Pak Kusumo merasa kesal karena sudah lama menunggu di dalam toko perhiasan. Namun, Lysia belum kunjung datang menemuinya.
"Kemana gadis itu? Kenapa sampai sekarang belum juga muncul?" geram Pak Kusumo. Padahal dia sudah menyiapkan beberapa pilihan perhiasan saset yang akan ditujukan kepada Lysia. Sayangnya sudah setengah jam menunggu Lysia masih belum juga menunjukan batang hidungnya.
"Pak, jadinya mau yang mana? Ketiga perhiasan ini adalah yang terbaik di toko kami," terang penjaga toko dengan ramah.
"Sebentar, saya sedang menunggu seseorang," balas Pak Kusumo dengan datar.
Sebenarnya penjaga toko sudah merasa kelelahan dan sebentar lagi, toko akan ditutup karena sudah mulai larut malam. Namun, Pak Kusumo masih saja terus memilah dan memilih perhiasan yang dikatakan akan dibeli. Namun, belum kunjung juga dibeli dan terus mengatakan sedang menunggu seseorang.
Setelah beberapa saat menunggu, penjaga toko pun tidak punya pilihan lain selain mempercepat transaksi agar bisa segera menutup toko ini. Semua pelanggan pun sudah pergi karena memang ini sudah larut malam dan waktunya toko untuk tutup.
"Maaf, Pak. Toko akan segera ditutup, jadi silahkan perhiasan mana yang akan bapak ambil," ucap penjaga toko dengan sopan.
Pak Kusumo kesal, dia tahu kalau penjaga toko ini mengusirnya secara halus.
Sedangkan di tempat lain, rupanya Lysia sudah berjalan lumayan jauh dari tempat toko perhiasan tadi.
Jaket yang dia kenakan bisa menutupi bagian tubuhnya. Namun, kakinya yang jenjang masih terekspos karena dia masih mengenakan rok mini.
"Semoga saja aku bisa sampai di tempat Arini secepatnya," gumam Lysia berniat pergi ke tempat sahabatnya Arini.
Jarak rumah Arini dari tempatnya kini hanya beberapa kilometer, walaupun Lysia tidak tahu kapan bisa sampai. Namun, dia akan terus berusaha.
Di seberang sana ada beberapa preman yang sedang mabuk, Lysia sungguh tidak memperhatikan orang-orang yang akan dilewati karena tatapannya terus saja tertunduk.
"Hai, manis. Mau kemana kau malam-malam begini?" satu dari mereka langsung menghadang Lysia.
Lysia pun terbelalak, dia bernafas dengan tersengal-sengal. Menelan saliva yang terasa seret. Bagaimana situasi sekarang sungguh mencengkam perasaan Lysia.
"Maaf, tolong jangan ganggu saya. Saya ingin pergi," jawab Lysia masih sambil menunduk.
Para preman itu pun tidak menghiraukan Lysia dan langsung saja mengelilingi tubuh gadis yang sedang ketakutan itu.
Lysia menatap sekeliling dan melihat tampang melecehkan dari semua wajah preman ini.
'oh Tuhan, apalagi ini?' dalam batin Lysia.
"Awas ada mobil!!!" teriak Lysia membuat semua orang menoleh ke telunjuk Lysia.
Lysia pun langsung berlari secepat mungkin saat semua preman itu lengah.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran membuat Lysia sampai terjatuh di hadapan seseorang yang sungguh mengejutkan dirinya.
Pria itu mengenakan jas berwarna navy dengan kaos berwarna hitam. Mengenakan setelan jas mahal dan sedang melipat tangan di d**a sambil menatap para preman yang berada di depannya. Sedangkan Lysia, posisinya saat ini sedang berlutut di hadapan Ivander karena terjatuh tadi.
"Iv-ivan … Ivander?" gumam Lysia terkejut karena bisa terjatuh di depan Ivander saat ini. Bagaimana bisa Ivander muncul begitu saja?
Asisten Ivander langsung saja melewati tubuh Lysia dan langsung menghajar para preman itu dengan secepat kilat.
Mematahkan, menendang dan menampar mereka satu persatu. Bagi Davidson, menyerang empat orang preman yang mabuk itu sebuah hal mudah baginya.
Sedangkan Ivander masih dalam posisinya dan menatap Lysia yang terlihat berantakan.
"Apa yang kau lakukan Felysia Kirania?" tanya Ivander dingin.
Lysia menatap rahang tegas dan wajah dingin pria mafia itu.
"Menurutmu?" balas Lysia dingin dan mencoba untuk berdiri, tapi rupanya kakinya terkilir sehingga membuatnya kesulitan untuk berdiri.
"Bangun!!!" bentak Ivander kepada Lysia.
Davidson, pun membuat para preman pergi dan kembali memposisikan diri di belakang Ivander.
"Apakah kau tidak lihat kakiku terkilir?" ungkap Lysia menatap Ivander yang tidak menatapnya. Ivander malah menatap ke arah lain saat ini.
Sedangkan Davidson, dia sedikit berdesir ketika melihat paha mulus milik Lysia yang terekspos sempurna.
Ivander langsung berjongkok dan hal itu membuat Lysia menatapnya heran.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lysia, takut kalau dia akan dipegang oleh Ivander.
Ivander tidak membalas ucapan Lysia dan langsung saja menarik kaki Lysia yang masih menekuk dan meluruskannya dengan kasar.
"Pelan-pelan," teriak Lysia merasa kesakitan.
Trek!!!
"Arghhhh …," jerit Lysia.
Kejadiannya begitu cepat, dengan dingin dan tanpa bisa di tebak apa yang akan dilakukan oleh Ivander. Rupanya dia langsung membetulkan kaki Lysia yang terkilir itu dan membuat Lysia menjerit dan meringis karena Ivander membetulkan pergelangan kakinya yang menyebabkan rasa nyeri luar biasa.
"Ayo bangun," titah Ivander dengan dinginnya.
Lysia menatap heran pria itu, pasti dia menolong Lysia hanya karena ingin menjual dirinya dan mendapatkan keuntungan. Bagaimana ini? Bagaimana lagi cara Lysia agar bisa melarikan ini?
Lysia pun dengan tertatih mencoba untuk berdiri, tapi sayang tubuhnya kembali ambruk ke aspal.
"Arg," ringis Lysia saat bokongnya kembali menyapa aspal jalan.
Ivander yang kesal langsung saja meraih tubuh Lysia dan membopongnya masuk ke dalam mobil.
Lysia tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Ivander dan mencoba untuk berontak.
"Berhenti!!! Apa yang kau lakukan?" ucap Lysia yang sedang berada di gendongan Ivander.
"Diam gadis lemah!" maki Ivander. Sedangkan Davidson hanya mengekor saja dari belakang dan sekarang mulai memasuki mobil untuk mengemudi.
Mereka bertiga pun langsung berada di dalam mobil dengan raut wajah Lysia yang geram karena kembali tertangkap.
"Apa gunanya lari?" gerutu Ivander yang saat ini sedang berada di samping Lysia. Mereka berdua duduk di kursi belakang.
Lysia mendengus dan menatap ke arah jalan. Dia sama sekali malas untuk menatap ke arah samping dimana Ivander berada.
"Kenapa kau menangkapku? Padahal aku akan menikah dengan Pak Kusumo," terang Lysia angkuh.
"Apakah kau salah? Pak Kusumo yang datang dan mengatakan kau meninggalkan dia. Sehingga aku pun harus turun tangan untuk membawamu kembali kepadanya. Bukannya kau akan menikah dengan pria tua itu?" kesal Ivander tersenyum miris, lalu melanjutkan ucapannya, "lantas, mengapa kau lari darinya saat dia memilih perhiasan untuk mahar kalian?"
Degh …
Lysia tersentak, dia tidak mau kalau harus kembali kepada pria tua itu, dia sudah asal bicara, dan sekarang apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin kembali ke rumah bordil itu lagi. Akan tetapi, juga tidak ingin menikah dengan pria tua itu maupun Ivander.
Ivander menyunggingkan bibirnya saat melihat raut wajah cemas Lysia dibalik kaca spion depan mobil.
"Aku tidak mengerti bahwa kau rupanya lebih memilih pria tua daripada menikah denganku," tekan Ivander masih menatap reaksi wajah Lysia yang pucat pasi.
"Aku tidak mau menikah denganmu juga dengan Pak Kusumo," lirih Lysia pelan.
"Semua gadis mengejarku, Lysia. Akan tetapi, apa yang kau lakukan? Kau malah menolak dan memilih untuk menjual diri di rumah bordil milikku." Ivander tertawa sambil menggelengkan kepala. Entah apa yang saat ini Ivander rencanakan.
"Kau adalah seorang mafia, kau begitu b******k, b******n yang benar-benar aku benci. Jadi, aku tidak ingin menikah denganmu!"
"Aku tidak akan memaksamu, Lysia. Namun, aku akan menikahkan kamu dengan Pak Kusumo pilihanmu. Dia rela membayar berapapun yang aku minta."
Lysia terdiam, dia sungguh tidak mau menikah dengan Pak Kusumo. Rasanya dia sudah terjebak dengan rencana dan kata-katanya sendiri saat ini.