Bagas Rendra Baskara

1384 Words
Bagas Rendra Baskara, hidup sebatang kara dengan kekayaan yang tidak tanggung-tanggung. Ia pemilik dari perusahaan Baskara Group yang bergerak diberbagai bidang salah satunya dibidang property. Perusahaan yang sudah berdiri kurang lebih dua puluh tahun dengan mempekerjakan sekitar ratusan ribu karyawan. Perusahaan ini didirikan oleh orang tua Bagas dan setelah orang tuanya meninggal maka Bagas lah yang melanjutkan semuanya. Bagas masih berusia 27 tahun tetapi ia sudah mampu memimpin perusahaan dengan sangat baik. Semua wanita pasti sangat menginginkan dirinya menjadi pasangan tetapi sampai detik ini Bagas tidak tertarik dengan urusan percintaan. Ia hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja saja. Meskipun begitu, banyak orang yang berusaha mendekatinya termasuk anak dari kliennya. Bagas sudah terbiasa untuk bangun pagi, ia langsung membersihkan diri. Jujur saja ia masih mengantuk karena lembur menyelesaikan pekerjaan. Bagas hanya mempercayai 2 orang, pertama adalah Vero yang merupakan sahabat Bagas sejak kecil dan yang kedua adalah Romi yang merupakan Ayah dari Vero. Romi sudah bekerja sejak perusahaan ini pertama kali didirikan. Jabatan Romi juga tidak tanggung-tanggung, Bagas tidak segan memberikan jabatan yang tinggi karena Romi sudah lama bekerja dengan orangtuanya. "Makananya sudah siap Mas." Suara itu hampir setiap hari menyapa indera pendengarannya. Dia adalah orang yang sangat dekat dengan Bagas, bahkan dirinya sudah menganggap Bu Lena sebagai orang tuanya sendiri. Dia dan suaminya yang menemani hari-hari sepi Bagas di rumah. "Terima kasih Bi," ujar Bagas. Ia langsung melahap makanan untuk mengisi perutnya. Bagas tidak seperti pimpinan perusahaan lainnya yang harus memiliki supir pribadi, dia cenderung tidak ingin orang asing satu mobil dengan dirinya. Bagas berangkat ke kantor dengan mobil yang sangat mahal, dia seperti seorang yang menghambur-hamburkan uang. Tentu saja dengan kekayaan yang sekarang, Bagas bingung untuk menghabiskan uang kemana. Dia sudah lelah liburan baik di dalam dan di luar negeri. Bagas datang dengan disambut oleh beberapa pengawal dan juga para karyawan perusahaan. Pagi ini Bagas memakai setelan jas berwarna hijau tua dengan kemeja dalam berwarna hijau muda. Orang-orang langsung pangling melihat penampilan Bagas yang sangat menggoda, siapa yang tidak jatuh hati dengan dirinya. "Selamat pagi Pak." Sambut mereka. Bagas memberikan senyum sebagai respon, setelah itu ia langsung berjalan memasuki lift khusus menuju ke ruangannya. "Gila banget, tiap pagi lihat pemandangan yang luar biasa. Ini yang buat gue betah kerja di sini," ujar salah satu karyawan. "Gantengnya nggak tanggung-tanggung, mata gue sampai insecure liat Pak Bagas." "Kalau pelet nggak dosa, udah gue pelet tu Pak Bos." "Jangan banyak gosip! Kerja sana." Banyak lagi penilaian orang-orang tentang diri Bagas, ia terkenal ramah dan sangat baik. Jika ada divisi yang sedang lembur dan kebetulan Bagas belum pulang maka ia tidak akan segan untuk memesan makanan untuk karyawan yang lembur. Gaji di perusahaan Baskara Grup juga lumayan tinggi, apalagi bonus yang bisa didapatkan siapapun. Jika tidak dipecat, maka tidak ada yang akan mengundurkan diri. Bagas tengah sibuk bermain games, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Tidak ada yang berani melakukan hal tersebut kecuali hanya Vero saja. Dugaan Bagas salah. "Maaf Pak, saya sudah melarang Ibu Rena masuk." Sekretarisnya langsung meminta maaf karena tidak bisa menghentikan Rena untuk masuk. Rena adalah anak dari salah satu klien, dia juga merupakan selebgram yang terkenal dimana-mana. Bagas menyuruh sekretarisnya untuk keluar. "Kenapa nggak angkat telpon aku Mas?" Satu kata yang menggambarkan perasaan Bagas sekarang. Jijik! Ya dia sangat jijik dengan perempuan sok manja padahal Bagas baru 2 kali bertemu dengan Rena dan itu pun bukan karena keinginannya. "Mas!!" rengek Rena. Dia memang cantik dan juga sexy, tetapi sayangnya Bagas tidak tertarik sama sekali. "Anda siapa?" Rena langsung terdiam tidak percaya. "Anda siapa?" beonya. "Anda siapa sehingga memanggil saya dengan sebutan Mas?" ujar Bagas lagi. "Kamu nggak kenal aku?" Mungkin baru kali ini ada orang yang pura-pura tidak mengenal Rena, bayangkan saja followers instagramnya mencapai 6 juta orang. Apalagi Rena anak dari pemilik perusahaan kosmetik. "Apa keuntungan buat saya jika mengenal Anda?" Rena tidak bisa menjawab. Dia tidak pernah berada dalam suasana seperti ini. "Jadi silahkan keluar! Pintunya sebelah sana," ucap Bagas malas. Ia kembali fokus pada ponselnya, bisa-bisanya waktu bermain games diganggu seperti ini. Untung saja mood Bagas sedang baik hari ini sehingga ia tidak akan marah. Rena tidak juga keluar. