Bab 8

1018 Words
"Aku akan keluar menemani pelanganku. Dia sudah membayar mahal agar bisa aku temani. Jadi, tolong jangan menghalangi," terang Lysia dengan tangan yang menggandeng lengan Pak Kusumo. Pak Kusumo pun tersenyum dan mencolek dagu Lysia, "ya, kami akan pergi bersenang-senang diluar. Kenapa kalian menghalangi kami? Kalian tahu sendiri bahwa saya sering kemari dan membawa setiap wanita keluar masuk dari sini kan?" "Ya saya tahu kalau Anda pelanggan setia disini. Akan tetapi, masalahnya Nona Lysia tidak bisa keluar dari sini sama sekali," tahan penjaga itu. "Apakah saya harus membayar lagi? Padahal saya sudah membayar double agar bisa mengajaknya keluar," tanya Pak Kusumo kepada para penjaga yang masih menghalangi jalannya dan Lysia. Sedangkan Lysia, ia sedang merasa geram. Rupanya Ivander benar-benar sangat menjaganya dengan ketat, sampai -sampai dia tidak bisa menemani pelanggan untuk keluar. Padahal Ini adalah salah satu kesempatan emas agar bisa keluar dari sini, dengan menggunakan Pak Kusumo. "Pak apakah Anda rela untuk membayar lebih, agar kita bisa keluar?" tanya Lysia dengan manja. Sungguh dia harus bisa memikat Pak Kusumo agar bisa keluar dari sini. "Tentu saja Lysia. Tentu," jawab Pak Kusumo. Di tempat lain, rupanya Ivander sedang menuruni mobil. Ada benda yang tertinggal di dalam rumah bordil miliknya dan harus dia ambil secepatnya. Namun, Ivander tertegun sejenak tatkala melihat Lysia yang sedang bergelayut manja di rahang pria tua. "Gila … ku tahu wanita itu wanita baik. Semua yang sudah aku lakukan demi dirinya. Namun, apa yang tengah aku lihat? Rupanya dia wanita gatal? Pantas saja dia mau aku jual di tempat ini," keluh Ivander. Ivander tidak menyangka dengan keputusan Lysia, dia kira. Lysia akan melarikan diri dari rumah bordil miliknya dan tidak akan tahan saat pelanggan sampai membelinya dan akhirnya menyerah untuk menikah dengannya. Akan tetapi apa ini? Rupa-rupanya dia terlihat begitu piawai dalam urusan membuai pelanggan. "Maaf, Pak Kusumo. Anda tidak bisa membawa Nona Lysia." tahan penjaga bersikeras. "Apakah uangku tidak berguna untuk kalian?" tanya Pak Kusumo mulai kesal. "Bukan begitu, tapi Nona Lysia ini begitu spesial." Penjaga bingung untuk menjelaskan. "Ya, tentu. Bahkan aku akan menyerahkan apapun yang aku punya," tantang Pak Kusumo. "Biarkan mereka pergi," sambung Ivander dengan dinginnya. Kemunculannya membuat Lysia terbatuk saking terkejutnya. Uhuk … uhuk …. "Kenapa Sayang?" tanya Pak Kusumo, terlihat cemas. Sedangkan Lysia langsung melirik Ivander sekilas. Lysia menggeleng untuk merespon pertanyaan dari Pak Kusumo. "Baiklah, kalian boleh pergi," terang penjaga itu kepada Pak Kusumo dan Lysia. Lalu, mereka berdua pun akhirnya pergi dari sana. Tenggorokan Lysia merasa sangat kering, tatapan dingin Ivander mampu membuat dia merasa gelisah. Terlintas kembali adegan dimana Ivander menyiksa orang di hadapannya dan hal itulah yang membuat Lysia merasa takut. "Pak apakah saya harus mengerahkan mata-mata untuk mengikuti Nona Lysia?" tanya Davidson, Asisten Ivander. "Tentu saja, memangnya apa yang kau pikirkan? Aku akan melepaskan dia?" tanya Ivander dengan sorot mata tajamnya. "Baiklah." Di tempat lain, Lysia sedang berada di dalam mobil sambil memandang ke arah jendela. Rasanya dia ingin menumpahkan semua air mata yang membendung di dalam manahnya. Bahkan dia pun sampai harus mencium dan berlaga mesra dengan seorang pria tua yang pikirannya kotor. Hal itu sungguh menyesakkan dirinya. Pak Kusumo pun terlihat begitu bersemangat dengan kemudinya. Dia terlihat ingin segera sampai di sebuah toko perhiasan agar bisa segera mencicipi tubuh indah nan molek milik Lysia. Tanpa disadari akhirnya air mata Lysia menetes membasahi pelupuk mata. Lalu, dengan secepat mungkin Lysia hapus agar tidak terlihat oleh Pak Kusumo. "Kita sudah sampai di toko perhiasan ini, ayo pilih yang terbaik dan jangan sampai membuang-buang waktu. Kita akan melakukan ritual indah sebelum pernikahan," ucap Pak Kusumo. Lysia menatap dengan tatapan rasa sakit, "kenapa tidak setelah menikah saja kita melakukannya? Itu akan lebih menakjubkan karena malam resmi pertama kita," pinta Lysia. Mana ada dia akan menyerahkan mahkota tersebut kepada pria ini, semua yang telah Lysia ucapkan itu hanya sebatas untuk bisa keluar dari rumah bordil tadi saja. "Tidak, tidak bisa seperti itu. Nanti kalau kamu berubah tidak jadi ingin menikah denganku bagaimana? Lagian aku juga perlu memastikan apakah kamu benar-benar virgin atau tidak, aku sudah membayar mahal untuk semua itu sayang," jawab Pak Kusumo. Lysia tertegun, dia benar-benar harus bisa melarikan diri sekarang dari Pak Kusumo. Mereka berdua pun menuruni mobil BMW yang dibawa oleh Pak Kusumo. Lysia menatap sebuah toko yang ada di depan matanya dengan tatapan yang pilu. Dia pernah bermimpi untuk datang kemari dengan kekasihnya bukan dengan pria tua Bangka seperti pak Kusumo. "Ayo, Lysia!" ajak Pak Kusumo membuyarkan lamunan Lysia. "Eum, Pak." Lysia melepaskan cengkraman tangan Pak Kusumo yang melingkar di pinggangnya. "Perut saya tiba-tiba saja merasa sangat mulas. Bapak bisa masuk lebih dulu? Biar saya akan ke toilet dulu sebentar," papar Lysia. "Baiklah. Aku akan memilihkan perhiasan terbaik saat kamu datang nanti. Jangan lama-lama, ya," balas Pak Kusumo dan menarik lengan Lysia agar bisa mengecup keningnya. Cup … "Baik," jawab Lysia yang sambil merasa jijik. Pria tua itu sudah berhasil mengecup pipi dan keningnya. Hal itu sungguh membuat Lysia merasa mual dan ingin muntah. Lysia pun melangkah dengan cepat sambil sesekali melirik ke arah belakang. Berharap Pak Kusumo sudah tidak melihatnya lagi agar dia bisa lari. Sungguh Lysia tidak ingin menikah dengan pria tua itu dan tidak ingin menjual diri. Lysia ingin pergi dari semua tekanan ini dan pergi dari Ivander bagaimanapun caranya. Karena Ivander adalah seorang mafia yang sangat Lysia benci. Lysia berlari dengan kencang saat sudah memastikan bahwa Pak Kusumo tidak terlihat lagi. Air matanya pun tumpah ruah sekarang ini. "Pa … Ma … apa yang sekarang terjadi menimpaku? Kenapa hidupku menjadi jungkir balik seperti ini? Andai Papa dan Mama tidak pergi meninggalkan aku, mungkin semua tidak akan seperti ini," Isak Lysia. Lysia bingung harus pergi kemana sekarang, saat ini dia sedang bersembunyi di dekat tong sampah di belakang toko perhiasan. Lysia merasa lelah saat sudah berlari tadi, jadi dia memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu sambil berpikir hendak pergi kemana. "Semua aset dan benda berharga milik kita sudah lenyap. Sebenarnya apa yang sudah papa lakukan sampai bisa menjual putrimu sendiri?" lirih Lysia masih merasa kesal kepada sang ayah yang sudah berada di alam barzah. Andai dia ada di hadapan Lysia saat ini. Mungkin Lysia bisa menanyakan hal ini dan mendengarkan alasannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD