Febi yang dijeriti malah tertawa cekikikan, akhirnya kami kejar-kejaran sampai ke bawah dan meja makan.
"Eh, jangan lari-larian kalian, bahaya!" kata mama memperingati. Kami langsung berhenti berlarian.
"Muka kamu kenapa, Dek kok putih semua?" tanya papa sambil menahan tawa begitu juga dengan mama dan Febi.
"Tuh, gara-gara si tembem," jawabku sambil cemberut.
"Yaudah sana cuci muka dulu sama tangannya sekalian." Akhirnya tawa papa, mama dan Febi pecah seketika.
Aku pergi ke kamar mandi dengan Febi yang membuntuti di belakang. Kami berbarengan ke kamar mandi, dan aku mencipratkan air di gayung ke Febi untuk balas denda.
"Ih, Genta!" serunya dengan wajah cemberut. Aku tertawa puas, setelah itu baru aku cuci wajahku dan mencuci tangan. Setelahnya kami kembali ke meja makan dan bersiap makan malam bersama.
"Kok gak ada nasi goreng?" protesku.
"Nasi goreng mulu, makan sayur!" jawab Febi dengan ketus, wajahnya masih cemberut karena marah.
"Nah, bener itu," timpal mama membela Febi.
"Lha, kok jadi belain Febi sih Ma?"
"Lha kan emang aku bener, wlek." Febi mengulurkan lidahnya.
Aku melihat ke arah papa dengan tatapan memelas minta dibela juga. Tapi papa seakan tidak peka sama sekali dan malah menghindari tatapan memelasku, setelah itu papa malah tertawa.
"Ehem, bener kata Febi Dek banyak makan sayur biar tembem kayak dia," kata papa akhirnya setelah tawanya reda. Akhirnya papa membelaku, membuat Febi tambah cemberut aku gantian menjulurkan lidah dan tertawa penuh kemenangan.
***
Sesampainya di kamar aku langsung membuka pintu dan saat itu pula kami melihat seseorang dengan pakaian serba hitam dan topeng badut yang meneror kami saat di rumah Febi masuk ke dalam kamarku. Dia mengacak-ngacak laci nakas. "Woi!" panggilku dengan marah bercampur takut. "Febi panggil Papa dan Mama di bawah!" seruku. Febi langsung pergi ke bawah.
Setelah kupanggil, dia menoleh dan detik berikutnya langsung berlari keluar kamar melalui jendela kamar yang sudah terbuka. Aku mengejar ikut melalui jendela kamar, ternyata di sana ada tangga sehingga mudah untuk turun.
Aku berlari sekuat tenaga untuk mengejarnya, larinya sangat cepat sampai tidak kekejar. Akhirnya saat sudah diambang batas dengan napas tidak beraturan aku hanya bisa melihat orang itu pergi menjauh, dia melihat ke belakang sebentar dan terus berlari setelahnya.
"Genta!" panggil mama. Aku menoleh, mereka menyusulku ternyata. Papa juga membawa sebuah kayu yang cukup besar.
"Mana malingnya?" tanya Febi sambil ngos-ngosan.
"Udah lari jauh, gak bisa dikejer," jawabku dengan napas ngos-ngosan juga.
"Yaudah gak apa-apa yang penting kamu selamat, Sayang." Mamam memelukku.
"Aduh," rintihku saat merasa ada yang mencubitku, kulepas pelukan mama.
"Papa yang cubit," kata papa seperti tau apa yang aku pikirkan, "kamu tuh ya, Dek nekat banget ngejernya. Gimana kalau itu penjahat bawa s*****a tajam dan kamu diserang."
Aku tertunduk "Maaf, Pa."
"Yaudah, ayo masuk!" seru papa merangkul kami semua masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah kami duduk dengan wajah lesu dan pikiran masing-masing yang mengelana, sunyi menyergap. "Ma, Pa, kami ke kamar dulu mau lihat barang-barang di kamar Genta dan nutup jendela," ujarku setelah rasa lelahku sedikit berkurang.
Tanpa menunggu jawaban aku dan Febi langsung ke kamar kami melihat beberapa barang yang acak-acakan tanpa satu pun ada barang berharga yang hilang membuat aku berkerut dahi, bingung. "Gak ada yang hilang, hp, tablet, gak ada yang hilang," kataku.
"Iya, kok aneh?" tanya Febi ikut bingung.
"Yaudah ayo kita bereskan sambil kita pikirin hal ini," kataku yang disahuti anggukan dari Febi. Kami akhirnya membereskan barang-barang yang berantakan itu walau tangan yang membereskan sering terhenti karena masih terus berpikir tentang hal aneh ini. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otakku.
"Kamu yakin masih ingin nginep di sini padahal kamu lihat sendiri di sini juga gak aman, bukan maksudnya aku ngusir tapi aku takut kamu jadi tambah takut," tanyaku pada Febi sambil duduk di kasur.
"Gak, aku gak mau pulang ke rumah. Walau pun di sini gak aman, tapi seengaknya kalau ada kamu aku merasa lebih tenang." Febi menatapku dengan mata berkaca-kaca dan refleks aku memeluknya. Aku rasakan bahwa tubuh Febi yang lebih gembul dariku itu bergetar. "Kamu nangis?" tanyaku. Febi menggeleng, tapi bisa aku rasakan air matanya menetes ke bajuku.
Kami berdiam dalam posisi berpelukan seperti ini selama beberapa menit. "Kamu udah tenang?" tanyaku kemudian, Febi melepaskan pelukanku dia mengangguk dengan pipi basah bekas jejak air mata yang mengering. "Nonton aja, yuk," ajakku agar Febi bisa lebih tenang. Febi menangguk, akhirnya kami menonton dengan pikiran yang jujur masih menggantung di kepalaku. Entahlah dengan Febi sendiri, asalkan dia tenang aku juga lega.
Kami akhirnya menonton, tapi tidak bisa aku fokus menonton film yang ada di hadapanku itu. Pikiranku masih penuh tanda tanya, sambil terus makan camilan yang ada aku terus memikirkan hal itu.
"Ngapain ngajak nonton kalau pikiran kamu melayang?" tanya Febi. Aku melihat ke arahnya yang memandangku dengan intens.
"Ya, ya maaf. Habis masih kepikiran," jawabku jujur.
"Kalu gitu kita bahas aja gimana?" tanya Febi. Dia kemudi mematikan tablet miliknya dan mengambil sebuah buku di dalam tasnya beserta pulpennya juga. Kemudian kembali duduk di sebelahku.
"Mau dicatet?" tanyaku Febi mengangguk kemudian tangannya mulai bergerak untuk menulis.
"Pertama waktu pertama kali kejadian itu terjadi di rumah aku. Dia bekap kamu di toilet terus gak nyakiti kamu, yang kedua dia terang-terangan ngacak-ngacak rumah kamu tanpa barang berharga yang diambil. Ditambah lagi dia neror kita sampai pasang kamera tersembunyi," kata Febi sambil menuliskan apa yang dia katakan.
"Jangan lupa dia selalu menyebut benda itu," ujarku mengingatkan.
"Oh, iya itu." Febi menjentikkan jarinya kemudian menuliskan hal itu. "Tapi, kira-kira benda itu yang dimaksud apa ya?" Febi mencoret-coret kata benda itu membuat lingkaran dan tanda tanya yang banyak.
"Apa mungkin itu motif dia ngincer kita?" tanyaku sambil meletakkan telunjuk di dagu.
"Bisa jadi, tapi benda apa yang kita punya sampai bisa diincer?"
"Gak tau juga." Kami mengembuskan napas kasar, merasa buntu. "Kamu suru aja Ayah kamu nyelidiki deh, Feb. Pusing nih mikirinnya," gerutuku.
"Iya, itu sih udah pasti." Febi menutup bukunya dan kemudian memakan cokelat batangan yang ada di depannya. Aku juga ikut membuka camilan yang lain dan memakannya.
***
Suara berisik membuat aku membuka mata dengan berat, aku melihat sekeliling yang masih berantakan ternyata kami ketiduran semalam setelah lelah memikirkan hal aneh yang terjadi itu. Aku melihat sekeliling kamar yang berantakan dengan banyak camilan yang berserakan di lantai kamar, kami juga tertidur di lantai. Aku mencoba berdiri walau masih sempoyongan, badanku terasa sangat pegal.
Saat melihat suara berisik itu ternyata suara itu berasal dari ponsel dan tablet Febi, dia memasang alarm ternyata. Dan saat aku lihat bacaan berupa pengingat di ponsel Febi saat akan mematikan alarmnya mataku membelalak.
"Febi bangun! Hari pengumuman hari ini!" jeritku ke kuping Febi membuat dia gelagapan.
"Yaudah kalau gitu ayo makan," katanya. Sepertinya dia masih mengigau.
"Kok makan, yang bener itu siap-siap pergi ke sekolah liat pengumuman lolos atau gak," kataku. Aku segera menuju ke kamar mandi yang ada di kamar membiarkan Febi masih terkantuk-kantuk dengan mata berat.