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak, dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini. "Jangan mentang-mentang anda kaya dan ganteng sehingga bisa merendahkan orang seenaknya, " ujar Rena tajam. Bagas memejamkan matanya sejenak, kenapa paginya tidak pernah tenang? Selalu saja ada orang yang ingin menemui dirinya. "Kapan saya merendahkan Anda? Maaf saya tidak ingin bermain drama dengan Anda jadi silahkan keluar!" Rena mengepalkan tangannya menahan emosi, padahal saat bertemu kemarin Bagas sangat ramah dan baik. Bahkan saat Rena meminta kontaknya, Bagas langsung memberikannya. Apa karena saat itu ada Ayahnya sehingga Bagas mencoba mencari muka? Terlalu memuakkan, pikir Rena jika memang itu kenyataanya. "Jadi ini sifat asli kamu, kemarin kamu manis sekali seakan-akan menerima kehadiran aku. Apa karena kamu takut Papi akan menolak bekerja sama?" Rena tertawa dengan cukup keras tetapi hanya beberapa detik saja. Setelah itu ia menatap tajam Bagas. "Saya bersikap sebagaimana mestinya, apa kamu tertarik dengan saya?" "Ya aku memang tertarik dengan kamu." "Tertarik dengan wajah atau uang saya? Jika tertarik dengan wajah saya, maka saya bisa menyuruh laki-laki lain untuk menjalankan operasi plastik. Jika tertarik dengan uang saya, Anda butuh berapa?" Rena tidak tinggal diam, ia langsung mengambil gelas minuman yang berada di atas meja dan menyiram isinya pada wajah Bagas. Gelas itu berisi kopi sehingga pakaian Bagas benar-benar menjadi kotor. Bagas mencoba menahan diri, dia bisa saja melempar Rena keluar sekarang juga. Bagas mengambil tisu dan menyeka wajahnya. "Kamu sudah keterlaluan, saya tidak butuh uang kamu. Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membuat citra kamu hancur dalam hitungan detik." Rena tersenyum meremehkan. Ia akan memposting semua keburukan Bagas pada seluruh akun sosial medianya, tentu saja dia akan membuat drama sebagai pemanis. Followers nya pasti akan langsung menyerang Bagas. "Saya sudah berusaha menahan diri, jangan salahkan saya jika kamu menjadi gila setelah ini," balas Bagas. Ia menelpon seseorang dan dalam hitungan detik Rena berteriak heboh karena semua akun sosial medianya hilang. Tidak hanya sampai disitu, Bagas juga menghentikan kerjasama dengan perusahaan kosmetik milik ayahnya Rena. Bagas tidak akan rugi sama sekali. "Kenapa dibatalkan Pak?" Bagas sengaja mengeraskan suara panggilan tersebut. Rena tentu tidak asing dengan suara tersebut. "Bapak bisa tanyakan kepada putri kesayangan Bapak, saya tidak mau menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak penting," jawab Bagas. "Maksud Bapak apa? Kenapa bisa putri saya di sana?" "Dia menyiram saya dengan kopi, tolong ajarkan putri Bapak tata krama yang baik." Setelah mengatakan hal itu, Bagas langsung memutuskan panggilan. Ia melempar ponsel ke lantai sehingga Rena berteriak ketakutan. Orang waras mana yang tiba-tiba melempar ponselnya ke lantai sampai hancur begitu. Rena benar-benar salah menilai Bagas. "Saya bahkan bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini, jadi sebelum hidup Anda hancur seperti ponsel itu silahkan keluar dan jangan pernah tampakkan wajah Anda di depan saya lagi." Sebelum hal lebih buruk terjadi, Rena langsung keluar dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir. Tubuhnya bahkan masih bergetar hebat karena ketakutan. Bagas memanggil sekretarisnya. "Ada apa Pak?" Tio masuk dengan jantung yang berdetak cepat. Ia takut dipecat karena tidak bisa menghentikan Rena untuk masuk. "Segera bersihkan ruangan saya, jangan ada jejak perempuan itu yang masih tertinggal." Tio mengangguk, ia memanggil petugas kebersihan perusahaan. Tio sedikit lega karena atasannya tidak marah atau bahkan memecat dirinya. Bagas memilih untuk masuk ke dalam ruangan khusus untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Moodnya benar-benar hancur, untuk itu Bagas mengambil bungkus rokok yang berada di dalam laci. Ia memilih untuk menghabiskan beberapa puntung rokok. Rena pulang dalam keadaan kacau. “Kamu kenapa?” tanya Maminya dengan raut wajah khawatir. “Bagas merendahkan aku Mi,” adu Rena. Mami Rena marah besar, siapa yang berani merendahkan anak satu-satunya ini. “Mami mau kemana?” “Mami akan membuat perhitungan dengannya, enak saja merendahkan anak Mami.” Belum sempat Mami melangkah, Papi Rena sudah pulang. Dia mencari keberadaan Rena. “Kamu melakukan apa?” bentak Papi. Rena kaget, selama ini Papinya tidak pernah membentak dirinya. “Kamu kenapa bentak Rena Mas? Dia baru saja direndahkan oleh Bagas.” “Kamu tanya sendiri sama anak yang nggak tahu diri ini, bisa-bisanya dia menghancurkan kerja sama yang sudah lama aku inginkan.” Rena hanya bisa menangis. Ia ternyata salah memilih lawan karena sekarang hidupnya hancur dalam hitungan detik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD