Di dalam mobil, aku tak berhenti menangis di dalam pelukan Mas Panji. Mas Panji terus menenangkanku dengan usapan lembutnya di pucuk kepalaku, serta kecupan lembut di dahiku sebagai bentuk kasih sayang. Setelah aku reda dari tangisku, aku langsung berbicara pada Rosa.
"Rosa, mulai hari ini gwa ingin pergi dari Rumah neraka itu Ros. Dan aku tidak akan membiarkan Mas Parhan tahu soal anak ini!"
"Okey Dewi, sekarang gwa antar luh ke Rumah itu secepatnya kamu packing ambil barang yang kamu anggap penting. Soal baju, gampang bisa beli Wii. Ingat ada gwa dan Mas Panji, yang akan selalu menjadi garda terdepan. Kita lewati ini bareng-bareng okey!"
"Iyaa Ros, sekali lagi makasih buat semuanya ya Rosa, juga aku makasih banget Mas!" Mendengar kata yang aku ucapkan, Mas Panji menjawab dengan harapan.
"Jangan berterima kasih Wi, kita ini keluarga. Dan mulai sekarang kamu harus buktikan, kalau kamu bisa, kamu harus bangkit ya Wi. Sekarang kita tunggu anak kamu lahir, setelah itu kamu bekerja di Kantor tempat aku kerja yaa. Aku yakin dengan kecerdasan kamu, kamu pasti bisa!" Aku merasa ada secercah harapan, setelah mendengar semua apa yang dikatakan Mas Panji. Aku tak menanggapinya, tapi aku memilih menatap jalanan, yang tampak sebentar lagi aku sampai di Rumah Ibu mertuaku. Taklama setelah sekian menit berlalu, kini mobil Mas Panji tiba di depan Rumah Ibu mertuaku. Sebelum turun, Mas Panji meyakinkanku.
"Dew, mulai hari ini kamu harus lebih berani lagi yaa Wi, kamu harus berontak. Mas yakin, kamu pasti bisa!"
"Iyaa Mas, yaudah aku kedalam dulu yaa Mas aku ambil beberapa pakaian juga ijazah dan surat nikah juga!"
"Iyaa Wi, hati-hati yaa!"
Aku pun turun dari Mobil, langsung aku masuk ke dalam Rumah, terlihat Ibu mertuaku duduk santai di depan TV. Tanpa menyapanya aku langsung naik ke lantai tiga, begitu sampai aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku mengambil beberapa pakaian, juga berkas penting yang aku butuhkan, aku masukan semua kedalam Koper. Setelah dirasa cukup, aku menaruh cin-cin Pernikahanku diatas meja, dengan meneteskan airmata aku bergumam.
~Mulai sekarang, aku akan jalani hidup tanpa kamu Mas. Kamu sudah terlalu dalam, menyakitiku. Maaf aku gak kuat lagi Mas, kita akan bertemu di persidangan nanti!~
Setelah semuanya selesai, aku menatap kamar itu sekali lagi dengan rasa yang bercampur aduk. Ada rasa bahagia, ketika masih menjadi pengantin baru, namun ada perih yang teramat sangat ketika mengingat bagaimana perlakuan Mas Parhan diatas ranjang yang begitu kasar, tanpa mempedulikan kesakitanku. Kini aku beranjak melangkah perlahan, dan ketika Ibu Mertuaku melihat aku membawa Koper diapun menanyakannya dengan ketus.
"Mau kemana kamu Dewi?"
"Bu, Dewi pamit dari Rumah ini ya Bu. Mulai saat ini, Dewi bukan lagi menantu Ibu. Mas Parhan sudah punya yang baru, yang bisa menggantikanku!" Mendengar jawabanku, Ibu mertuaku langsung membelalak tak percaya.
"APA DEWI, KAMU MAU PERGI DARISINI? KAMU MAU MENJAUHKAN CUCUKU, DENGAN KAMI DEWI?"
"Maaf Bu, ini terlalu menyakitkan buat Dewi. Selamat tinggal Bu, Dewi pamit!" Tanpa berkata lagi, juga aku tak menghiraukan kata-kata Ibu mertuaku, aku langsung membuka pintu depan, dengan langkah pasti aku berjalan meninggalkan Rumah yang selama hampir empat tahun aku tempati. Mas Panji turun dari Mobil, meraih Koper miliku dan memasukannya kedalam bagasi. Lanjut membantuku masuk ke dalam Mobil, lanjut disusul olehnya duduk kembali di dekat aku. Rosa langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju sebuah tempat yang belum aku tahu sama sekali. Membuat aku penasaran, dan langsung menanyakannya pada Rosa.
"Ros, ko ini bukan arah jalan menuju Rumah luh?"
"Emang bukan Dewi, kalau luh tinggal di Rumah gwa, entar hidup luh gak bakal tenang. Kan Suami luh tahu Rumah gwa, beberapa kali dia pernah antar luh kan?"
"Terus ini mau kemana, Rosa?" Tanyaku penasaran.
"Ini Apartemen Mas yang gak ditempati Wi, kamu tinggal disana sementara sebelum kamu resmi bercerai dari Parhan! Kamu kan butuh ketenangan, apalagi usia kandungan kamu semakin besar. Dan pasti Parhan akan mencari keberadaan kamu, kan kamu mengandung anaknya dia!" Tutur Mas Panji, yang membuat aku menyadari sesuatu. Keputusan yang aku ambil ini, memang akan beresiko di kemudian hari.
"Aku gaakan membiarkan Mas Parhan ketemu anakku, Mas. Aku takrela Mas, dia bukan ayah yang baik buat anakku. Selama ini aja, dia tidak peduli dengan kehamilan aku Mas!"
"Iya Mas ngerti Wi, tapi bagaimanapun juga dia ayah kandungnya. Nanti setelah kamu siap dan yakin, kamu pertemukan mereka!"
"Iyaa Mas, lihat nanti aja Mas!"
Setelah sekian menit perjalanan, akhirnya Mobil Rosa sampai disebuah Apartemen mewah. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat, akupun langsung memastikan pada mereka.
"Mas, Rosa, ini Apartemen yang kalian maksud?"
"Iya Dewi, ini Apartemen yang Mas beli dari tiga bulan yang lalu, sengaja Mas beli buat investasi!" Mendengar jawaban Mas Panji, Rosa meliriknya sekilah seakan ada sesuatu yang disembunyikan, namun aku tak ingin bertanya lebih jauh.
"Ohw gitu Mas, tapi ini terlalu mewah buat aku Mas!"
"Santa aja Dewi, anggap ini Rumah sendiri yaa Wi!"
"Iya Mas, makasih ya!"
"Yaudah yuk, kita masuk gak mungkin kan kita bengong disini!" Mas Panji mengajakku turun, disusul oleh Rosa. Mas Panji membawa Koperku, hingga taklama kami sampai di lantai dua puluh. Dan kini kami tepat di depan unit kamar yang akan aku tempati, Mas Panji menyerahkan kartu akses kepadaku.
"Dewi, mulai sekarang kamu yang pegang kartu akses ini. Ayo buka pintunya Wi, kita segera masuk agar kamu tahu dalamnya, semoga kamu suka ya!" Mas Panji menyerahkan kartu akses itu, dengan ragu juga airmata haru akupun menerimanya. Dan langsung aku membuka pintu unit Apartemenku, kamipun langsung masuk. Aku begitu terfana, melihat Desain Interior yang begitu mewah dihadapanku. Belum lagi kitchen shet yang membuatku akan betah berlama-lama disana, untuk memasak apapun yang aku suka.
"Gimana Wi, kamu suka?" tanya Mas Panji.
"Waw Mas, bukan suka lagi. Aku suka banget, apalagi melihat dapurnya bikin aku betah masak kayaknya. Makasih banyak ya Mas, aku gak tahu lagi harus bilang apa. Mungkin terimakasih gaakan cukup!" Aku memeluk Mas Panji erat, dan Mas Panji membalas pelukanku.
"Ehem, ada orang disini wey. Kalian kira, aku obat nyamuk apa?" Rosa berdehem, dan memberikan candaan pada kami.
"Iya sorri Ros, habisnya aku seneng banget bisa lepas dari Mas Parhan, dan dari keluarganya yang Toxic itu!"
"Iya, gwa bercanda Wi. Malah gwa seneng, kalau luh jadi Kakak ipar gwa. Daripada Kakak gwa jadi bujang lapuk, dan nyari yang gak pasti, mending sama luh yang udah tahu luar dalem!" tutur Rosa, yang membuatku kaget.
"Gak mungkin Ros, gwa gak pantes buat Mas Panji. Gwa janda anak satu Rosa, Mas Panji bisa mendapatkan yang lebih baik dari gwa!"
"Kenapa gak pantas, kamu Cantik, baik, cerdas, berpendidikan juga!" bukan Rosa yang menimpali, melainkan Mas Panji. Yang membuat pipiku memerah, menahan malu mendengar semua pujiannya.
"Mas bisa aja gombal!" aku mencubit lengan Mas Panji, dan Mas Panji meraih tanganku lalu berkata serius. Rosa seakan mengerti, dia berjalan menjauh dari kami, dan keluar dari kamar ini. Ya, aku dan Mas Panji, sekarang berdua di dalam kamar. Dengan lembut, Mas Panji merapihkan rambutku, lanjut berkata.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi kesempatan yang tepat. Dewi, ijinkan Mas menjadi pelindungmu, menjadi pengobat lukamu, percaya sama Mas. Mas gaakan menyakitimu Wi, sejak Mas tahu hidupmu menderita, Mas berjanji akan selalu menjagamu, dan akan menjadi Rumah bagimu untuk pulang!" mataku berkaca-kaca, mendengar penuturan Mas Panji. Aku tak mampu melontarkan sepatah katapun, Mas Panji mengusap lembut pipiku yang basah dengan air mata.
"Mulai hari ini, kamu jangan memikirkan semuanya ya. Mas akan memberikan yang terbaik buat kamu Dewi, jangan ragu untuk selalu meminta tolong sama Mas ya!" Tanpa suara, aku menyandarkan kepalaku didada Mas Panji. Kulingkarkan kedua tanganku dipinggangnya, pelukan ini begitu menenangkan. Mas Panji selalu sepenuhnya memberikan tubuhnya untuk aku peluk, tanpa merasa risih, yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku. Kami saling berpelukan erat, hingga dengan memberanikan diri Mas Panji mengangkat daguku, dan kini wajah kami tak ada jarak. Akupun memejamkan mata, kini aku merasakan lumatan lembut di bibirku yang membuatku hanyut dalam gelora yang selama ini terpendam. Karena kehangatan lembut seperti ini yang selalu kuimpikan, aku membalas lumatan Mas Panji, bibir kami saling bertaut. Ditengah ciuman kami, terdengar dering ponselku yang memecah kesunyian.Mas Panji melepaskan ciuman kami, dan mengambilkan phonecell'ku yang diatas meja.
"Ini Sayang, phone cell kamu!" Apa, Mas Panji bilang Sayang? membuat aku terbengong seketika, dan menerima phonecellku. Tertera nama Mas Parhan dilayar, aku langsung menggulir tombol hijau untuk menjawabnya.