jika orang itu adalah seorang asing yang baru ia kenal.