Mas Parhan Murka.

1113 Words
[DEWI, DIMANA KAMU SEKARANG? KENAPA KAMU PERGI DARI RUMAH, KAMU INGIN PISAH DARIKU DEWI? APA KAMU BISA HIDUP TANPA AKU DILUAR SANA, APA KAMU BISA MEMBIAYAI ANAKMU HAH?"] Mendengar perkataan Mas Parhan disebrang telpon, aku semakin yakin untuk berpisah dengannya.Sejenak kumenghela nafas, sebelum aku menjawab lontaran pertanyaan Mas Parhan yang membuatku muak. [Mas, apa kamu lupa bukan kamu yang memberi rezeki? Tenang Mas, aku gaakan minta uang kamu sepeserpun, karena aku tidak butuh uang kamu yang pas-pasan itu. Dan ingat mulai saat ini, aku tidak sudi lagi menjadi istrimu Mas! Tunggu saja, setelah anak ini lahir aku akan mengajukan gugatan cerai Mas!] [Hebat Sekali Kamu Sekarang, Sudah Berani Melawanku. Pulang Kamu Sekarang Dewi, Aku Gak Akan membiarkan kamu menjauhkan anak itu dariku!] [Enteng banget kamu ngomong Mas, setelah semua yang udah kamu lakukan sama aku selama ini, kamu memintaku pulang setelah akhirnya aku menyerah dengan semua perlakuanmu? Apa itu adil untukku Mas, bahkan selama aku hamil kamu sedikitpun tak pernah peduli. Bahkan masih saja, aku dijadikan pelayan dirumahmu. Bahkan ketika kumengidam sesuatu kamu tak sekalipun peduli, kamu gak pernah menjadi Rumah untukku Mas, aku hanya dianggap b***k olehmu, serta keluargamu. Jika kamu Rumah yang seharusnya menjadi tempat aku pulang saja, tak memberiku kenyamanan lantas aku harus pulang ke Rumah yang mana Mas? Perlakuanmu selama ini, terlalu menyakitkan Mas, bahkan dikatakan binatangpun kamu tak pantas. Kamu tak ubahnya, seorang Iblis yang selalu siap menyakitiku!] Tut, pangilan itu langsung kuakhiri, karena aku tak ingin lagi berdebat dengannya. Aku yang saat itu berdiri di balkon, merasakan sebuah tangan yang melingkar dipinggangku, memelukku erat dari belakang, menenangkan pikiranku yang sedang kalut. Mas Panji selalu berlaku lembut padaku, dan selalu menjadi obat penenang disaat yang tepat. Sambil memelukku, juga mengecup pipi kananku, Mas Panji berkata. "Dewi Sayang, sekarang kamu tenang. Kamu sudah mempunyai Rumah, yang akan selalu melindungi dari badai sekalipun. Aku akan selalu ada buat kamu, Sayang!" Aku membalikan badan, balik memeluk Mas Panji dengan erat. Dan ditengah pelukan kami, terdengar bunyi pesan di phonecellku, dan itu dari Rosa. {Dewi, aku nitip Mas Panji ya. Sekarang jujur aku katakan sama kamu, Mas Panji sangat mencintai kamu. Dan Apartemen itu, baru dia beli tadi pagi dari temannya. Itu khusus buat kamu Dewi, agar kamu nyaman. Aku harap, kamu bisa mencintai Mas Panji dengan tulus Wi. Maaf aku pulang gak pamit, sama kamu!} Membaca pesan dari Rosa, aku langsung melirik Mas Panji, dan meminta kejujurannya. "Mas, apa benar Apartemen ini kamu belikan buat aku? jawab jujur Mas!" dengan menghela nafas, Mas Panji pun menganggukan kepalanya. "Iya, Apartemen ini memang Mas belikan khusus buat kamu agar kamu punya tempat tinggal sendiri. Sebelum nanti aku boyong kamu ke kediamanku, ketika kamu jadi Istriku nanti!" Perasaanku menghangat, mendengar hal itu. Pengakuan Mas Panji, merupakan sebuah cahaya terang di kegelapan yang selama ini aku rasakan. Aku langsung memeluknya erat, kenyamanan yang selalu Mas Panji berikan selama ini, membuat rasa itu tumbuh dengan perlahan tanpa bisa dicegah. Mas Panji, balik memelukku erat, membawaku kedalam kamar dengan masih berpelukan. Sesampainya di kamar, Mas Panji menggiringku keatas ranjang yang empuk itu. Aku duduk diatas pangkuan Mas Panji, dan aku bertanya. "Mas aku berat gak?" "Enggak sama sekali Sayang, cuma ngeganjal aja ini perut kamu. Kasihan bayi kamu, nanti kejepit Sayang!" Kata Mas Panji benar, akupun turun dari pangkuan Mas Panji, dan duduk disampingnya menyandarkan kepalaku di bahunya. "Oi'yah, kita kan belum makan. Gimana kalau kita pesan makan aja, kan belum