Bab 3: Semua Laki-Laki Sama Saja

886 Words
Sinar matahari yang terik mulai redup saat Zahra duduk sendirian di taman kecil di belakang sekolah. Langit memerah, menandakan maghrib akan segera tiba. Seharusnya ia sudah di rumah sekarang, tetapi Zahra sengaja memperlambat langkahnya. Ia merasa belum siap pulang. Ponselnya bergetar di saku rok. Dengan malas, Zahra mengeluarkannya dan melihat nama Bapak di layar. Ia menghela napas, merasa berat untuk mengangkat panggilan itu. Tetapi ia tahu, jika ia tidak menjawab, telepon itu hanya akan terus berbunyi. “Halo,” Zahra berkata pelan, mencoba menahan nada frustrasi yang mulai muncul. “Zahra, kamu di mana? Sudah maghrib. Pulang sekarang,” suara Bapak terdengar tegas di seberang. Zahra menggigit bibirnya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin pulang. Tetapi sebelum ia sempat berbicara, Bapak melanjutkan, “Mereka sudah pulang. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kamu.” Perasaan lega bercampur amarah melanda Zahra. Jadi itu alasan Bapak menelponnya? Untuk memberitahu bahwa keluarga baru itu sudah pergi? Bukannya bertanya bagaimana perasaannya atau mencoba menjelaskan lebih banyak? Zahra mendengus pelan. “Zahra, kamu dengar Bapak ngomong, kan? Pulang sekarang,” suara Bapak terdengar lebih keras, mungkin karena Zahra belum memberikan jawaban. “Iya,” jawab Zahra singkat, lalu menutup telepon sebelum Bapak sempat berkata lebih banyak. Zahra berdiri dari bangku taman, membersihkan debu dari roknya. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju gerbang sekolah. Jalan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah membawa pikirannya kembali ke percakapan tadi. "Mereka sudah pulang." Zahra mengulang kata-kata itu di kepalanya. Apakah itu seharusnya membuat semuanya menjadi lebih baik? Seolah-olah masalahnya selesai begitu saja? Tidak. Baginya, masalahnya bukan hanya tentang mereka—bukan hanya tentang kehadiran istri baru Bapak dan anak-anaknya. Masalahnya adalah Bapak. "Semua laki-laki sama aja" pikir Zahra. Ingatan tentang almarhum ibunya kembali menyeruak. Betapa ibunya selalu mengutamakan Bapak, selalu sabar menghadapi segala kekurangan dan keburukannya. Tetapi apa balasan Bapak? Hanya beberapa minggu setelah Mak tiada, ia sudah membawa orang lain masuk ke dalam hidup mereka. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada penghargaan. Zahra berhenti di depan warung kecil di pinggir jalan, membeli sebotol air mineral. Ia menyesapnya perlahan, mencoba meredakan amarah yang membakar dadanya. Sampai di rumah, Zahra menemukan pintu utama tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan dan melangkah masuk. Rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya, tetapi tidak sepenuhnya hening. Dari ruang tamu, ia mendengar suara televisi menyala. Bapak duduk di sofa, mengenakan kaus oblong dan sarung. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap menoleh ketika Zahra masuk. “Kamu sudah makan?” tanya Bapak, suaranya terdengar lembut. Zahra tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil dan langsung menuju kamarnya. Pintu kamarnya ditutup dengan bunyi klik pelan, tetapi bagi Zahra, suara itu cukup untuk menjadi simbol betapa ia ingin menjaga jarak. Di dalam kamar, Zahra duduk di atas tempat tidurnya. Ia memandang ke arah jendela yang menghadap ke luar, tetapi pikirannya tetap berada di dalam rumah ini. Setiap sudut ruangan mengingatkan Zahra pada ibunya. Tirai yang dijahit tangan, foto keluarga yang kini terasa kosong, bahkan bau kamper yang menguar dari lemari. Zahra terbaring di atas tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Tetapi pikirannya terus bergerak, memutar ulang momen-momen yang ia ingin lupakan. Wajah perempuan itu, senyum ramahnya, suara anak-anak kecil yang bermain di ruang tamu. Semua itu terasa salah. Rumah ini bukan tempat mereka. Pagi harinya, Zahra bangun lebih awal dari biasanya. Ia sengaja pergi sebelum Bapak bangun, tidak ingin menghadapi percakapan yang mungkin terjadi di meja makan. Dengan ransel di pundak, Zahra meninggalkan rumah tanpa sarapan. Hari itu di sekolah, Zahra mencoba mengalihkan pikirannya dengan pelajaran. Tetapi seperti biasa, pikirannya tidak pernah sepenuhnya berada di kelas. Saat guru berbicara tentang materi yang tidak begitu menarik, Zahra malah menggambar sesuatu di buku catatannya—gambar pohon mangga di depan rumah, dikelilingi anak-anak kecil. Bel istirahat berbunyi. Zahra keluar kelas, berjalan menuju kantin. Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sekelompok anak perempuan yang sedang berkumpul di sudut koridor. Mereka tertawa kecil sambil berbisik, tetapi Zahra tahu mereka sedang membicarakannya. “Masa iya sih dia anak SMA?” bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk didengar Zahra. Zahra menghela napas panjang. Ia tidak peduli. Ia sudah terbiasa dengan tatapan sinis dan komentar negatif sejak masuk SMA ini. Penampilannya yang Islami—jilbab lebar dan baju longgar—membuatnya berbeda dari mayoritas anak di sekolah ini. Tetapi Zahra tidak peduli. Ia sudah cukup banyak menghadapi hal-hal sulit di rumah untuk peduli pada apa yang orang lain pikirkan. Saat Zahra berjalan melewati mereka, sekelompok anak perempuan itu terdiam, tetapi Zahra masih bisa merasakan tatapan mereka di punggungnya. Zahra menegakkan bahunya, mencoba terlihat tidak terpengaruh. Kembali ke kelas, Zahra mendapati dirinya duduk di bangku paling belakang. Ia membuka buku catatan, mencoba membaca ulang materi pelajaran. Tetapi pikirannya kembali melayang. Saat jam sekolah selesai, Zahra tidak langsung pulang. Ia berjalan ke taman kecil di belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia duduk kemarin sore. Taman itu kosong, hanya ada angin sepoi-sepoi yang membuat daun-daun bergoyang. Zahra duduk di bangku yang sama, memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan ketenangan yang ia butuhkan. Tetapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponselnya kembali bergetar, menampilkan nama Bapak di layar. Zahra menatap layar itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menolak panggilan tersebut. Ia butuh waktu. Waktu untuk menerima semuanya. Tetapi yang ia tahu sekarang, rasa kecewa dan amarahnya terhadap Bapak terlalu besar untuk diabaikan. Zahra hanya ingin sendiri, setidaknya untuk saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD