"Udah enakan?" tanya Febi setelah beberapa lama kami terduduk diam, aku hanya diam tidak menjawabnya. "Bentar ya aku belikan minum dulu." Dia langsung pergi begitu saja dan tidak lama kembali menyodorkan sebotol air minum botolan, Febi membukanya dan aku meminumnya pelan.
"Udah enakan nih, yuk jalan," kataku saat merasa sakit kepalaku mulai membaik.
"Yakin?" Wajah Febi masih saja cemas. Aku mengangguk, akhirnya kami berjalan perlahan menuju ke arah pintu gerbang. Melewati koridor menuju ke kelas, kemudian barulah ke pintu gerbang.
Mobil hitam yang merupakan jemputan Febi sudah menunggu di gerbang luar bersama beberapa mobil lainnya. Febi masuk lebih dulu disusul olehku, tidak lama mobil pun dijalankan.
"Eh, Feb tadi pas sebelum ujian kamu masuk ke gerbang utama ada nyium bau menyan gak?" tanyaku baru berani bercerita kepada Febi karena aku takut jika bercerita di sekolah.
"Enggak ada, yang aku cium tuh bau badan kamu." Febi tertawa. Dia memang seperti itu tidak pernah percaya hal-hal berbau gaib walau kami suka menonton film horor. Mungkin pengalaman yang akan aku ceritakan di rumahnya nanti bisa membuatnya percaya.
Sepanjang perjalanan aku dan Febi membahas tentang ujian yang tadi sudah kami lewati, kami mengulasnya kembali dan berdebat tentang jawaban yang benar nilai siapa yang paling tinggi nantinya. Tidak terasa sampai juga kami di rumah Febi yang begitu besar dan mewah, mobil itu memasuki sebuah parkiran mobil yang terdapat banyak mobil lain di dalamnya. Aku dan Febi turun kemudian kami masuk melalui pintu belakang. Setelah itu kami langsung ke lantai atas menuju ke kamar Febi yang luas.
"Jangan lupa bilang sama Mama dan Papa kamu kalau kamu nginep di sini," kata Feby mengingatkan. Aku mengangguk dan segera membuka ponsel kemudian mengirimkan pesan kepada papa dan mama.
Setelah itu kulihat koleksi kaset Febi yang sepertinya bertambah, " Gimana liburan kamu, Feb seru, gak?" tanyaku basa-basi, "oh, iya mana oleh-oleh buatku." aku menyodorkan tanganku ke wajah Febby.
Feby tertawa pelan "Kamu nih ya kalau soal oleh-oleh nggak pernah lupa, dan aku juga sebagai sahabat nggak pernah lupa dong beliin kamu oleh-oleh tenang aja." Febi kemudian turun dari kasurnya dan pergi menuju ke lemarinya yang besar itu, dia membuka lemari itu yang berisi banyak barang-barang tidak pernah aku ketahui sama sekali karena terlalu banyak barang di sana. Aku tetap asyik melihat koleksi kaset Febi yang menurutku banyak yang menarik dan inginku pinjam untukku tonton sesegera mungkin.
"Nih." Febi memberikan sebuah paper bag berwarna biru bermotif polkadot putih yang cukup besar kepadaku. Aku langsung membuka paper bag itu dan melihat banyak paper bag kecil lainnya yang ada di dalam.
"Uh, maacih sahabatku cayang," ujarku senang sambil mencubit pipinya sontak dia menepis tanganku. memang dia paling tidak suka pipinya disentuh, aku hanya tertawa sedangkan dia cemberut.
"Yaudah, ganti baju sana dah aku beliin baju baru buat kamu biar gak perlu pulang ke rumah kamu lagi." Febi membuka laci besar yang ada di bawah tempat tidurnya, laci itu berisi banyak makanan manis seperti donat, permen, lolipop dan lainnya. Febi memang sangat suka makanan manis, bahkan kulkas di kamarnya pun kebanyakan berisi makanan itu juga.
Dia mengambil coklat batangan, membukanya dan memakannya dengan mata terpejam begitu menikmatinya. Aku melihat ke meja rias Febi dan benar saja di sana ada baju yang masih ada cap pembeliannya ditulis juga catatan kecil berisi namaku, aku tertawa kecil sambil melihat ke arah sahabatku itu. Dia sama sekali tidak peduli dunia kalau sudah makan makanan manis.
Baju yang dibelikan Febi adalah baju tidur berwarna merah muda bergambar domba, malam ini akan aku pakai. "Feb, bagi makanan manisnya ya," kataku meminta izin.
"Aelah kayak sama siapa aja mau kamu habiskan juga gak masalah. Stok masih banyak." Febi tersenyum memperlihatkan sederetan giginya yang terkena cokelat aku tertawa. Bersama Febi memang selalu menyenangkan.
***
Aku segera ke kamar mandi Febi yang mewah saat sore telah tiba, ada bath up di kamar mandi itu. Persis kamar mandi di film luar negeri. Tiba-tiba aku merasakan tengkukku merinding aku menoleh, tidak ada siapa pun. Saat berganti pakaian aku merasa diawasi tapi tidak kupedulikan dan cepat-cepat aku selesaikan. Aku melipat pakaianku dan meletakkannya di plastik untuk dibawa pulang nantinya.
Sambil menunggu makan malam kami memakan camilan yang ada di kamar Febi sambil bercerita tentang liburan masing-masing. Febi menunjukkan banyak foto liburannya dan menceritakan suasana di sana seakan-akan aku bisa merasakan hal itu juga.
"Aduh capek juga nih ngerocos mulu, sekarang giliran kamu dong, Gen. Kamu liburan ke mana?" Febi meminum jus dari botol yang ada di hadapannya itu.
"Cuma ke rumah nenek aja, gak ada yang spesial," jawabku, aku mengurungkan niatku untuk bercerita tentang kejadian yang aku alami di sana karena aku tau Febi tidak akan percaya dan hanya berkata itu mimpiku yang panjang dan kebanyakan nonotn film horor, itu alasan pertama. Alasan kedua karena aku tidak mau merusak suasana bahagia ini bersama Febi, dan ketiga mengingat hal itu membuat merinding seketika.
"Eh, aku baru inget tadi kamu kenapa kok tiba-tiba bisa pusing gitu?" Febi m******t jarinya yang ada lumeran cokelat di sana.
"Ih, jorok tau Feb," komentarku, "gak tau mungkin kebanyakan begadang kali ya karena ujian masuk itu." Aku mengambil botol minuman yang sama dengan milik Febi dan meneguknya.
"Tuh, kan. Kamu mah kalau apa-apa selalu maksain diri, udah aku bilangin berulang kali," omelnya.
"Iya-iya Mama keduaku. Kan sekarang udah gak apa-apa," jawabku sambil tersenyum.
"Non, makan malamnya udah siap!" teriak asisten rumah tangga Febi yang membuat percakapan kami terpotong, dan membuat aku bersyukur agar tidak diomeli Febi lebih lanjut.
"Nah, pas banget aku udah laper." Kami kemudian keluar dari kamar menuju ke lantai bawah. Orangtua Febi akan pulang larut malam mungkin saat kami sudah tidur nantinya, aku yang notabennya sahabat dekat Febi tentunya tau.
***
Setelah makan malam kami menonton semua kaset terbaru yang Febi beli, karena besok juga belum ada pengumuman kelolosan dan harus menunggu beberapa hari. Dengan ditemani banyak camilan, dan juga minuman kami menonton film sampai larut malam. Kemudian setelah mengantuk kami pun tidur, Febi tidur lebih dulu daripada aku. Aku menghabiskan film terakhir yang akan kutonton hari ini sampai selesai, setelah itu membereskan semuanya.
Baru saja aku akan menutup mataku tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berasal dari jendela Febi. Aku melihat ke arah Febi yang ada di sebelahku, dia sudah tertidur pulas.
Perlahan aku berjalan ke arah jendela Febi dan membukanya, ternyata ada orang bertopeng badut yang sedang melempari jendela kamar Febi dengan batu kecil. Salah satu batu kecil itu masuk ke dalam melalui fentiliasi yang berada di atas jendela.
Kututup kembali gorden jendela kamar Febi. Aku takut, tapi tidak bisa aku membiarkan maling membobol rumah sahabatku ini. Tapi setelah dipikir-pikir kenapa maling melempar batu ke arah kaca jendela Febi yang bisa menyebabkan pemiliknya tau, ini sangat aneh.
Aku mulai berpikir keras dan satu-satunya yang terlintas adalah orang itu mau meneror Febi. Aku membuka lagi gorden jendela itu, dan sudah tidak ada siapa pun di bawah sana. Saat itu entah kenapa panggilan buang air kecil menyerbu.
Segera aku berlari kecil ke arah kamar mandi, dan alangkah terkejutnya aku melihat seseorang bertopeng badut yang tadi ada di luar sekarang ada di kamar mandi milik Febi. Saat aku hendak berteriak dia membekap mulutku dengan tangannya yang memakai sarung tangan hitam itu. Berontak pun percuma karena tenagaku kalah kuat darinya.
"Berikan benda itu," bisiknya ditelingaku dengan suara serak membuat sekujur tubuhku merinding. Air mataku sudah membasahi pipi tidak dapat dibendung lagi.