makan siang? Ini udah lewat jam makan siang, Sayang!" "Iyaa Mas, gimana kamu aja!" jawabku langsung. "Yaudah Mas pesan makan ya, Mas mau pesan Steak tiga porsi. Dua porsi buat kamu, satu porsi buat Mas!" akupun heran, dengan keterangannya. "Loh ko buat aku dua, buat Mas satu?" "Kan kamu makannya berdua Sayang, lihat tuh perut kamu udah gede gitu!" "Oi'yah aku lupa Mas!" Mas Panji terkekeh dengan tingkahku itu, lanjut Mas Panji menggulir sebuah aplikasi dan memesan makanan yang hendak dibeli. "Nah sekarang, kita rebahan dulu yu pasti kamu lelah kan? Kamu harus istirahat, nanti kalau makanan datang Mas bangunin kamu Sayang!" "Enggak Mas, aku laper ini gaakan bisa tidur kalau perut laper!" "Ohw yaudah, baringan aja kalau gitu!" Akupun menuruti Mas Panji, aku membaringkan tubuhku diatas ranjang, disusul Mas Panji, dimasukannya aku kedalam dekapannya yang begitu hangat. Lanjut dengan perlahan tapi pasti, Mas Panji meraih daguku, akupun memejamkan mata sedikit membuka bibirku yang seksi ini. Kini lumatan lembut itu, kembali aku rasakan. Kelembutan inilah, yang selalu aku impikan selama dari pasanganku. Saat ini, aku ingin membiarkan diriku bebas dari segala beban, bebas dari luka yang menimpaku selama ini. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut, bahkan kini satu tangan Mas Panji membuka perlahan kancing bajuku satu persatu, taklupa Mas Panji meminta persetujuanku. "Apa boleh Mas, membukanya Dewi?" Aku mengangguk mengiyakan, aku pasrah saat ini. Mas Panji berhasil membuka semua kancing atasku, dan meloloskan dress pendekku hingga aku terlihat setengah polos. Mas Panji terpana melihat keindahan tubuhku, meski aku tengah mengandung, namun masih terlihat menggoda dimatanya. "Waw, tubuh kamu indah banget Sayang!" Mas Panji menatap lekat tubuhku, yang nyaris polos membuatku merasa malu, repleks aku menutupinya dengan kedua tanganku, walaupun itu sia-sia. Dengan lembut Mas Panji, melepaskan kedua tanganku dan berkata. "Jangan ditutupi Sayang, kamu sangat indah. Aku heran, kenapa suamimu menyia-nyiakan wanita sempurna sepertimu Sayang?" Aku tak menanggapi ucapan Mas Panji, aku hanya memejamkan mata, menunggu apa yang akan Mas Panji lakukan. Kembali Mas Panji melumat bibirku, kamipun berciuman dengan hangat. Dan kini aku merasakan remasan di salah satu bukit kembarku, aku mendesah pelan merasakan sentuhan itu yang begitu nikmat. Kini aku bisa merasakan sentuhan yang lembut namun menuntut, tanpa ada kekasaran seperti yang aku alami selama ini. Mas Panji memperlakukanku dengan sangat lembut, seakan tak ingin sedikitpun aku terluka. Dan kini aku merasakan sentuhan lembut di puncak dd ku, Mas Panji mengulumnya lembut bergantian kiri-kanan membuatku mendesah serta meremas rambutnya dengan kencang, seolah tak ingin dilepaskan.Semakin jauh sentuhan Mas Panji, semakin pula aku merasakan buaian nikmat yang dia ciptakan. Kini tak terasa aku merasakan liukan nikmat di bukit lembah syurgaku, Mas Panji menggigit kecil tonjolan kecil disana, membuatku semakin kenikmatan. Kini aku bisa merasakan tongkat sakti Mas Panji yang ukurannya tidak kubayangkan selama ini, tongkat itu keluar masuk di lembah syurgaku, Mas Panji melakukannya dengan hati-hati. Dan taklama kami klimaks, bersama. Selesai berbagi rasa, aku dan Mas Panji menikmati makan siang kami yang terlambat. Aku menghangatkan Steak itu, agar lebih nikmat disantap. Ketika ku menghangatkan Steak, Mas Panji memelukku dari belakang, menelusupkan salah satu tangannya kedalam lembah syurgaku, yang kembali membuatku tersulut birahi. Akupun memprotesnya, karena aku merasakan perutku yang sangat lapar. "Ah, Mass udah aku laper banget ini Mas!" "Iya Sayang iya Mas lepasin, tapi nanti setelah makan dilanjut yang tadi ya!" "Iyaa Mas!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD