Kelahiran Putraku.

1482 Words
Kini kandunganku, berusia Sembilan Bulan. Hari ini aku beraktifitas seperti biasa, namun Mas Panji melarangku untuk tidak terlalu banyak melakukan aktifitas yang berlebih. Jadi aku hanya mengerjakan pekerjaan ringan saja, kalau masak Mas Panji melarangku. Dia selalu memesan makanan sehat dari luar, bahkan stok buah di lemari pendingin sangat banyak. Dan Mas Panji menyiapkan kamar anak yang sangat mewah, lengkap dengan fasilitasnya yang serba mahal. Anakku beruntung mempunyai calon ayah tiri yang sangat royal, Mas Panji tak segan merogoh kocek dalam-dalam demi bayi yang di kandunganku. Bahkan Mas Panji telah menyiapkan meja Sekretaris untuk aku bekerja nanti, sebab pihak Kantor telah menyetujui rekomendasi Mas Panji jika aku yang akan menjadi Sekretarisnya nanti. Mas Panji mempunyai posisi sebagai Direktur Utama di Perusahaan itu, dan aku merasa beruntung memiliki Calon suami seperti dia. Menurut Rosa kini Mas Panji hidupnya lebih bersemangat, ada harapan yang dia bangun untuk hidupnya kedepan. Gaya hidupnya kini lebih tertata, Mas Panji telah meninggalkan kebiasaan minum Alkohol, juga pesta bersama teman-temannya ke Diskotik. Hingar bingar dunia malam, telah Mas Panji tinggalkan setelah menjalin hubungan denganku. Seperti biasa, aku malam ini menonton Film kesukaanku sambil menunggu kepulangan Mas Panji dari Kantor. Karena perut yang semakin membesar, aku malam ini menggunakan dress tanpa lengan dengan bahan satin, tanpa menggunakan pembungkus dibagian d**a. Aku duduk santai ditepi tempat tidur, sambil melihat layar TV dihadapanku. Tepat jam Sembilan Malam, terdengar suara pintu terbuka, akupun gegas turun dari ranjang menyambut kedatangan Pria kesayanganku itu. Sesampainya dibalik pintu, seperti biasa Mas Panji memelukku dengan posesif, lanjut mencium perutku yang sudah semakin membesar, dan kalau tidak ada halangan minggu ini aku waktunya melahirkan. "Selamat malam Sayang, eh anaknya Papah lagi ngapain didalam. Gak nakal kan sama Mamah? udah jagain Mamahmu dengan baik kan Sayang?" "Iya dong Papah, aku jagain Mamah dengan baik!" jawabku mewakili calon anakku. Dengan senyumnya yang khas, dan sedikit lelah di wajahnya, Mas Panji meraih pinggangku dan membawaku masuk kedalam kamar. "Oi'yah Sayang, Mas tadi pesan makan buat kita. Tolong ganti baju dulu, takutnya dateng sebentar lagi, kalau baju kamu kayak gini yang ada nanti kurirnya tergoda sama Calon istriku ini!" ucap Mas Panji, sambil mencubit hidung mancungku. "Iya Mas, aku ganti baju dulu kalau gitu, sekalian nyiapain baju buat kamu ganti!" "Iya Sayang, yaudah Mas mandi dulu ya!" Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Panji langsung masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan aku, mengambil dress panjang lengan pendek, taklupa kumemakai cardigan. Lanjut kumengambil baju buat Mas Panji, meletakannya diatas tempat ranjang, lanjut aku duduk di sofa ruang tamu. Taklama suara bel pertanda ada yang datang, aku pun mengintip lewat celah pintu di dalam, terlihat kurir disana. Akupun membuka pintu sedikit, untuk menerima paket. Setelah selesai, aku kembali menutup pintu juga menguncinya. Lanjut kumenata makanan diatas meja makan, dan ketika kumenata makanan, terdengar Mas Panji memanggil dari dalam kamar mandi. Aku menduga, pasti dia lupa bawa handuk. "Sayaang, Dewi Sayang!" "Iiyaa Mas, Sebentar!" akupun gegas menghampiri Mas Panji dikamar, dan menghampirinya di depan pintu kamar mandi. "Mas Panggil Dewi, ada apa Mas?" "Sayang, tolong ambilin handuk Mas lupa tadi!" "Iyaa Mas, sebentar yaa!" Aku pun langsung mengambil handuk, dan langsung memberikannya pada Mas Panji. Akupun memanggilnya dari luar. "Mas ini handuknya Mas!" Mas Panji pun membuka sedikit pintu kamar mandi, dan bukan hanya handuk yang dia ambil, melainkan menarikku untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Sini Sayang, Mas kangen banget sama kamu!" "Mas Ich, kamu kan masih capek, belum makan juga!" "Capek aku udah hilang, setelah ketemu kamu Sayang!" Kini aku di dalam kamar mandi, bersama Mas Panji. Beginilah jika Mas Panji sedang dilanda rindu, selalu berbuat spontan yang tidak aku sangka. Dia selalu bersikap lembut, dan menjagaku agar tetap merasa nyaman dibawah sentuhannya. Setelah klimaks bersama, Mas Panji menggendongku ala bridal, dan merebahkanku diatas ranjang. Dia tahu aku kini kelelahan karena kehamilanku yang mulai membesar, membuatku gampang sekali lelah. Kini aku dibaringkan, lanjut Mas Panji berganti baju yang aku siapkan tadi. "Sayang, tunggu yaa Mas ambilkan makanan kita, Mas suapin kamu yaa. Mas tahu kamu lelah, Sayang!" "Iyaa Mas!" Kini Mas Panji berlalu dari hadapanku, dan taklama kembali dengan membawa nampan yang berisi makanan kita. "Yuk, kita makan Sayang!" "Iya Mas ayo, aku udah laper banget ini!" Mas Panji, kini mulai menyuapiku lanjut untuknya bergantian menyuapiku lagi, begitu terus berulang-ulang hingga taklama makan malam kami pun selesai. Setelah menyimpan piring bekas makan ke dapur, Mas Panji mengajakku untuk menjemput mimpi. "Sayang, kita tidur yu kamu harus istirahat Sayang!" "Iya Mas, tapi kamu peluk aku yaa!" "Iya Sayang, ayo kita istirahat Sayang!" Kini aku dalam dekapannya, sambil sesekali dahiku dikecupnya hingga akhirnya aku terlelap. Hingga ketika tengah aku tertidur lelap, aku merasakan sakit diperut bagian bawah, membuatku terbangun meringis menahan sakit entah jam berapa saat itu. "Aawww, Sshhh sakit Mas!" Mendengar aku meringis menahan sakit, Mas Panji langsung terbangun dari tidurnya. "Sayang, kenapa Sayang ehm?" Dengan lembut, Mas Panji mengusap pucuk kepalaku penuh kasih. Dengan sisa tenagaku, aku menjawab. "Sakit Mas, perutku sakit banget ini Aawww!" Mendengar jawabanku, Mas Panji langsung beranjak dari tempat tidur. Mengambil kunci mobil, lanjut menelpon Rosa. Setelah beberapa saat, ada jawaban dari Rosa. [Iya Mas, ada apa?] [Rosa, Dewi kontraksi kayaknya mau melahirkan, sekarang Mas mau bawa dia ke Rumah Sakit. Tolong kamu bawakan Tas baju bayi, yang kita siapkan di kamar bayi!] [Iya Mas Iya, sekarang cepetan Mas berangkat biar yang lain Rosa yang handle!] [Okey baik, Mas berangkat sekarang bawa Dewi!] Tut, panggilan ditutup. Setelah selesai berbicara di telpon dengan Rosa, Mas Panji segera mengangkat tubuhku ala bridal. Namun aku langsung memintanya, untuk berganti baju dulu, karena Mas Panji tak menggunakan apapun ditubuh bagian atas. "Mas, kamu pake baju dulu Sayang!" "Oi'yah Mas lupa, saking paniknya. Kalau gitu, bentar Mas ganti baju dulu yaa!" Mas Panji langsung mengambil baju, serta celana Jeans yang biasa dia pakai. Lanjut mengambil dompet, dan segera menggendongku ala bridal. Perjalananan dari lif menuju Basement, terasa sangat lambat karena rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi yang aku rasa. Kini kita telah di dalam Mobil, Aku dibaringkan di jok belakang, sedangkan Mas Panji dibelakang kemudi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun masih tetap hati-hati. "Tahan yaa Sayang, Mas akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu dan anak kita selamat!" Ucap Mas Panji menenangkanku. Setelah dua puluh menit, akhirnya kami sampai di Rumah Sakit tempat Dokter Karina kerja. Mas Panji langsung menggendongku ke dalam IGD, tanpa mengunci Mobil. Hanya keselamatanku yang dipikirkannya, dia langsung memanggil Dokter juga suster yang berjaga malam itu. "Dokter, Suster, Tolong Istri saya mau melahirkan!" Ucapnya tanpa ragu. Taklama datang dua suster, yang menyambut kami. "Silahkan Pak, baringkan Istrinya disini yaa!" Mas Panji menurunkan aku dari gendongan, dan dibaringkan diatas ranjang pasien yang ditunjuk suster tadi. Taklama Dokter datang kehadapan kami, dan langsung memeriksaku. "Ibu kontraksi'nya, dimulai jam berapa tadi?" "Mungkin sekitar jam dua Dok!" Bukan aku yang menjawab, melainkan Mas Panji. Karena aku tak mampu berkata lagi, akibat rasa sakit di perutku yang begitu hebat. "Baik kalau gitu, langsung ke ruang bersalin yaa Bu. Barusan saya sudah telpon Dokter Karina, beliau lagi di jalan sekarang!" Akupun dipindahkan keruang bersalin, aku tak sedikitpun melepaskan genggaman tangan Mas Panji, aku tak mau jauh darinya walau sebentar. Kini kami tiba diruang tindakan, seorang Bidan langsung mengecek pembukaan jalan lahir. "Sudah pembukaan empat ya Bu, tunggu sebentar lagi sampai pembukaan lengkap, baru kita bisa melakukan proses kelahiran anak Ibu! Anak pertama ya Bu?" Dengan lembut Bidan itu, memberiku semangat. Taklama Dokter Karina datang memeriksaku, dengan telaten. "Selamat pagi Bu Dewi, Pak Panji. Saya periksa dulu ya, kita cek kondisi bayinya!" Dokter Karina, mengeluarkan alat USG untuk mengecek detak jantung bayi juga posisi. "Okey Bu, semuanya bagus semoga prosesnya lancar ya. Maaf, saya cek dulu pembukaannya ya!" Kembali aku di cek Pembukaan jalan lahir, dan Dokter Karina sumringah, karena ada kemajuan yang cepat. "Sudah pembukaan enam Ibu, cepat sekali ya. Sebentar lagi, dia akan lahir!" Dengan senyumnya yang khas, Dokter Karina mengelus perutku. Sedangkan Mas Panji, tak lepas menggenggam tanganku juga terus mengusap dahiku bahkan sesekali mengecupnya. Taklama setelah menunggu tiga jam, akhirnya pembukaan lahir telah lengkap. Dokter Karina memberi intruksi, untuk proses mengejan. Sedangkan Mas Panji, memegang tangan kananku, memberiku kekuatan hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang selama sembilan bulan berada di dalam rahimku. "Owee, owee, owee!" Tangisnya pecah, dan ternyata anakku laki-laki. Dokter Karina menunjukannya padaku, dengan senyum kebahagiaan. "Selamat ya Bu, anak Ibu laki-laki dia sangat tampan sekali Bu!" Setelah dilepas tali ari-ari, Anakku diletakan diatas dadaku dan betapa bahagia'nya aku ketika dia menyedot p****l dd ku. Kini anakku dibersihkan, dan terlihat Mas Panji menggendongnya dengan sangat hati-hati. "Selamat ya Sayang, sekarang kamu menjadi seorang Ibu. Putra kita sangat tampan, kita akan mendidiknya bareng-bareng. Gimana kalau kita kasih nama, Daniyal Putra Dewi?" Akupun setuju dengan nama itu. "Bagus itu Mas, aku suka. Atau kamu mau sematkan nama belakang kamu juga boleh!" "Okey kalau gitu, gimana kalau Daniyal Putra Panjaitan?" "Bagus itu Mas, semoga dia sukses kayak Mas kelak ya!" "Aamiin Sayang!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD