Tak terasa kini usia kandunganku menginjak tujuh bulan, dimana perutku mulai membesar juga terasa berat. Langkahpun takbisa secepat dulu. Meski kurang perhatian dari suami, namun Kak Putri, juga Kak Bella semakin kesini semakin baik padaku. Tapi Ibu mertuaku masih sama, terlebih Mas Parhan suamiku. Dan aku menyadari satu hal, belakangan ini Mas Parhan tampak berbeda. Dia sering kali lembur kerja, bahkan sampai tak pulang, dan yang mengherankan lagi ketika hari libur dia sering keluar Rumah tanpa alasan yang jelas. Dia bilang jika dia bertemu Kline penting, tapi aku tahu itu bohong.
Satu bulan kemudian, seperti biasa hari ini Jadwal pemeriksaan kandunganku. Aku bersiap untuk berangkat, setelah menyelesaikan semua pekerjaan Rumah. Kedua Kakak iparku, Putri dan Bella walaupun mereka bersikap baik, namun hingga saat ini tetap aku harus melayani semua keperluan mereka. Terlebih ketika Mas Haris, juga Mas Doni suami mereka sedang keluar Kota, disaat itulah Kak Putri juga Kak Bella terlihat sifat aslinya yang masih kasar terhadapku. Meski terkadang aku kelelahan, karena perutku sekarang terasa mulai berat. Tapi mereka tetap ingin semua dilayani olehku, Kak Putri juga Kak Bella berhasil menggunakan topengnya dengan cantik. Akupun tak berani mengadu, pada Mas Haris maupun Mas Doni, karena bagaimanapun juga aku hanya adik ipar mereka.
Saat aku bersiap, terlihat Mas Parhan sedang memakai dasi hendak berangkat ke Kantor. Akupun meminta uang untuk biaya pemeriksaan seperti biasanya, dan seperti biasa Mas Parhan hanya memberi biaya pemeriksaan tanpa memberikan uang jajan atau untuk keperluan aku Pribadi.
"Mas, aku hari ini jadwal pemeriksaan Dede bayi kita!"
"Ya, aku tahu inikan tanggalnya. Kenapa, kamu nunggu uangnya? Tenang aku transfer sekarang!"
Tanpa menimpali, aku melihat Mas Parhan merogoh sakunya dan menggulir Aplikasi di Phone'cell, lanjut mengtransfer sejumlah uang ke nomer rekeningku.
"Udah aku transfer, sekarang aku mau berangkat!" Dengan langkah cepat, Mas Parhan mengambil tas kerjanya, lanjut melewatiku begitu saja, tidak ada kecupan di dahi ataupun pelukan. Betapa dinginnya sikap Mas Parhan kepadaku sekarang, dan aku tak tahu salahku apa. Dulu, walaupun kasar tapi dia masih tetap mengecup dahiku juga memelukku ketika hendak pergi ke Kantor. Tapi kini, tiga bulan belakangan dia berubah, seolah menganggapku tak ada. Setelah Mas Parhan pergi dari hadapanku, aku mengirim pesan pada Rosa, jika aku sebentar lagi berangkat.
{Rosa, aku sebentar lagi mau berangkat!} taklama ada pesan balasan dari Rosa.
{Iyaa Wi, gwa dan Mas Panji meluncur kesana sekarang}
{Okey, gwa tunggu di depan Rumah ya,!}
Selama ini, yang selalu mengantarku ke Dokter Kandungan hanya Rosa, sedangkan Mas Parhan suamiku tak pernah sekalipun mengantarku. Bahkan jika aku menunjukan hasil USG, dia acuh tak mau peduli. Rosa kadang ditemani Mas Panji seperti kali ini, jika Mas Panji tidak sibuk di Kantor, pasti menemani Rosa untuk mengantarku ke Dokter. Karena bagi Mereka berdua, anakku adalah ponakan mereka. Dan mereka kakak beradik yang sangat kompak, bahkan mereka sepakat untuk tidak berumah tangga dulu. Rosa tidak ingin melangkahi sang Kakak, jadi Rosa sabar menunggu hingga Mas Panji mau menikah.
Setelah menunggu lima belas menit, terlihat Mobil Mas Panji datang di depan Rumah. Aku gegas beranjak dari kursi, langsung melangkah menghampiri mereka. Taklupa aku menutup pagar kembali, seperti biasa aku dibukakan pintu oleh Mas Panji, juga dibantu untuk naik kedalam mobil hingga aku betul-betul duduk dengan nyaman. Setelah dipastikan aku duduk dengan nyaman, Mas Panji kembali masuk kedalam Mobil dan duduk dibelakang kemudi.
"Selamat pagi Ponakan aunty, bentar lagi kita ketemu ya Sayang!" hangatnya sapaan Rosa, terhadap bayi yang sedang aku kandung. Akupun mengelus perutku, dan menjawab sapaan Rosa mewakili calon anakku.
"Selamat pagi juga aunty, gimana kabarnya hari ini?"
"Kabar baik Sayang! Oi'yah Wii, luh belum beli peralatan bayi kan? Nanti habis pemeriksaan, kita langsung beli peralatan bayi buat ponakan gwa yuk!" Seru Rosa, dengan nada serius.
"Tapi Rosa, gwa gak bawa uang. Kamu tahu sendirikan, Mas Parhan gak pernah kasih gwa uang lebih?" jawabku, dengan nada bingung.
"Tenang, biar Mas yang belikan Dewi, inikan ponakan Mas juga. Jadi biar Mas, yang belikan ya!" Bukan Rosa yang menjawab, melainkan Mas Panji.
"Tapi Mas, aku gak mau merepotkan kalian lagi. Selama ini, kalian terlalu baik buat aku!" Jawabku terus terang.
"Jangan punya perasaan kayak gitu Dewi, kita udah nganggap kamu bagian dari keluarga kita. Jadi, kamu gausah sungkan yaa! Kita nanti mampir ke Mall xxx, setelah selesai kamu periksa kandungan. Sekalian kita makan siang disana, biar bayi kamu gak kekurangan gizi!" Aku kaget mendengar nama Mall yang Mas Panji sebut tadi, dimana Mall itu salah satu Mall mewah di Kota kami. Akupun semakin merasa tak enak, terhadapnya.
"Mas, gak perlu ke Mall itu. Kita ke Toko biasa aja ya Mas, disana harganya pasti mahal-mahal Mas!"
"Udah Wi, luh nurut sama Mas Panji deh jangan ngeyel. Mas Panji kan ingin yang terbaik buat ponakannya, luh santai aja terima niat baik Mas Panji!" Kini bukan Mas Panji yang menimpali, melainkan Rosa.
"Tapi Rosa, itukan bukan kewajiban Mas Panji. Harusnya Mas Parhan, yang bertanggung jawab!"
"Dewinta, luh masih ngarepin tanggung jawab dia, setelah apa yang luh alami selama ini? Gwa yakin, kalau dia tak memikirkannya sedikitpun. Kalau dia benar pria yang bertanggung jawab, dia pasti sudah memikirkannya sejak satu bulan yang lalu ketika kandungan luh masih tujuh bulan. Sekarang kan udah masuk delapan bulan, luh belum punya baju bayi satu pun kan?" jawab Rosa, yang membuatku tak mampu lagi berkata-kata. Aku bungkam, aku tak bisa lagi menjawab perkataan Rosa, karena itu semua benar. Bahkan kini tak terasa air mataku meluncur begitu saja tak dapat ku bendung, karena rasa sakit yang aku tahan selama ini kini tumpah bersama air mataku yang terus mengalir.
Melihatku menangis, Mas Panji menghentikan Mobilnya dan berkata pada Rosa.
"Rosa, kamu yang bawa mobil ya Mas kebelakang, Dewi pasti butuh sandaran!" Ujar Mas Panji, tanpa menunggu jawaban Rosa. Kini Mas Panji duduk didekatku, dan meraih kepalaku untuk disandarkan dibahunya, dan berucap menenangkanku.
"Dewi, keluarkan semua unek-unek kamu selama ini, Mas disini juga Rosa ada buat kamu. Ingat kamu perempuan kuat, kamu tak sendiri Dewi. Kita hadapi ini sama-sama ya, jika kamu sudah tidak kuat lagi, maka pintu kami selalu terbuka untuk kamu!" Mendengar kata Mas Panji, tangisku semakin pecah hingga membuat Jas milik Mas Panji basah terkena tetesan air mata. Setelah semua beban terasa ringan, akhirnya tangisku mereda. Aku menengadahkan kepalaku, tepat didepan wajah Mas Panji. Wajah kami kini tak berjarak, yang membuatku menunduk dan berucap.
"Makasih yaa Mas, kamu selalu ada buat aku. Aku gak tahu gimana, kalau gak ada kalian!" Mas Panji langsung meraihku, kembali memelukku erat. Aku tahu ini salah, namun sebagai wanita aku butuh pelukan yang membuatku merasa dilindungi.